
" Yudha sarapan dulu sayang...!"
Yudha pergi begitu saja tanpa mempedulikan perkataan ibunya itu..
" Dasar anaknya papa Adit, sebelas dua belas" Mama rindu mendengus kesal..
....
Sesampainya di kantor nampak semua orang sudah bekerja di posisinya masing masing,, Semua orang yg berpapasan dengannya menunduk memberi salam pada atasannya itu.
Yudha adalah seorang yg sangat berwibawa, kharismatik, wajahnya mengeluarkan aura yg tak kan ada seorangpun yg mampu menolak kharismanya itu, mungkin hanya Gadis jelek itu saja yg tak terpana kepadanya, ya maksudnya Liana, gadis yg dianggap Yudha jelek.
Lain halnya dengan Aryo asistennya itu, Liana dianggapnya gadis paling cantik di dunia, gadis yg menerbangkan angannya setinggi langit.. jika saja Aryo tau Yudha ingin memperistri Liana entahlah mungkin angan yg sudah setinggi langit itu akan jatuh sejatuh jatuhnya...
....
Hari ini Yudha akan memberi pelajaran kepada gadis itu, karena berani beraninya kemarin ia bermesraan dengan pria yg tidak diketahui namanya itu.
Yudha masih salah paham terhadap kedekatan Liana dan Rizal , dia menyangka bahwa Rizal adalah kekasih Liana , padahal semua itu tidak benar..
Hari ini Liana menjadi bulan-bulanan Yudha , Yudha menyuruh Liana melakukan ini itu tanpa jeda.
kerjain ini kerjain itu, belikan ini belikan itu, ambilkan ini ambilkan itu, buatkan ini buatkan itu, bersihkan ini bersihkan itu..
Dasar bos sedeng, dia kira aku robot apa.
Liana merasa ada yg tidak beres dengan bossnya itu, Liana bergidik ngeri saat membayangkan kelak jika ia menjadi isteri dari bossnya itu, ya walaupun istreri pura-pura tentunya..
Bagai mana nanti Yudha akan memperlakukan dirinya, sekarang saja Yudha sudah menyiksanya begini, apa lagi nanti saat harus tinggal 1 atap dengannya...
" Tidaaaaak.."
Liana tanpa sengaja berteriak..
"Tidak apanya Lian ?" Yudha kaget mendengar Liana berteriak secara tiba-tiba..
" ma maaf pak..!"
" Dasar gadis aneh.."
Liana mengerutkan dahinya mendengar Yudha menyebutnya aneh, Padahal Dimata Liana Yudha yg aneh, bagaimana bisa seorang konglomerat seperti dia , menginginkan seorang istri yg jelek jerawatan dan miskin sepertinya, apalagi alasan kenapa Yudha ingin menikah dengannya Yudha ungkapkan secara terang-terangan kepadanya, jika saja Yudha berbohong, dan mengatakan jika ia jatuh cinta kepadanya, mungkin urusannya akan berbeda.. Tapi tak mungkin Yudha mencintai dia, batin Liana .
" siapa sih yg suka jemput kamu pake motor jeleknya itu??"
__ADS_1
Akhirnya Yudha melepas rasa penasarannya , walau sebenarnya gengsi harus menanyakannya langsung...
" temen," jawabnya singkat
" temen kok mesra gitu sih??"
" mesra apanya ? dia temen saya serius pak."
Liana menjelaskan secara detail tentang Rizal, ia takut Rizal akan terbawa-bawa dalam masalah, jika Yudha mengira Rizal adalah pacarnya... Liana tau Yudha akan melakukan apapun demi mendapatkan apa yg dia mau, termasuk mengancam Rizal sama seperti dia mengancamnya,. Liana tak ingin itu semua terjadi pada sahabatnya, cukup dirinya saja yg mengalami dilema seperti ini.
Akhirnya dengan susah payah Liana menjelaskan ini itu, Yudha mengerti juga.
" Baiklah kalau begitu, malam ini juga aku akan membawamu kehadapan orang tuaku, dan mengenalkan kamu kepada mereka ,"
" nggak bisa gitu kan pak,, perjanjiannya kan hari Minggu, kenapa hari ini, hari ini saya ada kelas"
"Salah sendiri kenapa berani, bermesraan dengan pria itu"
"Bermesraan lagi, bermesraan lagi, saya sudah katakan pak, Dia teman saya, bukan pacar saya"
" Iya, saya tau dia bukan pacar kamu, makanya enggak ada alasan untuk kamu tidak menuruti keinginan saya"
Dasar orang gi**. batin Liana .
Padahal baru beberapa hari mereka bertemu, tapi Yudha sudah sangat yakin jika Liana yg harus menjadi istrinya kelak..
Tanpa sengaja kedua pasang mata itu beradu, saling bertatapan ..
Seharusnya tatapan laki-laki yg mengajak seorang wanita untuk menikah dengannya adalah tatapan yg penuh cinta, paling tidak tatapan yg penuh harapan, seperti yg ia lihat di film film.. tapi tidak dengan apa yg Liana lihat, ia merasa tatapan Yudha bukan tatapan seperti itu, justru tatapan yg sangat menakutkan tatapan yg sangat mengintimidasi, dan yg lainnya..
Sebaliknya Yudha melihat Liana menatapnya seperti itu..
" Seharusnya dia senang menikah denganku, dia akan mendapatkan apapun yg ia mau, dasar gadis sombong, beraninya dia menolak seorang Yudhistira Wirayudha.'' batin Yudha.
Semakin Liana menolak, akan semakin intens Yudha memaksanya , ya benar Yudha adalah seorang pemaksa, Seperti apa yg Liana katakan tadi...
Setelah itu, Yudha melepaskan Liana , dia bisa menghirup udara bebas untuk sementara waktu, ia melangkahkan kakinya yg terasa pegal itu ke dalam pantry, di ambilnya segelas air putih, lalu diminumnya dengan cepat, nampaknya tak cukup jika hanya segelas saja, dia mengisi kembali gelas kosongnya dengan air galon.
Saat berbalik ia tak sengaja menumpahkan sedikit air minumnya ke pakaian orang yg ada di belakangnya itu..
"Ma maaf pak Aryo, saya gak sengaja,,"
Liana segera mengambil tisu, lalu ia mengeringkan pakaian Aryo ,
__ADS_1
" Udah ga papa neng nanti baju aa kering sendiri"
" iya, maaf pak jangan AA AA an , pak ini di kantor, saya gak mau nanti ada yg denger"
"Terus kenapa kalau ada yg denger, kita kan orang Sunda,"
" ia sih pak, tapi ini di kantor, masa OG manggil atasannya AA,"
" Tapi ini gak berlaku kalau gak ada orang," elak Aryo
" pak Aryo....." Liana mencubit tangan Aryo seolah memaksa Aryo untuk menuruti keinginan orang yg sangat ia cintai itu, akhirnya dengan terpaksa Aryo menuruti keinginan Liana.
" Iya iya, Ampun" Aryo mengangkat kedua tangannya.
Akhirnya mereka berdua tertawa riang. Bersama Aryo seolah lepas tekanan batin yg baru saja ia alami saat berada di ruangan Yudha, entah kenapa itu, tapi Liana mengakuinya..
" kamu kayanya haus banget Liana? emang habis ngapain?" tanya Aryo.
" habis maraton pak," jawabnya singkat.
Aryo mengerenyitkan dahinya mendengar jawaban Liana.
" iya, tadi saya sibuk banget pak, disuruh-suruh terus sama pak Yudhistira." tambahnya lagi.
"ohh , emang disuruh apa?"
Liana menjelaskan secara detail kepada Aryo, tapi tentu saja bagian saat Yudha memaksanya menikah tidak ia ceritakan.
"Emang pak Yudhistira suka semena-mena sama OG lainya pak, atau sama saya aja pak?"
"gak tau sih, tapi kalau sama saya, bukan semena-mena lagi Lian, lebih parah dari itu, saya juga gak bisa nolak perintahnya Lian, apapun alasannya."
"mungkin karena dia boss kali ya?"
"Ia kali, udah ahh jangan ngomongin dia terus, kedengeran dia, bisa repot kita."
hahahaha... mereka berdua melanjutkan tawa yg tadi terpotong karena membicarakan Yudha.
Tiba- tiba suara pintu terbuka..
" Liana, buatkan saya kopi hitam, nanti kamu antar ke ruangan saya..!"
....
__ADS_1