
"Gimana sama perasaan kamu sendiri ke dia? Apa kamu juga masih suka sama Reyhan, cinta pertama mu itu, hah?!" Tanya Suhan tanpa disaring.
"Ka.. kamu ngomong apa sih, Bi?" Elak Maya dengan ekspresi gugup sekaligus terkejut.
"Jangan mengelak lagi, May. Aku ingat pernah menemukan nama Reyhan di buku diary mu yang lama. Dia itu cinta pertama kamu kan?!"
Maya seketika memicingkan matanya tajam.
"Kamu udah di luar batas, Bi! Jangan ungkit-ungkit lagi soal masa lalu ku!"
"Heh! Lagi-lagi kamu coba mengelak. Jelas sekali, kalau kamu memang masih punya perasaan ke lelaki itu kan, May?!"
"Aku mau ke kamar Birrul! Awas! Jangan halangi aku, Bi!"
Maya langsung mendorong lengan Suhan dengan sekuat tenaga. Dan ia berhasil terbebas dari kurungan lelaki itu.
Dengan bergegas, Maya langsung meninggalkan Suhan begitu saja.
"May! Maya! Jangan kabur kamu!" Panggil Suhan seraya mengejar sang istri.
Akan tetapi Maya terus saja berlalu pergi. Ia berpura-pura tak mendengar panggilan dari Suhan lagi.
"Maya!"
Suhan berhasil mengejar Maya. Dan ia juga kembali menahan salah satu lengan wanita itu.
"Jangan pergi begitu aja, May! Jawab dulu pertanyaan ku!" Cecar Suhan penuh emosi.
"Apa yang harus ku jawab, Bi?! Tanpa aku mengatakan apapun pun kamu sudah membuat jawaban nya sendiri kan?!"
"Maksud kamu apa, May?!"
"Kamu sudah berasumsi yang macam-macam tentang ku dan Reyhan. Padahal kamu gak punya bukti yang konkret tentang kelalaian ku, seperti yang sudah kamu sebutkan tadi! Hati-hati, Bi! Itu fitnah namanya!"
Suhan seketika tertegun. Pandangannya tiba-tiba melunak. Dan dalam hatinya mulai dipenuhi oleh perasaan bersalah.
'Maya benar.. Astaghfirullah.. apa yang sudah ku lakukan? Tak seharusnya aku mencecar nya dalam keadaan emosi seperti ini..' gumam batin Suhan.
"Maafkan a--"
Baru juga Suhan hendak meminta maaf, namun Maya tiba-tiba saja memotong perkataannya.
"Jangan bilang kamu mau minta maaf, Bi. Karena itu udah terlambat banget!"
"...Ter..terlambat gimana, May? Oke. Abi mengaku salah karena udah marah-marah dan asal tuduh ke kamu. Abi begini juga karena--"
"Gak usah dijelasin panjang lebar deh, Bi. Aku udah capek banget. Bisa gak kamu tinggalin aku dulu, sekarang ini? Please.."
"Gak! Abi gak mau pergi tinggalin Umi lagi!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena.."
"Apa kamu masih juga curiga kalau aku ada main sama Reyhan? Atau.. sama lelaki lain? Serendah itu kah pemahaman kamu terhadap ku, Bi?"
"Bukan begitu, Um. Abi cuma.."
"Cuma apa? Udah lah, Bi. Daripada kamu asal tuduh ke aku, apa gak sebaiknya kamu sendiri yang introspeksi?" Sindir Maya dengan tatapan sinis.
"Maksud kamu apa, Um?"
"Heh.. Udah jelas kan? Bukannya malah kamu yang sebenarnya ada main sama perempuan lain, Bi?" Tuding balik Maya.
Suhan pun seketika tercengang. Setelah tertegun selama sekian detik, lelaki itu dengan tegas nya menjawab tudingan Maya.
"Aku gak pernah berkhianat sama kamu, May!"
"Oh ya? Serius kamu, Bi? Tapi.."
"Permisi.. mohon maaf, Bisakah kalian pindah mengobrol di tempat lain? Di sini ada pasien yang butuh ketenangan untuk beristirahat.." tegur seorang perawat wanita yang tiba-tiba saja muncul di dekat Suhan dan Maya.
Merasa sedikit malu, Maya pun segera mengangguk kaku dan berlalu pergi meninggalkan Suhan. Sementara Suhan langsung saja mengejar langkah kaki sang istri.
"May! Maya! Tunggu dulu! Kita harus selesaikan pembicaraan kita, May!"
"Kalau gitu, ayo kita ke dalam mobil aja! Kita ngobrol di sana!" Ajak Suhan kembali.
"Gak, Bi. Jangan sekarang. Aku harus merawat Birrul dulu. Dia mungkin sudah bangun sekarang ini,"
Pada akhirnya Suhan terus mengikuti langkah Maya hingga masuk ke dalam kamar inap Birrul. Benar saja, belum sampai keduanya masuk ke ruang inap Birrul, mereka sudah bisa mendengar suara tangisan sang bayi.
Maya pun bergegas masuk. Begitu juga dengan Suhan.
Ketika masuk, Suhan melihat putranya sedang digendong oleh Bu Laksmi, asisten di rumah mereka.
"Nak Maya, syukurlah Nak Maya segera datang!" seru Bu Laksmi terlihat lega.
Kemudian Maya bergegas mengambil alih Birrul dari gendongan Bu Laksmi.
"Birrul baru bangun, Bu?"
"Udah lumayan lama, Nak. Kayaknya Den Irul haus.." terang Bu Laksmi.
"Stok ASI nya habis ya, Bu?"
"Iya.. Eh, ada Nak Suhan juga.. Baru pulang kerja ya?"
"Iya, Bu.."
__ADS_1
"Kalau gitu, Ibu pamit pulang dulu deh ya. Mau beresin rumah dulu.."
"Iya. Makasih ya Bi.."
Belum jauh Bu Laksmi melangkah, tiba-tiba saja Maya berseru menambahkan.
"Tunggu bentar, Bu! Biar Mas Suhan pulang bareng sama Ibu!"
Suhan langsung melayangkan tatapan protes kepada Maya. Dan itu dilihat oleh Bu Laksmi.
"Ehh, gak usah.. Ibu pulang naik ojek aja gak apa-apa kok.."
"Jangan.. Sekalian Mas Suhan juga mau pulang kok. Abi juga belum mandi kan?"
Ditanya seperti itu, mau tak mau akhirnya Suhan mengiyakan saja perkataan Maya.
"Iya.. saya juga mau pulang kok, Bu.. Ayo, Bu!"
"Ehh.. gak apa-apa ini? Tapi beneran lho, Nak Suhan. Ibu naik ojek juga gak apa-apa kok.."
"Gak apa-apa, Bu.. Saya juga mau bersihin diri dulu, kok!"
Pada akhirnya pembicaraan soal perselingkuhan itu harus tertunda sampai di sana. Dan ini meninggalkan beban pertanyaan baru di benak Suhan.
'Kenapa Maya bisa sampai berpikir kalau aku berkhianat? Apa jangan-jangan..'
Kembali.. Sebuah asumsi negatif mengendap di benak lelaki muda tersebut. Akhirnya sepanjang perjalanan pulang itu, Suhan terus saja memikirkan cara terbaik untuk menjelaskan kepada Maya perihal kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka saat ini.
***
Selagi Suhan pulang, Maya langsung bergegas membereskan barang-barang untuk kepulangan Birrul.
Ya. Birrul sudah diijinkan pulang oleh dokter siang tadi. Karena itulah Maya tadi siang meminta tolong kepada Bu Laksmi untuk menjaga Birrul, selagi dirinya mengurus administrasi.
Maya sengaja tak memberitahu tentang rencana keluarnya Birrul kepada Suhan. Karena wanita itu berniat untuk membawa pergi putranya itu ke tempat lain. Bukan ke rumah mendiang orang tuanya yang selama ini menjadi tempat tinggal dirinya bersama Suhan.
Selain mengurus administrasi di rumah sakit, Maya juga pergi ke rumah lama mendiang neneknya. Lokasi nya sekitar dua jam dari rumahnya saat ini.
Ia juga sudah membawa beberapa salinan baju miliknya dan juga milik Birrul ke rumah nya yang baru. Karena Maya berniat untuk tinggal di rumah itu segera setelah ia keluar dari rumah sakit ini.
Rencana ini Maya lakukan diam-diam tanpa sepengetahuan Suhan. Apalagi Suhan juga tak mengetahui tentang keberadaan rumah tersebut.
Alasan Maya merahasiakan ini adalah karena ia sudah berencana untuk mengajukan cerai kepada suaminya itu.
Maya sudah bertekad bulat untuk berpisah dari Suhan. Dan ini tak lain dikarenakan oleh isu perselingkuhan yang sedang menimpa rumah tangga mereka saat ini.
"Maafin aku, Bi.. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Dan itu harus ku lakukan dengan cara jauh dari kamu.." Bisik Maya dalam perjalanannya menuju rumahnya yang baru.
***
__ADS_1