
Beberapa hari berikutnya, Suhan harus menerima sikap dingin Maya terhadapnya. Yang membuat lelaki itu frustasi adalah setiap kali ia hendak menceritakan tentang kejadian suatu malam tertentu, Maya selalu saja terburu-buru mengalihkan ke topik yang lain.
Setiap kali lelaki itu ingin menyentuh atau hanya sekedar mengusap rambut sang istri, Maya selalu saja menghindar dari sentuhannya.
Suhan jelas kecewa. Sekaligus juga marah pada Maya. Ia tak suka aksi saling berdiam diri ini. Namun Maya selalu sja membuatnya terbungkam hanya dengan tatapan nya yang seolah menyimpan luka itu.
Setiap kali ia menerima tatapan luka dari Maya, entah kenapa hati Suhan langsung membeku seketika. Ia merasa telah bersalah terhadap istrinya itu.
Semua aksi diam ini baru berakhir pada suatu sore. Sayangnya akhir dari hubungan dingin di antara keduanya itu harus diganti dengan retaknya dinding kepercayaan di antara keduanya.
Bagaimana bisa?
Tentu saja bisa! Ini terjadi ketika Suhan secara tak sengaja melihat Maya tersenyum pada lelaki lain pada suatu sore.
Saat itu, Suhan baru saja pulang dari kantor. Ia memutuskan untuk langsung pergi ke rumah sakit menjenguk Maya dan juga Birrul, tanpa sempat membersihkan diri terlebih dulu di rumah.
Ini dilakukan Suhan usai beban kantor yang baru saja ia hadapi selama seharian ini. Di mana terdapat kesalahan fatal terhadap buku yang terbit di tempat kerjanya.
Terdapat kesalahan cetak dalma pengutipan ayat suci dalam salah stau buku yang baru terbit. Dan itu menjadi salah stau tanggung jawab selaku kepala Editor di perusahaan tempatnya bekerja.
Mungkin karena teguran keras dair atasannya itulah yang menyebabkan Suhan begitu ingin segera mencari penghiburan dari Maya dan juga Birrul. Namun apalah daya, apa yang ia lihat secara tak sengaja di lobi rumah sakit itu justru telah memantik sekumpulan emosi negatif yang mengendap di benaknya selama beberapa hari terakhir.
Terlebih lagi Suhan mendapati Maya tersenyum kepada lelaki lain, meski itu hanya senyuman tipis saja.
"Maya!!" hardik Suhan dengan mata yang sudah memerah marah.
Seketika itu jua Maya dan lelaki di depannya langsung menoleh ke arah suhan. Sehingga kini Suhan langsung adu tatap dengan lelaki yang ternyata setelah di dekati adalah Reyhan.
"Kamu?!"
"Selamat malam, Tuan.. Mungkin Anda masih mengingat pertemuan kita tempo lalu? saya.."
"Aku tahu siapa kamu. Reyhan bukan?" jawab Suhan memotong cepat kalimat Reyhan.
Reyhan mengangguk singkat. Ia langsung menyadari kalau kondisi Suhan saat ini sedang tak baik-baik saja.
Tatapan Reyhan pun kembali ke wajah Maya. Namun wanita itu kini hanya menatap ke samping, ke arah yang lain. Tidka kepada dirinya ataupun suaminya sendiri.
'Ada apa ini..? Apa hubungan mereka sedang tak baik-baik saja..?' gumam Reyhan dalam hati.
__ADS_1
Melihat ekspresi marah yang sekuat tenaga ditahan oleh Suhan, akhirnya Reyhan mengerti kalau ia harus pergi dan membiarkan kedua pasangan tiu berbicara.
"Kalau gitu, aku sebaiknya pergi dulu ya, May.. Ingat apa kataku tadi ya. Jangan sungkan untuk menghubungi ku nanti!" ujar Reyhan dnegan ambigu.
Maya langsung mengerutkan kening. Namun ia tetap memberi anggukan singkat atas ucapan Reyhan sesaat tadi.
Dan akhirnya Reyhan oun pergi setelahnya. Tapi tidak sebelum ia melihat Suhan menarik kasar tangan Maya menuju tempat yang berkebalikan dengannya.
Reyhan tertegun di tempat seketika.
'Apa ucapan ku itu akan menyulitkan Maya? Ah.. itu bukan urusan ku. Akan lebih bagus jika Maya mau menghubungi ku nanti. Dengan begitu kami bisa kembali..'
angan Reyhan melayang acak. Sebuah senyuman tipis nan licik muncul pada bibirnya yang merah nan tipis.
***
"Abi! sakit! lepasin tangan Umi!" pekik Maya dengan kalimat tertahan.
Kakinya ia usahakan untuk berhenti melangkah, demi melawan tarikan paksa yang dilakukan oleh Suhan.
Sayangnya pekikan Maya itu tak membuat Suhan tersentuh. Lelaki itu terus saja menarik tangan Maya hingga keduanya sampai pada sebuah koridor rumah sakit yang sepi.
Suhan langsung saja setengah mendorong tubuh Maya hingga membentur ke dinding. Kemudian ia menggebrak dinding yang berada tepat di samping kepala istrinya itu.
Hal ini sontak saja membuat Maya langsung merasa gentar ketakutan. Mata wanita tiu memejam seketika oleh sebab perasaan takut yang menderanya.
"Jawab aku, May! Jawab pertanyaan ku dengan jujur! Apa sebenarnya yang terjadi sama kamu akhir-akhir ini?! Kenapa kamu menghindari ku?! Kenapa kamu marah dan sebegitu bencinya padaku?!" Cecar Suhan bertubi-tubi.
Maya kembali membuka kedua matanya, hanya untuk beradu tatap dengan mata merah sang suami yang menatapnya marah. Dengan gentar, Maya langsung saja mengalihkan pandangannya ke samping. Namun Suhan segera merengkuh kedua pipi sang istri agar kembali menghadap padanya lagi.
"Jawab aku, Nay! Jawab! Atau.. apa kamu gak bisa jawab pertanyaan itu karena kamu malu?! hah?! Apa kamu sebenarnya sudah melakukan kesalahan besar, lalu kamu marah tapi kamu malah menyalahkan ku atas kesalahan besar kamu itu, hah?!" cecar Suhan kembali dengan mata yang merah.
Maya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Suhan pada kedua sisi pipinya. Namun ia tak bisa.
"Aku gak ngerti maksud kamu apa, Bi! Lepasin! sakit tahu!" hardik Maya mulai kembali menemukan keberaniannya.
"Gak ngerti apa sih?! Jelas banget kamu udah ketahuan buat salah di depan ku. Tapi kamu mau mengelak dan terus aja nyalahin aku, gitu hah?!"
"Aku mau ke Birrul! Lepasin muka ku, Bi!" hardik Maya mengultimatum.
__ADS_1
"Gak! kamu harus jawab dulu pertanyaan ku, May!"
"Apa?! jawab apa? Apa perlunya aku harus menjawab pertanyaan kamu, Bi?!"
Suhan langsung menyipitkan kedua matanya. Ia menatap tajam pada Maya kini.
"Cepat jawab! Apa hubungan antara kmu dan Reyhan yang sebenarnya? Aku mau kejujuran, May!"
Seketika itu jua Maya ternganga heran. Ia sungguh tak mengerti dengan sikap gila yang ditunjukkan oleh suaminya itu. Terlebih lagi pertanyaan yang baru saja dilayangkan oleh Suhan.
"Hubungan?" tanya Maya membeo.
"Ya! Hubungan! Apa hubungan kamu sama dia, hah?!"
"Kamu kan udah tahu kalau dia itu teman sekolah ku dulu, Bi!" jawab Maya dnegan lantangnya.
"Bohong! Kalian tentu lebih dari itu kan May! Aku bisa jelas banget lihat kalau Reyhan suka kamu. Bisa dilihat dari tatapan memuja nya itu setiap melihat kamu!"
Lagi-lagi Maya ternganga keheranan usai mendengar pernyataan Suhan barusan.
"Apa?! Jangan halu deh, Bi. Kamu konyol!"
"Aku gak lagi bercanda, May! Dia jelas banget suka sama kamu! Jangan oura-pura gak tahu deh!"
"Gak! Aku gak tahu! Itu cuma asumsi kamu aja, Mas!" balas Maya dengan lantangnya.
"Cih.. Masih juga oyra-pura!"
"Aku gak oura-pura!"
"Kalau gitu, bagaimana dengan mu sendiri, May?"
"Aku? aku kenapa? Maksud kamu apa sih, Mas! Omongan kamu lagi ngaco! Sebaiknya kamu pulang dulu ke rumah,sana!"
Mata kembali berusaha melepaskan diri dari kurungan tangan Suhan. Akan tetapi lelaki itu masih mampu menahan Maya.
"Jangan kabur! Kamu jelas menghindari tatapan ku, May. Aku mau jawaban jujur dari kamu. Oke, kamu bilang gak tahu soal Reyhan yang suka kamu. Kalau gitu pertanyaan ku lainnya adalah.. gimana sama perasaan kamu sendiri ke dia? Apa kamu juga masih suka sama Reyhan, cinta pertama mu itu, hah?!"
Sampai di sini, Maya benar-benar terkejut mendengar pertanyaan suaminya itu.
__ADS_1
***