MARIA

MARIA
12. Kerajaan Ular


__ADS_3

Setelah melihat kenyataan yang benar-benar sepahit pare, pace, dan daun pepaya, akhirnya Maria pun kembali ke rumah peristirahatan keluarganya,


Tempat terakhirnya tinggal, yang juga merupakan tempat di mana ia ditembak hingga mati,


Maria yang begitu sedih karena menjadi hantu sendirian terlihat lemah dan lesu, Yusuf yang mengikuti dari belakang sampai bingung antara takut tapi juga ikut sedih dengan nasib Nona mudanya,


Bagaimanapun, Yusuf tahu dan kenal dekat dengan keluarga Tuan Hubrecht, yang mana dia bukanlah sosok orang Belanda yang bersikap semena-mena pada warga pribumi,


Dia sosok yang baik, ramah dan sama sekali tidak sombong. Bahkan, jika dibandingkan dengan tuan-tuan tanah yang sebetulnya masih warga pribumi, Tuan Hubrecht malah jauh lebih baik dalam memperlakukan orang kampung,


"Jadi aku akan tinggal di rumah ini sendirian entah sampai kapan? Ini pasti akan sangat membosankan,"


Lirih Maria saat akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah peristirahatan keluarga Maria,


Yusuf menghela nafas, ia berdiri di samping hantu Nona mudanya,


"Aku akan datang setiap pagi sampai sore Non, aku akan menemani di sini, yang penting Nona jangan ganti penampakan, tetap seperti ini saja, jangan copot lagi matanya,"


Kata Yusuf memohon,


Maria mengerucutkan bibirnya,


"Kamu pikir aku juga tidak takut dan kaget mataku copot?"


Kesal Maria pula,


Yusuf yang mendengar jadi garuk-garuk kepalanya yang tak gatal, benar-benar aneh Maria ini, hantu model apa yang malah ikutan takut juga,


Maria lantas melayang menuju pintu rumah peristirahatan, berbeda dengan saat tadi ia keluar harus susah payah membuka pintu, kali ini Maria mulai membiasakan diri untuk lebih praktis dengan menembus saja pintu rumah peristirahatannya,


Sementara itu, di belakang Maria tampak Yusuf yang tetap harus membuka pintu agar bisa ikut masuk,


Udara ruangan di dalam rumah peristirahatan terasa lembab dan aroma mesiu serta darah masih tercium cukup pekat,


Yusuf pun lantas berjalan ke arah jendela-jendela yang ada di sana, membukanya satu demi satu, agar ada pergantian udara karena rasanya ia jadi sulit bernafas,


"Apa rencanamu setelah tak bekerja di sini Suf?"


Tanya Maria pada Yusuf setelah pemuda itu membuka seluruh jendela di rumah tersebut,

__ADS_1


"Entahlah Nona, mungkin untuk sementara aku akan tetap melakukan kegiatan yang sama di rumah ini,"


Ujar Yusuf,


"Tapi aku tak bisa menggajimu, aku hantu tak punya uang,"


Kata Maria,


Yusuf tampak nyengir keki,


"Ya Non, tidak apa, tuyul saja yang rajin cari uang tidak pegang uang,"


Sahut Yusuf,


Maria mantuk-mantuk,


"Dia anak-anak yang dieksploitasi,"


Yusuf dan Maria lantas duduk di kursi kayu depan kamar bekas Tuan Hubrecht,


"Jika negeri ini benar-benar merdeka, aku ijinkan di depan rumah ini dikibarkan bendera negara mu Suf,"


Ujar Maria kemudian,


"Ya Non, semoga benar-benar bisa merdeka, bukan hanya janji manis semata, yang sejatinya mereka juga datang hanya untuk kepentingan mereka sendiri,"


Kata Yusuf,


Maria mantuk-mantuk, lalu...


Sayup terdengar suara gending jawa yang mengalun sayup-sayup seperti terbawa angin di luar sana,


Maria yang mendengar tampak menatap ke arah Yusuf,


"Kamu bisa dengar itu Suf?"


Tanya Maria,


"Dengar? dengar apa Non?"

__ADS_1


Yusuf malah kebingungan, ia tengok kanan tengok kiri, macam mau nyeberang jalan raya,


"Itu, suara gending,"


Kata Maria,


Yusuf pun kemudian tampak memasang baik-baik telinganya yang kadang suka budek,


Lalu ...


"Tidak Non, gending apa ya?"


"Ya gending, kok tanya gending apa,"


Maria jadi kesal karena Yusuf malah seperti orang bloon,


"Hehehe... soalnya aku tidak dengar Non, mungkin itu bukan gending Non, tapi telinga Nona Maria kemasukan tanah,"


Kata Yusuf kurangajar,


Maria pun seketika menabok Yusuf,


"Sembarangan telingaku kemasukan tanah, kamu pikir telingaku sarang semut,"


Maria mengomeli Yusuf jadinya, sementara suara gending itu masih terdengar, bahkan makin lama makin jelas,


"Oh, apa itu dari kerajaan di belakang rumah ini?"


Tanya Maria lagi, yang kali ini sambil bersiap melayang ke arah jendela untuk melongok ke arah belakang rumah peristirahatan,


"Kerajaan?"


Yusuf jadi berdiri dari duduknya dan menyusul Maria menuju jendela untuk melongok,


"Ya, kerajaan berlapis emas yang indah, di belakang rumah ini, dan aku yakin mereka tak akan mudah diminta pergi,"


Kata Maria yang kini berdiri di dekat jendela, matanya memandangi kesibukan yang terjadi di depan sebuah kerajaan,


Banyak perempuan dengan hanya memakai kain dan kemben berseliweran di sana, seolah benar-benar sibuk,

__ADS_1


Tapi, sayangnya Yusuf di samping Maria tak bisa melihat apapun, ia hanya melihat danau saja, dan juga hutan alam di seberang danau.


...****************...


__ADS_2