
Selama Birrul dirawat di rumah sakit, Maya jadi jarang pulang ke rumah. Jangankan Maya, Suhan pun terkadang ikut menemani sang istri di rumah sakit setiap kali ia pulang kerja pada malam harinya.
"Bi.. Abi pulang aja ya.. Umi gak tega lihat Abi kecapekan pulang kerja, terus ikut nginepin lagi di sini. Biar Umi aja yang menemani Birrul. Gak apa-apa kok, Bi.." bujuk Maya merayu.
"Abi gak apa-apa kok, Um.. Justru kalau Abi pulang ke rumah, yang ada malah Abi nanti gak bisa tidur karena kangen Umi dan juga Birrul,"
"Hh.. Kata dokter, Birrul masih terus dipantau Hb nya. Soalnya kemarin sempat nge drop banget.. Bikin Umi khawatir aja.."
"Syuut.. Serahin semuanya ke Allah ya, Cinta.. Insya Allah setiap apa yang kita hadapi selama di dunia itu pasti ada sebab fan alasan nya. Kita cukup berusaha sebaik dan semaksimal mungkin. Semangat ya. Um.."
"Iya, Bi.. Umi ngerasa bersyukur banget. Karena setidaknya, Umi masih punya Abi di sini.. Sekarang kan udah gak ada Ibu juga Bapak yang--"
"Syuutt..Yang berlalu, biarkan berlalu aja ya. Cinta.. Insya Allah ibu dan Bapak sudah tenang di alam yang lain.."
"Aamiin.. iya, Bi.."
***
Jadi Suhan pun melakukan kegiatan yang sama setiap hari selama Birrul dirawat di rumah sakit.
Mulai dari menginap bersama Maya, pulang ke rumah untuk bersiap-siap, berangkat ke kantor, pulang dari kantor kembali ke rumah untuk membersihkan diri, baru kemudian ia kembali ke rumah sakit untuk menemani sang istri.
Bahkan kadang jika sempat, Suhan juga sering mampir di waktu jam makan siang. Hanya demi bisa mengantarkan makan siang untuk Maya saja.
Tapi jika Suhan tak sempat ke rumah sakit, maka biasanya dia akan mengutus salah seorang bawahannya di kantor untuk mengantarkan makan siang Maya.
Bu Laksmi sendiri berjaga di rumah mereka yang kosong karena ditinggalkan.
***
Pada hari ke enam Birrul dirawat, Maya menerima makanan yang dibawakan oleh Erik, untuknya. Erik adalah salah satu bawahan Suhan.
"Terima kasih ya, Rik..Maaf sudah sering merepotkan.." ujar Maya berterima kasih.
"Ah, gak repot kok, Kak.. Kalau gitu, saya permisi dulu ya, Kak.."
"Eh, tunggu sebentar, Rik. Saya mau tanya sesuatu. Tapi.. saya minta tolong banget. Tolong jangan bilang ke Abi, maksud saya.. ke Pak Suhan. Kalau saya tanya-tanya ini ke kamu.."
"Memangnya Kakak mau tanya apa? Kalau menyangkut rahasia pabrik, maaf aja ya Kak, saya mungkin gak akan jawab.."
"Bukan! Bukan soal itu! Yang saya mau tahu tuh, di kantor, Pak Suhan ada dekat gak sama..ee.."
Maya tampak jelas terlihat canggung untuk menyuarakan pertanyaan di benak nya. Syukurlah Erik tampaknya paham dengan apa yang ingin diketahui oleh istri bos nya itu.
"Maksud Kakak, apa Pak Suhan ada dekat sama perempuan lain gitu ya?"
Maya langsung mengangguk cepat dua kali. Sementara kedua netra nya masih terlalu untuk beradu tatap dengan bawahan suaminya itu.
__ADS_1
"Wahh.. Kakak tuh beruntung banget tahu, Kak. Soalnya Pak Suhan itu terkenal suka jaga jarak sama staf cewek. Jadi kondisi Pak Suhan di kantor tuh aman-aman aja lah. Kak!" jawab Erik begitu menenangkan.
"Ohh.. gitu.. makasih ya, Rik.." sahut Maya lagi lalu terpekur diam.
"Kalau gitu, Erik pamit ya. Kak! Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam..warohmatullah.."
Setelah kepergian Erik, Maya sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sebenarnya, ada hal yang menyebabkan dirinya sampai melayangkan pertanyaan seperti tadi kepada Erik. Sebabnya adalah karena Maya menerima sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
Isi pesan itu adalah foto Suhan yang tampak seperti sedang makan siang berdua di restoran dengan seorang wanita berambut panjang.
Sayangnya Maya hanya bisa melihat bagian belakang tubuh wanita itu saja. Lantaran foto tersebut diambil dari sisi belakang wanita itu.
"Apa sebaiknya langsung aku tanyakan saja ya ke Abi nanti malam..?" Maya oun bergumam sendirian.
"Ya. Sebaiknya aku memang harus menanyakannya sendiri ke Abi. Siapa tahu ada ulah orang iseng yang ingin membuat hubungan ku dengan Abi jadi goyah,"
Maya sejujurnya hampir tak percaya jika suaminya telah berbuat khianat. Hatinya mengatakan seperti itu. Dan Maya akan selalu mempercayai apa kata hatinya.
***
Menjelang maghrib, Maya merasa kian gugup saja jadinya. Ia gugup karena pertemuan dengan Abi yang biasanya selalu datang ke ruang inap Birrul di waktu mendekati maghrib.
Merasa khawatir terjadi sesuatu pada snag suami, Maya pun lantas mencoba menelpon nomor Suhan saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Tiiiiiit..
Tiiitt....
Klik.
Telepon pun tersambung pada dering kedua. Dan Maya langsung saja menyapa suaminya via telpon.
"Assala--"
Maya langsung berhenti bicara manakala suara jawaban yang ia dengar dari lubang speaker bukanlah milik Suhan. Melainkan milik seorang wanita asing.
"Iiihhhh.. Jangan lambat-lambat dong, Mas Suhan.. aku maunya cepat! Geli tahu..! Ah..!"
Maya langsung melotot dan melihat kembali nama kontak yang tertampil di layar ponsel nya.
"Ehh.. Ini benar nomornya Abi. Tapi kok ada suara perempuan yang kayak lagi or..???!!" Maya bergumam sendiri.
Wanita itu lalu mendekatkan kembali lubang ponsel ke telinga nya. Dan apa yang dia dengar kemudian, sungguh membuatnya terperanjat kaget.
__ADS_1
"Ehhmm..." terdengar suara lenguhan berat yang sangat Maya kenali dari lubang speaker telepon. Dan itu adalah suara milik suaminya. Suhan!
"??!!!"
Belum selesai sampai di situ, lagi-lagi suara perempuan yang tadi sempat Maya dengar kini kembali berbicara.
"Ya! ya! La..lagi, Mas! Lagi..!"
JDARR!!!
Dunia Maya serasa runtuh seketika. Karena di antara jeritan suara asing wanita di telpon Suhan, Maya juga mendengar bunyi suara dua benda yang beradu. Persis ketika seseorang sedang bercin ta.
Bunyi deritan cin ta itu begitu nyata terdengar di telinga Maya. Hingga membuat wanita itu terpaku diam dan tak sadar manakala ponsel yang ia pegang kemudian jatuh retak ke lantai.
Prak!
"Astaghfirullahal'azhiim.. astaghfirullahal'azhiim.. Astaghfirullahal'azhiim.."
Maya terus menerus melafalkan istighfar, di antara dua buliran air mata yang terus menerus menganak sungai.
Hatinya perih menahan luka menganga bak luka sembilu, kala ia menyadari fakta yang baru saja diketahuinya dari sambungan telepon sesaat tadi.
Hatinya sungguh sulit untuk mempercayai apa yang didengar oleh indera telinganya. Sehingga di antara ketidakpercayaan hati dan juga kesimpulan nalar logika yang ia miliki, Maya pun dibuat bimbang setengah mati.
Belum selesai sampai di sana, tiba-tiba saja Maya mendengar kembali bunyi singkat pesan yang masuk ke nomor ponselnya.
Tinininit..
Dengan tangan gemetar, Maya berusaha mengambil kembali ponselnya. Dan ia pun melihat, bahwa ternyata panggilan teleponnya ke nomor Suhan tadi telah terputus. Sementara ada pesan baru yang masuk ke nomornya.
Ada dua buah pesan lebih tepatnya lagi. Satu dari nomor tak di kenal. Satunya lagi berasal dari nomor Suhan.
Dengan tangan gemetar, Maya membuka pesan pertama dari nomor tak dikenal.
Klik.
Lagi-lagi sebuah foto. Yakni foto Suhan yang tampak sedang memejamkan mata. Yang membuat jantung Maya berdegup menyakitkan kala melihat foto tersebut adalah, manakala ia menyadari kalau Suhan di foto dalam kondisi bertelanjang dada. Dan terdapat sedikit bagian kepala wanita berambut panjang yang berbaring di atas dada bidang suaminya dalam foto tersebut.
Deg. deg.
Ba dump. Ba dump.
Maya langsung mengeratkan pegangannya pada ponsel. Namun ia melanjutkan keberaniannya lagi untuk membuka pesan yang datang dari nomor Suhan. Dan ternyata...
Foto yang sama seperti dari nomor tak dikenal lah yang Maya lihat pada lampiran pesan dair nomor Suhan untuknya.
Dengan hati yang koyak, Maya akhirnya menyimpulkan bahwa Suhan memang benar telah mengkhianatinya!
__ADS_1
***