MARIA

MARIA
8. Tamu Tengah Malam


__ADS_3

Maria yang ditinggal pergi lagi tampak mulai benar-benar kesal,


Kenapa semua orang kabur? Mereka pikir aku hantu atau bagaimana? Batin Maria,


Ia akhirnya berjalan yang padahal melayang sendirian memasuki perkampungan,


Berusaha mencari rumah Yusuf, sang abdi keluarganya,


Maria terus menyusuri jalanan kampung yang begitu sepi, rumah-rumah tampak tertutup rapat,


Gelap suasana perkampungan di mana Yusuf tinggal tentu saja,


Belum ada listrik, jalanan juga belum diaspal, rumah hanya terbuat dari bilik dan papan, pagar pun hanya dari tanaman-tanaman perdu, dan juga ada pula yang dari bambu-bambu,


Maria tampak celingak-celinguk, mencari siapa saja yang bisa ia tanya, hingga...


"Sssttt... sssttt..."


Tiba-tiba terdengar seperti suara, asalnya dari atas pohon Nangka dekat sebuah rumah,


Maria pun menoleh ke arah sana, yang mana di sana tampak seorang laki-laki berdiri menyandar pada pohon Nangka,


Nah tumben ini tidak lari. Pikir Maria,


Tampak Maria pun mendekat, dilihatnya laki-laki itu wajahnya pucat,


"Nyasar Non?"


Tanya si laki-laki berwajah pucat itu pada Maria,


Tampak Maria menatap si laki-laki,


"Nyari rumah si Yusuf,"


Kata Maria,


"Yusuf? Yang bekerja di Tuan Hubrecht?"


Tanya si laki-laki pula,


Maria mengangguk,.


"Tahu Papi saya?"


Maria tentu saja senang,


Si laki-laki mengangguk,


"Dulu saya sempat ikut sebentar, tapi pindah ke Tuan tanah orang sendiri, tak disangka malah jauh lebih tidak enak,"


Kata si laki-laki malah curhat, Maria tampak tersenyum sekilas,


"Kalau mau ke rumah Yusuf, itu rumah Yusuf, empat rumah dari sini, yang depannya ada dipan kayu kecil,"


Ujar si laki-laki,


Maria pun mengangguk, lantas ia pun mengucap terimakasih pada si laki-laki yang tak dikenalnya, orang pertama yang tak takut melihat dirinya,


Maria kemudian pamit pergi pada si laki-laki, dan tampak si laki-laki itupun mengangguk saja, lalu kembali bersandar pada pohon Nangka,


Maria berjalan menjauh, berjalan yang sejatinya melayang jika dilihat oleh manusia biasa,

__ADS_1


Hingga akhirnya ia melihat rumah yang di depannya ada dipan kayu berukuran tak begitu besar, rumah yang masih terbuat dari bilik bambu dengan halaman tak begitu luas,


Tak ada pagar macam beberapa rumah orang-orang lain, halaman rumah itu hanya nampak ditanami pohon Mangga dan jambu air,


Maria pun cepat melesat menuju pintu rumah,


Mana bel nya? Batin Maria celingak-celinguk,


Oh iya, lupa, belum pada pakai bel. Batin Maria pula,


Ia lalu mengetuk pintu rumah tersebut, sungguh tamu tak tahu diri pastinya, mengetuk rumah orang di tengah malam, bahkan debtcolektor saja tak akan melakukanya,


Tapi, Maria yang masih berpikir jika ia sedang bermimpi tentu saja tak peduli, yang ia pikirkan hanya ingin bertemu Yusuf dan meminta ia cepat membantunya,


Tok...


Tok...


Tok...


Maria mengetok pintu rumah Yusuf terus, bahkan bila perlu sampai pintu itu roboh atau jebol, Maria tak mau tahu.


...****************...


Di tempat lain, para pemuda yang semula bertugas menjaga kampung telah kembali pulang ke rumah mereka,


Mereka heboh pada keluarga masing-masing bahwa mereka melihat None Belanda yang mati ditembak beberapa hari lalu,


Salah satu dari mereka yang ternyata adalah penembak Maria bahkan sampai masuk kolong dipan,


Membuat keluarganya sampai bingung harus membujuk dia keluar dari sana,


"Dia pasti datang untuk membalas dendam, bagaimana ini? Aku harus bagaimana?"


"Lho kenapa takut, kan katanya kamu sedang berjuang,"


Ujar saudaranya,


"Iya, aku memang sedang berjuang, karena mereka itu adalah penjajah, aku harus menembak mereka semua, betul bukan?"


Si laki-laki penembak Maria berkata namun tetap berada di kolong dipan,


"Nah kalau begitu, kenapa masih takut?"


"Tapi dia hantu sekarang, bagaimana jika dia menuntut balas atas kematiannya?"


Si laki-laki penembak sungguh-sungguh ketakutan,


Terbayang lagi di pelupuk matanya saat dirinya menembakkan peluru ke arah punggung si None Belanda yang tengah berlari menuju lantai atas rumah,


Ah, hari itu adalah hari pertamanya memegang senjata sungguhan, dan benar-benar menembak orang hingga orang itu mati,


Ya, mati, dan kini ternyata orangnya malah jadi hantu dan mencari dirinya,


Si laki-laki penembak Maria malah GR dikira Maria yang telah menjadi hantu masuk perkampungan nya adalah untuk mencari dirinya untuk menuntut balas,


Ia tak tahu pastinya, jika hantu Maria adalah ingin mencari Yusuf,


Dan...


Tok...

__ADS_1


Tok...


Tok...


"Yusuuuf...Yusuuuuf..."


Di rumah Yusuf, Maria masih berusaha memaksa Yusuf bangun dan membukakan pintu untuknya,


Tak tahu dirinya jika Yusuf sedang tidur pulas tak sadar apa-apa,


Sementara, karena Maria mengetuk pintunya terus-menerus, akhirnya Bapak Yusuf lah yang mendengar dan jadi terbangun,


"Ada apa ya? Apa terjadi perang lagi?"


Bapak Yusuf pun turun dari dipan tempat ia tertidur,


Posisi tidur Bapak nya Yusuf yang memang sudah tidak satu kamar dengan sang isteri, dan tidur di dipan yang ada di ruang depan, membuat Bapaknya Yusuf bisa menjangkau pintu depan lebih cepat,


"Ya, sebentar... sebentar..."


Kata Bapaknya Yusuf,


Ia tak mendengar ada suara Maria, tapi si Bapaknya Yusuf hanya mendengar pintu diketok saja,


Khawatir jika itu adalah para pejuang yang dari kampungnya, yang mana katanya ada sebagian yang sedang berencana menemui Bung Karno yang kabarnya akan segera dibebaskan oleh pihak Jepang setelah beliau di penjara diasingkan oleh Belanda,


Bapaknya Yusuf pun tampak terburu-buru menuju pintu, membuka kuncinya yang masih terbuat dari kayu panjang yang di pasang melintang di belakang pintu,


Setelah membuka kuncinya, si Bapaknya Yusuf lantas membuka daun pintu rumahnya,


Namun, syuuuuung...


Kosong!


Bapaknya Yusuf tak melihat apapun dan siapapun di depan rumahnya,


Hanya aroma wangi yang tak biasa saja yang tercium di sana,


Bapaknya Yusuf celingak-celinguk, mencari sosok yang mengetuk pintu rumahnya di tengah malam,


Hantu kah? Batin Bapaknya Yusuf,


Ya, hantu, bahkan hantu itu sebetulnya kini berdiri tepat di depannya,


Hanya berjarak satu meter di depan Bapaknya Yusuf, namun laki-laki paruh baya itu anehnya tak melihat sosok Maria,


"Pak... Ini Maria, Pak,"


Kata Maria pada Bapaknya Yusuf, yang tentu saja bagi Maria dia bukanlah orang asing,


Bapaknya Yusuf adalah pengabdi setia untuk keluarganya sekian lama, bahkan untuk Tuan Hubrecht sekeluarga, Bapaknya Yusuf sudah macam keluarga sendiri pula,


"Pak, ini Maria, mau cari Yusuf,"


Kata Maria lagi,


Tapi yang terdengar di telinga Bapaknya Yusuf hanya hembusan angin saja,


Fiuuuuuh...


Seperti angin yang dihembuskan dari mulut saja, yang untungnya bukan mulut yang bau pete dan jengkol,

__ADS_1


Lalu...


...****************...


__ADS_2