
Banyak laporan berita dimana-mana. Mayat yang ditemukan dengan luka di leher. Semuanya bahkan tidak berani untuk keluar rumah. Ada satu orang yang menjadi saksi, tetapi keesokannya dia mati dengan luka di lehernya. Polisi menyimpulkan bahwa itu adalah pembunuhan dengan pelaku yang sama. Pembunuh itu dikenal dengan Nightmare. Saat itu Cecil sudah remaja dan kejadian itu sebelum Cecil bertemu dengan Micheal.
Cecil membuka tempat bekalnya. Daging dengan bumbu lemon, salad, dan tentu saja nasi. "Cecil, sekarang sudah yang kelima !! " Karina menunjukan berita pembunuhan kepada Cecil. "Ayo kita tangkap ! Dengan magic yang aku punya kita bisa ! "
Cecil memasukan daging nya diantara nasi dan salad. "Terlalu bahaya... Memang kamu udah menguasainya ? "
"Belum, tapi... "
"Bahaya. Kamu harus bisa mengusainya terlebih dahulu ! "
Karina cemburut. "Bagaimana kalau aku kasih roti lemon ? "
"Ini bukan masalah kecil. Nyawamu bisa menjadi taruhannya, looh. Sudah lupakan saja. " Cecil membereskan tempat bekalnya dan pergi.
"Hey, mau kemana ? "
"Ruang ganti. Setelah ini olahraga kan ? "
"Hey, tunggu dulu !! "
.
.
.
Cecil dan Karina pun pulang bersama. Mereka berpisah di stasiun kereta api karena rumah Cecil lumayan terpencil. Dia melewati kuil di dekat rumahnya. Cecil pun berpikiran akan mampir untuk berdoa, 'semoga tidak ada korban lagi. '. Ketika Cecil berdoa, terdengar suara dari semak-semak. Cecil bersiap-siap untuk lari, tapi ternyata ada orang yang terluka keluar dari semak-semak.
Cecil langsung menghapirinya. "Kau tidak apa-apa ? Ah, banyak darah ! Kita harus ke rumah sakit !! " Cecil mencoba untuk memapahnya, tetapi orang itu menolak. Orang itu memiliki rambut yang panjang dan bagus berwarna hitam pekat.
"Bukan urusan-mu. " Orang itu jatuh saat dia jalan.
Cecil menghampirinya lagi. "Setidaknya kita rawat lukamu ! " Cecil mencari sesuatu yang bisa digunakan di dalam tasnya. Dia menemukan sapu tangannya. Dia membasahinya dengan air minum. "Harus dibersihkan dulu. " Cecil menempelkan sapu tangannya ke luka orang itu. "Air saja tidak cukup. " Cecil memegang tangan orang itu. "Pegang ini. Terus tutupi lukamu. Aku akan pergi obat ke supermarket terdekat. "
Cecil berlari. Dia ingat 10 rumah dari kuil ada minimarket. Saat dia masuk, dia langsung menuju obat-obatan. Kasa, plester, alkohol, antibiotik dan perban. Dia membelinya tanpa berpikir panjang. "Aku sudah beli.... " Orang itu sudah tidak ada. "Oyyy, aku sudah beli obat !! Uang jajanku abis buat ini !! " Cecil kecewa dan dia pergi ke rumah.
Orang itu mengawasi Cecil dibalik pohon. Orang itu melihat sapu tangan Cecil. "Suatu saat nanti... "
.
.
.
__ADS_1
"Cecil ! Ini mengejutkan ! Pembunuhan berantai telah berhenti ! " Karina berlari dan terjatuh.
"Hey, hati-hati dong. " Cecil melihat ke arah lutut Karina. "Tuh kan jadi luka. " Cecil menempelkan plester ke lututnya Karina.
"Kamu jadi semakin waspada... Sekalian bawa kotak P3K. "
"Ini gara-gara dia !! " Cecil memukul di bagian lutut Karina yang terluka.
"SAKIT !! "
.
.
.
Part ini menceritakan pertemuan Cecil dan Kai.
-------------------------------------------------------------------------------------
"Itulah cara aku bertemu Kai. " Cecil melihat ke arah Kai.
"Kau pembunuh itu ?! " Karina terkejut.
"Kalau tidak salah kamu menggambarkan Kai dengan orang yang berambut hitam dan panjang, tapi sekarang warnanya silver. "
"Aku menyuruh dia mengecet rambutnya agar ketahuan kalau dia benar-benar tidak membunuh lagi. "
"Apa hubungannya ? "
"Cipratan darah. Akan keliatan kalau aku membunuh orang. Warnanya berubah menjadi pekat. "
"Tapi saat itu kalian belum saling kenal bukan ? "
"Yap, baru-baru ini aku bertemu dengannya. Ternyata dia kenal Yukio. "
"Jadi kamu bertemu lagi dengan Kai gara-gara Yukio ? "
"Yap. Aku shock ketika tahu orang yang aku selamatkan ternyata seorang pembunuh. " Cecil melihat ke arah Kai. Kai pun membalas dengan senyuman. "B...Baiklah sekarang kita fokus dengan pengambilan buku The Seven Heaven Hopes Book. "
Mereka berkumpul di ruang rapat. "Masih 5 kilometer lagi kita sampai. "
"Kelompok Titania akan maju duluan yang disusul kelompok Kenji. Kelompok Scarlet akan masuk ketika barisan depan sudah rata. "
__ADS_1
"Kita juga harus mengulur waktu sampai senior Reika sampai. "
Ada seseorang yang mengangkat tangan sambil loncat-loncat karena dia pendek. "Maaf, tapi berapa lama ? Mana mungkin kita bisa menahannya dalam waktu lama, kan ? "
Cecil merasa dejavu. "Ah, kamu yang waktu itu ! " Cecil kembali ke pertama kali dia masuk sekolah. "Kamu yang menabrak-ku di koridor sekolah bukan ? "
Orang itu maju ke depan. "Aah !! Kamu yang bilang aku lucu !!! "
"Tapi kenyataannya memang begitu. " Karina langsung menjawab dengan cepat.
"Kembali ke topik ! Jadi gimana ? Masalahnya yakin dia bisa datang kesini dengan cepat ? "
"Tidak masalah. Yukio akan membukakan portal yang ada di pesawat ini. Tunda selama 2 menit. "
Semuanya terkejut. "Bukankah itu terlalu cepat ? "
"Senior Reika pasti bisa. Kita masih memerlukan waktu 5 menit sebelum sampai ke pusat. Sebaiknya dipakai untuk bersiap-siap. Sekarang bubar dan bersiap-siap untuk perang nanti. "
"Tunggu dulu ! " Orang itu menanyakan lagi. "Bagaimana kalau dia tidak sampai tepat waktu ? "
"Kita akan lanjut ke rencana selanjutnya. "
"Bukankah terlalu berisiko ? Kamu akan mengambil buku itu seorang diri. "
"Tenang saja aku bisa, tapi itu tidak akan terjadi karena senior Reika akan datang tepat waktu. Pasti. "
Orang itu menghela nafas. "Terserah. "
Semua pun bubar. Cecil menghampiri orang itu. "Nama senior ? "
"Aoi. Hotaro Aoi. Nama yang biasa bukan ? Mudah ditebak dari warna rambutku. "
Cecil tidak menganggapinya. "Sihir senior Aoi apa ? "
"Winder. "
"Angin kah.. " Cecil tersenyum seram. "Bisa minta tolong ? "
Aoi merinding dengan senyuman Cecil. "B.. Boleh saja... "
Next bakal gua update bonus chapter,
see yaa😃
__ADS_1