
Sementara itu Suhan pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit di waktu mendekati Isya. Dalam hatinya pemuda itu sudah bertekad untuk menyelesaikan perbincangannya dengan Maya yang tertunda.
Sayangnya apa yang dihadapi oleh lelaki itu di kamar inap Birrul telah membuatnya terkejut. Karena begitu Suhan masuk ke dalam kamar inap Birrul, hanya kamar kosong saja yang menyambutnya.
"Permisi, Sus! pasien di ruang ini dipindah ke mana ya?" tanya suhan pada salah satu suster yang melewatinya di lorong.
"Oh.. pasien sebelumnya di kamar ini sudah keluar, Pak. Baru sekitar satu jam yang lalu mungkin.."
"Apa?! Keluar? Maksud Sus, anak saya sudah keluar dari rumah sakit begitu?!"
"Iya, Pak.. sepertinya sejak siang tadi istri Bapak sibuk mengurus surat keluarnya,"
"Terima kasih, Sus!"
"Sama-sama, Pak! Permisi.."
Tanpa menunggu perawat itu berlalu, Suhan langsung saja mengeluarkan ponsel miliknya demi bisa menghubungi Maya.
"Maya.. apa maksud kamu ini, May? Kenapa kamu gak bilang kalau Birrul keluar rumah sakit malam ini?" gumam Suhan sambil menunggu panggilannya terangkat.
Akan tetapi setelah ia menempatkan speaker ponselnya di telinga, hanya suara operator telepon sajalah yang menyambutnya.
"Maaf. Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Atau sedang berada di luar area. Mohon hubungi sesaat lagi.."
"Gak aktif?! Apa jangan-jangan kami berselisih jalan ya..? Mungkin sekarang Maya sudah sampai di rumah terlebih dulu.." gumam Suhan kembali.
Pada akhirnya, Suhan pun kembali melalui perjalanan menuju rumahnya. Meski entah kenapa hatinya tiba-tiba saja dirundung oleh perasaan gelisah yang tak bisa ia jelaskan sebabnya kenapa.
Semua kegelisahan itu baru terjawab. ketika Suhan sampai di rumahnya. Karena lelaki itu mendapati tak ada Maya serta Birrul di sana.
"May...Cinta..! Kamu di mana, Um..?!" panggil Suhan begitu melangkah masuk ke rumahnya yang hening.
Akan tetapi panggilannya itu tak menerima sahutan. Bahkan setelah ia lelah mencari hampir ke setiap sisi dan ruangan rumah, Suhan tak kunjung menemukan istri dan anaknya jua.
"Di mana sebenarnya Maya dan Birrul?" gumam Suhan sendirian di keheningan ruangan yabg menyesakkan.
Selanjutnya lelaki itu mencoba menghubungi nomor Maya kembali. Namun tetap saja nomor Maya masih tetap tak aktif seperti sebelumnya. Sehingga pada detik berikutnya Suhan pun mulai menghubungi satu persatu orang terdekat Maya, demi bisa menemukan keberadaan istrinya tersebut.
Tak ada hasil untuk pencarian Suhan malam itu. Dan lelaki itu mengakhiri malamnya dengan rasa cemas dan khawatir yang sulit untuk diaturnya sendiri.
"Di mana sebenarnya kamu, Um..? Kenapa kamu pergi begitu saja...?" gumam Suhan di atas sofa ruang tamu.
Setelag tepekur beberapa lama di sana. akhirnya Suhan memutuskan untuk menghubungi nomor Bryan, adik iparnya.
Dan setelah panggilannya tersambung, seperti inilah percakapan di antara keduanya..
"Assalamu'alaikum.. Bry!"
"Wa'alaikum salam, warohmatullah.. Kak Suhan.. Apa kabar, Kak..?"
__ADS_1
"Baik..err.. gak. sebenarnya kondisi Kakak lagi gak baik nih, Bry.." jawab Suhan dengan suara lesu.
"Ehh? Ada apa. Kak? Kak May dan ponakan ku sehat semua kan..?" tanya Bryan dari seberang telepon.
"Nah. itu dia, Bry. Kakak sendiri gak tahu gimana kondisi Maya dan juga Birrul sekarang ini,"
"Lho? Kok bisa gitu sih, Kak??"
"Sebenarnya.."
Dan selanjutnya, Suhan pun akhirnya menceritakan pertengkaran dan juga kesalahpahaman yang terjadi di antara dirinya dan juga Maya. Setelah selesai bercerita, Bryan pun memberikan komentarnya.
"Oo, Gosh! Kalau gitu sih, pantas aja kalau Kak May marah, Kak.."
"Tapi Kakak mu itu juga agak keras kepala, Bry. Dia sama sekali gak mau dengar alasan Kakak!" ujar Suhan terdengar begitu frustasi.
"Dari dulu Kak Maya memang begitu kan, Kak? Kan Bry udah peringatin juga ke Kak Suhan kan..? Kak May itu gak cuma posesif. Tapi juga melankolis dan dramatis! Pernah dengar cerita tentang Kak May yang ngajakin Bry kabur waktu kita masih kecil dulu kan, Kak?"
"Iya. Pernah dengar ceritanya dari almarhumah Ibu.. Katanya gara-gara Ibu marahin kalian berdua yang bandel main di empang kan?"
"Itu sih sebenarnya salah Kak May ya. Kak. soalnya umur Bry waktu itu kan baru tiga setengah tahun. Jadi jelas salahnya Kak May lah yang ngajak main Bry ke empang dulu.." ujar Bryan membela diri.
"Bukannnya katanya kamu ya yang ngajak Maya..? Maya bilang. kamu ngerengek ke dia minta main di empang.." sanggah Suhan sambil mengingat cerita fari istrinya itu dulu.
"Ehh.. Yah.. intinya, Bry kan maish kecil banget, Kak. Jadi tetap salahnya Kak May lah yang mau aja nerima ajakan Bryan main di empang. Jadinya kan dulu kita habis kena tepok sama Ibu di pan*at. Sakit banget itu, kalau diingat-ingat lagi..!" seloroh Bryan bercerita.
"...."
"Jadi kamu beneran gak tahu ke mana kakak mu itu pwrgi, Bry?"
"Gak.. gak tahu, Kak,"
"Ada ide gak ke mana kiranya Maya pergi sekarang?"
"Mungkin ke rumah temannya, Kak?"
"Udah Kakak tanyain, tapi sama gak tahunya merek, Bry!"
"Mm.. ke rumah tetangga…?"
"Masa iya sih, Bry..?"
"Ya coba aja ditanya, Kak.."
"Apa mungkin Maya pergi ke rumah saudara kalian, Bry? ke rumah Paman atau Uwak yang tumahnya jauh gitu?"
"Semua Paman dan Uwak kami, rumahnya ya cuma ada di dekat rumah sana, Kak! Gak ada yang rumahnya jauh!"
"Hh.. gitu ya.."
__ADS_1
"Iya.. Eh! Sebentar! Tapi ada rumah almarhum nenek sih di Kaliayu.."
"Kaliayu?"
"Iya. Cuma itu rumah udah kosong lama banget. Kak Maya gak mungkin juga sih tiba-tiba pindah ke sana, Kak.."
"Kenapa enggak?"
"Soalnya seingat Bryan, di sana tuh dulu Kak May pernah lihat penampakan. Kak May kan paling anti sama yang namanya horor-horor, Kak!"
"Begitu kah?"
"Iya. Jadi Kak May jelas gak mungkin pergi ke rumah itu!"
"Hmm.. Ada ide lain gak?"
"Sebentar Bry ingat-ingat dulu.."
Setelah jeda beberapa sambil menunggu Bryan berpikir, Suhan juga ikut memikirkan opsi lain tempat Maya berada saat ini. Akan tetapi pikirannya terasa buntu sekali.
"Oh! Coba ke rumah Tante Rosa aja, Kak!"
"Tante Rosa? siapa itu. Bry?"
"Sahabatnya almarhum Mama.. Dulu Tante Rosa sering banget main ke rumah. Tapi sejak suami fan anaknya meninggal karena kecelakaan, Tante Rosa jadi jarang main. Yah, siapa tahu Kak May pergi ke rumahnya kan?"
"..Tante Rosa ini tinggal sama siapa sekarang?"
"Gak tahu, Kak. Tapi kayaknya sendiri deh. Jadi kali aja Kak May mutusin untuk pergi ke sana dan temenin Tante Rossa,"
"Oke. Kalau gitu, bisa tolong kirimin alamat nya sekarang, Bry?"
"Siap.. nanti Bryan kirim lewat pesan ya, Kak!"
"Makasih, Bry.."
"Sama-sama, Kak Su.. Bryan apa ikut temani Kak Suhan cari Kak Maya juga kah?"
"Jangan.. gak perlu. Biarin Kakak cari Kak May sendiri dulu. Kamu fokus aja kuliah. nanti Kakak kabarin gimana-gimana nya!"
"Oke deh.. semoga Kak May cepat ketemu ya. Kak!"
"Iya.. Udah dulu ya, Bry.. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam warohmatullah.."
Klik.
Dan sambungan telepon pun akhirnya terputus.
__ADS_1
***