
"Birrul kita ajak aja deh, Bi.. Umi gak tega kalau Birrul dititipin ke orang lain," usul Maya tiba-tiba.
Setengah jam yang lalu Suhan mengajak Maya untuk dinner di restoran yang ada di resort. Dan Suhan menyarankan untuk menyewa baby sitter untuk menjaga Birrul selama kurang lebih dua jam mereka dinner.
Akan tetapi Maya tak menyukai usulan itu. Sehingga kini ia sedang bersiap-siap mengenakan pengais untuk menggendong Birrul ke restoran.
"Mm.. Kalau Umi maunya begitu ya gak apa-apa. Sini, Biar Birrul, Abi aja yang gendong. Pokoknya di liburan ini, Umi harus santai sebisa mungkin ya! Kan Abi siapin tiga hari ini biar Umi bisa refreshing.."
"Iya.. iya.. makasih ya, Bi.."
Ketika keluarga kecil itu sampai di restoran, terdapat beberapa pengunjung resort lainnya yang juga hendak makan. Suhan lalu mengajak Maya untuk duduk di sebuah meja bundar yang berada di tepi. Sehingga mereka bisa melihat pemandangan di sekitaran pantai yang lumayan ramai malam itu.
Di kala keduanya sedang asik berbincang, tiba-tiba saja sebuah suara menyapa.
"Mas Suhan? Kamu kok di sini, Mas?"
Maya langsung menoleh, untuk mendapati seorang wanita cantik mengenakan gamis merah serta jilbab yang menjuntai lebar hingga melewati pinggang.
Melihat wanita itu, Maya tanpa sadar langsung melihat ke kerudung yang ia kenakan saat ini. Panjang kerudungnya terbilang normal.
Meski ia memiliki panggilan Umi, penampilan Maya sebenarnya terbilang normal. Terkadang ia bahkan mengenakan kerudung praktis yang cukup pendek. Hanya sekedar menutupi dada saja.
"Kisa.. Mas lagi sama istri, Mas. Kenalin, ini Maya.. May, ini Kisa. Dia sepupu jauh Mas,"
"Eh, Mas Suhan udah menikah toh? Kisa kira belum.. Yah.."
Maya langsung menatap tajam ke arah wanita yang hingga kini masih juga berdiri tak jauh dari suaminya itu. Entah kenapa feeling nya begitu kuat mengatakan kalau wanita di depannya itu seperti menyayangkan status menikah nya sang suami.
'His.. Jangan bilang nih cewek suka sama Abi!' benak Maya sibuk menduga-duga.
"Lho? Ini anak kamu, Mas? Kok kamu sih yang repot gendong? Kenapa enggak..?"
Lagi-lagi kalimat wanita yang dipanggil dengan nama Kisa itu membuat Maya jadi merasa tak nyaman.
'Apa maksud cewek ini sih? Maksud nya aku tuh kayak ngebabuin Abi gitu ya?!' lanjut benak Maya mengecam dalam diam.
"Yah.. Namanya juga sudah menikah, Kis. Jadi ya wajar kan kalau Mas juga gantian gendong anak sendiri.."
__ADS_1
"Iya juga sih ya, Mas. Wah.. bayi nya lucu banget, Mas. Boleh Kisa coba gendong? Mas tahu kan kalau Kisa tuh paling suka banget sama anak-anak,"
Tadinya Maya hendak menolak langsung permintaan Kisa itu. Namun Suhan telah lebih dulu berkata.
"Ehh, gak usah lah.. Kamu juga mau makan kan? sama Budek kah?"
"Iya, Mas. Gak apa-apa. Biar Kisa yang gendong bayinya ya? Sebentar aja. Kisa gemes banget lihat anak Mas Suhan.. Mukanya mirip Kang Mas banget drh!"
Suhan langsung sumringah kala mendengar ucapan Kisa.
"Masa sih?"
"Iya, Mas! Lihat deh matanya itu. Bulu matanya lentik banget kan tuh!"
"Hmm.."
"Udah Mas sini biar Kisa yang gendong sebentar. Sementara Mas sama Mbak nya makan aja. Jadi kalian kan lebih enak makannya.. Kisa lihat dari tadi, Mas belum makan walau satu sendok pun kan?"
Sementara mengucapkan itu, Kisa sambil melirik ke arah piring Maya yang hampir tandas dari makanan yang ia pesan.
Memang, tadi Suhan lah yang meminta Maya untuk makan terlebih dulu. Sementara ia yang akan memegangi Birrul.
Selanjutnya, Maya langsung berdiri dari kursi dan mendekati sang suami.
"Sini, Bi. Gantian Umi yang gendong Birrul. Udah Abi makan aja. Umi udah kenyang kok!" seloroh Maya tanpa tersenyum sedikit pun.
Suhan tahu kalau Maya kini sedang merajuk. Sehingga ia pun menahan Birrul agar tetap berada dalam gendongan nya.
"Masa sih Umi udah kenyang? Itu masih ada sisa di piring. Biasanya Umi malah nambah kan?" sanggah Suhan.
Kisa tiba&tiba saja terbatuk kecil. Sementara Maya menyadari benar kalau wanita itu saat ini sedang menertawakannya dalam hati.
'Abi jahat banget sih! Kok ngomongnya gitu! Nanti cewek ini ngiranya aku tuh rakus kan!' keluh Maya dalam hati.
Kesal pada sang suami, Maya akhirnya hanya bisa memelototi Suhan saja. Sementara yang dipelototi malah kebingungan karena tak menyadari kesalahan apa lagi yang telah diperbuat olehnya?
"Udah, Bi.. sini biar Birrul sama Umi aja! Umi mau ngadem dulu. Di sini rasa-rasanya panas banget! Hawa nya agak gak enak!" ujar Maya sambil melirik sebal ke arah Kisa.
__ADS_1
Kisa balas menatap suka kepada Maya. Dan interaksi keduanya itu berhasil dipahami kemudian oleh Suhan.
Tahulah Suhan akhirnya kalau saat ini Maya sedang cemburu padanya. Lebih tepatnya adalah Maya cemburu dnegan kemunculan Kisa yang begitu tiba-tiba.
"Hahahahha!!" Suhan tak bisa menahan diri untuk tertawa. Dan tawanya itu sontak saja mengundang perhatian dua wanita di dekatnya itu untuk melihat dirinya.
"Mas kenapa ketawa? Ngetawain aku ya?!" tuding Maya dengan pandangan sengit.
Suhan langsung membenahi ekspresi di wajah nya. Kemudian ia berkata,
"Ya ampun, Cinta.. Jangan bilang kalau kamu tuh lagi cemburu. Cemburu sama Kisa ya? Tenang aja, Um.. Kisa itu cuma sepupu jauh ku aja kok. Ya kan Kis..?"
Dituding dengan pertanyaan seperti itu, mau tak mau Kisa pun menjawab.
"I..iya, Mbak.. aku tuh sepupu nya Mas Suhan.." jawab Kisa dengan tatapan kecewa yang terlihat jelas.
Melihat kekecewaan di mata Kisa, anehnya telah berhasil membuat amarah dalam dada Maya jadi meredam seketika. Ia bahkan ingin tertawa bahak saat itu juga.
'Hahaha! Rasain tuh! Memangnya enak apa ditolak langsung di depan istri sah nya! Biar deh tuh cewek kapok dan gak punya garapan apa-apa lagi sama Abi!' Seru Maya kesenangan dalam hati.
"Oo.. gitu.. Maaf deh kalau gitu ya, Dek Kisa.. Eh, gak apa-apa kan aku panggil Dek? soalnya kelihatan kayak baru lulus sekolah banget.." komentar Maya.
Kisa yang mendengar kalimat Maya itu menyadari makna di balik ucapannya. Bhawa wajah Kisa terlihat kekanakan di mata Maya.
'Sialan nih cewek! Kok bisa sih Mas Suhan nikah sama cewek jahat kayak gini!' amuk Kisa tanpa suara.
"Mm.. Kalau gitu, Abi Umi suapin aja deh ya? Biar Umi juga semangat habisin nasi di piring nih.. Umi rasa-rasa udah ngantuk banget, Bi.." usul Maya membujuk Suhan.
Tahu kalau kini Maya sedang menyatakan keposesifannya terhadap dirinya, akhirnya Suhan pun mengiyakan saja usulan istrinya itu.
"Boleh deh.."
"Dek Kisa mau ikut makan di sini? Mau sekalian Mbak suapin juga?" tawar Mata dengan senyuman palsu.
"May.." tegur Suhan dengan nada halus.
"Enggak. Gak perlu. Mas.. aku ke Ibu dulu ya. Kapan-kapan mampir ke rumah.. Bawa anak mu juga, Mas! Mari, Mbak! Assalamu'alaikum!" pamit Kisa sebelum akhirnya berlalu meninggalkan keluarga kecilnya Suhan.
__ADS_1
***