
085********: May, ini aku. Reyhan...
Suhan tercenung lama saat membaca pesan singkat itu. Tangannya memegang ponsel sang istri sambil terdiam beberapa waktu.
"Abi..? Ada pesan dari siapa, Bi? Kok matung gitu sih..?" ucap Maya yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Suhan langsung menoleh ke samping. Dan kini ia menatap wajah istrinya lekat-lekat.
Suhan tiba-tiba saja didera keinginan untuk menghapus jejak keberadaan nomor Reyhan di ponsel istrinya. Namun setelah dipikirkan lagi, apa pula alasan logisnya melakukan itu?
Sejauh ini, tak indikasi apapun yang harus membuatnya curiga kalau istrinya telah berkhianat. Bagaimanapun juga ia baru kemarin berkenalan dengan Reyhan. Dan sepertinya Maya juga baru bertemu lagi dengan pemuda itu setelah sekian lama. Jadi, mungkin alasan Reyhan menghubungi nomor Maya adalah untuk menyapa?
Suhan mengeratkan pegangannya ke ponsel Maya. Meski ia sudah memikirkan dari segi positif, namun tetap saja rasa cemburu itu mulai membakar keseluruhan diri Suhan.
Buru-buru lelaki itu beristighfar dalam hati. Dan setelah merasa lebih tenang, barulah ia mengulurkan ponsel di tangannya kembali ke Maya. Dengan hati dipaksa legawa, Suhan pun berkata.
"Barusan ada telepon, Mi.. Tapi gak sempat keangkat sama Abi. Pas Abi mau taruh, gak sengaja lihat, ternyata ada nomor baru. Dan itu tuh nomor Reyhan. Dia ngabarin tentang nomor barunya,"
Suhan menjeda kalimat nya. Kini lelaki itu sibuk menelisik setiap mikro ekspresi di wajah sang istri. Dan kembali, apa yang ia lihat di wajah Maya telah membuatnya merasa tak nyaman.
Mulanya Maya terlihat terkejut. Lebih ke syok malah. Namun syukurlah, tak ada rasa bersalah atau sejenisnya yang Suhan tangkap di wajah Maya.
Akan tetapi, di saat ia mulai mengira kalau firasatnya tentang Reyhan terlalu berlebihan, ia menangkap gelagat Maya yang tampak seperti enggan untuk membuka isi pesan dari Reyhan. Dan yang membuat Suhan merasa tak nyaman adalah, ia juga menangkap tatapan berharap di mata sang istri.
Jelas sekali kalau Maya sedang dilema untuk membaca atau tidka membaca isi pesan dari kawan sekolahnya dulu itu.
Akhirnya, Suhan memutuskan untuk keluar dari kamar mereka. Sebelum pergi, ia tak sadar telah mendengus kecil. Sebagai pertanda hatinya yang gundah gulana saat ini.
Dengusan itu sayangnya masih bisa didengar oleh Maya. Dan wanita itu akhirnya menyadari kalau suaminya sedang dalam kondisi yang tidak vaik-baik saja.
Maya langsung mengira kalau penyebabnya tentulah karena pesan dari Reyhan yang tak sengaja dibaca oleh suaminya itu tadi.
Maka dnegan terburu-buru, dan tanpa melihat isi pesan dari Reyhan di ponselnya, Maya bergegas menahan langkah kaki Suhan. Wanita itu memeluk Suhan dari belakang.
"Abii!"
Suhan langsung berhenti. Namun suasana menjadi hening yang tak mengenakkan.
__ADS_1
Setelah lama terdiam, akhirnya Suhan menyahut pelan.
"Hmm..? Apa, Mi..?"
"Itu.. mm.."
Maya sungguh kebingungan untuk memulai pembicaraan dari mana. Sehingga selama beberapa saat ia hanya bisa memeluk Suhan saja dari belakang.
Menyadari kalau saat ini Maya sedang bingung, akhirnya Suhan pun jadi tak tega.
Lelaki itu lalu berbalik fan balas memeluk pinggang ramping sang istri. Ditatapnya wajah Maya lama. Meski kini wajah cantik di hadapannya itu tak berani menatap langsung ke dalam matanya.
Suhan merasa gamang jadinya. Ia pun langsung memeluk Maya erat. Dan merasakan kalau debur jantung istrinya itu sama cepatnya seperti debur jantungnya sendiri.
Suhan tersenyum kecil.
"Umi mau apa? Bilang aja ke Abi. Selagi Abi masih mampu, dan itu adalah hal yang baik, insya Allah Abi akan selalu menuruti keinginan Umi.."
"..."
Tak ada jawaban dari Maya. Wanita itu masih saja terdiam lama.
Maya langsung menggeleng pada dada bidangnya.
"Umi mau batagor?" tanya Suhan kembali.
Lagi-lagi Maya menggeleng, menyatakan penolakannya terhadap usulan Suhan.
Dan selama beberapa waktu kemudian, Suhan terus menyebutkan semua jenis makanan yang pernah diidam-idamkan oleh Maya ketika sedang mengandung bayi Birrul. Namun Maya masih juga memberinya jawaban tidak.
"Terus Umi mau apa..? Bilang ke Abi dong, Cinta..Abi mana paham bahasa hati, Um.."
"Umi.. mau jelasin tentang Reyhan, Bi.. Reyhan itu.."
Belum selesai Maya bicara, tiba-tiba saja terdengar teriakan Bryan dari luar kamar.
"Kak Suhan! Boleh pinjam obeng nya sebentar? Mau ngecek motor nih, Kak. Obeng Bryan gak ada di jok!"
__ADS_1
Maya dan Suhan saling berpandangan. Setelah dua detik yang menghanyutkan. Suhan lalu mengecup pucuk kening sang istri dnegan mesra.
Cup.
"Nanti kita lanjutin ya, Cinta.. Abi keluar sebentar. Umi harus happy selalu ya. Jangan mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan. Abi akan selalu percaya sama Umi!" janji Suhan sebelum akhirnya melepaskan pelukannya di tubuh Maya.
Suhan lalu bergegas membuka pintu. Hanya untuk menerima komentar dari Bryan seperti berikut.
"Lama banget, Kak. Masa iya kalian udah main pingpong aja? Bukannya masih Merah ya Kak May--Aduh! Kak Maya tega banget sih?! Masa muka Bryan dilempar pakai handuk?"
"Biarin! Lagian kalau ngomong tuh gak disaring dulu. Siapa juga yang main pingpong di dalam kamar! Dasar ngadi-ngafi kamu, Bry!" ledek Maya yang geram pada Bryan.
Maya kesal pada adiknya itu lantaran Brya telah mengganggu seksi curhatnya bersama Suhan.
"Lha habisnya, suami-istri dua-duaan fi dalam kamar memang biasanya ngapain? Main catur gitu? ya enggak mungkin juga kali.."
Maya mendengus sebal. Ia kembali mengambil handuk yang tadi asal ia lemparkan ke wajah Bryan. Selanjutnya ia mengeringkan rambutnya lagi dengan handuk tersebut.
Selanjutnya Bryan dan Suhan pun keluar dari kamar dan meninggalkan Maya sendirian.
Lalu Maya melirik kembali ke ponselnya yang kini ada di atas nakas. Ia penasaran untuk membaca pesan fari Reyhan. Meski begitu Maya takut jika apa yang ia baca nanti bisa membuat hubungannya dengan sang suami malah menjadi goyah.
Setelah dipikir lagi baik-baik, akhirnya Maya memutuskan untuk mengabaikan ponselnya saja selama sementara waktu. Ia akan menunggu Suhan datang kembali. Dan barulah kemudian Maya akan menjelaskan perihal Reyhan dan perasaannya terhadap pemuda itu di masa lalu.
Setidaknya Maya pikir, dengan terbuka kepada Suhan, ia tak akan merasa bersalah lagi karena telah menutupi rahasia kecilnya di masa lalu.
Ya. Maya berpikir, baiknya mungkin memang seperti itu.
Tak berselang lama, Suhan kembali masuk ke kamar.
"Tolong duduk sebentar, Bi.. Umi mau lanjutin cerita yang tadi dulu.."
"Baik.." sahut Suhan begitu patuh.
"Jadi sebenarnya.. Reyhan itu adalah teman Umi sewaktu sekolah dulu, Bi.. Kami sering satu kelas terus. Bahkan juga sampai perkuliahan pun kami satu kelas juga," terang Maya mengawali ceritanya.
"Oh.. begitu.."
__ADS_1
"Iya.."
***