
Dert.... dert... dert...
Handphone nya berbunyi dengan mode getar yg ia atur,
Iyya dia paling tak suka dengan suara nada dering di HP nya,,
Yudha memang pria yg "Sedikit aneh" tapi sedikit ya,
bagai mana tidak diusianya yg matang,, dia tak pernah merasakan apa itu yg namanya "Cinta"...
dia tak pernah sekalipun pacaran, atau dekat dengan wanita,,,
selama ini yg dia pikirkan hanyalah pekerjaan pekerjaan dan pekerjaan,,
Apa lagi setelah menjadi sarjana dia harus belajar mengurus anak perusahaan ayahnya yg terletak di negara tersebut,,
kuliah sambil bekerja ,
"Hallo anak Mama tercinta,,,"
ternyata mama nya yg menelpon...
"ia ma,, ada apa ??"
sebenarnya malas untuk Yudha mengangkat telepon dari mama nya,, karena apa? karena mama nya selalu memaksa nya untuk menikah, menikah, dan menikah,,
"Sayang, jadi besok kamu pulang?"
Mama mau kenalin kamu sama anak temen mama, dia cantik lho, masih muda, dia juga smart,, pokonya bibit bebet bobot nya terjamin deh, kamu pasti ga akan nolak kali ini sayang"
Mamah Rindu slalu saja berusaha menjodohkan anaknya yg satu ini, yg payah dalam urusan percintaan..
" Ma.. kalo itu terus yg mama bicarakan, udah ahh Aku males.. bye ma, sampai jumpa besok"...
__ADS_1
Tut Tut Tut , Yudha memutus sambungan telpon dari ibunya,,
"Daras anak kurang ajar maen maen matiin aja telponnya.."
batin mama Rindu,,
Mama Rindu khawatir dengan keadaan Yudha,, dia sudah dewasa bahkan matang dari segi finansial,
tapi tak pernah sekalipun anaknya mempunyai pacar,,,
Dia takut Yudha,, tiiiiiit.....
"Oh no,, ngga boleh yud, nga boleh,, mama ga ikhlas kamu ga suka sama perempuan"
bahkan membayangkannya sekalipun ia takut, makanya setiap dia pulang ke indo, dia pasti akan memperkenalkan seorang wanita kepada Yudha,, mungkin sudah lebih dari 8 orang yg ia kenalkan tapi tak sedikitpun Yudha merespon,
anaknya itu selalu bilang,, bahwa ia hanya akan menikahi wanita yg ia cintai,, wanita yg tidak cantik, yg wajahnya jerawatan, tidak kaya, mungkin miskin, bahkan untuk makan aja susah,,,
itu tipe ideal untuk Yudha,, kebalikan dari pria manapun di dunia ini,,,
.....
Dengan pertimbangan yg matang,, Liana dan Rizal memutuskan untuk menerima beasiswa tersebut,, dia dan Rizal akan kuliah di tempat yg sama, , mengawali kehidupan baru sebagai mahasiswa di ibu kota,,
"Li, tar kita makannya gado- gado Li kalo di Jakarta, bukan lotek lagi"
Lian mengerlingkan matanya menuju si Absurd Rizal ,
" ia, terus kita jangan urang maneh urang maneh lagi,, kita gue elu gue elu, aja biar keren" bisik Liana sambil menyenggol tubuh Rizal dengan sikutnya..
"Tar kita juga , jangan pake baju biru Li, kita harus pake baju orange, biar ga di buli.."
hahahaha mereka berdua tertawa lepas ,, membayangkan bagai mana kehidupan mereka di Jakarta,
__ADS_1
Dengan bekal seadanya, dia memberanikan diri menyambangi ibu kota,, dia siapkan hati menghadapi jurang jurang terjal yg akan dia hadapi di tempat baru itu,.
Yg terpenting untuknya sekarang adalah mendapatkan tempat tinggal yg jaraknya dekat dengan kampusnya,, alasannya apa lagi kalau bukan hemat ongkos,,
itulah si Liana,, si pekerja keras yg super hemat,, tapi pantang dikasihani,, dia paling tak suka jika ada orang yg iba kepadanya dam memberinya sesuatu dengan cuma cuma,, prinsip hidupnya adalah, Hasil itu hanya akan di raih dengan kerja keras, bukan belas kasihan..
dia tak pernah menerima sesuatu dengan gratis, saat tetangga nya memberi makanan kepada keluarganya,, tanpa pikir panjang
Lian akan mendatangi rumah itu, dam membantu si tetangga untuk menyapu, mencuci piring, atau apapun itu,, dengan begitu hatinya terasa tenang,.
bukan nya sombong tak mau menerima bantuan dari orang lain,, tapi kebiasaan yg bapak nya tanamkan sedari kecil itu telah mendarah daging dalam diri, LIANA OKTAFIANDRA,,,
Baru juga seminggu dia di Jakarta sudah menipis,, dia harus memutar otaknya supaya bisa mendapat penghasilan disini,,
dia tak tega jika harus meminta uang kepada ibu dan ayahnya, Lian tau Ayah barunya itu bukan orang kaya,, sudah mau membiayai sekolah,, Rangga aja dia sudah merasa bersyukur...
"Kaya nya, aku harus nyari kerja deh zal..."
"kerja??" " kita kan lagi kuliah Li" timpalnya lagi
"ia maksudnya, sampingan aja gitu,, pulang kuliah, lagian kan kuliah ga setiap hari"
"Kerja Apa?"
"apa aja yg penting halal"
....
setelah, 1 hari 2 hari 3 hari, sampai 1 bulan, Lian belum mendapatkan pekerjaan itu,,
ada sedikit keputusasaan dalam hati kecil Liana,,
"Ternyata hidup di Jakarta itu, ga semudah yg aku bayangin,, nyari kerja aja susahnya minta ampun"
__ADS_1
sebenarnya bukan hanya mencari pekerjaan aja yg menciut kan keberanian Liana,, Bulian anak anak kampus, yg menyebutnya gembel lah, udik lah, kampung, miskin, item, jelek, buluk, jerawatan upik abu,,, dan sebagainya,,
Sebenarnya tulang wajahnya itu cantik, nyaris sempurna dengan perawakan tinggi semampai, pipi yg tirus, hidung mancung dan otak yg smart,, tapi mungkin karena kurang terawat aja,, dia jadi bahan Bulian anak anak Jakarta yg glowing,,