
"Yang jelas, Umi dan Reyhan sama sekali gak ada hubungan apa-apa. Baik dulu maupun sekarang, Bi. Jadi Umi harap, Abi gak punya prasangka apa-apa terhadap kami.." lanjut Maya kembali.
"Iya. Abi percaya sama Umi.. Maaf ya. Abi cuma ngerasa agak cemburu aja. Soalnya. biasanya kan yang Abi tahu teman-teman Umi tuh cewek ya. Macam Laras dan Dena. yang sesekali datang ke rumah. Jadi, pas kemarin ketemu sama Reyhan, dan ngerasa vibes nya kok agak beda gitu di antara kalian. Jadi Abi pun sempat mikir. apa mungkin entah dia pernah nyatakan cinta ke Umi, atau sebaliknya--"
"Enggak! gak ada tuh kayak begitu. Bi!" Sanggah Maya begitu cepat.
"Syukurlah kalau begitu.."
"..."
"..."
"Lha kok malah diam lagi sih? Udah ah. Jangan dipikirin lagi ya, Cinta. Yang penting Umi tahu. Kalau Abi tuh percaya sama Umi. Abi percaya, kalau Umi akan selalu menjaga marwah Umi sebagai istri dan juga ibu di keluarga kecil kita ini,"
"Iya, Bi.."
Suhan langsung menarik Maya ke dalam pelukannya. Dan keduanya saling merasakan debur jantung satu sama lain yang berima.
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
"Ehem! Jadi, ngomong-ngomong..Reyhan ada perlu apa ya hubungi Umi?" celetuk Suhan yang sebenarnya masih penasaran.
Maya pun menengadahkan wajah ke atas. Lalu ia menjawab pertanyaan Suhan dengan gelengan kecil.
"Gak tahu.."
"Lho. kok Gak tahu sih? Memangnya Umi belum lihat pesannya apa?"
"Belum. Malas ah. Mending dihapus aja deh. Umi malas kontekan sama lelaki. Abi tolong hapusin deh ya?" pinta Maya penuh harap.
"Lho.. kok gitu sih, Um? Jangan begitu lah.. Siapa tahu ada sesuatu yang memang benar-benar penting? Atau dia mungkin mau minta tolong sesuatu yang cuma Umi aja yang bisa ngebantuin nya?"
"Hmm.. "
Lagi-lagi Maya menyembunyikan wajahnya ke dada bidang milik sang suami. Sikap manja Maya ini membuat kekhawatiran yang sempat mengganggu pikiran Suhan sesaat tadi, kini hilang sirna begitu saja.
"Um.. Berusahalah untuk membangun hablum minan naas (hubungan dengan manusia) dengan sebaik mungkin. Gak pandang bulu lho.. Karena kita gak tahu, mungkin kapan-kapan kita memerlukan bantuan dari orang yang justru selama ini kita hindari.." pesan Suhan begitu bijak.
Hening kembali.
"..Ya udah deh. Umi tanya dulu deh dia mau apa.."
"Nah.. bagus itu.. Tapi dibaca dulu deh Um,pesan dari Reyhan sebelumnya.."
"Iya.. iya.. Eh, ngomong-ngomong Birrul sama siapa, Bi?" tanya Maya celingukan.
"Birrul lagi berjemur sama Bapak.."
"Ooh.."
__ADS_1
"Udah. Coba dicek dulu, Um, pesan dari Reyhan!" ujar Suhan kembali mengingatkan.
"Kok Abi semangat banget sih kayaknya biar Umi baca pesan dari cowok lain. Memangnya Abi gak ngerasa cemburu atau gimana gitu?" tanya Maya menyelidik.
"Siapa bilang Abi gak cemburu, Um..? Abi tuh cemburu banget lho sebenarnya. Tapi Abi sadar diri. Abi tahu, kalau hidup Umi itu gak sepenuhnya harus melulu tentang Abi,"
"Abi mengerti jika Umi juga punya jaringan koneksi sendiri yang sesekali mungkin harus bersinggungan juga dengan lelaki lain. Jadi Abi putuskan untuk menerima, sambil berjaga-jaga juga sih.."
"Jaga-jaga?"
"Iya. Jaga-jaga.. Masa Umi gak percaya sih?"
"Memangnya cara Abi berjaga-jaga tuh kayak gimana?" tanya Maya yang kini sudah memegang kembali ponselnya sambil duduk di sisi kasur.
"Ya kayak begini nih.."
Tiba-tiba saja Suhan juga ikut duduk di atas kasur. Selanjutnya ia menarik Maya dengan lembut. Sehingga kemudian tubuh istrinya itu duduk menyandar ke dada bidang nya.
"Dengan begini, Abi juga kan jadi bisa lihat apa isi sms dari Reyhan kan? Abi bakal mastiin untuk menjaga Umi dari bertindak yang macam-macam!" ujar Suhan sambil berpura-pura memasang tampang garang.
"Hihihi.. Apaan sih, Bi? Katanya percaya. Tapi kok masih suka ngintipin istri sendiri baca pesan dari cowok lain sih?" Ucap maya sambil mencubit pelan pa ha sang suami.
"Aduh.. pelan-pelan dong, Um.. Takutnya nanti malah ngebangunin dede junior lagi!"
"Dih! istighfar. Bi.. Umi masih.."
"Iya.. iya.. Abi juga masih ingat kok. Abi cuma bercanda, Mi.. Jangan seriusan banget dong?"
'Mau apa sebenarnya dia kontekin aku lagi?' benak Maya bertanya-tanya.
Akhirnya Maya membuka aplikasi pesan di ponsel nya. Dan benar kata Suhan, memang ada sebuah pesan baru dari nomor tak dikenal.
Maya pun langsung saja membuka pesan baru tersebut. Isinya sebagai berikut.
Dari 085********: May.. ini aku, Reyhan. Mau ngabarin. Ada rencana untuk buka komunitas baca tulis lagi gak? Ada investor yang mau bantuin nih. Kita buat aplikasi baca. Gimana, May?
"Huh..?" Maya membaca ulang pesan dari Reyhan di ponsel nya.
Ia sama sekali tak menyangka isi pesan dari Reyhan akan seperti itu.
"Komunitas baca tulis? Maksudnya grup literasi gitu ya, Um?" tanya Suhan di belakang Maya.
"Kayaknya sih, Bi.."
Maya tercenung. Ingatannya langsung melayang ke masa awal perkuliahannya dulu.
Flashback.
Maya ingat. Dulu sekali ia bersama Reyhan dan juga beberapa teman di kampusnya telah membuat komunitas literasi bersama.
Itu mulanya adalah ide Maya. Karena dia memang senang membaca dan juga menulis. Entah essai, novel, cerpen, ataupun jenis tulisan lainnya, karya Maya sudah cukup banyak terpajang di beberapa media.
__ADS_1
Mulanya Maya mengajak Tika, salah seorang temannya yang juga gila membaca untuk menjadi perintis komunitas tersebut. Lalu, Reyhan yang tak sengaja mendengar obrolan Maya dan Tika pun ikutan nimbrung.
Reyhan pun langsung ikut berjibaku dalam proses pembentukan grup penggila baca tulis yang dirintis oleh Maya dan kawan-kawan lainnya itu.
Flashback selesai.
"Cinta..? Kok malah bengong sih?" tegur Suhan kala menyadari sang istri yang lama terdiam.
"Ehh, Maaf, Bi. Cuma lagi keingetan sama jaman kuliah dulu. Umi soalnya pernah buat grup baca tulis juga sih. Tapi itu cuma bertahan dua tahunan aja.." terang Maya menjelaskan.
"Kenapa begitu?"
"Soalnya.."
Maya berhenti bicara. Dalam hatinya. ia menyambung sendiri jawabannya.
'Soalnya di tahun ke tiga perkuliahan, hubungan ku dengan reyhan mulai gak baik-baik aja. Apalagi dia juga mulai pacaran sama Salma waktu itu..' sambung Maya dalam hati.
"Umi..? Lha, malah bengong lagi..?" tegur Suhan kembali.
Maya tersenyum malu. Ia lalu melingkari leher Suhan dan menyembunyikan wajahnya lagi di antara ceruk leher suaminya itu.
"Umi gak tertarik soal buat komunitas baca tulis itu lagi, Bi. Udah bukan masanya..Lagipula sekarang kan udah ada Birrul. Jadi Umi mau fokus ke Birrul dan Abi aja.." ungkap Maya pada akhirnya.
"Hmm.. Abi sih terserah Umi aja.. Yang penting Umi senang, Abi ikutan senang.." jawab Suhan diplomatis.
"Iishh.. suami ku kok sweet banget sih??" seloroh Maya sambil mencubit pucuk hidung Suhan dengan sayang.
"Ya sweet lah.. Kan sering minum.. u u.."
"Abi! Ngomongnya jangan ngawur melulu ah!" tegur Maya mulai kesal pada sang suami.
Ia hendak berusaha bangun dari pangkuan Suhan. Namun segera ditahan oleh lelaki itu.
"Ehh, mau ke mana? Di sini aja.. Mumpung Birrul ada yang ngajakin, ya kita mes ra-mes raan dulu aja lah, Mi.."
"Abii.. ini tuh masih pagi..!" tegur Maya kembali sambil berusaha bangun dari posisinya.
"Apa masalahnya? Mes ra-mes raan sama suami atau istri sendiri kan bagus lho, Um.. dapat pahala lagi!"
"Tahu ah.."
"Ya memang Abi tahu lah.. Sini-sini, Abi bisikin lagi deh!"
Dan menit-menit selanjutnya, Suhan pun sibuk mencanda mes rai Maya di dalam kamar.
Seperti apa candanya?
Biarkan itu menjadi rahasia mereka berdua ya..
***
__ADS_1