
Pada akhirnya berita wafatnya Ibu dan Bapak Maya itu memang benar adanya.
Keduanya terlibat kecelakaan tunggal di jalan raya, sepulangnya mereka dari pasar.
Menurut Bu Nila, ia masih sempat menyapa keduanya sebelum keduanya berangkat. Dan Bu Nila pula yang pertama kali menerima kabar itu dari Bryan.
Menurut Bu Nila, Pak polisi sudah mencoba menghubungi nomor Maya dan Suhan. Namun nomor keduanya sedang tak aktif. Sehingga kemudian ia menelepon nomor Bryan. Bryan lah yang lalu menghubungi nomor putranya Bu Nila. Dan meminta tolong agar Bu Nila memastikan benar tidaknya orang tuanya yang kecelakaan.
Bu Nila lalu pergi ke rumah sakit dan membenarkan identitas Pak Teja dan juga Bu Rahma di kamar mayat. Setelah itu Bu Nila mengabarkan kepada warga lainnya tentang berita duka ini.
Pikir Bu nila, Maya dan Suhan telah mengetahui berita duka ini dari Bryan. Karena Bryan mengatakan kalau ia akan terus menghubungi nomor Maya untuk memberitahukan berita ini. Tapi ternyata Maya dan Suhan benar-benar tak mengetahui berita ini. Karena ponsel keduanya yang sama-sama lowbat.
"Ya Allah, Bu.. Pak.. kenapa begitu cepat kalian..?"
Suhan langsung menarik Maya ke dalam pelukannya. Dengan sabar ia mengusap-usap punggung sang istri. Sambil terus menasihati dengan kalimat halus.
"Cinta.. istighfar, Cinta.. Ingat pesan baginda Nabi saw.. Jangan menyuarakan kesedihan kita atas meninggalnya seseorang.. Itu hanya akan memperberat langkah mereka untuk menghadapi alam kubur mereka nanti.. Kasihan Ibu dan Bapak, Um.. Ikhlaskan kepergian mereka.. Dan biarkan mereka pergi dengan tenang.." ucap Suhan menasihati dengan lembut.
Maya pun segera beristighfar. Ia menyadari kebenaran nasihat suaminya itu. Meski begitu ia masih tak bisa menghentikan air mata yang masih terus meluruh dari kedua matanya yang sudah sembab.
'Allahumghfirlahuma.. warhamhuma.. wa'aafiihima.. wa'fu 'anhuma..' Batin Maya kini sibuk merapalkan doa untuk kedua ornag tuanya.
"Owekk...Oweekkk.."
Kemudian maya mendengar suara tangis putranya. Barulah ia tersadar kalau ia telah mengabaikan putranya selama beberapa menit terakhir.
Dengan gerak cepat, Maya melepaskan diri dari pelukan Suhan. Kemudian ia mencari Bu Nila, yang ia kira masih memegang bayinya saat ini.
"Kamu mau ke mana, Um..?" tanya Suhan masih terlihat khawatir.
"Birrul nangis, Bi.. Umi mau ngasih ASI dulu ya di kamar. Dia lapar mungkin.."
Suhan nasih menahan lengan sang istri selama beberapa saat. Tapi begitu dilihatnya tatapan Maya sudah jauh lebih tenang saat ini, barulah Suhan membiarkan Maya pergi untuk mengambil Birrul.
__ADS_1
Setelah melihat sosok Maya masuk ke dalam kamar mereka, Suhan pun bergegas mempersiapkan segala sesuatunya yang perlu disiapkan untuk prosesi pemakaman kedua mertuanya itu.
***
Bryan sampai di rumah menjelang waktu ashar. Saat itu jenazah Bu Rahma dan Pa Teja baru akan dibawa ke masjid setempat untuk dishalatkan.
Bryan yang sekuat tenaga menahan tangis pun langsung mengambil wudhu untuk mengantar kepulangan kedua orang tuanya kembali kepada Tuhan. Tak ada yang bisa dikatakan oleh pemuda itu kala menghadapi ucapan bela sungkawa dari tetangga yang menyapa kedatangannya.
Semua orang juga tahu, kalau pemuda itu tentu sangat terpukul atas kehilangan yang begitu tiba-tiba ini.
Maya sendiri tak ikut mengantarkan kedua almarhum ke tempat pekuburan. Ia memutuskan untuk tetap di rumah, demi kebaikan Birrul serta dirinya sendiri.
***
Setelah pemakaman selesai menjelang waktu maghrib, barulah Bryan menemui sang kakak di kamar nya.
Di belakangnya, Suhan mengawasi kedua kakak beradik itu kala keduanya berpelukan demi membagi pilu dan lara yang mereka rasakan bersama saat ini.
"Kak.. Maafin Bryan karena gak bisa lebih cepat ada di sini menemani Kakak.."
Maya berhenti bicara kala ia merasakan tenggorokannya tercekat. Wanita itu lalu menengadahkan wajahnya ke atas. Demi menahan gempuran rasa sedih yang kembali meluluh lantakkan dinding pertahanannya saat ini.
'Ya Allah.. Tolong bantu kami untuk mengikhlaskan kepergian ibu dan juga Bapak.. Tolong berikan tempat terbaik di syurga-Mu untuk ibu dan juga Bapak..' lirih batin Maya menyuarakan harapannya kembali.
Sementara itu Bryan yang mengerti kesedihan sang Kakak pun tak lagi berkata apa-apa. Ia hanya bisa memeluk Maya lama dalam diam dan rasa pilu yang sama pula.
Keduanya terus berpelukan hingga terdengar gema adzan maghrib yang berkumandang dari speaker masjid di dekat rumah. Suara lantunannya yang syahdu kian terasa memanggil jiwa-jiwa mereka yang kini terlampau letih dalan menghadapi ujian hidup.
Hingga sayup adzan berakhir, barulah Suhan mendekati keduanya. Pertama-tama ia menepuk bahu Bryan dan memberinya senyuman tabah. Sehingga Bryan lalu bangkit dan mengambil posisi duduk di tepi kasur yang sedikit agak berjarak fari tempat Maya duduk.
Kemudian Suhan ikut duduk tepat di samping Maya. Lalu mengusap kepalanya dnegan lembut.
"Kita shalat maghrib dulu yuk. Kita shalat di rumah aja. Kita berjamaah bertiga.." ajak Suhan dengan suara berwibawa.
__ADS_1
Dan selanjutnya, ketiganya pun perlahan bergerak untuk mengambil wudhu. Tujuan mereka saat ini adalah untuk menjumpai Sang Rabbul 'Izzati. Pencipta Setiap Dzat yang Maha Kuasa di seluruh alam raya ini.
***
Seminggu setelah wafatnya orang tua Brian dan Maya, Bryan pun kembali pamit pergi.
"Kak, Bryan balik lagi ya ke Yogya," pamit Bryan.
"Iya. Hati-hati. Jangan ngebut di jalanan ya, Bry!" pesan Maya dengan ekspresi serius.
Bryan hanya mengangguk singkat. Sebelum akhirnya berpamitan juga kepada Suhan.
"Kak.. Bry titip Kak Maya ya.. Tolong maklumi kalau kadang-kadang Kak May agak cengeng atau suka marah-marah..Aduh!"
Maya tak membiarkan Bryan melanjutkan kalimatnya lagi. Karena ia langsung melempari adik satu-satunya itu dnegan bantal sifa.
"Tega banget sih, Kak? sakit tahu!"
"Biarin, wee! Lagian, jadi adik kok kurang ajar banget! Beraninya kamu ngejelek-jelekin Kakak mu sendiri!"
"Siapa juga yang jelek-jelekin Kak May, coba? Lha memang faktanya begitu kan? Kak May memang kadang suka cengeng sama mar-- Kak Suhan! Bryan kabur dulu ya! Assalamu'alaikum!" pamit Bryan sambil lari terbirit-birit.
Ia begitu ketakutan kala melihat Maya yang sudah siap untuk memukulinya dnegan sapu ijuk.
Menyaksikan interaksi kedua bersaudara itu, Suhan hanya bisa tersenyum-senyum saja.
"Kamu tuh, Um. Kurangin sedikit dong bar-bar nya.. Kan udah jadi Ummah sekarang. Masa masih preman juga sih.." ujar Suhan mencandai sang istri.
"Kamu barusan ngomong apa, Bi?!" tanya Maya sambil membelalakkan kedua matanya menatap Suhan. Sapu tangan yang masih dipegang nya itu sambil ditepuk-tepukkannya pula ke tangannya yang mungil.
"Ee.. Gak apa-apa.. anu, Um.. Umi kok pagi ini kelihatan cantik banget ya?" puji Suhan terburu-buru.
Ia berusaha menyelamatkan diri dari ancaman sapu yang bisa sewaktu-waktu melayang dari tangan istrinya itu nanti.
__ADS_1
***