
Malam harinya..
"Gimana kondisi Birrul, Um? Kata dokter, Birrul kenapa?" tanya Suhan segera setelah ia sampai di rumah.
"Alhamdulillah Birrul udah membaik, Bi. Tapi masih perlu dipantau sih. Kemungkinan sih kata dokter nya cuma kecapekan aja. Soalnya Birrul kan sekarang mulai sering guling-guling gitu. Wajar juga sih. Kan Birrul udah mau lima bulan kan ya.."
"Oo.. begitu.. Tapi dapat obat gak dari dokter nya?"
"Dapat, Bi. Cuma parasetamol aja, tapi. Kayaknya Umi cuma terlalu panik aja. Padahal sebenarnya Bu Laksmi udah ngusulin sih, biar Birrul diurut aja ke tukang urut. Tapi Umi nya terlanjur khawatir banget tadi tuh.."
"Iya. Gak apa-apa, Um.. wajar kok. Namanya juga anak pertama. Jadi belum ada banyak pengalaman kan. Kita sama-sama belajar ya, Cinta..?"
"Iya, Bi.. hhh.."
"Kamu kelihatannya capek banget, Cinta? Mau Abi pijatin kah? Sini, pundak Umi mana?"
Selanjutnya, Suhan pun berdiri di belakang sofa. Ia lalu memijit pelan kedua bahu sang istri. Dan Maya membiarkan Suhan memanjakannya seperti itu selama beberapa waktu.
"Maaf ya, Bi.. padahal semestinya Abi kan paling capek. Abi udah kerja seharian di kantor. Pasti Abi lebih capek dari Umi.." seloroh Maya sambil memejamkan mata.
"Gak apa-apa, Um.. Menurut Abi, justru Umi yang lebih capek di rumah. Umi sibuk ngurusin Birrul yang lagi sakit.. beres-beres rumah.. masak untuk kita semua makan.. Jelas banget Umi lah yang lebih capek. Iya kan, Um?"
Hening..
"Um..?"
Suhan lalu mencondongkan kepalanya agak ke depan. Sehingga kini wajahnya tepat berada di atas wajah sang istri. Ternyata Maya tak sengaja tertidur. Mungkin karena terlalu letih. Atau bisa jadi juga karena pijitan nya yang memang berhasil merileksasi otot-otot milik Maya, sehingga istrinya itu sampai bisa tertidur pulas.
"Eh, Neng Maya nya tidur.. Gimana dong ini..?"
Tiba-tiba saja Bu Laksmi muncul dari dalam kamar bayi.
"Kenapa, Bi? Biarin aja Maya tidur dulu. Kayaknya dia lagi kecapekan hari ini.."
"Ya Jelas kecapekan lah, Nak. Dari tadi pagi kan Dede Irul nya pingin digendong aja sama Neng Maya. Sama bibi juga gak mau. Mungkin ada yang dirasa kali ya.."
"O.. gitu ya, Bi?"
__ADS_1
"Iya, Nak.. Tapi setelah diurut tadi di Mak Nok, alhamdulillah Dede Irul nya langsung pulas tidur. Tapi, Nak Suhan.. Dede Irul barusan bangun. Kayaknya dia pingin mimi. Tapi Neng Maya nya.."
"Masih ada stok ASI di freezer gak, Bi? Kalau ada, tolong disiapin aja ya, Bi. Biar Suhan nanti yang megang Birrul. Bibi juga istirahat aja duluan, ya.." usul Suhan kemudian.
"Baik, Nak.."
Suhan lalu kembali menatap wajah pulas nya Maya. Selanjutnya ia mengecup kilat kening sang istri dengan penuh cinta.
"Have a sweet dream, Cinta.." ucap Suhan sebelum kemudian bergegas menghampiri kamar Birrul.
Begitu mendekati kamar putranya itu. Suhan mulai mendengar suara isakan kecil jagoan shaleh nya itu. Suhan pun mempercepat langkah nya demi bisa mencegah Birrul dari menangis kencang.
"Oo..oo..oo.. Jagoan shaleh nya abi.. Apa kabar kamu haru ini. Nak..? Udah jauh lebih sehat dong..!"
Dan menit-menit berikutnya, Suhan asik mengajak bincang putranya itu. Sampai kemudian Bu Laksmi muncul kembali dengan ASI botol untuk Birrul, barulah Suhan bisa meninggalkan putranya lagi untuk membersihkan diri.
Maklum saja. ia memang baru pulang dari kantor nya sebelum Maya terjatuh tidur di ruang tamu sesaat tadi.
***
Beberapa hari berikutnya, kondisi Birrul sudah jauh lebih membaik. Ia tak lagi terlalu rewel. Namun kini mulai aga tergantung kepada Maya.
"Sabar ya, Sayang..Yang utama kan Birrul sehat dulu ya.."
"Ya iya sih. Tapi.."
"Kenapa gak sesekali minta gantian Bu Laksmi untuk pegang Birrul aja, Um? Biar Umi gak terlalu capek juga kan?"
"Ah.. gak tega lah, Bi.. Bu Laksmi kan udah agak berumur. Jadi Umi juga gak tega jadinya untuk minta ais in Birrul. Apalagi Birrul juga maunya sama Umi terus.. Jadinya ya Umi bawa Birrul sambil ngerjain kerjaan rumah!" keluh Maya berlanjut.
"Lho? kan udah ada Bu Laksmi juga kan yang bantu kamu beresin tumah?"
"Ya iya. Tapi kan Umi gak mungkin juga tega biarin Bu Laksmi ngerjain semuanya, Bi..gak enak lah. Masa iya Umi duduk-dudukan aja sementara cucian numpuk atau rumah kotor banget belum disapu di pel.."
"Terus Umi maunya apa? Apa harus sewa jasa pengasuh aja atau ganti Bu Laksmi dengan khadimah yang lebih muda fan bugar?" usul Suhan kemudian.
"Dih.. Jangan lah, Bi! Itu sih demennya Abi kalau ada cewek muda kerja di sini!" dumel Maya sambil menyuapi Birrul yang kini duduk di kursi makan nya.
__ADS_1
"Astaghfirullah.. Kok Umi mikirnya gitu sih? Itu suudzon namanya lho, Um!" tegur Suhan dengan segera.
Maya langsung terdiam. Ia sadar kalau dirinya telah keceplosan bicara.
Setelah beberapa lama, Maya oun kembali berkata.
"Maafin Umi ya, Bi.. Gak tahu juga deh. Kenapa ya, akhir-akhir ini Umi bawaannya pingin marah-marah melulu. Bahkan Birrul juga kadang suka Umi cubit, Bi.. Umi ngerasa bersalah banget sih pada akhirnya.."
"Astaghfirullah.. Umi.. Umi. Umi kecapekan aja kali. Sering perbanyakin istighfar aja ya, Cinta. Memang itulah godaan beratnya menjadi seorang ibu. Ya sudah capek mengurus anak, harus juga ngurus kerjaan rumah. Gini aja deh. Kita nanti jalan-jalan lagi aja gimana, Um?"
Seketika itu pula mata Maya langsung membuka lebar.
"Jalan-jalan..?! Ke mana. Bi? ke mana??" tanya Maya begitu bersemangat.
"Hmn.. ke mana ya. Umi maunya ke mana?"
"Ke puncak aja, Bi!"
"Ke puncak?"
"Iya! Umi mau ke puncak aja!"
"Oke deh.. kalau gitu. insya Allah pekan ini kita ke puncak deh ya!"
Sayangnya, rencana untuk pergi ke puncak itu harus tertunda. Dan alasannya adalah karena adanya sebuah kejadian menyedihkan yang terjadi pada hari sebelum deadline mereka berangkat.
Birrul mendadak sakit lagi. Dari sekitar tubuhnya muncul bintik-bintik merah, yang setelah dicek ke dokter ternyata adalah bintik pertanda bahwa bayi lima bulan tersebut telah terserang penyakit Demam Berdarah.
Sontak saja, sakitnya Birrul telah menjadi pukulan telak bagi Maya sebagai seorang ibu. Wanita itu lalu menyalahkan dirinya sendiri karena kurang menjaga putra mereka dengan lebih baik lagi.
"Ini salah Umi, Bi.. Harusnya Umi rajin-rajin olesin minyak telon ke Birrul. Jadi Birrul gak sampai kena DBD!" cecar Maya pada dirinya sendiri.
Itu adalah ucapan Maya yang menyalahkan dirinya untuk ke sekian kalinya.
Maya menatap sedih pada putra mereka yang kini sedang tergolek lemah di atas bankar rumah sakit. Putra nya terlihat kian kurus saja di hari kedua dirinya dirawat di rumah sakit.
Dan ini sungguh membuat Maya menjadi sedih. Begitu juga dengan Suhan yang juga bersedih atas kondisi putranya saat ini.
__ADS_1
***