
Sekitar setengah jam kemudian, pesan dari Bryan masuk ke ponsel Suhan. Isinya,
Dari Bryan: Kak Suhan, ini aplikasi nya. Tolong langsung diinstal ya Kak. Biar teman Bryan bisa sadap isi ponsel Kakak dari sini.
Dengan segera Suhan membalas pesan tersebut.
Dari Suhan: Iya. Bry. Kakak langsung instal sekarang juga.
Suhan lalu melihat aplikasi yang terlampir dalam pesan Bryan. Dan tanpa menunggu lagi, lelaki itu segera menginstal nya.
Tak sampai dua menit, aplikasi pun sudah terinstal. Dan Suhan segera memberi kabar pafa adik ipar nya itu lagi.
Dari Suhan: Bry. Kakak udah instal aplikasi nya. Bisa tolong dicari foto yang dimaksud sama Kak Maya itu kan? Kalau udah ketemu. nanti tolong kirimin fotonya ke Kakak ya. Kakak mau lihat. foto apa sih yang udah bikin Kakak mu itu marah banget ke Kakak.
Dari Bryan: Baik, Kak. Nanti Bry kirim fotonya.
Setelah itu dimulai lah masa penantian Suhan seorang diri.
Beberapa kali ia berjalan bolak-balik sambil menunggu kiriman kabar dari adik iparnya itu lagi.
Suhan benar-benar penasaran, dan ingin melihat foto yang sudah membuat istri nya itu marah besar kepadanya.
Sambil menebak foto itu, Suhan juga kembali mengingat kejadian di malam sebelum ia dan Maya terlibat pertengkaran. Suhan ingat, malam itu ia ketiduran dan tak datang ke tumah sakit untuk menemani Maya fan juga Birrul.
Flashback.
Bruk!
Seseorang baru saja menabrak Suhan dari belakang. Ia sedang duduk di sebuah kafe saat jam istirahat.
Sebenarnya Suhan menyesalkan karena ia tak bisa makan siang bersama Maya di rumah sakit. Karena ada naskah novel yang harus selesai ia nilai akhir sore nanti.
Jadi di sinilah Suhan sekarang. Menikmati jam istirahatnya dengan segelas jus jeruk dan juga bubur yang telah habis ditandas nya. Sambil membaca naskah yang ia pegang.
Semua itu terhenti seketika setelah seseorang menubruk nya dari belakang.
"Maaf! Maaf! aku gak sengaja tadi.. Ehh, Kak Suhan?? Kok Kakak ada di sini sih?!"
Suhan langsung saja berhadapan dengan seorang wanita berparas cantik. Wanita itulah yang telah menubruk nya sesaat tadi.
'Kenqoa wajah wanita ini tampak familier ya?' benak Suhan berkata sendiri.
"Kak? Kak Suhan? Ini Kissa, Kak.. mm.. Kissa lagi gak pakai kerudung sekarang ini," kilah Kissa beralasan dengan wajah yang tertunduk malu.
"Kissa? Kissa.. Anaknya Pak De Rah? Masya Allah! kamu.."
__ADS_1
Suhan segera menahan lidahnya dari lanjut berkata-kata.
'Gak sopan juga kalau aku tanya kondisi nya tang tanpa hijab itu,' pikir Suhan dalam hati.
Hening sejenak. Tapi kemudian Kissa berkata lagi.
"Boleh Kissa duduk bareng Kak Suhan? Kissa juga lagi nunggu teman.."
Suhan tak lantas menjawab permintaan Kissa itu. Tapi setelah dipikirnya taka da yang salah dengan permintaan itu, maka Suhan pun memperbolehkan Kissa mengambil posisi duduk tepat di depannya.
"Duduk aja, Kiss.. Kakak gak lagi nungguin teman kok. Sebentar lagi juga mau balik ke kantor,"
"Oh.."
Dan menit berikutnya, Suhan mau tak mau malah harus mendengarkan cerita Kissa. Padahal dalam hatinya ia sungguh ingin membaca naskah yang garus ia selesaikan baca sore itu juga.
Menyadari kalau Suhan sedang sibuk, akhirnya Kissa pun mengakhiri ceritanya. Entah apa cerita gadis itu. Suhan. tak terlalu mendengarkan nya. Karena pikirannya yang tak fokus.
"Kalau gitu, nanti Kissa kabarin lagi ya Kak. Kakak juga, main ding ke rumah! Dekat kok dari sini. Ada di perumahan dekat perempatan sana," tunjuk Kissa ke satu arah.
"Iya. Insya Allah kapan-kapan Kakak akan ajak istri dan anak Kakak untuk main ke sana,"
Mendengar jawaban Suhan itu, senyuman di wajah Kisah tampak memudar sedikit. Dalam hatinya gadis itu bergumam kesal.
Tapi demi tetap dikenal baik oleh Suhan, gadis itu pun lalu berdusta.
"Iya Kak. Ajak aja istri dan anak Kakak ke rumah. Mama Papa pasti bakal senang bisa lihat cucu kecilnya.. Siapa namanya tuh Kak?"
"Uhh? mm.. Birrul. Namanya Birrul, Dek."
"Iya Birrul. Ya udah. Kalau gitu Kakak duluan aja. Kissa masih mau nungguin teman dulu di sini,"
"Iya. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam!"
Suhan segera berbalik pergi. Tanpa menyadari, sebuah senyuman licik telah tersungging di paras Kissa yang cantik.
Dalam benaknya, gadis itu telah terpikirkan sebuah rencana untuk bisa mendapatkan lelaki pujaan hatinya itu.
Sementara itu Suhan langsung kembali ke kantornya dan melanjutkan bacaan nya. Sekitar jam setengah lima, akhirnya ia bisa selesai menilai naskah di tangan nya itu. Dan ia juga menyelesaikan beberapa laporan lainnya yang tertunda.
Di saat Suhan hendak beranjak menuju rumah sakit, tiba-tiba saja ponsel nya menerima panggilan dari nomor asing.
"Siapa ya? hmm.. angkat aja deh. Halo? Ini sia--"
__ADS_1
Belum selesai Suhan bicara, ketika ia mendengar pekikan suara wanita yang ketakutan dari seberang telepon.
"Kak Suhan! Tolong Kissa Kak! Kissa lagi di rumah sendirian. Dan kayaknya di luar kamar sekarang ada maling atau apa. Dari tadi Kissa dengar suara orang jalan di luar kamar. Kissa takut. Mama Papa pulang malam. Kissa sendirian sekarang ini!"
"Astaghfirullah.. Iya. Bisa tolong kamu share loc sekarang?"
"Iya Kak."
Menit berikutnya ada pesan masuk ke ponselnya.
"Dek. Kakak langsung cek ke sana sekarang ya. Kamu did alam kamar aja. Biar aman. Kakak nanti telepon polisi juga deh.."
"Jangan! mak..maksud Kissa.. Kakak gak perlu telepon polisi lagi. Tadi..tadi Kissa udah telepon Kok. Tapi Kissa takut banget, jadi Kissa telepon Kak Suhan juga deh.."
"O..gitu. ya udah. Kakak ke sana sekarang ya!"
"Iya, Kak. makasih ya, Kak!"
Klik.
Sambungan pun terputus.
Suhan segera pergi menuju tempat yang telah di share loc oleh Kissa. Ia lalu sampai di sebuah rumah. Sebenarnya ada yang mengganjal dalam benak Suhan di perjalanan nya menuju rumah Kissa.
Karena saat ini kan hari masih cukup terang, jadi ia sulit mempercayai kalau ada maling yang berani datang di waktu terang seperti ini. Tapi mendengar kepanikan dalam suara sepupunya tadi, Suhan akhirnya melanjutkan langkahnya lagi ke sana.
Sesampainya di depan rumah Kissa, ia mendapati pintu rumah dalam kondisi terbuka. Suhan langsung menengok ke kanan kiri rumah itu. Dan mendapati kalau sore itu area perumahan sana memang masih terbilang sepi orang.
'Mungkin banyak yang masih kerja dan belum pulang,' pikir Suhan.
Suhan langsung masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan. Dan ia agak terkejut saat melihat beberapa furnitur tampak berantakan. Anehnya ia tak menemukan orang mencurigakan di sana.
Setelah mengecek ke setiap ruangan, Suhan pun menyimpuljan kalau tak ada orang asing selain dirinya di sana. Pandangannya lalu tertuju pada stau ruangan yang terkunci.
Suhan menebak kalau Kissa berada di dalamnya saat ini. Ia pun kemudian mengetuk pintunya fan memanggil sepupunya itu.
Tok. tok. tok.
"Kissa? Ini Kak suhan datang. Keluar lah. Sekarang udah aman,"
Tak lama kemudian pintu terbuka, dan Kissa langsung saja menghambur dan memeluk Suhan erat-erat.
"Kak suhan!!"
***
__ADS_1