
Hari demi hari terus berlalu. Tak terasa satu bulan sudah sejak kedua orang tua Maya dimakamkan.
Kini, kegiatan Maya sebagai ibu rumah tangga semakin nyata ia rasakan.
Jika dulu ia masih ada Bu Rahma yang membantunya mengerjakan beberapa pekerjaan rumah seperti menyapu dan mencuci, kini Maya harus melakukan pekerjaan itu seorang diri.
Sebenarnya ia tak melakukan semuanya sendiri sih. Karena Suhan telah mempekerjakan seorang asisten rumah tangga untuk Maya.
Pembantu itu adalah tetangga Maya sendiri yang bernama Bu Laksmi. Usia nya sedikit lebih muda dari almarhumah Bu Rahma. Jadi karena pertimbangan usia yang tak jauh berbeda dengan mertua nya itulah yang membuat Suhan setuju untuk menyewa jasa beliau.
Suhan berharap, setidaknya ketika ia sedang berada di kantor, Maya tak terlalu merasa kesepian di rumah. Meskipun ada Birrul, putra mereka yang menemani, tetap saja. Suhan yakin, Maya juga membutuhkan orang untuk diajak bercengkerama sesekali.
Tapi karena usia nya yang tak terlalu muda lagi, Maya pun jadi agak segan untuk menugaskan pekerjaan rumah kepada Bu Laksmi. Sehingga Bu Laksmi lah yang sigap mengerjakan setiap pekerjaan rumah yang belum diselesaikan oleh Maya.
***
Akhir-akhir ini, Birrul agak sering rewel dari biasanya. Begitu dicek, suhu tubuhnya juga agak sedikit panas.
"Bi, Birrul demamnya belum turun juga. Udah tiga hari padahal. Umi ijin bawa Birrul ke dokter ya, Bi?" ujar Maya meminta ijin via panggilan telepon.
"Begitu.. Kalau gitu, tunggu Abi pulang ya, Um.. Nanti siang kita ke dokter bareng,"
"Gak perlu, Bi. Abi kerja aja. Biar Umi yang anter Birrul sama Rani. Dia mau anterin kok pakai motor,"
Rani adalah anak Bu Nila, tetangga samping rumah mereka.
"Pakai motor? Apa gak bahaya, Um? Tunggu Abi pulang aja nanti siang. Abi anterin naik mobil nanti. Lebih aman.." bujuk Suhan kembali.
"Gak apa-apa, Bi. Cuma cek ke klinik di depan komplek aja kok. Insya Allah aman. Boleh ya, Bi? Kasihan banget nih Birrul nya.. Umi gak tega lihatnya.."
"Ya sudah. Tapi hati-hati ya, Um.. Minta Rani bawa motornya pelan-pelan aja ya?"
"Iya, Bi.. Abi juga. Hati-hati ya di kantor.." balas Maya.
"Abi harus hati-hati dari apa, Um? Kerjaan Abi kan cuma di duduk di depan komputer aja seharian.."
"Ya hati-hati aja.. Jaga hatinya Umi, maksud nya.." ujar Maya dengan suara sangat pelan. Sampai di sini, Suhan pun langsung paham.
__ADS_1
Ia langsung menyadari maksud pesan dari istrinya tadi itu apa. Karena beberapa hari terakhir, ia pernah menerima beberapa hadiah tanpa nama yang mengaku jadi pengagum rahasia nya.
Pengalamannya itu tak sengaja ia ceritakan pula kepada Maya. Dan kini Suhan langsung menyesali kecerobohannya itu. Karena Maya harus merasa khawatir tentang kondisinya di kantor kini.
"Iya, Umi ku Sayang.. Tenang aja.. Hati nya Umi udah Abi simpan dalam brankas yang status keamanan nya tuh Top markotop deh!" ujar Suhan meng gom bali Maya.
"Halah. Mulai deh nge gom bal.. Udah dulu deh ya, Bi.. Umi mau berangkat sekarang aja. Mumpung belum terlalu pa nas.."
"Yah.. Malah kabur. Tapi ya udah deh.. Hati-hati ya, Cinta.. Abi juga, titip hati nya Abi ya, Um.. Uhibbuki ya Umi.."
Blush..
Wajah Maya langsung merona merah seketika. Bukan karena cuaca yang pa nas atau apa. Namun karena mendengar ungkapan cinta dari sang suami sesaat tadi.
"Assalamu'alaikum Abi.."
"Wa'alaikum.."
Belum selesai Suhan menjawab salam, tiba-tiba saja Maya kembali menambahkan. Kali ini dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Klik.
Dan sambungan telepon pun terputus tiba-tiba.
Di seberang sana, Suhan langsung menyengir lebar usai mendengar pernyataan cinta dari sang istri. Maya memang amat jarang menyatakan cinta kepadanya. Jadi ketika momen seperti tadi terjadi, maka itu menjadi booster penyemangat bagi Suhan dalam bekerja.
"Yo sh! Bismillah!" seru Suhan bersemangat.
"Aduh.. Pak Editor kayaknya semangat banget. Habis teleponan sama siapa tuh?" canda Erik, salah seorang bawahan Suhan di kantor.
"Sama Kekasih hati ku dong, Rik. Maka nya, kamu buruan gih menikah.. Menikah itu asli bikin hidup jadi lebih bermakna dan bahagia lho!"
"Ah.. Pak Suhan ngarang aja. Yang saya lihat dari teman-teman yang lain, pernikahan malah bikin kepala mereka jadi makin licin aja tuh. Alias bikin pusing kepala, sampai jadi botak!"
"Ahh.. itu sih salahnya mereka aja, Rik.. Mereka cuma belum menemukan pasangan yang tepat, atau mereka belum pandai mensyukuri apa yang sudah mereka miliki aja.. Padahal kunci hidup bahagia itu kan harus pandai bersyukur, Rik.." sahut Suhan kembali.
"Iya aja deh, Pak. Tapi tetap aja, saya belum tergoda untuk nyusul status nya Bapak lah. Saya masih mau single aja dulu beberapa tahun lagi,"
__ADS_1
"Serius kamu, Rik? Gimana kalau waktu kamu di dunia ini gak sampai beberapa tahun lagi? Nanti kamu malah gak nikah, gimana hayo?"
"Dih.. ya ampun, Pak.. jangan nyumpahin saya cepat mati dong, Pak.."
"Sorry.. sorry.. maksud saya tuh bukan begitu, Rik. Tapi kan, umur itu gak ada yang tahu ya sampai di mana. Jadi bukannya sebaiknya kita maksimalkan waktu yang ada untuk hidup sebaik dan sebahagia mungkin? Iya kan?"
Sampai di sini, bawahan nya Suhan itu langsung tercenung diam. Sementara Suhan sendiri kembali fokus menyortir beberapa alinea yang perlu dihapus dari ebook yang sedang ia nilai. Rencananya ebook tersebut akan terbit cetak pada bulan depan. Jadi Suhan sedang mengebut untuk mengoreksi isi buku tersebut.
Setelah beberapa lama, Erik kembali berkata.
"Kalau gitu, tolong cariin saya cewek yang cantik, pintar, shalihah, kaya, dan juga pintar masak ya, Pak. Saya mau menikah deh.." ujar Erik tiba-tiba.
Suhan kembali menoleh ke bawahannya itu. Dan kemudian ia berkomentar,
"Kamu kalau minta kriteria ya jangan terlalu atas, Rik.. Cari yang se-kufu' sama kamu.. Kiranya nanti kamu bisa gak jadi imam buat wanita yang kamu idam-idamkan itu.."
"Ooh.. gitu ya, Pak?"
"Ya gak juga sih.." jawab Suhan dengan asal.
"Maksud nya Pak?"
"Maksud nya, kamu boleh aja sih minta cewek yang sempurna ke Allah lewat doa.. Tapi.. ada tapi nya nih, Rik.."
"Tapi apa, Pak?" Kini Erik mulai mencondongkan kepalanya ke arah Suhan. Lelaki itu benar-benar mengabaikan tumpukan file yang harus dibacanya di komputer, hanya demi mendengar kelanjutan dari kalimat Suhan.
"Tapi masalahnya, itu cewek, yang sempurna itu, mau gak nanti sama kamu, Rik?" ujar Suhan sedikit mencandai Erik.
Mendengar itu, sontak saja wajah Erik langsung merengut kesal.
"Yah.. Bapak malah bikin minder aja.."
"Hahahahaha..!!"
Seketika itu jua tawa Suhan pun pecah membahana, mengisi kekosongan ruangan di sana.
***
__ADS_1