MAFIA The POSESIF

MAFIA The POSESIF
Salah paham


__ADS_3

Pernikahan adalah hubungan dimana satu sama lain menerima kekurangan masing-masing, melupakan masa lalu yang terjadi pada pasangan sendiri ataupun sebaliknya. Zeline yang memiliki hidup yang gelap bersama seorang pria bernama Kenzo hubungan yang tidak di restu oleh kakaknya sendiri Jovi. Sedangkan Vino adalah asisten Kin dimana hubungan di antara Jovi dan Vino adalah sahabat sejak bangku SMA, maka sebab itulah mereka keduanya di jodohkan oleh Jovi.


Malam yang membuat Vino merasa kesal karena tingkah Zeline yangsedikit aneh, berpikir kenapa suaminya sendiri di sentuh merasa segan sedangkan mantan kekasihnya belum ada ikatan pernikahan begitunya di sentuh lebih dari batas.


"Apa yang membuat Zeline merasa takut jika aku sentuh, lalu apa bedanya ia dengan Kenzo mantan kekasihnya" ucap Vino meremas tangannya karena sakit hati melihat Zeline menamparnya saat berciu-man di punggung istrinya.


"Lebih baik aku tidur di kamar lain malam ini, tidak ada selera aku melihat Zeline sejak ia menampar wajah aku" dengus kesal Vino menuju ke kamar lain.


Di dalam Zeline menahan air mata yang hampir menetes, seharusnya tidak melakukan hal seperti itu pada suami sendiri pikirnya. Ingin menemui Vino tapi sudah masuk ke dalam kamar lain, Zeline tidak menduga kalau ini akan terjadi pada malam pertamanya.


Maafkan aku kak Vin, aku hanya takut jika kakak tahu kalau aku tidak perawan lagi. Aku takut sekali suatu saat kakak akan meninggalkan aku, maafkan Zeline kak... hisk.


Zeline tidak tahu kalau sebenarnya Vino sudah mengetahui kalau dirinya sudah tidak perawan, hanya saja Vino tidak mau membahas itu lagi dengan Zeline. Terjadilah kesalahan pahaman di antara mereka berdua, tidak berpisah kamar agar tidak perpanjangkan lagi masalah tersebut.


Suasana di jalan masih menggenaskan saat Sania masih mencari keberadaan Jovi dan Anne. Tahap dalam pencarian dengan berbagai banyak anak buah mengelilingi kota, berapa kali Jovi menelpon Brian tetap saja tidak di angkat telepon Jovi. Hal itu membuat Jovi semakin geram dengan sikap Brian yang tidak peduli dengan istrinya sendiri, Jovi belum mandi dari sejak siang akibat harus menjaga Anne yang masih belum sadar.


"Sial-an kamu Brian, istrimu akan di incar oleh orang lain untuk membunuhnya. Bagaimana mungkin kamu tidak ada di situasi seperti ini, hatimu terbuat dari apa Brian. Ah sial..." kata Jovi yang sudah berkeringat basah karena sibuk berusaha lolos dari kejaran mereka.


"Angkat Brian, angkat..." di lemparnya ponsel ke arah belakang.


Rumah Brian


Menganggap bahwa Jovi menelpon dirinya karena reputasi sudah hancur, maka karena itu Brian merasa kalau alasan Jovi telepon adalah untuk membahas masalah karir. Di sisi lain Brian tidak memikirkan apa alasan Jovi telepon, Brian semakin senang dan bahagia melihat Jovi sudah bangkrut.


Datanglah Aleysia pada Brian menanyakan kemana Anne pergi yang belum sejak saat ini, Tidak sungkan ia bertanya pada Brian saat ini.

__ADS_1


"Brian.. apa kamu tidak risih kemana Anne pergi?" tanya Aleysia.


"Mungkin saja dia sedang berselingkuh dengan mantan kekasihnya!" jawaban Brian membuat Aleysia melongo segitunya percaya dengan foto tadi siang.


"Kenapa mah, tadi saja dia keluar menemui Jovi di sebuah cafe dimana mereka sedang berduaan dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri" ujar Brian semakin membuat hati Aleysia yang di katakan kalau anaknya begitu murahnya di mata suaminya sendiri.


"Apa ini di sebut sebagai suami?. Seorang suami yang lebih percaya dengan berita yang tidak tahu jelas dari mana asalnya lalu kamu percaya begitu saja" ucap Aleysia berlinang air mata mendengar ucapan Brian.


"Lalu apa mah, apa foto itu palsu? JAWAB MAMA!" teriak Brian yang sudah tidak tahan emosi.


Plakkk...


Sebuah tamparan yang mendarat ke pipi Brian dari tangan Danial, suami Aleysia baru saja pulang dari luar karena pekerjaan kantor sudah selesai.


Brian pun berpikir sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhnya selalu berubah-rubah sampai membuat hal kejam pada keluarga Danial, apa penyakit yang ada di dalam tubuh Brian.


"Apa yang aku katakan saat ini alasan membuat papa merasa kesal dan sakit hati. Begitu juga dengan aku pah, melihat istri bermesraan dengan pria lain di belakang aku" di lemparnya foto yang masih di simpan oleh Brian.


"Papa yakin ini foto palsu, papa curiga pria yang bersama Anne apa hubungan dengan kamu Brian?" tanya Danial membuatnya bingung sampai Brian berontak begini pada mertuanya.


"Di adalah Jovi sahabat aku sendiri pah, sebelum aku menikah dengan Anne aku berhubungan dengan seorang wanita model bernama Clarinta. Jovi berpacaran dengan Anne tapi juga memiliki hubungan sembunyi dengan kekasihku sendiri, seorang sahabat merebut kekasih sahabatnya sendiri padahal sendirinya sudah punya kekasih" jelas semua Brian sampai semua masalah yang terjadi di ceritakan pada mereka berdua.


"Kenapa anak kami yang menjadi sasaran dalam masalah kalian berdua, kamu ingat ya Brian. Jika kamu sampai melampaui batas membuat anak papa kenapa-kenapa, papa tidak segan menyuruh kalian untuk bercerai!!" ucap Danial hingga mengancam Brian untuk tidak menyakiti Anne dengan anak yang di kandung.


Seperti hantaman petir saat Brian mendengar perkataan ayah mertuanya, di dalam hati membuat Brian tidak rela berpisah dengan Anne tapi di lain berkata sangat susah untuk memaafkan perbuatan mereka berdua. Menuju langkah ke kamar untuk merenungi perbuatan yang di lakukan hari ini, Brian pun meninggalka ayah dan ibu mertuanya yang masih menatap punggung Brian masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Saat sudah di dalam kamar pintu di tutup dengan keras, membuka ponsel mendapatkan panggilan sebanyak 50 kali lalu mendapatkan sebuah pesan yang isi pesan tersebut.


Brian sia-lan dimana kamu!, apa kamu tidak tahu kalau istri kamu sedang di kejar oleh wanita yang aku tidak tahu siapa dia. Mereka semua ingin membunuh Anne sampai saat ini mereka masih mengejar kami, kamu ini pria apa bukan Brian yang membiarkan istrinya sendiri apalagi dia sedang hamil. Ada apa masalah di antara kalian berdua, sejak kalian menikah aku tidak ada hubungan apapun dengan Anne dan aku lebih sibuk dengan pernikahan adikku minggu yang lalu. Pesan masuk ke dalam ponsel Brian.


"Apa!, jadi yang sebenarnya terjadi kalau foto itu..." Brian semakin pusing apa yang terjadi hari ini, ia pun mengingat tentang Sania yang dulu pernah melihat dengan mata kepala sendiri dalam membunuh ibu kandung Anne pada waktu itu.


Flashback on


Pada waktu itu Shofia berencana ingin menjemput Anne di gedung les tarian, saat ingin menuju lantai atas yaitu lantai lima. Tidak sengaja Brian juga ikut menjenguk Anne dalam kontes perlombaan tarian, Sania tidak tahu kalau Brian mengikutinya dari arah sisi lain. Brian yang curiga apa yang akan di buat oleh Sania sampai membawa anak buah segala, akibat penasaran ia pun terus mengikuti Sania sampai suatu jalan sunyi tanpa ada orang.


Shofia tidak terpengaruh orang yang mengikutinya dari arah belakang, mungkin saja mereka ikut melihat perlombaan tarian. Maka sebab itulah Shofia menganggap tidak terjadi apa-apa dirinya, beberapa langkah kemudian langsung diterkam leher Shofia dengan cepat oleh para anak buah Sania.


"Bawa dia ke tempat lain, jangan sampai orang lain tahu" perintah Sania menyuruh mereka para anak buah mengangkat tubuh Shofia yang sudah tergeletak di lantai.


"Baik Nyonya!" jawab mereka menunduk kepala.


"Apa yang di lakukan oleh mereka, kenapa Sania melakukan itu pada ibu Cia. Benar-benar keterlaluan kamu Sania, aku harus ke...." ucap Brian yang ingin mencegah Sania namun sayang sekali, sudah dibuat pingsan oleh anak buah Sania.


"Apa yang kita lakukan pada bocah ini?" tanya salah satu mereka.


"Biarkan saja, tujuan kita adalah nyonya Shofia bukan bocah ini" jawab mereka.


Tanpa di sadari seorang anak kecil yang di buat pingsan adalah brian, mereka semua tidak mengetahui anak laki tersebut. Dengan penuh percaya diri mereka melakukan sesuatu hal tanpa melihat arah lain apa yang terjadi sebenarnya, Sania dan lain membawa Shofia ke ruangan kosong dan ruangan tersebut akan di bakar dengan api yang besar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2