
"Sayang... aku harus pergi dulu, ada kabar dari bos aku. Katanya ada post foto untuk iklan, tidak apa-apakan sayang" kata Clarinta sembari sibuk merapikan tas.
"Tidak apa Sayang, kamu hati-hati di jalan ya, jangan ngebut".
"Iya sayang, aku pergi dulu. Bye..." mengambil kunci lalu pergi.
"Bye sayang" melambaikan tangan ke arah Clarinta.
Ternyata Vanka menyuruh Clarinta untuk datang ke perusahaannya, ada hal yang ingin mereka bicarakan. Mengenai Brian tak kunjung berhasil untuk di bunuh, Vanka kehabisan cara untuk melenyapkan Brian jadi rencana kali ini akan turun tangan sendiri oleh Clarinta.
"Apa kamu punya rencana Cla?. Sepertinya aku sudah muak dengan rencana yang aku susun tidak juga berhasil" kata Vanka melalui telepon.
"Bersabarlah Vanka, tidak semudah kita bisa menghancurkan Brian. Kita harus pandai juga, aku akan mengatakan nanti apa yang aku rencanakan. Kamu tunggu saja disana, di cafe".
"Oke, aku tunggu" menutup telepon.
Pertemuan kali ini akan membuahkan hasil yang sempurna untuk membunuh Brian, namun mereka tidak mengetahui kalau ada anak buah mafia mengikuti mereka dari belakang. Clarinta merencanakan ingin bertemu dengan Brian secara empat mata, Vanka mengikuti Clarinta dari belakang juga memantau agar Brian bisa di tangkap.
Clarinta sudah sampai di depan gedung perusahaan Vanka, ia pun masuk dengan tenang tapi di sisi lain ada sebagian pekerja wanita tidak menyukai dengan kedatangan Clarinta.
"Siapa dia, sepertinya kita baru melihatnya" ujar salah karyawan wanita.
"Aku juga tidak tahu, apakah dia kekasih pak Romeo!" katanya.
"Kenapa kamu bilang seperti itu, Pak Romeo kan belum memiliki kekasih. Apa jangan-jangan dia wanita yang sudah menggoda pak Romeo, kita harus mencegahnya".
"Ada Romeo?" tanya Clarinta.
"Dengan siapa ibu!".
"Saya Clarinta, seorang model ingin berjumpa dengan pak Romeo" ujar Clarinta.
"Ha Clarinta!, wanita model itu. Ya ampun... kita salah orang, bagaimana ini" bersikap malu di depan Clarinta.
"Maaf, ada apa dengan kalian?" tanya Clarinta berpura-pura lembut.
"Nona Clarinta, apa boleh kami minta tanda tangan?. Kami penggemar beratmu" kata gia.
Cepat sekali kalian mengatakan penggemar, tadi saja kalian mengejek aku sampai ingin mengusir aku dari sini. Sekarang berpura-pura semua tidak terjadi apa-apa, pintar sekali kalian rupanya. Baiklah karena kalian yang minta, aku akan tanda tangani.
"Sudah, dimana Romeo. Lama sekali!" ngoceh Clarinta tidak sanggup menunggu di luar.
"Nona Clarinta, tuan sudah menunggu nona di dalam" ucap asisten.
"Kalian lama sekali!" berjalan sembari menggertak kaki di lantai.
Dengan kesal Clarinta masuk ke dalam ruangan, Vanka melihat Clarinta dengan wajah murung. Vanka sampai terkekeh akibat kelucuan Clarinta sebelum masuk ke dalam ruangan, di gosip kan kalau dirinya adalah kekasih Romeo.
"Apa yang kamu tertawakan Vanka, kamu ini aneh saja. Kenapa ada karyawan seperti mereka, sangat tidak jelas!" ucap Clarinta dengan sedikit emosi.
"Kamu tenang saja, nanti aku akan tegur mereka semua" ujar Vanka.
"Bagaimana?. Apa kamu sudah punya rencana?".
"Sudah, coba lihat ini" menunjukan box kotak di depan Vanka.
__ADS_1
"Buka saja!".
Vanka mengambil box tersebut lalu membuka dengan cepat, itu adalah barang yang selama ini di berikan oleh Brian. Mereka berdua akan bertemu secara rahasia tanpa dunia sosial tahu, alasan Clarinta menemui Brian adalah ingin mengembalikan barang pemberian Brian selama ini.
"Kamu yakin rencana ini berhasil?" tanya Vanka dengan rasa keraguan.
"Tentu saja, aku sangat yakin sekali rencana yang aku susun akan membuat Brian berlutut pada kita".
"Baik, aku percaya padamu. Terima kasih atas kerja samanya" ucap Vanka dengan sombong.
"Sama-sama, kalau begitu aku pergi lagi. Ada jadwal potret yang harus di selesaikan, waktu potretan hari ini sangat banyak".
"Kamu seorang model, tentu saja banyak jadwal apalagi sudah menjadi model nomor 1 di negara ini" memuji Clarinta.
"Terima kasih atas pujiannya, bye Vanka".
Segeran hubungi ayahnya yang disana untuk mengatur jebakan lagi, yoga sudah memanggil yang lain untuk segera menyiapkan perangkap. Akhirnya sudah selesai apa yang di rencanakan, membuat semua orang dunia akan berpihak pada dirinya.
**
Saat di tengah perjalanan menuju ke perusahaan, ada tiga mobil yang menghalangi perjalanan Vino. Tiga mobil tersebut adalah orang-orang jahat yang ingin membunuh Vino, mereka keluar dari mobil lalu menyuruh Vino keluar juga dari mobil.
"TURUN!!! CEPAY TURUN KAMU!!!" kata preman di luar mobil.
Vino jadi khawatir dengan kedatangan preman tersebut, mereka bukan cuma dua orang melainkan lebih dari 10 orang. Vino mulai ketakutan, ia tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada cara lain lagi selain menghubungi Kin atasannya, cuma dia yang bisa menolong Vino.
Sudah setengah jam telepon Kin tidak juga angkat, ternyata Kin sedang sibuk meeting jadi lebih fokus dengan presentasi. Sang preman sudah berulang kali menyuruh Vino untuk keluar dari mobil, sampai semua preman mengeluarkan senjata milik mereka masing-masing.
Ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan, aku tidak sanggup melawan mereka. Tolong aku, siapapun itu. Tolong selamat kan aku, tolong...
Tiba-tiba
"Woi.. Siapa kalian berani sekali mengganggu orang lain, mau nantang kalian semua" datang seorang wanita dari seberang dengan gaya seperti anak laki-laki.
"Siapa kamu, tidak usah ikut campur. Kamu hanya wanita, memangnya sanggup melawan kami apa!!!" ujar preman.
"Sini lawan aku, jangan meremehkan kemampuan wanita" merubahkan gaya seperti ingin memancing preman untuk maju berkelahi.
"Maju kalian semua".
Drukkk...
Srtttttt...
Wanita tersebut satu persatu menghajar dengan cepat, sampai mereka berbolak balik bangkit untuk berdiri. Semakin di ayungkan tangan mereka semakin pula kena tinju tangan dari wanita tersebut.
Tidak mau kalah juga, semua mereka preman masih terus ingin menghajar wanita itu. Sampai pas titik lemah mereka, akhirnya mereka melarikan diri dari pertempuran. Vino keluar dari mobil dengan perasaan lega, ada orang yang baik menolong dirinya.
"Tunggu saja kamu, sia-lan... Ayo kita pergi"
Hati wanita itu sangat senang, ternyata yang di tolong adalah seorang pria. Hatinya mulai deg-degan melihat wajah Vino tampan, ia pun menghampiri Vino dengan sikap sedikit malu.
"Terima kasih sudah menolong saya, ini imbalan untuk kamu" ucap Vino memberikan selembar uang pada wanita tersebut.
"Tidak usah tuan, saya menolong dengan ikhlas. kalau begitu saya pergi dulu tuan" ujar wanita itu.
__ADS_1
"Nama kamu siapa?" tanya Vino.
"Nama saya Hannike Felicia, saya tinggal di sekitar sini tuan. Oh ya, tuan mau kemana?".
"Nama saya Vino, senang berkenalan dengan kamu" menjabat tangan sebagai tanda awal perkenalan, tapi wanita itu tidak mau menerima jabatan tangan Vino.
"Kenapa?".
"Tangan saya kotor tuan, jadi tidak pantas menerima jabat tangan dari tuan" jawabnya.
"Hahaha... kenapa seperti itu, ya sudah kalau begitu bagaimana saya traktir kamu makan" ajak Vino.
"Tidak perlu repot begitu tuan, saya ikhlas menolong tuan".
"Saya tidak suka ada orang yang bantah dengan kebaikan orang lain" ujar Vino.
"Baiklah tuan, bagaimana kita makan bakso disana. Saya belum pernah makan bakso disana, jika ingin beli tidak cukup dengan uang yang saya miliki" ucap Hanni.
"Berapa uang yang kamu miliki?".
"Hanya 10 saja, sedangkan bakso harga 30!" jawab Hanni.
"Ayo kita beli bakso, nanti aku yang bayar".
"Benarkah tuan, terima kasih tuan".
Mereka berdua pergi ke tempat jualan bakso, Hanni adalah gadis yang tinggal di sekitar desa tersebut. Ia adalah gadis tomboi, orang tuanya sudah tiada sejak ia masih kecil. Dirinya tinggal bersama orang tua angkatnya, namun sayang sekali orang tua angkatnya sakit lalu meninggal.
RUANGAN PASIEN
Buru-buru Brian masuk ke dalam ruangan melihat Anne belum sadarkan diri, hatinya penuh penyesalan atas perbuatan yang di lakukan selama ini. Ia membelai rambut Anne dengan lembut, tanpa sengaja Anne terbangun tiba-tiba.
"Kamu sudah bangun sayang, bagaimana keadaan kamu sekarang. Apa tubuh masih lemah, aku akan panggil dokter" ucap Brian penuh dengan kekhawatiran.
"Aku dimana?. Kenapa seperti di rumah sakit, ada apa dengan aku. Sakit sekali, kenapa dengan aku Brian" tanya Anne.
"Anne, aku sangat bahagia sekali. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah dan kamu akan menjadi seorang ibu" katanya sembari memeluk Anne.
Hamil?. Tidak mungkin, aku tidak mau hamil. Aku tidak mau....
"Kamu kenapa Anne, ada apa!".
"Lepaskan aku, pergi kamu dari sini. Pergi!!!".
"Pah. Anne kenapa, kenapa dia berteriak seperti ini?" ucap Brian yang bingung dengan sikap Anne.
"Nak, kamu kenapa. Kenapa bersikap seperti itu, ada apa?. Beritahu mama, kenapa?" tanya Aleysia.
"Dia selingkuh mah, usir dia dari sini. Aku tidak mau melihat wajahnya, usir dia pah" menyuruh Danial untuk mengusir Brian keluar dari ruangan.
Kacau sekali, Anne sangat ceroboh bisa-bisa memberitahukan semua di depan Danial. Brian mulai melihat mertuanya yang sudah menahan emosi, ternyata selama ini hidup Anne sudah menderita sejak bersama Brian. Danial dengan tegas menatap Brian penuh dengan amarah, menarik nafas lalu mengucap dua kata.
"KELUAR KAMU!!!" ucap Danial mengusir Brian dengan teriakan.
Bersambung
__ADS_1