
"Ya Allah... cobaan apa lagi ini..??! Kenapa harus ini?! Kenapa Mas Suhan yang harus menjadi batu ujian ku..?!!" lirih Maya menangis sendirian di kamar inap nya Birrul.
Maya kini membungkuk di atas kursi yang ia duduki. Wajah nya terus ia tutupi dari penglihatan sekitar, meski dalam ruangan itu hanya ada dirinya dan putranya saja.
Maya benar-benar terluka. Ia sulit untuk bisa percaya, bahwa Suhan yang begitu romantis, penyayang kepadanya dan juga Birrul, ternyata telah mengkhianatinya.
"Astaghfirullah... Ya Allah.. hatiku sakit sekali..! Sakit sekali ya Allah..! Ibu..! Bapak..! Kenapa kalian pergi tinggalin Maya..?? Maya masih butuh kalian.. Maya rindu kalian.. Maya mau ibu dan Bapak..."
Lama Maya menangis. Hingga matanya telah berubah menjadi merah dan lagi sembab.
Wanita itu baru berhenti menangis kala ia mendengar tangisan Birrul.
Benak wanita itu langsung kembali fokus memikirkan apa yang sebaiknya harus ia lakukan nanti. Ia harus mengabaikan rasa sakit ini segera. Karena ada putra semata wayang nya yang jelas-jelas masih membutuhkannya.
Maya pun bergegas mendekat ke tempat putranya berbaring. Dan ia langsung memeluk tubuh ringkih bayinya itu dengan penuh cinta.
Tak lupa pula Maya membisikkan kata-kata dan juga lagu cinta untuknya. Hingga senandung shalawat pun terlantun merdu, keluar dari mulut Maya akhirnya. Sementara hatinya sendiri kini masih begitu sakit oleh luka cinta yang menganga.
"Ya nabi..salam 'alaika... ya rasul.. salam.. salam 'alaika..."
Sambil memberi Birrul ASI miliknya, Maya terus menyenandungkan shalawat dengan suara lirih yang menyayat hati. Tak lupa genangan air mata kembali tumpah ruah dari matanya yang merah dan juga basah.
***
Pada akhirnya, Suha benar-benar tak datang ke kamar inap Birrul pada malam itu. Dan Maya sudha bisa menebak, sedang berada di mana suaminya itu saat ini.
Menyadari ke arah mana pikirannya itu berkelana, Maya buru-buru menguatkan hatinya lagi.
"Berhenti, May.. Jangan menangis lagi! Kamu harus kuat! Demi Birrul.. Dia butuh kamu, May. Jadi kamu harus kuat!" ucap Maya menyemangati dirinya sendiri.
Setelah menangis hampir semalaman, nyatanya Maya sudah tak bisa menangis lagi pada keesokan harinya. Bukan karena ia tak mampu. Namun lebih kepada ia yang tak mengijinkannya.
Maya berniat untuk menanyakan langsung kepada Suhan, tentang apa yang telah dilakukan oleh suaminya itu semalam tadi. Kapanpun Suhan akan ke rumah sakit lagi nantinya.
__ADS_1
Tadinya Maya mengira jika Suhan baru akan datang pada sore berikutnya. Namun ternyata suaminya itu sudah mendatanginya di pagi hari.
Saat itu jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan. Maya baru saja selesai sarapan ketika tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar.
Srak..!
Maya langsung saja menoleh ke pintu. Hanya untuk bertatapan dengan mata milik Suhan.
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
Suhan lalu masuk perlahan dengan kepala menunduk. Namun ada yang mengusik batin Maya kala melihat penampilan suaminya itu yang terlihat begitu berantakan. Bahkan Maya juga menyadari kalau Suhan masih memakai kemeja yang sama seperti kemarin, saat suaminya itu hendak pamit pergi ke kantor.
"Berhenti!" Teriak Maya begitu tiba-tiba.
Dan Suhan yang sedari tadi berjalan menunduk pun seketika berhenti melangkah. Lelaki itu lalu mengangkat pandangannya dan menatap bingung ke arah Maya.
"Maya..? Kamu kenapa..?" tanya Suhan, sambil kembali hendak melangkah.
"Berhenti! ku bilang berhenti ya berhenti!" teriaknya lagi dnegan suara yang lebih kencang.
Kali ini Suhan akhirnya menyadari kalau kondisi hati istrinya itu sedang tidak baik-baik saja. Apalagi kemudian ia bisa melihat kalau mata Maya jelas menunjukkan jejak-jejak habis menangis lama.
Tanpa pikir panjang, Suhan langsung berjalan cepat menuju tempat Maya kini berdiri. Ia ingin memastikan kalau penglihatannya salah dan Maya tidak habis menangis lama.
"Berhenti di sana! ku hilang berhenti! Jangan sentuh aku! Aku minta kamu pergi sekarang juga!" teriak Maya histeris kala Suhan terus mencoba untuk menariknya ke dalam sebuah pelukan.
"Maya.. Cinta.. kamu kenapa, Sayang..?" tanya Suhan terdengar begitu khawatir.
"Bullsh*t cinta-cinta an! Aku gak akan percaya lagi sama semua omongan kamu, Bi!Kamu benar-benar pembohong besar!" teriak Maya terus menghujati Suhan.
Akan tetapi Suhan tak menyerah. Ia terus berusaha untuk memeluk sang istri demi bisa menenangkan dirinya lagi.
__ADS_1
"Maya.. tenanglah, May.. Aku mau kamu tenang dan jelasin ke aku. Apa yang bikin kamu seperti ini?"
"KAMU. BI!! KAMU YANG UDAH BUAT AKU KAYAK GINI! KAMU BIKIN AKU GILA! GILA SAMA CINTA MU YANG PALSU ITU! JAHAT KAMU, BI! KAMU JAHAT BANGET KE AKU!!"
"Maya! istighfar, May! Kamu kenapa sih?! Tenang dulu! Kita ngomong baik-ba--"
"Jangan bawa-bawa istighfar dari mulut mu yang kotor itu, Bi! Muak aku dengarnya! Baiknya sebelum kamu nasihatin aku, kamu tengok dulu akhlak kamu gimana! Dan jangan bilang kalau aku gak waras! Kamu yang gak waras, Bi! Kamu yang gila!"
"Aku.. aku gak ngerti omongan kamu, Um..! Tolong jelasin dulu ke abi. Apa salah Abi, Um..?"
Plak!
Maya berhasil melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Suhan. Hingga lelaki itu tertegun tak percaya menatap sang istri.
Bukannya kenapa. Tapi ini adalah kali pertama Maya menamparnya. Selama ini sekalipun Maya sering marah atau kesal, istrinya itu tak pernah benar-benar memukul nya. Tapi sekarang..?
Kemudian Maya lanjut berteriak lagi.
"Salah?! Kamu tanya salah kamu ke aku apa, Bi..? Beneran kamu oerlu aku omongin kebusukan mu sekarang juga, Bi?! di depan Birrul, anak kamu sendiri?! Malu Bi..! Tahu malu kamu, Bi..!" hujat Maya dengan mata yang merah sudah.
Suha masih saja terdiam. Ia melirik ke tempat di mana kini Birrul masih tertidur. Tapi tidak! Sesaat kemudian putranya itu merengek menangis. Dan Maya oun seketika berhenti menghujat dirinya, lalu sibuk menenangkan putra mereka.
Sementara itu, Suhan terus menatap Mata dan Birrul dari tepi yang jauh. Dalam diam. Dalam heningnya ruangan.
Setelah berhasil menenangkan Birrul. Maya akhirnya kembali bicara. Namun kali ini suaranya hanya berupa bisikan pelan aja.
Tanpa menatap langsung ke dalam mata Suhan, wanita itu lalu bertanya.
"Aku tanya ke kamu, Bi. Tolong jawab jujur sejujur-jujurnya. Aku gak mau kamu bohong, karena aku akan selalu tahu kalau kamu berbohong," ujar Maya dalam lirihan pelan.
"..Apa? Kamu mau tanya apa, May?"
"Di mana kamu semalaman tadi, Bi? Kamu gak ke sini untuk menemani Birrul dan aku. Jadi ke mana sebenarnya kamu pergi? Ke rumah kita kah.?? Atau.. ke rumah orang lain?!" tanya Maya bernada penuh ancaman.
__ADS_1
***