
Esok paginya, Yusuf akhirnya mengantar Maria ke pemakaman orang-orang Belanda di daerah itu,
Orang Belanda yang meninggal sebelum tentara Jepang datang, dan juga begitu akhirnya tentara Jepang datang ke bumi Nusantara,
"Tuan Hubrecht dimakamkan bersama Nyonya, sementara Luna dan Albert,"
"Aku?"
Maria bertanya tanpa menoleh ke arah Yusuf yang berjalan di dekatnya, tatapan Maria lebih tertarik menatap deretan makam yang tampak penuh,
"Terlalu banyak mayat, bahkan di daerah lain katanya ditumpuk jadi satu liang,"
Kata Yusuf, namun...
"Ah sori Nona,"
Yusuf jadi tidak enak,
"Ya, tidak apa,"
Ujar Maria masih tanpa menoleh,
"Bukan salah kalian warga pribumi, ini toh bukan kali pertama orang-orang Belanda terbunuh, sudah sejak sekian lama bangsa kita saling menumpahkan darah,"
Lirih Maria sendu,
Yusuf mantuk-mantuk membenarkan, nyatanya memang demikian, berapa ratus tahun lalu pun sejatinya perlawanan bangsa pribumi atas berkuasanya orang asing dari Belanda sudah ada,
"Tapi, apa mungkin kalian akan benar di merdekakan? Atau jangan-jangan nantinya akan di gajah lagi,"
__ADS_1
Kata Maria seraya mengusap salah satu bangunan kuburan Belanda yang khas dengan bangunan berukuran besar,
Yusuf sejenak mengerutkan kening,
Gajah? Sepertinya bukan itu kata-katanya, lalu...
"Jajah kali Non,"
Yusuf akhirnya memberanikan meralat,
"Hmm iya jajah, memangnya kamu dengarnya apa?"
Tanya Maria,
"Gajah,"
"Kamu itu, muka tampan tapi telinga macam cantelan panci,"
Ujar Maria sambil melayang ke atas,
Rupanya Maria mulai terbiasa melayang-layang, ia tidak lagi berjalan seperti manusia,
Hingga kemudian mereka akhirnya sampai di ujung area pemakaman yang sunyi, sepi, senyap,
Yusuf kemudian mengajak Maria ke bagian yang paling sudut, di mana di sanalah Maria dan keluarganya dimakamkan,
"Semua ada di sini Nona, semua berkumpul di sini,"
Kata Yusuf,
__ADS_1
Maria menatap nanar gundukan-gundukan tanah di mana dirinya kata Yusuf berada di dalam sana, pun juga semua anggota keluarganya,
Sungguh ia tak menyangka jika akhirnya mereka semua tetap menjadi korban dan tak sempat pulang ke negara asal,
Beruntung salah satu keluarga ada yang konon bisa pergi, andai Maria masih hidup, pastinya ia tak mau membuang waktu untuk pergi sendiri menyusul mereka,
"Sejatinya, aku tidak pernah percaya jika negeri ini akan benar-benar dibebaskan secara cuma-cuma, pastinya kedatangan mereka ke tempat ini pun ada maksud dan tujuan sendiri,"
Lirih Yusuf memecah keheningan, Maria mengangguk membenarkan,
"Tentu Yusuf, semua sudah bisa dibaca,"
Kata Maria pula, ia setelah itu mengusap kuburan kedua orangtuanya, sedih hati membayangkan mereka ditembak mati di saat hari masih gelap,
Meski dirinya pun merupakan korban penembakan, tapi rasanya membayangkan kedua orangtuanya dan adik-adiknya jauh lebih menyayat hati Maria,
Dan, Maria pun cukup lama berada di pemakaman itu, sedangkan Yusuf yang mengantar memilih menepi duduk di dekat pepohonan yang menghadap ke arah hamparan sawah ladang di kaki Gunung Slamet,
Aneh memang ia sebagai manusia malah mengantar hantu ke pemakaman, kebanyakan orang pribumi pasti tidak mau ke makam Belanda karena takut melihat hantu, tapi sekarang Yusuf malah melakukan hal yang jauh berbeda,
Yusuf menatap langit yang tampak cerah berawan, seperti masa depan negerinya, yang terlihat sudah semakin dekat dengan kemerdekaan, masih tampak awan bergelayut,
"Papi... Mami... Luna... Albert... Di mana kalian semua? Kenapa aku gentayangan sendiri di sini?"
Lirih Maria yang semakin lama menatap kubur keluarganya, tiba-tiba jadi terpikir kenapa hanya dia yang gentayangan,
Mungkinkah mereka juga sama saja? Batin Maria bertanya.
...****************...
__ADS_1