MARIA

MARIA
10. Sedih


__ADS_3

"Suf... Yusuf... Kamu bicara dengan siapa?"


Tiba-tiba terdengar suara Bapak memanggil dan bertanye-tanye,


Yusuf dan Maria seketika berpandangan,


Maria yang tidak mau ketangkap basah berdua-dua dengan Yusuf di dalam kamar tampak cepat-cepat melarikan diri,


Tuiiiiiing...


Maria naik ke atas lemari, dan cepat menempel pada tembok seperti cicak,


Yusuf yang juga takut Bapaknya curiga tampak cepat pura-pura berbaring lagi sambil mengigau,


"Suf...Yusuf..."


Bapak memanggil lagi, tampak kemudian tirai di pintu kamar Yusuf disingkap dari luar, di mana kemudian Bapaknya Yusuf melongok ke dalam,


"Hmm..."


Bapaknya Yusuf menggeleng-gelengkan kepalanya, ia pikir tadi Yusuf anaknya seperti sedang berbicara sendiri, tapi ternyata anak itu masih tidur pulas dan hanya mengigau saja,


"Jaman perang pun dia masih bisa tidur sampai mengigau, pantas tidak diterima jadi tentara,"


Kata Bapaknya Yusuf sambil menutup kembali tirai kamar sang anak,


Tepat saat kemudian ia berbalik, tiba-tiba seorang perempuan berdiri sambil menatapnya,


Bapaknya Yusuf yang tidak menyangka ada seseorang di belakangnya tentu saja langsung terlonjak kaget, ia bahkan sampai nyaris jatuh karena mau lari,

__ADS_1


Untungnya sosok itu cepat bersuara dengan suara yang jelas,


"Ada apa Pak?"


Suara yang Bapaknya Yusuf tahu betul itu suara isterinya, membuat Bapaknya Yusuf pun cepat bersikap seolah dia adalah laki-laki paling pemberani sejagad raya,


"Oh... tidak ada apa-apa Mak, tidak ada apa-apa,"


Kata Bapaknya Yusuf,


"Tadi aku dengar ada yang ketuk-ketuk pintu, siapa bertamu jam sebegini malam? tidak tahu aturan sekali bertamu ke rumah orang tengah malam, seperti hantu saja,"


Emaknya Yusuf mengomel panjang lebar,


Maria yang masih berada di atas lemari pun tampak mendengarkan Emaknya Yusuf mengomel,


"Iya Mak, mungkin memang hantu, dibuka tidak ada siapapun di luar, bahkan kucing saja tidak ada yang lewat, jangankan kucing naik motor, jalan kaki saja tidak ada,"


"Padahal ketuk-ketuk pintunya seperti ada hal yang penting sekali, ternyata malah nongol saja tidak,"


Tambah Bapaknya Yusuf lagi,


"Ah untung juga tidak nongol, kalau pas dibuka seperti di rumah Pak Wirjo bagaimana, nyakar muka isterinya lalu akhirnya isterinya mati dan meninggal,"


Emak bergidik,


Baru seminggu lalu kejadian itu terjadi, yang mana gempar isyu isteri Pak Wirjo si Tuan Tanah di kampung Yusuf tinggal kabarnya mati sakit karena dicakar hantu,


"Sudah... sudah... lebih baik kita kembali tidur saja, siapa tahu besok tiba-tiba ada kabar Negara ini merdeka, kita harus siap-siap mengibarkan bendera,"

__ADS_1


Kata Bapaknya Yusuf,


"Lho, memangnya sudah pasti negara kita akan dimerdekakan oleh tentara Jepang Pak?"


Tanya Emak,


"Ya semoga saja, nyatanya Belanda sudah menyerah di Kalijati, mereka dalam waktu yang sangat singkat kocar-kacir oleh saudara tua,"


Bapaknya Yusuf begitu menggebu-gebu, tidak merasa jika di dalam kamar tampak Maria yang turun dari atas lemari terlihat sedih,


Ya, memang bukan rahasia lagi jika bangsa Maria dianggap parasit saja di negeri ini,


Parasit yang mengganggu, yang jahat dan harusnya dibumihanguskan,


Maria juga sadar bahwasanya banyak dari orang-orang Negaranya yang tinggal di bumi Nusantara bersikap arogan dan sewenang-wenang, bahkan memperbudak,


Tiga ratus tahun sudah, bangsanya tinggal di negara ini, Maria bahkan sudah masuk entah generasi keberapa yang terlahir di bumi Nusantara,


Tapi, darah tetaplah darah, meski ia terlahir di atas bumi Nusantara, nyatanya ia tetap tak bisa menjadi penduduk asli, yang akhirnya kini mau tidak mau harus menerima nasib di habisi,


Yusuf di atas tempat tidur tampak menatap Maria yang kini melayang pelan mendekati tirai kamar Yusuf, mengintip Bapaknya Yusuf dan Emaknya Yusuf yang makin bersemangat membicarakan kehebatan tentara Jepang dalam mengusir bangsa Belanda,


Maria tampak menatap dengan tatapan yang teramat sedih ke arah Bapaknya Yusuf,


Laki-laki paruh baya itu, yang ia pikir dulu seorang abdi setia untuk keluarganya, ternyata juga tetaplah seorang pribumi yang menginginkan kemerdekaan,


Seorang pribumi yang dalam hatinya tetap merasa jika Bangsa Maria adalah penjajah yang harusnya tak berhak hidup di atas tanah Nusantara sebagai penguasa,


Ya... Inilah nyatanya, dan Maria harus menerima.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2