MAFIA The POSESIF

MAFIA The POSESIF
Dia menyebalkan


__ADS_3

Sinar matahari membuat Anne bangun dari tidurnya, ia mengucek kedua mata lalu membuka perlahan melihat sudah pagi. Brian sedang sarapan di ruang meja makan sendirian, melihat Anne keluar dari kamar yang masih mamakai baju tidur.


"Apa yang kamu lakukan dimari?. Baru bangun bukannya mandi malah datang ke meja makan. Cepat pergi dari sini!!!!" ucap Brian dengan teriakan yang tinggi.


Anne melihat sekeliling, ia menganggap dirinya masih di rumahnya sendiri ternyata tanpa sadar bahwa ia sekarang di rumah suaminya. Mata Anne pun terkejut sampai terbelangak menatap Brian yang sudah semakin emosi, Anne segera bangun lalu masuk ke dalam kamar lagi.


"Aduh membuat jantungan boom akibat suara dia yang seperti petir, dia manusia apa robot ya. Kenapa suaranya begitu kasar" ucap Anne dengan suara pelan.


"Saya mendengar apa yang kamu bicarakan!!" ujar Brian di luar sana.


Aku lupa di kamar ini ada cctv jadi dia tahu, astaga aku sampai lupa gara-gara jantungan copot. Awas kamu Brian, sampai kapan pun aku tidak memaafkan kamu. Lihat saja nanti....


Anne langsung mengambil handuk untuk segera mandi supaya ia terlihat wangi dan harum seperti wanita model. Walaupun masih belum ada perasaan sama sekali dengan Brian, ia tidak akan menyerahkan pria yang sudah berstatus suaminya menjadi pria yang sibuk dengan wanita lain.


Salah satu wanita yang di bawa oleh Oden ternyata masih ada di dalam rumah Brian, ia datang ke meja makan dan duduk bersama Brian. Mengambil piring lalu menaruh nasi atau lauk makanan lainnya, Brian tidak memperdulikan dengan apa yang di lakukan wanita tersebut.


"Masih di betah disini kamu?" tanya Brian.


"Bagaimana tidak betah melihat pria tampan seperti kamu" jawab wanita itu.


"Apa yang kamu inginkan?" tanyanya lagi.


"Mana jatah kerja aku, capek dandan datang ke sini malah nol yang aku dapatkan".


"Oden..." panggil Brian.


"Iya tuan" jawab Oden.


"Berikan uang 100 juta untuk nya lalu bawa pergi dia dari sini, aku tahu kamu butuh uang untuk biaya pengobatan ibu kamu. Jika itu memang benar, carilah uang dengan benar bukan menjual diri pada pria hidung belang" ucap Brian menatap wanita itu dengan tajam.


"Baik. Saya bisa pergi sendiri, terimakasih atas sarannya dan nasehat yang sangat bagus. Saya permisi dulu".


Wanita itu pergi meninggalkan ruang meja makan dan membawa uang yang di berikan oleh Brian. Dari kejauhan Anne melihat Brian begitu baik pada wanita lain sedangkan pada dirinya begitu kasar dan tidak punya perasaan.


Pria macam apa dia, sikap pada istrinya seperti moster tapi sikap pada wanita lain seperti kucing yang imut. Dasar, pria semua sama saja. Tidak punya hati, tidak punya pikiran, tidak punya rasa peduli. Aaaaa... aku sebel.


"Apa yang kamu lakukan disana Cia, kemari lalu sarapan bersama" ucap Brian mengajak Anne makan.


Tadi seperti harimau sekarang seperti kelinci, hehehe... Tuan Brian banyak sekali drama anda Bagus sekali akting tuan sampai saya terharu seperti ini.


"Berhentilah berbicara tentang saya, jika saya tahu itu lagi maka leher kamu tidak segan saya potong" ancam Brian hingga membuat Anne menelan ludah sampai keselek.


"Uhukk.. uhukk...uhuk" tiba-tiba batuk di depan Brian.

__ADS_1


"Minum airnya, sudah saya bilang. Jangan berbicara yang bukan-bukan, Nanti mati".


"Maaf Tuan, saya tidak mengulanginya lagi. Saya makan dulu" ucapnya Anne sembari mengambil piring menuangkan nasi dan lauk.


Masih sama seperti biasa mereka sedang mencari keberadaan Zeline, Jovi tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Akhirnya ia pun menelpon Anne untuk datang ke rumah sakit, Clarinta mengiyakan apa yang Jovi mau.


"Sayang... ada apa?".


"Zeline menghilang Cla!, kamu tahu kemana ia pergi. Aku sangat khawatir Sayang"


"Memangnya kemana Zel pergi, apa sudah coba menghubunginya dimana dia sekarang?" katanya berpura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi.


"Kalau aku tahu, aku tidak akan mungkin sepanik ini sayang. Tolong aku cari Zeline dimana berada, aku mohon..." ucap Jovi meminta bantuan pada Clarinta.


"Aku akan minta bantuan pada anak buah 'ku, kamu tenang saja. Zeline pasti baik-baik saja" ujarnya dengan nada sinis.


"Semoga saja, sayang.... datang ke rumah sakit ya. Ada teman aku kecelakaan, sekarang dia masih belum sadarkan diri".


"Baiklah sayang, aku akan kesana" ucapnya lalu menutup telepon.


Sebelum adik kamu tidak sibuk mengurus permasalahan orang lain maka dia akan selamat dan tidak aku bunuh, tapi jika ia keberatan dengan pernikahan kita lalu mengacaukan semua yang 'ku rencanakan selama ini lalu di halangi oleh adik kamu sendiri. Maka bukan adik kamu saja yang mati tapi juga kalian.


RUMAH KIN


Terlihat oma sedang menatap foto keluarga Anne ataupun foto ayah Anne juga foto ibunya, kini hanya ada penyesalan yang tertinggal di dalam hatinya. Ingin sekali bertemu dengan cucunya tapi di cegah oleh Danial, ia masih dendam pada keluarga ibunya yang dulunya memaksa membawa ibu Anne dari mereka.


"Oma..." panggil Kin tiba berdiri di depan pintu.


Oma segera menghapus air matanya karena tidak mau merepotkan Kin yang sedang sibuk bekerja. Dengan cepat Aleta memberikan senyuman pada Kin lalu menyambut kedatangannya.


"Ada apa sayang?" tanya Aleta


"Maafkan aku oma, aku tidak membawa dia kemari. Ayah Anne melarang dia untuk datang kesini, aku minta maaf ya oma" pinta maaf pada oma Aleta.


"Aku tahu, Danial tidak menerima kita lagi. Seandainya suami oma tidak seperti pada Danial, mungkin kita akan bersatu tanpa ada perpisahan" ujar oma Aleta.


"Aku tahu oma, aku sudah mengetahui hal itu. Aku sudah mencari data siapa sebenarnya Anne, dia adalah cucu oma juga dan ibunya adalah anak oma sendiri" jawabnya Kin.


Aleta terkejut setelah mendengar pernyataan dari perkataan Kin cucunya, ternyata Kin diam-diam mencari bukti tentang masa lalu dimana keluarganya terpisah karena tidak sederajat dengan mereka.


"Kapan kamu mencari data itu semua?" tanya oma Aleta.


"Oma jangan marah ya, aku hanya ingin tahu saja" jawab Kin.

__ADS_1


"Oma tidak marah, oma hanya terkejut saja. Oh ya bagaimana kamu bisa menemukan itu, bukannya kamu tidak mahir dalam bidang itu".


"Aku kan polisi oma, bukannya oma sengaja menutup data asli aku di depan publik" kata Kin dengan lembut.


"Oh ya oma lupa, maklum oma sudah tua. Oma sangat rindu sekali dengan cucu perempuan oma, kapan oma bisa jumpa dengan dia" ujar oma dengan nada sedih.


"Akan aku usaha oma, aku akan berusaha untuk membawa ia kemari" katanya lagi.


Di tempat lain Brian masih mengingat kejadian yang di lakukan kemarin, dengan siapa ia tidur dan siapa wanita itu. Ingin menikmati dengan istrinya tapi sayang itu tidak bisa lagi, ia harus mendapatkan pemaafan dari Anne kalau belum di maafkan maka susah untuk gaulinya.


TIBA-TIBA...


"Kemana tuan pergi kemarin?. Apa sedang menikmati rasa gaira* yang sudah di tahan" ucap Anne yang tiba saja di depan Brian.


Brian sedang mandi kolam pada jam siang begini, rasa nafs* hanya bisa di tahan melihat tubuh Anne yang indah.


"Apa maksud dengan ucapan seperti itu, aku tidak melakukan apa-apa waktu kemarin" ucapnya dengan nada emosi.


"Lalu ini apa?. Aku tahu ini tuan Brian, menikmati berduaan dengan mesra. Tunggu, wajah foto ini?" katanya melihat foto wanita itu dengan seksama.


"Ini kan Zeline, Brian maksud aku Tuan Brian. Ini dimana lokasi ini, foto wanita ini Zeline adik mantan aku yang brengsek itu" ucap Anne dengan pasti.


"Coba aku lihat, apa benar yang kamu katakan. Lalu wanita yang menjual adiknya siapa kemarin?" tanya Brian dengan kebingungan.


Beberapa jam yang lalu


Suara ponsel Anne berdering


"Halo. Ada apa lagi?" tanya Anne.


"Apa kamu lihat Zeline?. Kamu tahu kemana dia pergi?" bukan menjawab malah bertanya kembali.


"Dia kan adik kamu, kenapa bertanya padaku. Aku tidak melihat dia pergi kemana, lagian selama beberapa minggu ini aku tidak pernah jumpa lagi dengannya" jawab Anne dengan nada acuh.


"Aduh bagaimana ini... kemana dia pergi, ya Tuhan... aku sangat khawatir kalau terjadi kenapa-kenapa pada dia".


"Aku tidak tahu, kalau begitu aku tutup dulu" menutup telepon.


"Tunggu Anne, halo... halo".


"Ah sial, ****" ucapnya yang tidak tahan emosi.


Tidak butuh waktu lama Kin mencari keberadaan dimana Zeline berada, ia menghubungi polisi untuk menggeledah tempat tersebut. Semua para penjaga sudah di atasi oleh polisi lainnya, Clarinta melihat polisi langsung kabur melarikan diri dari tempat itu.

__ADS_1


Sial, bagaimana bisa ada polisi disini. Lebih baik aku pergi saja, bisa-bisa aku akan di tangkap dan menjebloskan ke dalam penjara.


Bersambung


__ADS_2