MAFIA The POSESIF

MAFIA The POSESIF
Dia sudah di miliki


__ADS_3

"Sial!. Jadi dia sengaja mendekati aku cuma ingin tahu keberadaan papanya?. Oden, kejar mereka sampai keluar negeri. Aku tidak akan membiarkan mereka kabur begitu saja".


"Baik tuan". jawab Oden menjalankan perintah dari Brian.


17 Tahun yang lalu, terjadi perebutan harta warisan dengan keluarga Vanka. Orang tua Vanka menginginkan semua aset perusahaan atas nama anaknya, jangan ada nama Brian. Hal itu membuat Pradana menganggap persaudaraan lebih penting dari pada harta.


Hideki Yogaswara nama ayah Vanka, Yoga terus memaksa Hadden untuk memberikan semua aset pada anaknya kelak namun di larang oleh Pradana.


Suatu siang pukul 15:00 WIB


"Maksud kamu apa?. Apa kamu tidak sadar, kamu itu hanya anak angkat di sini jadi balas kamu untuk kami selama ini?" tanya Pradana.


"Saya punya hak juga atas semua ini!".


"Bukan berarti semua aset atas nama anak kamu" sahut Hadden ayah Pradana.


"Saya tidak peduli!!. Pokoknya, semua aset perusahaan harus ada nama anak saya" Yoga mengeluarkan pistol lalu mengarahkan pada Hadden.


"Apa yang kamu lakukan?. Kenapa kamu ingin bunuh ayah, turunkan senjatanya atau saya lapor polisi sekarang!" kata Pradana.


Dorrrrrr


Peluru keluar dari pistol, Hadden tertembak oleh Yoga dan Pradana pun berteriak untuk menghentikan perbuatannya.


"Kurang ajar kamu Yoga! kamu....." hampir sedikit lagi Pradana meninju Yoga akan tetapi langsung di tembak oleh Yoga dengan cepat.


Brian melihat keluarganya di tembak oleh Yoga, ia bersembunyi di sebuah kolom meja agar Yoga tidak tahu dengan keberadaannya. Brian diam membisu sembari menangis melihat kejadian yang di alami oleh kakek dan ayahnya, seandainya kakek tidak di tembak waktu itu tentu saja masih hidup sampai sekarang.


...----------------...


Air mata Brian menangis lagi, Oden melihat itu pun tidak tega lalu ia memeluk Brian memberikan semangat hidupnya. Oden sudah menganggap Brian sebagai saudara sendiri begitu juga dengan Brian, Brian tidak keberatan apa yang di lakukan Brian.


"Ternyata saudara saya cengeng juga, ada aku di sisi kamu Brian. Kita adalah saudara, walaupun aku cuma anak angkat ayah kamu tapi aku tidak akan mengecewakan kamu seperti yang di lakukan oleh Yoga pada ayahmu Bri" ucap Oden yang menyentuh hati Brian.


"Kau gila!. Aku ini bukan perempuan, apaan ini berpelukan segala. Saya tidak mau terlihat seperti gay" kata Brian dengan nada cemberut.


"Hahaha... Yang mengatakan gay siapa?. Bri.. Bri.. Otak kamu itu memang mesu*".


"Sudahlah. Kerjakan apa yang saya perintahkan!, jangan terlambat".


Oden mengangguk sembari ketawa melihat tingkah Oden yang lucu, di sisi lain Oden terlihat kejam akan tetapi sebenarnya hatinya tulus namun banyak sekali orang yang melukai hatinya. Ia sangat kasian dengan kehidupan Brian, hidup yang mewah rumah yang besar tapi kebahagiaan belum tentu selalu ada di sisinya.

__ADS_1


Kin baru sampai di rumah di sapa oleh oma yang sudah menunggu di ruang tamu. Kin selalu pulang malam karena pekerjaan yang banyak.


"Kamu sudah pulang sayang?. Bagaimana pekerjaan kamu?. Oma menunggu kamu makan malam, ayo kita makan dulu" ajak oma.


Brian sebenarnya sudah kelaparan dari sejak sore tadi, demi oma ia tahan lapar agar bisa sempat makan malam bersama dengan oma. Kin anak yang baik, cucu kesayangan oma Aleta. Kin tidak tahu kalau sebenarnya dia memiliki saudara sepupu, entah kemana posisi keberadaannya sekarang.


"Malam oma. Sudah lama menunggu oma?" tanya Kin.


"Tidak lama, oma baru saja selesai masak. Ini oma masak kesukaan kamu, makan ya sayang" ucap oma memberikan steak ayam kesukaan Kin.


Semua makanan di atas meja adalah masakan oma, nenek yang sangat baik untuk keluarga. Mereka berdua pun makan bersama-sama, Sebagian pelayan juga makan bersama dengan mereka. Mereka keluarga besar tidak di permasalahkan orang-orang bawah apalagi para pelayan atau petugas rumah.


Memang keluarga besar yang harmonis dan selalu memperlakukan orang dengan baik. Makan malam selesai, Kin mengajak omanya ke dalam kamar.


"Oma. Kin mau berbicara sesuatu, tapi ini kabar bagus dan kabar sedih oma".


"Memangnya ada apa sayang, coba cerita sama oma. Apa kamu di tindas oleh orang lain?" tanya oma Aleta membuat penasaran.


"Oma jangan ngomong seperti itu, tidak ada yang jahat sama Kin. Begini oma, tadi di jalan pas mau pergi ke kantor aku bertemu seorang wanita oma. Walaupun memakai masker tapi dari kelihatan di mata dia seperti gadis cantik" kata Kin.


"Lalu kabar buruknya apa?." Tanya oma Aleta lagi.


"Gadis itu sudah menikah oma" memasang wajah yang sedih.


"Oma!. Apa aku salah mencintai dia?".


"Tidak sayang, oma tahu itu. Boleh mencintai tapi kita tidak bisa memiliki dia Kin" jawab oma Aleta juga memasang wajah yang sedih.


"Oma. Entah kenapa aku jatuh cinta pada pandangan pertama, sepertinya dia gadis yang baik oma. Tadi saja aku tidak sengaja menabrak gadis itu oma" kata Kin.


"Apa?. kamu melukai dia, apa dia tidak terluka Kin. Kamu sudah membawa dia ke rumah sakit setelah itu, jawab Kin?".


"Aduh... duh... sakit oma, ishh oma. Sakit" merintis Kin akibat di cubit kuping oleh oma Aleta.


"Kamu sih, kalau terjadi sesuatu sama dia bagaimana?. Memangnya kamu mau tanggung jawab kalau suaminya marah".


Benar juga kata oma, kenapa aku menyadarinya sekarang ya. Aduh,,, gawat ini kalau dia lapor pada suaminya. Apa aku harus mencarinya di mana dia tinggal, tapi aku tunggu kabar dari sekretaris kantor saja.


"Kenapa diam kamu Kin?." tanya oma.


"Iya oma, nanti kalau suaminya datang aku akan bertanggung jawab. Oma tenang aja" jawab Kin dengan santai.

__ADS_1


Clarinta membawa segelas air yang ada di tangannya lalu menyiram wanita tersebut. Ia pun bangun dalam keadaan sudah di ikat oleh anak buah Clarinta, ternyata rencana yang ia lakukan gagal dan Jovi sedang tidak berada di apartemen.


"Kamu pikir saya tidak tahu yang mau mencoba mengganggu pasangan orang. Berkacalah, kamu itu wanita yang miskin dan jelek. Sekarang saya akan lapor kamu ke pada polisi" ucap Clarinta memberi peringatan pada wanuta tersebut.


"Jangan kakak. Jangan laporkan saya ke polisi, saya mohon kak".


"Rencana apa yang ingin kamu lakukan?. Berani juga rupanya, kamu pikir saya bodoh" memasang wajah emosi.


"Saya menyukai kak Jovi, saya...".


Clarinta memotong pembicaraan dia.


"Kamu tidak tahu dia sudah punya kekasih. Apa kamu tidak tahu itu?. Wajah yang jelek, ingin menjadi kekasih Jovi. Mimpi kamu!".


"Bawa dia ke kantor polisi, katakan saja dia sudah melakukan pelecehan pada Jovi. Mungkin saja kamu akan mendapatkan hukuman yang lebih berat, hahaha...".


DI SISI LAIN


Jovi tidak ada di rumah, Zeline mengambil sebuah ponsel lalu menelpon Kenzo.


"Kak, kakak aku tidak ada di rumah. Temenin aku ya kak, aku takut sendirian". mengirimkan sebuah pesan pada Kenzo.


"Iya, kakak ke sana.10 menit lagi kakak datang, oh ya Zel mau nitip apa?." membalas pesan.


"Aku mau es krim sama pasta aja kak. Cepat ya kak!".


"Iya sayang, bye..." membalas pesan terakhir.


20 menit kemudian Kenzo sudah berdiri di depan rumah Zeline. pintu di buka oleh bibi pembantu rumah Jovi, Kenzo pun masuk ke dalam rumah. Baru saja masuk tiba saja Zeline datang terus memeluk Kenzo.


"Kakak sudah datang, wah kakak beli sangat banyak" mengambil kertas plastik yang ada di tangan Kenzo.


"Untuk kamu apa yang tidak" katanya.


"Kak Kenzo, aku sayang kakak" ucapnya sembari memeluk Kenzo dengan erat.


Kenzo menatap wajah Zeline dengan lembut, mengajak duduk di sofa. Kenzo memperhatikan Zeline yang terbuka sedikit, ia tidak menduga kalau Zeline bisa secantik yang ia pikirkan.


Zeline menatap balik ke arah Kenzo, lalu... Mereka pun berciuman, semakin lama ciuman itu semakin panas. Tangan Kenzo sudah mulai meraba di mana-mana, mereka terus melum** ciuman yang penuh bergaira*.


Sampai akhirnya nafas mereka kehabisan, berhentilah ciuman dengan nafas yang terengah-engah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2