
Maria yang marah kini tampak menampakkan dirinya di hadapan para tentara yang membawa perempuan yang sempat Maria lihat menangis di sudut truk memohon jika akan lebih baik dibunuh saja,
Maria yang kini melayang di atas tangga tampak mengeluarkan energi kemarahannya yang begitu besar membuat angin seolah bergulung-gulung di dalam ruangan itu,
Para tentara yang semula akan naik ke lantai dua pun seketika tampak ketakutan,
Mereka pun tampak gemetaran mencoba mengarahkan senjatanya ke arah Maria,
Dan...
Dor!
Dor!
Dor!
Dengan membabi buta mereka pun menembakkan peluru-peluru dari dalam senjata api yang mereka pegang, yang tentu saja senjata itu sama sekali tak mampu melukai Maria sekarang,
Ya, Maria, kini bukan lagi manusia yang akan bisa mereka tembaki dengan peluru hingga tewas,
"Kalian jugalah yang telah membunuhku, membunuh kedua orangtuaku, membunuh adik-adikku,"
Maria semakin geram, dan sambil memekik dengan suara yang sangat keras, Maria terbang melesat ke arah mereka,
Srak!
Srak!
Maria mencakar dua tentara yang berada paling depan, dan kemudian Maria menyerang tentara yang pangkatnya paling tinggi,
Tentara yang pangkatnya paling tinggi dalam kesatuannya itu mencoba menodongkan senjatanya lagi meskipun dengan gemetaran luar biasa,
"Ka... Ka... Kau hantu... enyahlah!"
Teriak tentara dengan pangkat paling tinggi itu sambil kembali menembakkan peluru dari senjatanya,
Maria tertawa terbahak-bahak, sambil kemudian melayang ke arah si tentara semakin dekat, menarik senjata dari tangan si tentara, dan kemudian melemparkannya ke arah para bawahan si tentara berpangkat paling tinggi,
"Han... Hantuuuu..."
Para bawahan si tentara yang dilempar senjata milik atasannya pun kini memilih lari pontang-panting keluar dari rumah peristirahatan keluarga Maria,
__ADS_1
Sementara para perempuan yang nyaris jadi korban pelecehan yang juga tampak ketakutan melihat penampakan Maria terlihat satu demi satu pingsan tak sadarkan diri,
"Setelah kau membunuhku dan juga keluargaku, kini kau ingin mengotori tempat ini dengan membawa perempuan-perempuan pribumi untuk melecehkan mereka!"
Maria geram luar biasa, ia mencekik leher si tentara dengan pangkat paling tinggi,
"A... a... a..."
Tentara itu tampak kesulitan bicara dan juga kesulitan bernafas karena cekikan tangan Maria sangat keras,
Bukan hanya mencekik, kuku jari Maria yang kini tampak runcing pun pelahan terbenam pada leher si tentara tersebut,
Maria mengangkat tubuh tentara yang semula sok jagoan tersebut, yang mana kemudian tampak laki-laki itu kedua kakinya kelojotan berusaha dengan sisa energinya agar bisa melepaskan diri,
"Rasakan, mati saja laki-laki mesum seperti dirimu! Kau dengan seragam ini harusnya melindungi orang yang lemah, bukan justeru menindas mereka, apalagi dia adalah perempuan!"
Teriak Maria keras,
Suaranya yang keras itu kemudian membuat kaca di beberapa jendela pecah berantakan,
Prang!
Prang!
Dor!
Dor!
Dor!
Terdengar suara tembakan dari arah belakang Maria, dan belum lagi Maria menoleh, tiba-tiba beberapa peluru melesat ke arah tentara yang kini tengah dicekik dan dicengkeram Maria,
Dor!
Dor!
Dor!
Peluru itu menembus beberapa bagian tubuh si tentara, Maria menoleh ke belakang dan tampak perempuan yang tadi menangis di sudut truk berdiri sambil memegang senjata,
Sejenak Maria dan perempuan itupun saling berpandangan satu sama lain, sebelum akhirnya Maria melemparkan tubuh si tentara yang ia cekik ke arah dinding rumah peristirahatan, membuat tubuh si tentara yang sudah terluka parah itupun mengejang hebat manakala akhirnya tersungkur ke lantai,
__ADS_1
Darah mengalir dari tubuhnya, aroma anyir khas darah manusia pun segera tercium pekat,
Maria lantas berbalik dan kemudian melayang turun pelahan ke lantai mendekati perempuan yang tadi menangis di sudut truk,
Di bawah sana, di kanan kiri kaki si perempuan, tampak dua tentara yang ia tembak sedang meregang nyawa,
"Te... te... terimakasih,"
Perempuan itu mengucapkan terimakasih kepada Maria, walaupun ia tetap tak mampu menyembunyikan raut ketakutan pada Maria juga,
Maria yang menyadari jika perempuan itu takut padanya akhirnya tersenyum semanis mungkin,
Tapi, namanya senyuman hantu, mau semanis apapun tetap saja itu terlihat menyeramkan,
Jika, ada nasehat bahwa senyum juga ibadah, atau senyum itu sedekah, maka jika yang tersenyum itu Maria, maka tentu bukan lagi ibadah dan sedekah karena menakutkan,
"A... aku dibawa dari rumah suamiku... se... setelah dia dibunuh,"
Kata perempuan itu kemudian sambil menangis, senjata di tangannya kemudian terlepas dan jatuh ke lantai, sebelum kemudian perempuan itu bersimpuh di lantai karena merasakan lemas yang tiada tara,
Maria yang iba lantas menghampiri si perempuan agar posisi mereka semakin dekat,
"Aku tahu perasaanmu, sabarlah... mereka yang jahat pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal,"
Kata Maria,
Perempuan yang menangis itu mengangguk, merasakan tangan hantu Maria yang dingin seperti es kini mengelus kepalanya membuatnya antara takut namun juga sedikit tenang,
Ya, bagaimanapun, hantu None Belanda itu secara tidak langsung telah menolongnya, karena jika saja hantu None Belanda itu tak segera muncul, pasti saat ini tubuhnya sudah dinikmati para laki-laki jahat itu, dan sungguh si perempuan merasa sangat tidak rela,
"Sekarang kau bantu lepaskan teman-temanmu itu, dan pergilah meminta bantuan para warga perkampungan yang tak jauh dari sini,"
Kata Maria pada si perempuan,
"Ta... tapi aku takut di luar sana akan bertemu tentara-tentara yang melarikan diri,"
Lirih si perempuan,
Maria pun terdiam sejenak, seolah berpikir meskipun otaknya kini semakin bolot sejak mati, lalu...
"Kalau begitu, besok pagi saja, saat hari sudah terang,"
__ADS_1
Ujar Maria.
...****************...