
Akhirnya Kyra meminta bantuan pada yang lain agar Brian terjebak dalam rencananya, Kyra minta bantuan pada salah satu karyawan kerja Brian dengan cara suap. Pria itu mau saja karena keadaan sekarang ini dirinya membutuhkan dana untuk pengobatan anaknya, maka sebab itulah pria itu menyetujuinya.
Johan juga ikut turun tangan dalam membantu Kyra, menyewa hotel yang lumayan mahal supaya Brian masuk dalam jebakan mereka. Usai mengumpul mereka bertiga mereka berpisah lalu mengatur rencana.
"Kamu yakin ini bisa membuat Brian ke hotel?" tanya Kyra masih ragu.
"Tentu saja nyonya, saya yakin sekali!" memastikan rencana yang dibuat akan berhasil.
"Bagus, laksanakan tugas kalian. Oh ya Johan, jangan lupa berikan ini di ruangan kamar yang sudah di tentukan" berikan sebuah botol kecil berisi bubuk obat bius.
Pria itu bernama Romi salah satu karyawan pekerjanya, Brian mendengar keluh dari Romi kalau hotel yang di beli sedang dalam masalah besar. Satu kamar atau bisa di katakan barang cacat ada rasa emosi setelah mendengar itu dari Romi pekerjanya, mengambil kunci mobil lalu berangkat sendiri tanpa di dampingi Oden.
"Kenapa bisa cacat, apa dia berbohong waktu itu!" gerutu Brian di jalan sembari bawa mobil.
"Benar sekali tuan, sepertinya ada barang yang cacat. Oh ya tuan, apa tuan di jalan. Saya mendengar banyak suara mobil" tanya Romi yang berpura-pura.
"Saya sudah berangkat sekarang, sampai disana nanti saya kabarin. Katakan, nomor berapa kamar yang cacat. Berani sekali dia membohongi saya!" semakin naik emosi Brian.
Tanpa peduli dengan kedepannya apa yang terjadi, Romi lebih memilih percaya pada Kyra di bandingkan pekerjaannya nanti. Ia pun mengatakan. "Nomor kamarnya 117 Tuan" jawab Romi dengan cepat.
"Saya akan kesana sekarang, kumpulkan semua orang hotel" beri perintah pada Romi.
"Baik tuan" kata Romi lagi.
Anne baru saja selesai masak makanan siang untuk Brian, setelah masak Anne memanggil Brian di dalam kamar. Hasilnya nihil karena tidak menemukan keberadaan suaminya di dalam kamar melainkan seorang pembantu yang sedang melakukan kebersihan kamar.
"Kemana Brian bi?" tanya Anne.
"Tuan pergi keluar nyonya" jawab pembantu menoleh ke arah Anne.
"Keluar? Untuk apa?".
"Saya juga tidak tahu nyonya, sepertinya tadi tuan buru-buru sekali. Kalau tidak salah dengar masalah hotel" kata pembantu lagi.
"Hotel? Kenapa perasaan aku tidak enak ya, aku harus kejar Brian sekarang. Pasti ada sesuatu disana" ucap Anne bergegas pakai baju untuk menyusul Brian.
"Bibi, nanti kalau suamiku pulang beritahu aku ya" ujar Anne.
Buru-buru Anne menyuruh Oden mengambil mobil di dalam gudang penyimpanan.
"Kita pergi kemana Nyonya, apa ini tidak buru sekali membawa mobil dengan cepat".
__ADS_1
Oden sangat khawatir jika dalam kecepatan tinggi membawa mobil akan mengakibatkan terjadi kecelakaan di perjalanan nantinya, Anne pun menolak untuk tidak membawa mobil dengan lambat. " Cepatlah Oden, aku perlu kesana sekarang. Jangan lama-lama bawa mobilnya" ngoceh Anne menyuruh Oden membawa mobil dengan cepat.
"Tapi Nyonya ini sudah cepat, nanti kecelakaan bagaimana?".
"Kalau kamu bisa mengendarai mobil dengan bagus, tidak akan terjadi kecelakaan. Apa kamu mengerti" ucapan Anne dengan nada tinggi.
"Baik nyonya".
Diamnya Ode karena takur nanti kalau Anne melaporkan yang bukan-bukan pada Brian, maka oleh karena itu lebih milih diam saja.
Waktu jam pulang kerja
Sebagian semua para karyawan pulang karena hari ini di khususkan hanya bekerja setengah hari, Vino pulang dengan cepat karena merindukan istrinya di rumah. Dengan cepat Vino membawa kendaraan karena tidak sabar lagi ingin memeluk Zeline, hanya dalam 20 menit sampai di rumah nya.
"Sayang,,, aku pulang" ucap Vino sampai di depan halaman rumah dengan suara teriakan.
"Sayang,,," teriak Vino lagi.
Tidak ada jawaban dalam panggilan Vino, akhirnya ia masuk ke dalam rumah mencari kesana kemari keberadaan Zeline.
Apa dia sedang masak atau tidur? Dia tidak menjawab panggilan aku. Ada suara musik tapi asal dari mana suara ini?. Mencari asal suara yang di dengar
Vino membuka pintu melirik apa yang terjadi di dalam kamar, sebelah pojok melihat Zeline memakai baju olahraga minim yang ketat membuat Vino menelan salifa di dalam mulutnya. "Dia memakai pakaian itu untuk olahraga, sek-si sekali" menatap Vino ke arah Zeline yang masih sibuk dengan olahraga.
Keringat bercucuran di seluruh tubuh memancingkan hawa naf-su Vino yang tertahan, Zeline tidak menyadari kalau Vino suaminya sudah pulang.
"Sayang,,, kamu se..." ucap Vino mengejutkan Zeline yang membalikkan tubuh ke arah kanan.
"Kak Vino, aaaaaa. Kapan kak Vino disini, keluar" teriak Zeline karena terkejut melihat dirinya yang pakaian terbuka.
Ya ampun malunya aku, kenapa aku tidak sadar kalau kak Vino sudah pulang. Apa kak Vino melihat tubuh aku yang cukup lama? Apa yang aku lakukan sekarang ini. guman Zeline menatap dirinya yang tidak percaya diri.
Tanpa rasa ragu Zeline usai menggantikan baju lain ia langsung keluar kamar untuk menemui suaminya yang duduk di ruang tamu, Vino melihat Zeline datang menghampiri dirinya.
"Kak Vino cepat sekali pulang, apa hari ini setengah hari saja bekerja?" tanya Zeline mengalihkan pembicaraan melihat suaminya sedang menahan sesuatu.
"A,,aku hari ini cuma setengah hari saja kerja, di kamar tadi kamu olahraga ya".
Wajah Zeline penuh merona kemerahan akibat menahan malu di depan Vino, sebetulnya Vino sangat ingin sekali memakan Zeline sekarang juga. Takutnya terjadi lagi pada malam waktu lalu dimana ia meminta hak sebagai seorang suami.
Dengan cepat Zeline berusaha lagi mengalihkan pembicaraan lain, ia pun mengajak suaminya untuk makan siang."Kakak sudah makan siang, bagaimana kalau kita makan sama-sama".
__ADS_1
Vino menatap Zeline seperti seekor singa yang kehausan, tak lama kemudian Vino...
Menarik leher Zeline dengan cepat lalu mempertemukan dua sepasang jeli yang sangat indah, Vino terus menelan jeli yang sangat kenyal sampai ujung dalam lidah. Zeline berusaha lawan namun hasilnya tidak bisa menghindar sama sekali.
"Kak Vin, jangan!" teriak Zeline mencoba menyuruh Vino untuk menghentikan permainan ini.
"Aku menginginkan ini sayang, Jangan melawan" ucap Vino terus meraba setiap lekuk tubuh Zeline.
"Sakit kak, jangan lakukan itu. Ah sakit" ucap Zeline menahan sesuatu yang masuk ke dalam goa yang di inginkan Vino selama ini.
"Tahan sayang, hanya sebentar saja".
Zeline terpaksa menurut kemauan suaminya karena ini salahnya juga memakai baju yang minim membuat Vino keluar naf-su, Vino terus mendorong tubuh Zeline hingga mencapai titik puncak yang nikmat sekali.
Tempat HOTEL
Seorang petugas mendatangi Brian yang tiba-tiba datang ke hotel, membuat ketua hotel sangat heran melihat Brian datang dalam kondisi marah.
"Tuan. Apa yang tuan lakukan kemari? datang ketua hotel terkejut dengan kehadiran Brian.
"Tunjukkan kamar 117!" ucap Brian menatap pada ketua hotel.
"Ada apa dengan kamar itu tuan, apa ada masalah tuan" ujar ketua hotel dengan bingung.
"Tunjukkan saja kata saya!!, apa kamu tuli!" ucap Brian dengan nada tinggi.
"Baik Tuan, silahkan" beri arah jalan menuju ke kamar yang di sebutkan.
Kondisi sekarang ini hati Brian berkecamuk mendengar kalau hotel yang ia beli sedang dalam masalah, Brian tidak suka kalau setiap apa yang di beli sudah cacat. Mereka naik lift yang khusus untuk pemilik hotel yaitu Brian, dengan cepat berjalan Brian sudah sampai di depan kamar 117.
"Berikan kuncinya, kamu pergi panggil tukang barang kesini".
"Baik tuan".
Membuka pintu kamar 117 tanpa memikirkan apapun langsung masuk, baru saja lima langkah mengelilingi di dalam kamar tercium bau yang menyengat membuat Brian pusing. Pintu kamar tertutup begitu saja dengan sendirinya, padahal tidak ada orang di luar kecuali dirinya.
Kenapa pintu tertutup, apa yang terjadi. kepalaku pusing sekali, tolong buka pintunya.
Terdengar suara orang yang sedang mandi di dalam, Brian mendengar itu memanggil meminta bantuan. Benar saja di dalam adalah Kyra yang sedang menunggu Brian datang untuk memangsanya, sesudah mandi,,, Kyra mengangkat tubuh Brian ke atas kasur lalu memulaikan cumbuan itu dengan Brian.
Bersambung
__ADS_1