
Maria yang masih sulit untuk percaya dan menerima kenyataan jika ia bukan lagi manusia tampak mondar-mandir di dalam rumah peristirahatannya,
Ia berjalan macam manusia, tapi ia merasa kakinya tak lagi bisa menapak lantai,
Bukan, bukan karena lantainya kotor belum disapu dan dipel, tapi karena memang kakinya tak bisa berpijak,
Karena makin penasaran dengan apa yang melanda dirinya, Maria pun lantas membuka pintu rumah peristirahatan,
Krieeeeet...
Pintu itu dibuka oleh Maria lebar-lebar, namun Maria tercenung, karena di sana yang terlihat hanyalah kabut tebal,
"Kenapa ini? Siapa yang merokok sampai asapnya sebanyak ini?"
Gumam Maria bertanye-tanye sambil tetap berdiri di sana,
Dan Yusuf, ke mana dia? Lari begitu saja macam takut kepicirit. Kesal hati Maria tentu saja,
Sebagai laki-laki berwajah tampan tapi penakut, membuat Maria jadi ilang filing,
Maria lantas kembali masuk ke dalam rumah peristirahatan, ia berjalan cepat menuju area belakang rumah,
Kembali dibukanya pintu rumah peristirahatan milik keluarganya tersebut,
Krieeeeet...
Dan...
Hah?
Maria terpana, yang terlihat di matanya saat ini bukan lagi halaman yang luas di mana ada banyak pepohonan, lalu ada danau, dan di seberang danau ada hutan alam yang cukup lebat,
Tidak, sekarang yang terlihat di mata Maria bukan itu, melainkan sebuah kerajaan yang sangat megah,
Lah ini pasti mimpi, sudah jelas ini pasti mimpi. Batin Maria,
Bagaimana bisa tiba-tiba ada kerajaan di sana, dikira ini lagi syuting tutur tinular apa bagaimana?
Maria menggeleng-gelengkan kepalanya,
Sulit baginya untuk menerima penglihatan yang di mana kini matanya bukannya melihat danau malah kerajaan berlapis emas entah berapa karat,
Maria pun cepat menutup pintu bagian belakang rumahnya,
Ini benar-benar aneh, mimpi ini terasa begitu nyata tapi benar-benar aneh. Maria sibuk membatin,
Ia lantas berjalan lagi mondar-mandir tak jelas, ia naik ke lantai atas di mana kamarnya berada,
__ADS_1
Lalu turun lagi, naik lagi, lali turun lagi, berjalan ke kamar Mami dan Papi nya yang kosong, lalu berjalan ke kamar kedua adiknya, Luna dan Albert,
Maria makin lama makin rasanya pusing tujuh keliling,
Ini tidak benar, mimpi ini membuatnya sangat setres, mana dirinya juga tidak bangun-bangun,
Haiiish... Maria mendesis,
Apa tidak ada anak-anak main petasan atau apalah yang bisa membangunkan dirinya,
Sungguh Maria ingin cepat bangun, mimpinya tidak menyenangkan.
Begitulah Maria terus berusaha meyakinkan dirinya jika saat ini ia sedang berada di alam mimpi,
Ya, hanya mimpi, bukan sedang dalam kenyataan,
Hingga malam datang, Maria yang masih melakukan kegiatan tidak jelas untuk berusaha membuat dirinya sendiri bisa bangun dari tidur, tiba-tiba mendengar ada suara seperti ada yang datang,
Suara derap langkah kaki memakai sepatu seperti sepatu tentara, dan juga suara-suara orang bicara seperti memakai bahasa Jepang itu terdengar semakin mendekat,
Maria yang semula ketakutan karena ia yakin itu adalah tentara Nippon baru akan berlari untuk sembunyi, manakala kemudian ia tiba-tiba sadar jika saat ini ia hanya sedang bermimpi,
Ah yah, aku sedang mimpi, jadi lebih baik bertemu tentara-tentara itu agar aku bisa bangun. Batin Maria tak jelas,
Maria pun lantas berjalan menuju pintu utama rumah peristirahatan keluarganya lagi, dan ini adalah yang kesekian kali dalam satu hari ini,
Krieeeeet...
Maria berjalan dari dalam dan berdiri di tengah pintu, sambil menatap kabut yang kini terlihat sudah lenyap, dan diganti dengan pemandangan seperti biasa,
Halaman, jalanan kampung, dan juga sawah ladang yang membentang di sepanjang jalan,
Nah, itu para tentara Jepang, saat mereka melihatku dan menembak, pasti aku akan bangun. Batin Maria.
Namun, sayang disayang, saat para tentara Jepang yang baru akan mendekati rumah peristirahatan melihat pintunya tiba-tiba terbuka sendiri, mereka langsung berdiri saja di halaman dan menatap pintu dengan wajah-wajah ketakutan,
Apalagi, saat kemudian Maria keluar lalu berdiri di tengah pintu rumah peristirahatan yang ia buka, para tentara itu bukannya menembak atau apa, malah lari pula, bahkan larinya lebih cepat daripada Yusuf pagi tadi,
Melihat itu, tentu saja Maria yang jadi kesal tampak berlari mengejar,
Namun, tanpa Maria sadari, yang baginya sedang berlari, di mata para tentara itu Maria saat ini melayang dengan kecepatan 100 KM per jam, macam kang paket yang mau mengantar paketan, yang tentu saja hal itu membuat para tentara Jepang tampak semakin kocar-kacir,
Maria mengejar sambil teriak-teriak memanggil mereka,
"Whoooiii... Kembali sebentar whooooiii ..."
Maria merasa terus berlari, padahal dia melayang tak jelas,
__ADS_1
Maria yang terus mengejar para tentara Jepang itupun tanpa ia sadari semakin menjauh dari rumah peristirahatan,
Hingga kemudian tiba-tiba ada sorot lampu mobil yang datang dari arah berlawanan,
Para tentara Jepang itu pun memberhentikan mobil itu, yang kemudian mereka lantas masuk ke dalam mobil lalu sepertinya meminta putar arah,
"Whoi mau ke mana?"
Maria kesal bukan kepalang, ia pikir tentara akan pemberani dan akan memilih menembak atau apa, ini malah lari pula macam Yusuf,
Ah yah, Yusuf, benar, dia saja yang harus bertanggungjawab. Batin Maria kini malah jadi ganti acara,
Maria tampak celingak-celinguk di jalanan yang sepi dan gelap, beberapa bayangan terlihat berkelebat di sekitar semak dan juga di antara banyak pepohonan di pinggir-pinggir jalanan kampung,
Maria cepat berjalan yang sebetulnya melayang itu,
Si gadis None Belanda bertekad akan berjalan sampai kampung di mana Yusuf tinggal,
Aku akan menemui Yusuf saja, memintanya membangunkan aku, agar aku bisa segera mengakhiri seluruh rangkaian mimpinya yang absurd,
Maria cukup jauh berjalan menuju kampung tempat tinggal Yusuf, namun anehnya memang ia sama sekali tidak merasa lelah, letih, lesu, apalagi keringatan hingga bau ketek,
Tidak, sama sekali tidak, Maria baik-baik saja dan tetap wangi,
Ya wangi, sampai wanginya tercium hingga pos para pemuda pejuang yang memang didirikan sebelum masuk kampung,
"Hmm, wangi apa ini ya?"
Tanya salah satu satu pemuda pejuang pada teman-temannya, tapi...
"Wangi apa sih?"
Salah satu dari mereka pun balik tanya, yang kemudian disambut acara celingak-celinguk dari mereka,
Dan...
"Mas, Kang, Bang, sori sori sori..."
Maria berjalan mendekati pos, yang kemudian membuat para pemuda pejuang yang ada di pos seketika melihat ke arah datangnya Maria,
"No... No... Nona Belandaaaaa... hantuuuuu,"
Teriak salah satu dari mereka yang sejak pertama mencium aroma wangi tak biasa sudah merasa tak tenang,
Dan sekali lagi, Maria ditinggal kabur oleh orang-orang yang melihatnya.
...****************...
__ADS_1