
"Kamu ngomong apa sih, Mas? Apalagi yang harus kita omongin? Aku udah gak ngerasa cocok sama kamu. Aku gak bisa pertahanin hubungan yang udah toksik di antara kita sekarang ini. Bukannya kamu harusnya senang dong, kalau aku milih mundur baik-baik? Kamu kan jadi bisa nikahin wanita idaman mu itu! si Kissa itu!" tuding Maya ikut berapi-api pula.
Pasnagan suami istri itu lalu saling memelototi satu sama lain. Hingga kemudian terdengar suara tangisan Birrul dari dalam kamar. Maya pun segera bangun dan menghampiri tempat putra nya berada kini. Diikuti oleh Suhan di belakang nya.
"Syuusyuusyusyuu.. Anak Umma.. kenapa bangun. Sayang? Birrul haus ya, Nak? Nyenyeh dulu ya.. Umma temani Birrul bobo ya.." cicit Maya menghibur sang bayi.
Baru juga Maya hendak rebahan di samping Birrul, ketika ujung matanya menangkap keberadaan suhan di muka pintu kamar.
Maya pun seketika mematung dan tak jadi membuka resleting baju nya. Dengan sedikit ketus, ia berkata kepada Suhan.
"Bisa tolong tunggu dulu di luar? Birrul nya haus. Dia mau ditemani tidur!"
"Lanjut aja. Abi gak akan gangguin Umi, kok!" jawab Suhan dengan asal.
Lelaki itu bahkan sengaja masuk ke dalam kamar. Dan kini ia duduk di pinggir jendela yang letaknya berhadapan langsung dnegan Maya.
Lagi-lagi Maya memelototi suaminya itu. Namun Suhan tak menggubris nya. Lelaki itu berpura-pura sibuk dengan layar ponsel nya. Sehingga pada akhirnya Maya pun harus berpura-pura mengabaikan keberadaannya di sana.
Maya segera membuka resleting baju nya sedikit untuk mengeluarkan salah satu granula mamae nya untuk di cecap oleh Birrul. Dan bayi nya itu langsung mencecap nya dengan begitu lahapnya.
Sibuk meng-ASI-hi Birrul, sesekali mata Maya juga melirik ke tempat Suhan masih duduk hingga saat ini. Agaknya lelaki tiu bersikukuh untuk menemaninya di dalam kamar. Sehingga membuat Maya jadi merasa tak tenang karenanya.
Akan tetapi, karena keletihan yang mendera fisik dan psikis wanita itu selama beberapa hari terakhir ini. Karena maya harus mengurus Birrul seorang diri di rumah itu, dan juga ia mulai mengurus perceraiannya dengan Suhan, pada akhirnya Maya tak bisa melawan rasa kantuk. Sehingga tanpa sadar, wanita itu pun jatuh tertidur di samping putra nya setelah setengah jam lebih meng-ASI-hi Birrul.
Di pinggir jendela, Suhan menyadari saat Maya terlelap. Baru ketika ia sudah cukup yakin kalau Maya benar-benar pulas saja akhirnya Suhan berjalan mendekati keluarga kecilnya itu.
Suhan lalu berdiri di samping kasur. Begitu besar has rat nya untuk memeluk tubuh ringkih Maya dan juga putranya itu saat ini. Akan tetapi sekuat tenaga Suhan menahan diri.
Suhan menyadari kalau kondisi hubungannya dengan Maya saat ini masih tak bisa membuatnya lega untuk memeluk sang istri. Ia masih harus memberikan penjelasan terlebih dulu kepada Maya. Dan ia juga harus mencari bukti nyata yang bisa membebaskannya dari tudingan zina yang ada di benak istrinya itu.
Setelah menatap lama wajah Maya fan Birrul, Suhan pun akhirnya sampai pada satu keputusan.
"Aku harus menemui Kissa dan menanyakan padanya langsung. Apa alasan Kissa mengirimkan foto itu kepada Maya? Apa benar kata Bryan. Kalau Kissa memang menyukai ku?" gumam suhan dengan suara berbisik.
Setelahnya, Suhan langsung pergi dari rumah Maya. Dengan satu tekad yang baru. Yakni menemui Kissa.
__ADS_1
Tapi, sebelum itu, Suhan terlebih dulu menghubungi seseorang.
"Halo, Bi Laksmi? Maaf, Bik. Ini suhan. Suhan minta tolong banget, Bibi pergi ke alamat yang nanti Suhan kirim ya? Suhan udah nemuin Maya, Bi. Kasihan dia tinggal sama Birrul berdua aja di rumah ini... Ya.. Makasih ya Bi.."
Klik. Sambungan telepon pun terputus.
Setelahnya, Suhan bergegas melajukan kembali mobilnya menuju tempat laun. Tujuannya satu. Rumah Kissa.
***
Suhan memasuki area komplek perumahan Kissa sekitar waktu maghrib. Sehingga ia pun memutuskan untuk mampir terlebih dulu ke sebuah masjid yang ada di kompleks sana. Baru setelahnya ia bertandang ke rumah Kissa.
Tak butuh waktu lama, ketika pintu rumah sepupunya itu terbuka. Dan tampaklah wajah Kissa yang terlihat begitu terkejut di depannya.
"Kak Suhan? Ada apa Kakak malam-mala ke mari?" tanya Kissa terlihat bingung.
"Mama Papa ada, Kiss?"
"Ee.. Mama dsn Papa.. mereka lagi.."
"Kamu gak bisa cerita ya ke Kakak kalau kamu udah minggat dari rumah orang tua mu sejak ebrbulan-bulan yang lalu?!" cecar Suhan melayangkan tudingan yang mengena tepat.
"Maksud Kakak apa?! minggat? siapa, Kak? Kissa? Itu.. itu jelas berita gak benar, Kak!" Elak Kissa masih terlihat gugup.
"Oh ya? Bahkan meski berita itu Kakak dengar sendiri dari mulut Mama kamu? Kamu masih kau bilang kalau itu berita yang gak benar juga kah, Koss?"
Kali ini, Kossa langsung terbungkam diam. Pada akhirnya, gadis itu mengalihkan pembicaraan ke topik lain.
"Apa sebenarnya tujuan Kak suhan datang ke sini malam ini?"
"Hh.. Kamu mengelak, Kiss? Gak apa-apa. Toh Kakak sudah tahu jawabannya. Jadi, wakti kita ketemu fi hotel saat itu, waktu kamu bilang lagi makan bareng sama Paman dan Bibi.. kamu berbohong ya, Kiss? Untuk apa? Untuk apa kamu berbohong ke Kakak, Kiss?"
"Itu.. Pasti ada kesalah pahaman di sini. Kak. Kissa memang lagi berantem sama Mama dan Papa. Tapi itu cuma maslaah biasa kok.."
"Oh ya? Lalu gimana sama cerita kamu soal kejadian tempo lalu? Waktu kamu bilang ada maling ke rumah ini, dan kamu minta Kakak untuk temani kamu sampai Kakak gak sadar malah ketiduran di sini?! Kamu waktu itu bilang kalau Mama Papa kamu akan pulang malam itu! Sementara yang Kakak dengar dari mulut Mama Kamu, mereka sama sekali gak tahu kamu tinggal di mana sekarang ini. Itu artinya, kamu berbohong lagi kan soal malam itu, Kiss?!"
__ADS_1
"Itu.. "
"Cukup bilang sejujurnya ke Kakak, Kiss! Kenapa kamu banyak berbohong ke Kakak? Dan apa alasannya juga sampai kamu kirim foto ke nomor istrinya Kakak? Kamu udah buat Maya marsh besar ke Kakak, Kiss! Dan Kakak sampai detik siang tadi tuh gak tahu alasan Maya marah kenapa! Sampai akhirnya Kakak lihat foto itu! Itu hasil fotomu kan, Kiss! Jawab Kakak!"
"Fo..foto apaan sih, Kak? Kissa gak ngerti Kak Suhan ngomong apa. Jangan asal tuduh gitu dong, Kak. Kissa mana punya maksud jahat ke Kakak!"
"Oh ya? Kalau gitu, bisa tolong kamu jelasin, kenapa Kakak bisa nemuin obat tidur di kamar kamu? Apa itu juga adalah obat tidur yang kamu cekokin ke Kakak, sampai Kakak ketiduran malam itu di rumah ini hah?!"
"Obat tidur?! Gimana bisa obat tidur nya ada di kamar? Kissa udah langsung buang obatnya ke tempat sampah kok waktu it--?!!!"
Kissa langsung menutup rapat-rapat mulutnya usai keceplosan bicara.
Sementara itu Suhan seketika bisa tersenyum menang.
"Jadi kamu mengakuinya kan, Kiss? Kamu memang benar sudah memberi Kakak obat tidur malam itu? Lalu kamu memfoto Kakak dalam pose yang sudah membuat Maya jadi salah paham ke Kakak!"
"Kakak berbohong! Kakak gak nemuin obat tidur itu di kamar Kissa!" jerit Kissa frustasi.
"Heh.. Memang benar. Kakak gak nemuin apapun itu di kamar kamu. Tapi kebohongan kecil ini jelas ampuh untuk membongkar kebohongan besar ku itu kan, Kiss?!"
"Kak Suhan!" jerit Kissa.
"Diam! Mulai saat ini, jangan lagi muncul di depan Kakak! Dan, oh ya. Jangan juga memanggil ku Kakak lagi. Karena sejak detik ini juga, kamu tak lagi aku anggap sebagai adik! camkan itu!"
Sampai di sana, Suhan langsung berbalik dan pergi meninggalkan Kissa. Sementara Kissa yang ditinggalkan Suhan, segera saja meluapkan amarah nya ke setiap benda yang berada di dekatnya.
Ketika Suhan memasuki mobil miliknya. lelaki itu masih bisa mendengar jeritan frustasi yang dikeluarkan oleh sepupu gilanya itu.
Sementara ia memegang erat-erat ponsel di tangannya. Dan segera menekan tombol off atas media perekam yang sejak setengah jam terakhir ini ia hidupkan.
Ya. Kini suhan sudah memegang bukti bahwa Kissa telah menjebak ny malam itu.
"Semoga dengan bukti ini, Maya mau memaafkan ku lagi.." lirih suhan di perjalanannya menuju rumah Maya kembali.
***
__ADS_1