Mantan Yang Tak Usai

Mantan Yang Tak Usai
Nomor Reyhan


__ADS_3

Malam harinya di dalam kamar..


Maya sedang menyusui putranya, ketika Suhan masuk dan ikut berbaring di samping pembaringannya.


"Abii.. ngagetin aja. Kirain siapa.." seloroh Maya yang sedikit terkejut. Bukannya kenapa, namun wanita itu merasa risih jika ada orang lain menyaksikan saat dirinya sedang meng-ASI-hi putra nya. Meski itu adalah suaminya sendiri. Maya masih belum terbiasa.


"Memangnya siapa aih yang berani masuk ke kamar kita tanpa ketuk pintu, Mii.." sahut Suhan sambil melihat ke arah putra mereka yang tampak begitu kelaparan.


"Duh..jagoan soleh nya Abi kayaknya lapar banget sih?" celoteh Suhan sembari meraih satu jemari mungil putranya.


Maya tersenyum sambil menatap wajah putra mereka.


"Iya nih. Dia baru bangun banget, Bii. Makanya lapar. Kan tadi lumayan lana juga tidurnya. Dua jam full tidur gak bangun-bangun!" sahut Maya bercerita.


"Oh ya? Wah.. selain gembul, kamu juga doyan tidur juga ya, Soleh?"


"Apaan sih, Bi. Semua bayi rata-rata memang masih banyak jam tidurnya. Tapi disaranin tuh untuk ngasih ASI setiap dua atau tiga jam sekali. Makanya tadi Umi bangunin dia. Eh, ternyata malah kelaparan gini nih.."


"Hmm.. Kayaknya enak banget sih Mamamnya Jagoan Abi. Bagi dikit boleh dong..?" goda Suhan yang langsung mendekatkan kepalanya ke pangkuan Maya.


Seketika itu pula wajah Maya jadi bersemu merah.


"Abi apaan sih? Gak malu apa! Ini kan jatah Dede. Ya Dek, ya?"


"Ehh, sebelum punya Dedek, ini kan jatahnya Abi lho, Dek.."


"Makin ngawur aja deh omongannya! Oya, Bi.. Jadi nama Dede apa nih?"


"Yang waktu itu aja.. Birrul Ramadhani. Ramadhan pembawa kebaikan.."


"Tapi kan Dedek bayi gak lahir di bulan Ramadhan, Bi. Sekarang tuh masih bulan Rajab lho..Tiga hari lagi baru masuk bulan ramadhan.."


"Ya terus namanya harus diganti juga gitu, Mi? Jadi Birrul Rajabi?"


"Hihihi.. Abi bisa aja! Mana ada nama anak Birrul Rajabi?"


"Lho? Malah bagus dong kalau nama anak kita nanti jadi yang pertama. Jadi gak ada duanya kan.. Seperti Umi, gak ada duanya di hati Abi.."


"Halah.. Paling fasih deh kalau udah soal ngegombal! Udah. Birrul Ramadhani aja deh. Namanya lebih bagus. Hoahm... Ngantuk banget deh.."


"Ya udah. Umi tidur duluan aja. Sini Dede Birrul nya. Biar Abi yang timang-timang dulu. Abi pingin tilawahin surat Muhammad dulu sebelum tidur. Semoga kelak Birrul menjadi anak yang shaleh dan senantiasa mengikuti jejak rasul kita, Muhammad Saw.."


"Aamiin.."


***

__ADS_1


Keesokan paginya..


"Umi mau mandi?"


"Iya, Bi.. Tapi memangnya gak apa-apa ya?"


"Lho? Memangnya kenapa? Justru dianjurkan untuk mandi. Tapi air hangat aja dulu. Biar nanti ke badan juga segar. Kalau sore, baru deh dilap aja. Tinggi sebentar ya. Biar Abi siapin dulu air hangatnya,"


Setelah beberapa lama, Suhan kembali masuk ke dalam kamar. Ia lalu hendak menggendong kembali tubuh sang istri. Namun segera dicegah oleh Maya.


"Abi.. Gak usah digendong! Umi udah cukup kuat kok untuk jalan sendiri! Kan Umi lahirannya normal. Alhamdulillah.."


"Alhamdulillah iya. Abi juga senang karena Umi bisa cepat pulih. Tapi tolong jangan tolak keinginan Abi untuk manjain Umi ya? Mumpung Abi lagi cuti kerja fan bisa manjain Umi. Jadi biar Abi ikut bantuin Umi ini dan itu ya?"


Mendengar alasan tersebut, akhirnya Maya mau untuk membiarkan Suhan menggendongnya menuju kamar mandi. Ia langsung menyembunyikan wajahnya manakala berpapasan dengan Bryan yang baru bangun.


"Ciailee.. Tuan Putri senang banget, pagi-pagi udah digendong ke kamar mandi! Bryan juga mau dong dimandiin!"


"Hush! Jangan godain kakak mu terus Bry! Udah sana mandi di kamar mandi belakang. Katanya kamu mau balik lagi ke Yogya pagi ini? Udah jam delapan lho?" tegur Bu Rahma yang muncul dari ruang dapur.


"Hah??! Jam Delapan, Bu?! Ciloko! Alamat bisa kena semprot nanti kalau datang telat!"


"Memangnya ada jam perkuliahan apa hari Minggu gini, Bry?"


"Klub? Kamu ikut klub apa, Nak? Jangan yang aneh&aneh lho!"


Maya masih bisa mendengar rentetan ceramah sang ibu saat ia baru diturunkan di sebuah kursi plastik yang ada di dalam kamar mandi.


"Nah.. Mau sekalian dimandiin gak nih?" tawar Suhan dengan senyum menggoda.


"Gak! Makasih deh, Bi. Udah sana keluar dulu. Tolong jemurin Dede Birrul ya, Bi. Biar nanti habis itu dimandiin,"


"Yaahh.. penonton kecewa deh.." canda Suhan, sebelum akhirnya berlalu pergi kembali ke kamar mereka.


Begitulah adanya Suhan. Ia sigap menjadi ayah sekaligus juga suami yang dapat diandalkan. Bagaimanapun juga Birrul adalah buah cinta pertama nya dengan Maya yang harus ia nanti-nantikan selama hampir dua tahun lamanya.


Setelah menikah, mereka memang tak langsung dititipkan Birrul oleh Yang Maha Kuasa. Selama satu tahun lebih kiranya rahim Maya kosong.


Maya sempat berada pada titik paling pesimis dan mengira kalau dirinya mandul. Namun Suhan butu-buru menepis anggapan itu.


Ia senantiasa menyabarkan hati sang istri. Sementara tak henti-hentinya setiap malam Suhan bermunajat pafa Yang Maha Pencipta untuk menganugerahi mereka seorang anak.


Dan alhamdulillah. Birrul pun akhirnya muncul dan menyertai hari-hati mereka. Meski kehadirannya harua dibayar dengan sindrom kehamilan yang cukup patah, sampai-sampai harus membuat Maya jadi bed rest total.


Tapi, berkat kehadiran buah cinta mereka itu, kini Suhan yakin. Kalau kekuatan cinta dalam keluarga kecil mereka akan semakin menguat.

__ADS_1


Dengan adanya Birrul, Suhan berharap Maya akan benar-benar membuka keseluruhan hatinya untuk Suhan. Tanpa ada lagi rasa segan dan canggung yang sesekali masih Suhan rasakan dari sikap Maya terhadapnya.


Suhan kembali ke kamar. Hanya untuk mendapati mertua lelakinya, Pak Teja sedang menggendong bayi Birrul.


"Pak.." sapa Suhan.


"Nak Suhan.. Bapak mau ajak jemur si Otong dulu ya. Sebentar aja kok.." Pak Teja berkata.


"Oh, iya, Pak. Tadinya juga Suhan memang mau ngajak jemur Dede Birrul,"


"Jadi namanya Birrul?"


"Iya, Pak!"


"Artinya apa itu, Nak?"


"Kebaikan, Pak.. Birrul Ramadhani.. Ramadhan pembawa kebaikan.."


Pak Teja terdiam sebentar, sebelum kembali berkomentar.


"Kenapa enggak Birrul Rajabi aja? Kan lahirnya masih di bulan Rajab toh?" usul Pak Teja dengan ekspresi serius.


"Hahaha.. Tadinya juga saya mau usul begitu. Tapi kata Maya lebih bagus Birrul Ramadhani,"


Pak Teja lalu mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.


"Yah.. Yang penting makna nya bagus. Ya sudah. Bapak ke depan dulu ya sama Dede Birrul!"


"Iya Pak!"


Setelah mertua lelaki nya itu berlalu, Suhan langsung sigap merapihkan kasur dan juga bantal untuk tempat bersandar Maya. Di saat sedang membereskan kasur itulah, Suhan mendengar suara ponsel sang istri berdering cukup lama. Pertanda adanya sebuah panggilan masuk.


Suhan pun bermaksud untuk melihat sekilas nama pemanggil nya. Namun panggilannya keburu berhenti.


Meski begitu, sesaat kemudian terdengar deringan kembali. Kali ini adalah pertanda sebuah pesan baru masuk.


Kemudian Suhan membuka jejak log panggilan. Dan ia melihat sebuah nomor tak dikenal lah yang ternyata telah menelpon ponsel Maya sesaat tadi.


Saat keluar dan hendak meletakkan ponselnya kembali. Suhan tak sengaja membaca sedikit tampilan pesan yang baru saja masuk. Dan apa yang ia lihat itu kembali mengganggu pikirannya.


Isi pesan singkat itu tertulis,


085********: Maya, ini aku, Reyhan...


***

__ADS_1


__ADS_2