MARIA

MARIA
6. Ingatan Yang Terputus


__ADS_3

Yusuf yang benar-benar sudah super ketakutan akhirnya dengan energinya yang tinggal lima persen berlari menjauh dari Maria,


Ia bahkan sampai harus ada acara menubruk pintu utama rumah peristirahatan Tuan Hubrecht lebih dulu sebelum akhirnya membuka dan berhasil keluar dari sana,


Yusuf berlari sekencang Tossa yang sedang membawa kobis dan wortel, ia lari di sepanjang jalan menuju rumahnya di perkampungan,


Orang-orang yang melihat Yusuf bingung bin terheran-heran,


"Ada apa Suf? Ada apa?"


Beberapa orang bertanye-tanye, tapi Yusuf yang sudah ingin cepat sampai rumah tak menjawab karena bibirnya rasanya sudah tak ada energi lagi untuk mengeluarkan kata-kata,


Hingga sampai di rumahnya, Yusuf yang masuk ke rumah begitu saja, tentu membuat Emak si Yusuf yang baru saja meletakkan singkong rebus di atas meja jadi terlonjak kaget,


"Astaga Suf, masuk rumah kayak kebo rem blong saja!"


Omel Emaknya Yusuf pada anak laki-laki nya yang langsung mendekati Emaknya yang berdiri di dekat meja di mana di sana diperuntukkan meletakkan makanan dan minuman,


Ya, jangan dibayangkan makanan di tahun 1942 adalah makanan yang mewah, hanya sambal dan ikan asin saja, lalu singkong rebus yang diambil dari kebun milik sendiri,


Yusuf meraih kendi kecil dari tanah liat yang untuk wadah air minum, dan tanpa bicara apa-apa lebih dulu, Yusuf langsung meminum airnya dari sana,


Emak yang melihat Yusuf minum langsung dari kendi tentu saja langsung menghela nafas dan menggelengkan kepalanya,


"Hah... selamat jantung Yusuf Mak,"


Kata Yusuf setelah meminum air dari kendi hingga habis setengahnya,


Emak memandangi Yusuf yang kini kembali meletakkan Kendi air di atas meja,


"Cuci dulu, kamu ini tidak sopan minum langsung dari wadah, ambil gelas dulu,"


Kesal Emak jadinya,


Yusuf tampak nyengir kuda,


"Maap Mak, tadi sudah tidak ingat apapun, yang Yusuf ingat hanya takut dan haus karena lari dari rumah peristirahatan Tuan Hubrecht,"


Kata Yusuf,


"Kenapa ke sana lagi? Kamu harusnya sudah bersyukur tidak sampai di bawa ke penjara oleh orang-orang yang memburu Belanda,"


Ujar Emak,


"Jangan melibatkan diri dengan mereka lagi,"


"Melibatkan apa Mak, mereka saja sudah meninggal,"


"Lha kamu ke rumah peristirahatan untuk apa?"


Emak kembali menggelengkan kepalanya,


"Yusuf hanya ingin mengenang saja, sudah cukup lama Yusuf menggantikan Bapak mengurus rumah itu, rasanya sudah terbiasa ke sana tiba-tiba tidak ke sana ada yang terasa kurang Mak,"


Emak yang mendengar alasan Yusuf tampak menghela nafas,


"Tapi..."


Yusuf tiba-tiba berkata lagi, membuat Emak menoleh ke arahnya,


"Ada apa?"


Tanya Emak, dilihatnya wajah Yusuf yang pucat macam habis melihat hantu,

__ADS_1


"Mak,"


Panggil Yusuf sambil kemudian celingak-celinguk,


"Apa sih?"


Tanya Emak tak sabar,


"Bapak pergi kan Mak?"


Tanya Yusuf dengan suara lirih bisik-bisik,


"Bapak mu tadi diajak ke rumah Pak Udin,"


Jawab Emak,


"Sepertinya ada kumpulan apa tadi Emak tidak tahu,"


Lanjut Emak pula,


Yusuf tampak menarik kursi kayu di dekat meja, lalu duduk dan minum air lagi,


"Kamu nanti perutnya meletus kepenuhan air,"


Kata Emak,


Yusuf menghentikan acara minumnya, dan kembali meletakkan kendi air minumnya,


"Mak, Yusuf tadi ketemu Nona Maria,"


Kata Yusuf dengan tatapan menerawang,


"Hah? Nona Maria? Maksudmu..."


Emak tak melanjutkan kata-katanya,


Kata Yusuf,


"Jangan bercanda Suf, ini hari masih terang, kenapa ada hantu?"


Emak rasanya sulit untuk percaya, tapi...


"Sungguh Mak, Yusuf melihat dengan mata kepala Yusuf sendiri, tidak pinjam mata siapapun,"


Ujar Yusuf dengan begitu serius,


"Dia sepertinya tidak sadar jika sudah mati Mak, dia bertanya soal keluarganya, bertanya di mana Papinya, maminya, dan juga kedua adiknya, Nona Luna dan Tuan muda Albert,"


"Hah?"


Emak tampak membelalakkan mata,


"Iya Mak, dia bahkan tidak sadar sudah meninggal, saat Yusuf memberitahunya, dia kaget sampai teriak, Yusuf juga teriak dan lari jadinya Mak,"


Tutur Yusuf menceritakan pengalamannya yang menurutnya sangat menegangkan,


"Bagaimana bisa ada hantu tak sadar jika dia adalah hantu Suf?"


Emak masih sulit percaya saja rasanya,


"Sungguh Mak, Yusuf tidak bohong, tidak juga sedang mengarang bebas, Yusuf sungguh bertemu dengan hantu Nona Maria yang dia merasanya masih hidup sebagai manusia,"


Kata Yusuf berusaha meyakinkan Emak,

__ADS_1


"Kakinya tidak menapak lantai Mak, dan... dan... hiiiiii..."


Yusuf bergidik lagi, mengingat adegan terakhir yang mana membuatnya jadi benar-benar tak kuat lagi untuk akhirnya kabur dari rumah peristirahatan Tuan Hubrecht,


"Dan apa Suf?"


Emak penasaran, karena cerita Yusuf dipotong-potong macam singkong,


"Mata Mak... Mata..."


Ujar Yusuf melanjutkan,


"Mata apa? Mata Najwa?"


Tanya Emak, yang kemudian menggelengkan kepalanya,


"Ini tahun 1942, belum ada acara mata Najwa,"


Gumam Emak,


"Mata Nona Maria Mak, ini mata Nona Maria,"


Yusuf wajahnya tampak benar-benar ketakutan saat mengucapkannya,


Emak pun jadi ikut tegang,


"Kenapa matanya? Sakit? Belekan?"


Tanya Emak, tampak Yusuf menggeleng,


"Matanya copot Mak, saat Yusuf kasih tahu jika dia juga sudah meninggal, tiba-tiba dia kaget, matanya terbelalak dan copot Mak, bola matanya copot menggelinding,"


"Laah,"


Emak yang mendengar cerita Yusuf pun akhirnya seketika memegangi kedua matanya,


Sama seperti Maria di rumah peristirahatan keluarganya, yang kini tampak memegangi kedua bola matanya,


Mata di tangannya yang satu menghadap ke atas hingga bisa melihat dirinya, dan yang satu menghadap ke bawah hingga gelap karena tertutup telapak tangan,


"Sungguh kah, ini aku, kenapa aku begini?"


Gumam Maria bingung,


Mata yang bisa melihat dirinya memandangi wajahnya yang cantik namun matanya bolong,


Mau takut tapi itu kan dirinya sendiri,


Maria kemudian melihat ada cermin besar di dinding dekat kamar Papi dan Maminya,


Ia pun berjalan ke sana, ia berencana memasang matanya lagi sambil bercermin, tapi begitu sampai di depannya, tak ada pantulan bayangan dirinya,


Maria tercenung sejenak, ia berusaha memahami situasi dan kondisi yang kini sedang ia hadapi,


Apa sebetulnya yang terjadi?


Ia sungguh lupa dengan semua peristiwa yang telah menimpa dirinya,


Maria hanya ingat jika Papi nya mengajak semua anggota keluarga untuk melarikan diri dan sembunyi untuk sementara di rumah peristirahatan mereka,


Ya, setelah itu, ingatan Maria terputus setelah ia memutuskan tidur di malam ke tiga mereka tinggal di rumah peristirahatan,


Maria tidur setelah bicara dengan Mami nya soal rencana mereka akan membuat toko roti ketika sudah sampai di Belanda,

__ADS_1


Ya, tidur, bukan mati.


...****************...


__ADS_2