
Cecil pergi ke ruang latihan yang terisolasi.
"Baiklah, Tenshimia Reika atau perlu dipanggil Suzuka Reika ? " Reika pun terdiam sejenak. "Reika saja. " Keadaaan menjadi sedikit tertekan.
"Maaf, maaf. Gara-gara aku, kamu menjadi tertekan."
"Lupakan saja. "
Yukio melihat Reika dari bawah sampai atas. "Kau tidak memakai senjata?"
"Aku bisa menggunakan apa saja. "
"Hmp, Antiliner ya.. Gampang sih, tapi lebih mahal. "
"Aku tidak akan membeli senjata. "
"Hmp, ada yang sesuai denganmu. " Yukio memperhatikan lebih teliti.
"Kau bahkan mengabaikanku... "
"Hey, ikut aku. Kita akan pergi membeli senjata untukmu. Kalau kamu tidak suka, jangan beli. Kalau masalah harga jangan khawatir, akan ada harga spesial. " Yukio memakai jaketnya. "Ayo. "
Reika sempat berpikir Yukio keren saat dia memakai jaketnya. Reika pun mengikuti Yukio. Mereka berhenti di Toko serba guna. Tokonya terlihat sangat tua
bagi Reika, tapi terawat. "Ada apa lagi ? Tidak biasanya kamu mengunjungiku berturut-turut. "
"Hey, tidak apa-apa kan ? Kau masih menyimpan Deathcroma ? "
"Masih, tapi aku lupa dimana. Aku akan mencarinya sebentar. " Yoko menghilang dalam segejap.
"Kalian saling kenal ? "
"Keluarga. Kakak-ku. Dia sangat berbakat membuat senjata. Senjata yang akan kamu pake adalah Deathcroma. Semacam cambukan, tetapi seperti ekor naga.
"Sudahku temukan. "Yoko tiba-tiba datang dari belakang dan membuat Reika terkejut.
"Maaf, sudah membuatmu terkejut. "
Yoko tersenyum. "Suzuka Reika. Potensi magicnya besar, tetapi kacau balau. Liar.
"Aku bisa mengendalikannya. Potensiku tidak liar. "
"Bukan masalah bisa mengendalikannya atau tidak. Bisa membuatnya fokus ke satu tempat atau tidak, itulah yang terpenting. Aku juga bisa merasakan..." Yoko terdiam.
"Yukio, kau akan melatihnya ? "
"Yap, ada masalah ? "
Yoko terdiam. "Tidak kok. " Yoko memberi Yukio sebuah kotak. "Ini dia Deathcroma. Senjata ini memang cocok dengannya. " Yukio membuka kotak itu. Cambuk yang berwarna merah darah. Entah kenapa Reika sangat suka dengan cambuk itu.
"Masih baru. Cambuk ini akan membuat potensi magicmu menjadi lebih teratur, alias tidak liar. Gampang digunakan. Memang cocok untukmu. "
Yukio memberikan cambuk itu kepada Reika.
"Cobalah. Jika kau suka, kita beli. 'Selagi Reika mencoba, Yukio dan Yoko berbincang-bincang. "Ada apa ?
"Ada yang mengganggu dirinya. Aku hanya lihat sekilas, tapi itu sakit. "
"Apa yang kau lihat ? "
Yoko terdiam. "Entahlah, seperti Kuro yang dia pendam."
"Mana mungkin dia memendam Kuro. Kalau saja benar, berarti akan terasa..
"Yap... Akan gawat kalau dibiarkan. " Yoko memegang erat lengannya.
"Tidak akan aku biarkan dan aku akan mengalahkannya. "Yukio memegang lengan Yoko.
__ADS_1
"Bagainmana kamu menyukainya ? " Yukio berjalan ke arah Reika.
"Aku menyukainya. Bisa dijadikan serba guna dan ringan. "
Yoko tertawa. " Ringan karena potensi magicmu sangat besar. Tanpa disadari kamu memakai potensi magicmu. "
"Tapi... Memang aku memakainya untuk mempercepat gerakannya dan mengatur cambuk ini."
"Cambuk itu hanya untuk Antiliner. Ketika dipakai oleh orang lain yang bukan Antiliner, cambuk itu akan susah dikendalikan, tapi tidak bagi yang bukan Antiliner. Jadi kamu ambil atau tidak ?"
"Ambil ?"
"Aku hadiahkan hanya untukmu. " Yoko mendekat ke arah Reika sampai mata mereka bertemu. "Sebagai gantinya jaga baik-baik cambuknya. " Reika tersipu.
"Kau harus mengajarnya dengan baik."
Yukio pun membuka pintu. "Tentu saja. Kau kira aku siapa ? " Yukio tersenyum sinis. "Ayo, Reika.
"Terima kasih banyak. " Reika membungkuk sebagai rasa terima kasih.
"Orang itu... Auranya misterius, tapi membuatku nyaman. "
"Dia memang seperti itu. Kalau boleh nanya, apakah kau punya masalah ? "
Reika menundukan kepalanya. "Tidak ada. Tidak penting. " Yukio menyerang Reika dengan tiba-tiba.
"Ada a.. " Yukio menyerang Reika dengan serius. "Dia
menyerangku dengan serius. Sekali aku kena pukulannya, aku akan mati. "Yukio terus mernyerang Reika. Reika pun mau tidak mau bertahan.
Yukio pun berhenti menyerang Reika. "Apa yang kau sembunyikan?"
"Tidak ada. " Reika menghelakan nafas panjang. Yukio pun menyerang Reika lagi. Lebih cepat, tapi lebih lemah. "Pukulannya melemah, tetapi dengan kecepatan seperti ini "
"Apa yang kau pendam !! Katakan !! Keluarkanlah !! " Yukio terus menyerang Reika tanpa ampun.
"BUKAN URUSANMU! "Aura hitamnya
semakin besar.
"Bagus keluarkan. "Aura nya menyelimuti Reika.
"Sialan. Jangan. Jangan. Jangan. Aura itu terus menyelimuti Reika seperti memakan Reika. Yukio menyerang Reika, tetapi aura hitam itu menahannya dan akhirnya aura hitam itu menyelimuti
Reika seluruhnya. "REIKA ! "
"Kenapa kamu hidup disini !! "
"Enyahlah !!
"Mati kau !! "
"Dasar sampah !!"
"Kau bukan putriku ! "
Semua perasaan Reika menjadi gelap. Semuanya gelap. "Tidak ada yang menginginkan aku. "
"Sialan ! " Yukio mengumpulkan semua potensi magicnya sehingga menjadi satu.
"Sialan. Ini perlu 'pensucian'. Aku belum pernah melakukannya. "
"Tentu saja. Kau kira aku siapa ? "Yukio teringat kata-kata nya sendiri. Yukio menyatukan kembali potensi magicnya.
"Kau kira aku siapa ? Aku adalah magicalist ! KIRIGAYA JUTSU, AKATSU ! "
Gravitasi disekitarnya menjadi berat. Reika pun membungkuk dan teriris karena sabitan Yukio.
__ADS_1
"Kirigaya Jutsu, Anko. " Lapisan magic berbentu segitiga mengurung Reika.
"Lapisan ini."
"Maaf terlambat. " Kirigaya Yuiko, dia datang tepat di depan mata Yukio.
"Yuiko, kau... "
"Makasih banyak. Biar aku yang mengatasi ini. " Yuiko menghela nafas. Dia mengeluarkan kipas hitamnya, Junko. Kirigaya Jutsu, Shinko. " Gravitasi di dalam segitiga itu menjadi lebih berat.
"Kalau kita ke sana, kita akan hancur.
"Yukio berpegang pada pundak Yuiko.
"Kuro ini udah tingkat tinggi. "
"Kita harus mengadakan Akatsu Tenshi. "
"Akatsu Tenshi !? Itu bisa membuatnya terbunuh."
Yuiko merngigit tangannya sampai berdarah. Darah itu dipakai untuk menulis huruf Tenshi, yang artinya malaikat.
"Kirigaya No Jutsu, Akatsu Tenshi! "Yuiko mengkipas kan kipasnya dengan seluruh potensi magicnya.
Badan Reika penuh dengan luka goresan karena udara yang dibuat Yuiko. "Sial dia masih bersatu dengan Kuronya.. " Yukio membuat tangan besar dengan potensi magicnya. "Aku akan menarik Kuronya. Tetap lakukan Akatsu Tenshi. Kumohon
sadar lah. " Tiba-tiba dari arah belakang Yukio dan
Yuiko terasa angin berhembus kencang dan ternyata Cecil. Cecil mendekat ke arah Reika dengan cepat dan memeluk Reika.
"Kami menunggumu, senior.
"Kenapa kamu dilahirkan !!?? "
"Kenapa kamu memiliki kekuatan itu ?! "
"Dasar monster !!"
"Pembunuh... "
Reika menundukan kepalanya. "Tidak ada yang mau denganku... Kenapa aku dilahirkan dengan kekuatan ini ? "
"Reika ! Senior Reika. " Teriak hangat, tapi kuat.
"Siapa itu ?"
Cecil mendekat ke arah Reika. "Kekuatan ini sudah menjadi bagian darimu. Kekuatan ini adalah dirimu. Jangan lari dari kenyataan bahwa kamu memiliki
kekuatan yang berbeda dari anggota keluargamu yang lain. " Cecil terdiam. "Aku juga pernah merasakannya. Kenapa harus kekuatan ini ? Timeliner adalah sebuah kutukan, tapi itu sudah bagian dari diriku. Aku menerimanya dan menguasainya. Aku tidak akan lari dari kenyataan. "
Kata-kata itu menyadarkan Reika.
"Aura itu hilang sedikit demi sedikit ! Sekarang waktunya Yuiko ! "
"Kirigaya No Justu, Akatsu Tenshi ! " Yuiko mengipaskan dengan kuat. Aura yang ada di sekitar Reika menghilang. Reika pun jatuh pingsan. Cecil
tersenyum. "Syukurlah. " Cecil teringat dengan adanya Yuiko. "Ibu."
"Dia sudah pergi. Dia menitipkan salam. Aku sangat bangga denganmu. " Cecil merasa kecewa karena dia tidak bisa melihat ibunya, tapi dia bersyukur kalau
ibunya baik-baik saja.
"Ayo pulang. "Yukio tersenyum. Cecil pun menggendong Reika. "Oh ya, orang yang kamu lihat bukanlah Yuiko yang sesunggunya. Itu hanya bayangannya. Kekuatannya belum sepenuhnya. " Cecil tersenyum karena merasa bahagia melihat
sosok ibunya, walaupun hanya sebuah bayangan.
Note: Jangan lupa likenya ya biar saya semangat bikin ceritanya.
__ADS_1