
"Kenalkan aku Maria, namaku Maria Hubrecht,"
Kata Maria kemudian memperkenalkan diri, tangannya terulur ke arah perempuan yang kini berada di depannya,
Perempuan yang semula terlihat masih takut-takut pada Maria, namun di lain sisi ia juga merasa sangat berhutang budi dengan sosok hantu si None Belanda tersebut,
Perempuan yang nyaris menjadi korban pelecehan itupun kemudian mengulurkan tangannya pula, meski dengan masih sedikit gemetaran, perempuan itu menjabat tangan Maria yang dingin dan empuk seperti kapas,
"Seruni,"
Kata perempuan itu pula memperkenalkan diri,
"Seruling? Namanya mirip dengan alat musik dari bambu ya?"
Kata Maria,
Perempuan itupun menggeleng cepat,
"Bukan seruling, tapi Seruni Nona,"
Seruni meralat seraya melepaskan jabat tangannya dengan Maria,
Maria pun cekikikan,
__ADS_1
"Oh Seruni, ya ya..."
Maria mantuk-mantuk,
Mereka kemudian memandangi para tentara yang telah mati, juga para perempuan yang pingsan karena ketakutan melihat Maria,
"Aku pikir para tentara ini datang untuk membuat kalian merdeka, setelah membuat orang-orang negaraku pergi dan sebagian lagi dibunuh,"
Ujar Maria lirih,
Seruni menghela nafas,
"Sama sekali tidak begitu Nona Maria, justeru mereka lebih kejam, saat ini dari berbagai daerah para pemuda dan laki-laki yang masih muda dibawa entah ke mana, kabarnya ada yang dijadikan budak kerja paksa, ada juga yang jadi tentara,"
Tutur Seruni bercerita, membuat Maria jadi teringat akan sosok Yusuf, sang abdi setia keluarganya, yang bahkan tetap setia pada Maria meski Nona nya itu telah tiada dan menjadi hantu tak jelas,
Seruni kini mulai menangis tersedu-sedu, tentu saja ia pasti masih sangat terpukul dengan apa yang telah menimpa dirinya,
"Bahan makanan dikirim ke tempat para tentara bertempur melawan sekutu, kita kehabisan bahan pangan, rakyat pribumi kelaparan Nona, rakyat kami akan semakin menderita kelaparan,"
Seruni semakin menjadi tangisnya, ia benar-benar merasa hancur tatkala menceritakan semuanya,
"Jadi janji memerdekakan itu hanya bohong semata?"
__ADS_1
Tanya Maria,
Seruni menggeleng pelan,
"Entahlah Nona Maria, aku hanyalah rakyat kecil yang tidak tahu sebetulnya apa yang terjadi, yang aku tahu hanyalah saat ini semuanya tiba-tiba malah semakin parah, pembunuhan di mana-mana, pelecehan di mana-mana, rasanya hidup sama sekali semakin tidak tenang, belum lagi bahan pangan semakin langka, kita habis Nona, kita akan habis jika seperti ini terus,"
Lirih Seruni sedih,
Maria mengulurkan tangannya ke arah bahu Seruni, lalu menepuk-nepuk nya dengan pelan,
"Ya, aku tahu, bahkan saat bangsa kami yang berkuasa pun, aku tahu betul kalian warga pribumi sebetulnya juga sudah banyak menderita,"
Kata Maria,
Seruni mengangguk-anggukkan kepalanya, membenarkan apa yang disampaikan oleh Maria,
Nyata adanya memang, jika warga pribumi sudah hidup begitu sulit di atas tanah kelahirannya sendiri,
Pelahan, para perempuan teman Seruni satu persatu terbangun, Maria yang khawatir mereka akan ketakutan lagi akhirnya memutuskan untuk tak lagi menampakkan dirinya,
Ia pun berpamitan pada Seruni,
"Aku akan tetap di sini, teman-temanmu sudah siuman, untuk sementara kalian aman, besok saat terang pergilah ke perkampungan yang tak jauh dari sini untuk meminta bantuan, dan mayat-mayat ini mintalah pada mereka untuk membuangnya saja di danau belakang rumah peristirahatan, mereka para laki-laki biadab, layak menjadi makanan para siluman,"
__ADS_1
Ujar Maria.
...****************...