
Tak lama setelah sambungan telepon dengan Bryan terputus, Suhan menerima pesan masuk. Ia langsung membuka nya. Mengira kalah itu adalah alamat tempat maya berada saat ini. Dan memang benar. itu adalah pesan dari Bryan.
Akan tetapi, ekor matanya lalu menangkap pesan lain yang ternyata telah masuk saat beberapa menit yang lalu. Pengirim nya lah yang membuat Suhan terkejut. Pedan lain itu berasal dari Maya.
Dari Maya: Bi, kondisi ku dan Birrul baik-baik saat ini. Biarkan kami berdua dan menenangkan diri. Aku mau fokus pulihin kondisi Birrul dulu. Tapi, setelah memikirkan baik-baik, aku memutuskan kalau hubungan kita udah gak bisa diperbaiki lagi. Jadi, aku sudah membuat gugatan cerai ke Pengadilan. Surat nya nanti akan diantar sama pengacara ku. Mohon segera menandatangani nya. Terima kasih.
Membaca pesan dari Maya, Suhan bak seperti tersambar petir di siang bolong. Ponsel yang ia pegang bahkan hampir saja remuk di tangannya. Jika saja kekuatannya cukup mampu untuk meremukkan lempengan besi tersebut.
Pikiran Suhan begitu kalut dan dipenuhi oleh amarah saat itu.
"Gugatan?! Maya mau berpisah dari ku?! Dia mau meminta cerai dari ku?!!" pekik Suhan sendirian di ruang tamu.
Akhirnya, saat itu juga lelaki itu langsung pergi membawa ponsel dan kunci mobil. Selanjutnya Suhan langsung melajukan kendaraannya menuju alamat yang telah dikirimkan oleh Bryan sesaat tadi.
"Maya! Bagaimana bisa kamu melakukan ini?! Kenapa kamu tak bisa mendengar penjelasan ku dulu?!" gerutu Suhan sepanjang perjalanan menuju tempat Maya berada kini.
Sekitar satu jam kemudian, Suhan tiba di sebuah rumah lama di ujung kota. Ia tak pernah mengunjungi rumah itu sebelumnya. Tapi menurut Bryan, itu adalah rumah alma milik nenek mereka.
"Jadi di sini kamu tinggal sekarang, May?"
Tanpa menunggu lama, Suhan langsung saja turun dari mobil yang ia kendarai. Dan ia mengetuk pintu cokelat di hadapannya berkali-kali..Ia sengaja tak mengucapkan salam. Mengira jika ia mengeluarkan suara, malah nanti Maya tak akan membukakan pintu untuknya.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Dan tampaklah penampakan Maya yang terlihat kusut sambil menggendong Birrul.
Maya terlihat terkejut saat bertatapan dengan Suhan.
"Abi?! Gimana bisa Abi tahu kalau--"
"Kalau kamu ngumpet di sini?!" lanjut Suhan berapi-api.
Maya lalu hendak menutup kembali pintu rumah nya. Namun Suhan sigap menahan pintu dan ia melejit masuk melewati Maya.
Jadilah kini lelaki itu berada di dalam rumah.
Ditatapnya wajah sang istri yang terlihat pucat. Dan amarah nya terhadap Maya pun seketika lenyap tak bersisa.
__ADS_1
Suhan merasa tak tega untuk memarahi istrinya itu. Melihat betapa payah dsn sepi nya Maya saat ini.
Sedari tadi suhan sudah memasang telinga nya baik-baik. Dan ia menyadari kalau di rumah ini Maya hanya tinggal berdua dengan putra mereka.
Suhan lalu melihat wajah pulas Birrul yangs edang tertidur.
"Birrul tidur, Dek?"
"...Ya.. Baru aja mau Maya taruh di kasur.."
"Kalau gitu, biarin Abi yang gendong ke kamar ya?"
Maya menghindari tangan Suhan yang terjulur ke depan.
Kekecewaan pun menghiasi wajah lelaki itu.
"Abi kangen sama Birrul, Um.. Abi pingin gendong Birrul.. Seminggu lebih Umi bawa Birrul pergi. Tanpa kata-kata atau pamitan. Abi udah cari Birrul dan Umi ke mana-mana semingguan ini.. Abi kangen kalian.."
Maya tercenung mendengar ucapan Suhan. Ia lalu melihat wajah Birrul yang pulas tertidur. Di wajah putranya itu ia bisa melihat jejak gen yang telah diwarisi oleh suhan kepada putra mereka.
Maya tak bisa memungkiri, bahwa setiap kalai ia melihat wajah putranya itu, dirinya langsung teringat pula dengan Suhan.
Setelag termenung cukup lama, akhirnya Maya merelakan Birrul digendong Suhan.
"Kamarnya ada di ujung sana," tunjuk Maya ke satu kamar di depan sana.
Suhan kemudian mengantarkan putra mereka ke kamar yang dimaksud. Dan ketika ia selesai meletakkan Birrul ke atas kasur, ia baru menyadari kalau Maya tak mengikuti langkah nya ke dalam kamar.
Suhan lantas, merapihkan bantal dan guling sehingga mengelilingi putra nya. Jadi Birrul tak akan jatuh dari atas kasur. Baru setelah itu ia keluar kamar untuk menemui Maya kembali.
Suhan mendapati Maya keluar dari arah dapur membawa baki dan fua cangkir teh. Dilihatnya kemudian maya meletakkan baki itu di atas meja yang berada di ruang tamu. Setelah itu ia duduk pada salah satu sofa di sana.
Suhan segera mengikuti langkah Maya dan duduk di sofa yang lain. Ia sengaja mengambil posisi duduk yang sedikit jauh dari iatrinya itu. Menciba memberikan jarak nyaman untuk sang istri saat oerbincangab mereka nantinya.
"Jadi, kamu tahu dari mana alamat rumah ini, Bi?" tanya Maya to the point.
__ADS_1
"Dari Bryan.."
"Bryan? Tapi aku gak pernah kasih tahu ke dia kalau aku tinggal di sini?" tanya Maya lagi terheran-heran.
"Dia minta tolong ke teman nya yang orang IT. Teman nya itu berhasil lacak sinyal ponsel mu sampai ke sini,"
"Apa?! Sampai segitunya kah kalian..?"
Bruu-buru Suhan memotong ucapan Maya.
"Ya, Um.. abi udah hampir putus asa cari Umi ke mana-mana. Abi bahkan ambil cuti kerja beberapa hari ini cuma untuk bisa ketemu sama Umi lagi!" terang Suhan sejujurnya.
Maya seketika mengalihkan pandangannya ke titik lain. Ia tak berani menatap wajah suhan lebih lama lagi.
"Bukannya aku udah jelasin kalau aku berniat untuk menggugat cerai kamu, Mas?" lirih Maya menyampaikan isi hatinya.
"Aku mau kamu dengar penjelasan ku dulu, Um.. Tolong dengarkan penjelasan ku dulu. Soal foto dan juga alasan kenapa malam itu aku bisa ketiduran di rumah Kissa?" mohon Suhan mengiba-iba.
"Kissa?! Jadi, wanita itu adalah Kissa? Dia itu sepupu kamu yang waktu itu ketemu sama kita di hotel kan, Mas?"
"Ya.. Kissa yang itu. Jadi ceritanya.."
Belum selesai menjelaskan, Maya langsung memotong ucapan Suhan.
"Oh.. Jadi dia toh.. Kalau gitu, aku gak perlu dengar penjelasan kamu lagi deh, Mas. Gak ada gunanya juga. Sebentar lagi juga hubungan kita akan menjadi mantan. Jadi nanti kamu berhak menikahi Kissa atau wanita manapun yang kamu suka!" ujar Maya dengan nada ketus.
Mendengar itu, emosi Suhan pun kembali terpecut.
"Kamu jangan asal menyimpulkan aja dong, Um! Bisa kan dengarin penjelasan ku dulu? Dan apa itu mantan? Kamu bukan mantan ku! Dan aku juga bukan mantan mu!"
"Tapi--!!"
"Kalau kamu masih ngotot soal kita berhubungan mantan, kalau gitu anggap aja aku ini mantan kamu yang belum selesai! Masih ada urusan yang harus kita bincangkan sekarang juga!" tukas Suhan berapi-api.
***
__ADS_1