Mantan Yang Tak Usai

Mantan Yang Tak Usai
Menenangkan Diri


__ADS_3

"Kamu mau tanya apa, May?" tanya Suhan dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan oleh Maya.


"Di mana kamu semalaman tadi, Bi? Kamu gak ke sini untuk menemani Birrul dan aku. Jadi ke mana sebenarnya kamu pergi? Ke rumah kita kah.?? Atau.. ke rumah wanita lain?!" tanya Maya bernada penuh amarah.


Suhan tersentak kaget. Sebelum kemudian kegugupan melintas di wajahnya.


Lelaki itu langsung menundukkan kepala. Tampak jelas rasa bersalah di wajahnya yang manis nan rupa wa itu.


Hati Maya meradang seketika. Tanpa memerlukan jawaban dari Suhan, wanita itu langsung saja berkata lagi.


"Pergi!"


Suhan kembali mengangkat wajah untuk menatap sang istri. Ia hampir tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Maya.


"Ka..Kamu bilang apa barusan, May?" tanya Suhan tergagap.


"Aku minta kamu pergi dari sini, Bi!" pinta Maya kembali.


Wanita itu mengatakannya tanpa berani memandang wajah Suhan.


"Pergi ke mana, Um? rumah ku adalah bersama kamu!"


"Hh.." Maya tiba-tiba saja terlihat begitu letih saat ia menghela napas panjang.


'Terlalu manis.. terlalu manis kata-kata mu itu, Bi.. Sayangnya racun yang kamu berikan diam-diam di belakang ku itu sungguh telah membunuh cinta ku padamu..!' jerit batin Maya.


"May.." Suhan memanggil Maya sambil kembali mendekatinya.


"Bi...please..Tolong biarin Umi tenangin diri dulu.. Tolong tinggalin Umi dulu.. Umi mau.."


Kata-kata itu tercekat di tenggorokan Maya. Sehingga ia tak bisa lagi meneruskan kalimat nya hingga utuh.


Tapi Suhan mengerti. Ia begitu paham pada apa yang sedang bergejolak dalam dada Maya saat ini.


Istrinya itu sedang sangat marah. Dan ia membutuhkan waktu untuk berpikir jernih kembali.


Meski Suhan masih tak tahu jelas penyebab keributan di antara mereka saat ini. Namun Suhan tahu kalau Maya sedang sangat marah padanya.


Di antara kebimbangannya untuk tetap mendekati Maaya atau meninggalkannya, tiba-tiba saja sebuah pemikiran melintas cepat di benak Suhan.


'??!!! Apa jangan-jangan Maya tahu kalau semalam itu aku sudah..??!' benak Suhan berpikir cepat.

__ADS_1


Saat pemikiran itu mulai mendasar di benaknya, dengan terburu-buru Suhan pun berkata lagi.


"Mm..Maya! Apa kamu sudah tahu kalau semalam aku.." Suhan tampak kesulitan untuk menemukan kata-kata yang tepat demi pembelaannya di hadapan Maya.


"Apa, Bi..? Semalam kamu udah..apa?" balas Maya berpura-pura tak tahu.


Meski begitu, kilatan amarah tampak jelas dari kedua matanya yang cokelat bening.


Kilatan amarah itulah yang membuat Suhan menjadi gamang untuk melangkah maju lagi. Ia tak bisa menebak kebenaran dari mata istrinya itu saat ini.


Di saat mulut Maya mengatakan seolah ia tak tahu. Tapi entah kenapa Suhan merasa kalau Maya sebenarnya telah mengetahui sesuatu.


Setelah berpikir cepat, akhirnya Suhan memutuskan untuk menjelaskan saja alasan ketidakhadirannya semalam di kamar inapnya Birrul ini.


"Cinta.. sebenarnya kemarin itu aku.."


"Bii.. please! Tolong pergi dulu!" potong Maya begitu tiba-tiba.


"Tapi, Cinta.. aku harus jelasin ke kamu dulu kalau kemarin itu aku.."


"Bii.. Tolong pergilah dulu.. Umi mau..tidur dulu. Kepala Umi sedikit pusing soalnya. Umi gak mau bahas apa-apa dulu sekarang ini.." pinta Maya berulang kembali.


"Hh.. Baiklah, Um.. Tapi, kita benar-benar harus bicara nanti setelah kamu merasa baikan!" ujar Suhan mengultimatum.


"Ya.. apapun itu. Terserah kamu lah, Bi.." jawab Maya dengan asal.


Wanita itu kemudian langsung merebahkan badan di samping pembaringan Birrul. Dan ia juga memeluk bayi nya yang kini sudah kembali tenang itu.


Suhan pun segera hendak kembali mendekati tempat Maya berbaring. Akan tetapi Maya segera menghentikan niatnya.


"Kamu pergilah dulu, Bi.. Ini udah jam berapa? Kerja saja, sana.." usir Maya dengan halus.


Suhan melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu sudha menunjukkan pukul setengah sepuluh lewat. Masih aman sebenarnya jika ia pergi ke kantor sekarang. Namun hatinya mengatakan untuk tetap berada di sini menunggui sang istri.


"Abi.. abi mau ijin kerja dulu aja, Um.. Abi mau menemani Umi dan Birrul di sini.. Kalian berdua kan lagi sakit.." kilah Suhan beralasan.


Seketika itu jua Maya langsung membuka kembali matanya yang telah terpejam. Lalu ia menatap tajam kepada Suhan.


"Pergi bekerja saja, Bi. Maksud ku meminta mu pergi itu biar Umi bisa menenangkan hati dan pikiran Umi dulu. Tolong ngerti, Bi!"


Hening...

__ADS_1


Suhan dan Maya kembali bertatapan selama sekian detik. Dan setelag lama beradu tatap dalam diam, Suhan akhirnya menyerah kembali pada keinginan sang istri.


"Baiklah.. iya.. iya.. Abi pergi kerja deh,"


Tapi kemudian Suhan tetap melangkah dan mendekati Maya. Dan seperti biasanya, lelaki itu lalu mengecup kening Maya, yang dibiarkan saja oleh wanita itu.


Padahal sungguh, dalam hatinya Maya merasakan kembali hatinya tersayat sembilu..


'Kamu masih juga bersikap manis seperti ini, Bi..Tapi kemanisan yang kamu tunjukkan ini kalah telak bila dibandingkan dengan racun di dalamnya. Kamu memang jahat! Jahat banget, Bi!!' jerit batin Maya yang kembali berpura-pura memejamkan mata.


"Kalau gitu, Abi pergi kerja dulu ya, Um.. Nanti siang Abi bawain makanan deh ya buat Umi.."


"Gak perlu.." tolak Maya terburu-buru.


"Bu Laksmi siang nanti mau ke sini kok. Jenguk Birrul sekalian mau bawain makanan juga," terang Maya lebih lanjut.


"...Oh.. Kalau gitu, kita makan siang bareng deh ya?" usul Suhan kembali.


"Abi.. Kanu udah janji kan untuk ngasih waktu ke Umi biar bisa menenangkan diri?"


"Oke.. oke.. Abi akan kasih Umi waktu. Tapi nanti sore Abi ke sini lagi ya.. Kali ini Umi gak boleh larang Abi lagi!" pinta Suhan bernada ultimatum.


"..." Maya hanya terdiam saja, tak menjawab.


"Hh.. I love you, Um.. Umi tahu itu kan?" lirih suara Suhan kemudian sebelum pergi.


Akan tetapi lagi-lagi tak ada jawaban dari Maya. Hingga Suhan akhirnya menyerah dan berlalu dari ruang inap putra nya itu.


Setelah lama langkah Suhan tak terdengar, barulah Maya membuka kedua matanya kembali. Pandangannya kosong menatap dinding rumah sakit yang bercat putih.


Beragam pikiran dan pilihan terpampang lebar di benaknya. Dan Maya kini sedang memutuskan hal apa yang akan dilakukannya untuk ke depannya nanti.


Haruskah ia bertahan? Atau haruskah ia melawan?


Mampukah ia untuk meninggalkan segala kehangatan yang didapatnya selama ini dari Suhan? Karena bagaimana pun juga, lelaki itu lah yang selama ini telah menemaninya melewati batas kesedihan usai kepergian ibu dan juga Bapak..


Teringat kembali pada kedua orangtua nya, tanpa bisa ditahan lagi, tangisan pun kembali meluruh dari kedua mata beningnya Maya.


"Ibu.. Bapak.. Maya kangen kalian.." lirih suara Maya di sela isakannya yang tertahan.


***

__ADS_1


__ADS_2