
" Nah itu tau"
Yudha memasuki ruangannya ia melihat tumpukan berkas yg harus ia selesaikan di mejanya..
"Hari ini gue ga minat kerja, ngeliatnya aja gue udah enek"
Tok tok tok...
" masuk"
" Pak Yudistira, Ada berkas yg harus di tanda tangani"
Mira sekertaris Yudha menyerahkan berkas itu,,
" mana sini.."
Yudha segera menandatangani berkas tersebut...
" Mir, tolong panggilkan OB atau 0G ke sini,,
" Baik pak"
Mira segera pergi ke pantry mencari seseorang, tetapi ruangan itu kosong tak seorangpun ada di sana, itu karena jam seperti ini mereka sibuk melayani semua karyawan yg bekerja di sana.
Pucuk di cinta ulam pun tiba,
baru saja Mira akan membuka pintu, Liana datang membawa gelas kotor untuk ia bersihkan.
" Kebetulan banget Lian Si boss nyuruh aku nyari orang, tapi ga ada satupun orang di sini,, kamu aja gih samperin tuh pa Yudistira..!"
" baik Bu"
dengan terpaksa Liana melangkahkan kakinya menuju ruangan yg sangat menakutkan itu,,
Tok..
baru saja sekali ia mengetuk pintu
" Masuk.."
Yudha senang melihat siapa yg datang, semakin sering bertemu dengan gadis itu semakin besar kesempatan untuk menjebaknya masuk ke dalam perangkap, ya perangkap pernikahan pura pura...
" Tolong kamu antarkan ini ke ruangan pak Aryo, dan kamu bilang "Kerjakan semuanya, kalau ada yg harus di tandatangani, antarkan kembali kesini.."
" Satu lagi bilang padanya ,, ini perintah harus di kerjakan, gak ada penolakan"...
'' baik pak" jawabnya singkat
" dan kamu balik lagi kesini.."
Liana mengangguk " iya pak"
__ADS_1
Liana mengerutkan dahinya.
"ternyata bukan cuma sama aku aja dia gitu, sama orang lain juga".
"Dasar orang....tiiiiit (sensor ya)"
Liana berjalan melangkahkan kakinya menuju ruangan Aryo,
" Lian itu mau dibawa kemana?"
tanya Mira,,
" Saya di suruh mengantarkan nya ke ruangan pak Aryo bu."
Mira menggelengkan kepalanya,,
" ya udah sana cepetan !"
Liana melanjutkan perjalanannya
Tok ..tok..tok..
" Masuk"
klek
pintu yg tebuat dari kayu jati itu terbuka,,
Liana pun membalas senyum Aryo,,
Sekali lagi senyuman Liana meluluh lantahkan Aryo,,
"saya di suruh memberikan ini pada pak Aryo" suara Liana memecah lamunan Aryo.
Aryo memicingkan matanya, sembari melihat berkas yg juga menumpuk di mejanya..
"S*****n tuh si Yudha,, kerjaan gue juga banyak"
"oh iya, tadi kata pak Yudistira kalau ada yg harus di tandatangani, anterin aja lagi ke sana"
" hmn"" Aryo hanya mengangguk seraya menggaruk kasar kepalanya..
" Dan satu lagi, kata Pak Yudistira , kalo, Ini perintah harus dikerjakan,,..."
" Ga ada penolakan" lanjut Aryo ...
Mereka berdua tergelak bersama, seolah mengerti kalimat sakti milik bossnya itu,,,
" bener bener tuh orang , tadi gue di suruh gantiin meeting, sekarang kerjaannya harus gue yg ngerjain juga,,"
Liana beranjak pergi meninggalkan Aryo yg masih mengerutui bosnya itu, ia kembali memasuki ruangan Yudha ,,
__ADS_1
Sebenarnya ia malas harus menemui Yudha lagi, tapi harus bagai mana lagi, tak ada pilihan lain baginya,,
" ada yg bisa saya bantu lagi pak,,?"
" Duduklah..!! "
Yudha sudah tak sabar ingin segera mengenalkannya kepada ibunya, dia sudah jengah mendengar tudingan miring dari ibunya,, pokoknya hari ini ia harus meyakinkan Liana agar mau di ajak menemui ibunya...
jika tak bisa dengan Ara halus ia akan melakukannya dengan cara apapun...
" Gimana?" tanya nya..
"gimana apanya?" Liana mencoba mengelak
" Liana , udahlah kamu jangan keras kepala, tinggal bilang iya aja gitu, kenapa susah banget sih, seharusnya kamu seneng, bisa saya pilih menjadi calon isteri saya, banyak banget cewek yg ngantri mau jadi isteri saya,
tapi saya tolak semuanya demi kamu"
" Sebenarnya saya gak papa pak, kalau bapak menikahi saya karena cinta misalnya, tapi inikan karena alasan apa? gak jelas pula, lagi pula orang tua bapak itu gak akan setuju anaknya yg tampan dan kaya raya ini menikah dengan cewek jelek miskin pula kaya saya,,"
" mereka akan setuju siapapun wanita yg saya pilih, tak terkecuali kamu.."
" Terus kenapa bapak gak milih wanita yg lain saja,
kenapa saya?"
" Karena saya maunya kamu, gak ada yg lain titik.."
"pokoknya mau ga mau hari ini saya akan kenalkan kamu kepada ibu saya"
" Bapak orangnya pemaksa sekali,"
Yudha beranjak dari tempat duduknya, ia menghampiri Liana, dia memegang dagu Liana dan mengangkatnya ke atas..
" Berani kamu sama saya hah..?"
brakk...
Yudha menggebrak meja,, ia tak terima dengan penolakan, apapun yg ia mau harus didapatkan..
Liana yg tadinya berani menghadapi sikap Yudha sekarang justru keberaniannya menciut,,
"Ya tapi sekarang saya sedang bekerja pak,, saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya, saya takut orang lain curiga"
" oke, jadi kalau gak bisa hari ini, kamu bisanya kapan??"
" Hari libur saja" jawabnya pasrah..
" baiklah, kalau begitu saya anggap kamu menyetujuinya, hari Minggu kamu akan saya perkenalkan sebagai calon istri saya dihadapan keluarga saya, dan bulan depan kita menikah...
"apa menikah?? bulan depan.??"
__ADS_1