MAFIA The POSESIF

MAFIA The POSESIF
Kekejaman Sania


__ADS_3

Api yang membara kini semakin besar hingga seluruh orang di dalam gedung merasa ketakutan dengan kebakaran yang terjadi, Sania merasa puas dengan apa yang di lakukan sampai-sampai membuat seseorang di bunuh hanya karena gila pada seorang pria. Dalam beberapa waktu jam kemudian api itu sudah di padamkan oleh sang pemadaman kebakaran.


"Baguslah... sekarang tidak ada yang mencegahku untuk dekat lagi dengan Brian, haha... ternyata mudah juga memisahkan mereka berdua" ucap Sania membuat dirinya percaya kalau suatu saat Brian akan menjadi miliknya selamanya.


"Nona benar sekali, tidak ada yang bisa kalahkan nona besar kita ini. Haha...." tertawanya mereka semua karena rencana yang di lakukan akan berhasil.


"Ayo kita pergi, urusan kita sudah selesai".


"Baik Nona!".


Meninggalkan gedung pergi jauh dari tempat tersebut agar Brian tidak mengetahui jejak mereka, yang anehnya anak buah Sania tidak mengetahui kalau anak kecil tadi adalah Brian. Karena bahagia dengan apa yang di lakukan maka anak buah lupa dengan anak kecil yang ada di dalam gedung tadi, Brian yang di dalam sana langsung di keluarkan dan di bawakan ke dalam mobil ambulan lalu berikan nafas oksigen akibat menghirup banyak asap.


"Wah kasihan sekali anak laki itu, siapa orang tua dari anak laki yang sudah tidak berdaya ini" ujar salah satu mereka melihat kondisi Brian di penuhi debu asap di wajahnya, hingga sedikit membakar kulit tubuh yang berada di belakang.


Kondisi Anne baik-baik saja, dirinya terus memanggil mamanya yang tak kunjung di temukan. Ingin masuk kembali ke dalam gedung itu namun di cegah oleh orang penjaga gedung, Anne juga tidak tahu kalau Brian juga hadir disana.


"Mama... aku mau mama, mama aku dimana pak. Tolong cari mama di dalam sana pak, aku mohon" pinta Anne pada para pemadam kebakaran, gedung masih penuh dengan asap jadi tidak di perbolehkan masuk kecuali orang-orang mereka.


"Mama kamu pasti selamat, kamu sabar ya. Tim kami akan menghubungi keluarga kamu dan kamu tunggu saja disana dengan kakak ini, kamu paham sayang" ucap salah satu pemadam kebakaran.


"Baik pak, aku akan patuh" mengiyakan saran yang di berikan oleh mereka.


Anne pun di ajak oleh seorang wanita yaitu suster yang akan mengobati luka di tangannya, saat ingin melangkah ke tempat mobil ambulan Anne melihat Brian yang terbaring di atas brangkar yang ada di mobil ambulan lain. Ia pun menghampiri Brian yang dipikirnya sedang tidur, suster mencegah Anne untuk tidak menganggu pasien yang sedang di urus.


"Dia teman aku suster, bolehkah aku melihatnya" ucap Anne memohon untuk tidak memisahkan mereka berdua.


"Nanti kita akan bertemu dengan dia disana, kamu harus di obati dulu baru kita bertemu dengan teman kamu".


"Baik suster".


"Cia.. jangan pergi" ucap dengan pelan setengah sadar mendengar suara Anne.


**


Mengambil jaket hitam menyuruh Oden untuk mempersiapkan mobil sekarang, ia akan berangkat ke suatu tempat dimana lokasi Jovi berada. Dengan kecepatan tinggi Oden membawa mobil sembari mengecek ponsel keberadaan mereka berdua, juga memeriksakan lokasi Sania saat ini yang ingin melenyapkan Anne.


"Tuan. Apa perlu kita cari jalan lain agar cepat sampai" kata Oden memberikan saran mengambil jalan tikus supaya cepat mudah mengejar mereka berdua.


"Terserah kamu saja Oden, apa yang kamu lakukan asal itu hal benar" ujar Brian menyetujui apa yang di katakan Oden.


"Baik tuan!".


Semakin laju semakin tinggi kecepatan di naikkan, hati Brian mulai khawatir dengan keadaan Anne. Ia masih mengingat ucapan Danial tadi sore, jika terjadi sesuatu dengan putrinya maka pasti dirinya akan lebih histeris dengan masa yang lalu.

__ADS_1


Apa yang terjadi dengan masa lalu?.


Usai sampai dimana Jovi mobil di parkirkan lalu Brian langsung mengetuk pintu mobil tersebut dengan keras.


Tuk.. tuk.. tuk..


"Astaga kau, mengagetkan saja" mengoceh Jovi melihat Brian yang sudah berdiri di samping mobilnya.


"Dimana Anne?" tanya Brian.


Jovi menunjukkan jari telunjuk mengisyaratkan ke arah belakang dimana Anne masih belum sadar, Jovi dengan rasa sombong keluar dari mobil saat membuka pintu mobil Brian langsung memukul Jovi dengan keras.


Duugh


"Apa-apaan kau ini Brian, aku sudah menyelamatkan istri kamu. Apa ini sebagai tanda terima kasih untuk yang sudah membawa lari dari wanita gila itu!" marahnya Jovi melihat tingkah laku Brian yang semakin kejam.


"Membawa lari dari aku begitu, maksud kamu begitukan Jovi!!!" memarahi kembali pada Jovi.


"Lebih baik kamu lihat saja nanti apa yang terjadi pada kami berdua, jika kamu tidak percaya tinggal menonton saja atas kematian kami berdua".


"Apa maksud kamu?".


"Sudahlah, lebih baik aku menghubungi teman dari pada berdebat yang tidak bermanfaat dengan kamu" membuka ponsel mencari nama Vino untuk meminta bantuan.


Ponsel Vino berdering*...


"Ada apa malam-malam telepon aku".


"Cepat kemari... hubungi teman polisi kamu itu, ada seorang yang ingin membunuh aku Vino" jawab seberang sana.


"Apa? siapa yang ingin membunuh kamu Jov, baiklah... aku akan kesana". mematikan telepon lalu menelepon Kin atasanya.


"Tuan, aku perlu bantuan. Temanku sedang dalam masalah, tolong tuan".


"Kamu ini tidak lihat waktu menepon saya, aku akan mengirim bantuan pada anak buah yang lain. Kamu duluan saja aku akan menyusul" kata Kin mendengus emosi melihat Vino menelpon tengah malam.


Bergegas dengan cepat mungkin Kin juga Vino dalam menjemput atasannya, Zeline terjaga karena Vino begitu berisik mengambil baju tebal untuk keluar rumah. Hati Zeline sangat sedih jadi pemikirannya pasti hal negatif menyangka kalau Vino akan mencari pemuas di tempat lain, padahal pada kenyataannya adalah kondisi saat ini menolong kakaknya yang sedang mengalami masalah.


Brian merencanakan siapa sosok wanita gila yang di maksud oleh Jovi, ia pun bersembunyi di suatu tempat yang tidak jauh dengan keberadaan Jovi. Begitu juga dengan Kin dan Vino mengajak polisi lainnya untuk memantau pelaku yang mengincar Anne sampai saat ini.


Sampailah sekelompok Sania dan anak buah lainnya di depan mobil Jovi, banyak sekali anak buah Sania yang datang melebihi 30 orang. Jovi menelan saliva tidak menduga akan ada orang menyerang dirinya sampai begitu, Sania berikan perintah pada anak buahnya untuk memaksa mereka keluar.


"Siapa kamu, apa alasan kalian mengejar kami!" ujar Jovi yang bingung dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Kau tidak perlu tahu apa alasan aku mengejar kamu, siapa yang ikut campur dengan urusan ini. Kamu sendiri yang membawa kabur wanita yang bersamamu" jawab Sania dengan nada sombong.


"Dia temanku tentu saja aku harus melindunginya, siapa kau ini berani sekali ingin mencelakai Anne. Aku tidak menyerahkan temanku begitu saja pada kamu wanita gila".


"Sania, apa yang di lakukan. Apa dia mencoba membunuh Anne, ini tidak bisa di biarkan aku harus menolong Anne, Oden... panggilkan semua anak mafia yang lain" suruh Brian persiapkan anak buah yang lain.


"Baik tuan. Boy semua, siapkan semua dan segera datang kemari" ucap Oden berikan sinyal oada mereka.


Tibalah Kin juga lainnya keluar ke area menangkap Sania yang berdiri di depan Jovi, Sania pun terkejut kenapa ada polisi di sekitar mereka.


"Sialan.. Kau menghubungi polisi, kamu pikir bisa mengalahkan kami. Kalian cepat bunuh mereka" ucap Sania dengan senyuman sinis.


Dorrr


Dorrr


Dorrr


Suara tembakan berkali-kali yang keluar setiap peluru mereka anak buah Sania, dengan cepat kilat para anak buah Sania dalam penembakan sehingga hanya tersisa Kin dan Vino.


"Tuan... apa rencana kita lagi?" tanya Vino.


"Ah sial, bagaimana bisa mereka cepat sekali dalam menembak!. Ternyata anak buah wanita itu bukan orang sembarangan" gerutu Kin melihat para polisi di kalahkan hanya waktu lima menit saja.


"Aku dimana?" terbangunnya Anne dari sekian lamanya tidak sadar sejak masuk rumah sakit.


Saat Anne sadar Sania membuka pintu mobil menarik Anne keluar.


"Sakit lepaskan, siapa kamu!".


"Masih ingat wanita yang dendam pada kamu karena sudab mengambil Brian dari hidupku" kata Sania sembari menarik rambut Anne.


"Lepaskan Sania, sakit sekali".


"Sakit ini tak seberapa Anne, lebih sakit aku melihat orang yang aku cintai menikah dengan wanita lemah seperti kamu!!!" ucap Sania dengan nada teriak dan mengarahkan pistol pada Anne.


"Sania? Memangnya siapa dia Anne?" tanya Jovi karena penasaran.


"Dia wanita yang mencintai Brian Jovi, kamu tidak tahu apa yang terjadi masa lalu kami. Sekarang yang di incar adalah aku, kamu tidak perlu melindungiku" cegah Anne untuk tidak berikan nyawa untuk menyelamatkan hidupnya.


Dorrrr


Suara tembakan dari Brian membuat orang melongo ternyata menembus ke perut Sania, Mereka menoleh ke arah lain dimana Brian berdiri. Begitu juga dengan Sania tidak menduga di tembak oleh pria yang di cintainya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2