
" dia tetanggaan pah sama Aryo...
Cisarua, sama Padalarang itu Deket.. betul kan Liana ?
" iya betul Bu.."
"jangan panggil ibu, panggil saja mama dan papa...!
"iya Bu, eh mah.."
"mama senang akhirnya Yudha mengenalkan calon isterinya kepada kami"
Uhukh...
Tanpa sengaja Liana tersedak..
" Minum dulu sayang..!" Yudha memberikan segelas air putih kepada Liana ..
bukannya sembuh,
mendengar Yudha memanggilnya sayang, justru malah membuatnya lebih parah...
" Pelan-pelan makannya Liana..!,
udah jangan banyak ngobrol makan saja dulu, nanti dilanjut lagi ngobrolnya."
"Iya maaf pah"
__ADS_1
Mereka berempat melanjutkan makannya,, entah kenapa bagi Liana makanan enak didepannya itu berubah rasa menjadi hambar, iya sama sekali tak berselera makan, mungkin karena suasana canggung yg dari tadi ia rasakan..
Mendengar mereka menyebut kata Calon isteri membuat Liana canggung, bagai mana bisa dia menikah dengan orang yg dikenalnya baru beberapa hari itu..
Yudha sangat merasa lega melihat orang tuanya yang menyambut dengan baik Liana , bahkan mama Rindu terlihat senang..
Tiba-tiba Yudha berinisiatif untuk menyuapi Liana..
Aaaaaa sayang..
Dengan terpaksa Liana membuka mulutnya,,
"Apa apaan sih pak Yudistira bikin
malu aja"
"pahh,, siapin juga mamah.."
Tanpa Liana sangka papah Adit mengambil satu sendok besar sambal lalu memberikannya kepada mama Rindu..
" Aaaaaa.. mah.."
"papah....." mamah rindu mencubit perut papa Adit..
" Mamah sih sudah tua juga"
" papa, Yudha aja yg dingin kaya es batu, bisa romantis gitu, papa seumur hidup gak pernah nyiapin mama"
__ADS_1
mereka tertawa riang menertawai sepasang paruh baya itu...
Dalam hati Liana sangat bersyukur mendapatkan calon mertua yg, nampaknya baik seperti mereka, padahal dalam sangkaannya , orang kaya seperti mereka akan bersifat se-menakutkan Yudha, dan sesombong Yudha, tapi tidak dengan Papa Adit dan mama Rindu, itulah kesan pertama yg Liana dapatkan dari pertemuannya dengan orang tua Yudha...
Malam itu pun berlalu sesuai rencana Yudha, akhirnya ia bisa membuktikan kepada orang tuanya, bahwa dia memiliki seorang kekasih...
pertemuan itu berakhir dengan Yudha mengantarkan Liana pulang..
" Makasih ya.. ini baru awal, selanjutnya kamu harus lebih pandai berakting lagi,, dan satu lagi Jangan kabur, ingat ke lubang semut sekali pun aku pasti bisa menemukan mu.!" gertak Yudha kepada Liana ..
" udah sadar ternyata dia, mungkin tadi manis kaya gitu cuman kesambet aja, dasar orang gila.."
Sepanjang malam Liana tak bisa tidur, gelisah membayangkan hidupnya yg terombang-ambing bagai lautan bergelombang, siapa lagi kalau bukan Yudhistira Wirayudha yang menyebabkan kehidupan normal nya menjadi abnormal seperti sekarang ini...
kring kring kring..
tak lama berselang jam weker yg tersimpan di samping tempat tidur nya itu berbunyi, padahal rasanya baru sejenak ia masuk ke alam mimpinya, baru saja ia terlepas dari realita yg sangat membingungkan itu, kini ia harus menghadapi kenyataan hidup seperti biasanya lagi, berkutat dalam keseharian nya lagi.
Sebenarnya ia sangat bersyukur dapat bekerja di tempat itu walaupun hanya sebagai office girl,
tapi semua rasa syukurnya itu buyar semenjak Yudha masuk ke dalam hidupnya dan memporak-porandakan kehidupannya, sebenarnya hatinya lebih tepatnya lagi..
Karena terlalu sibuk memikirkan Yudha, ia sampai lupa hari ini hari libur... tanggal di kalender menunjukan tanggal merah..
" Hoammz,, bobo lagi aja.."
Sepertinya rasa kantuk mengalahkan semuanya,, belum juga ia masuk secara penuh ke alam mimpinya Suara adzan subuh membangunkannya kembali, kalau soal yg satu ini dia tak pernah menomor duakan, apapun situasinya ia selalu mengutamakan kewajibannya itu.
__ADS_1
Sudah sejak kecil Almarhum ayah dan juga ibu nya selalu mengajarkan kepada gadis itu tentang agama.