
Di belakang rumah Ki Ronggo yang tampaknya telah mengeluarkan seluruh kesaktiannya pada akhirnya kalah dikeroyok pasukan Gendruwo,
Ia tampak terkapar di tanah dalam kondisi yang terus memuntahkan darah,
Maria yang baru saja kembali terlihat menatap Ki Ronggo dan juga orang-orang di sekitar Ki Ronggo yang kini masih tampak kesurupan siluman ular,
"Ronggo, kau menjadi manusia telah terlalu banyak ikut campur urusan dunia kami, terlalu banyak menyebrang ke dunia kami hingga kau lupa jika kesaktian mu sesungguhnya belum sepadan melawan kami semua, hahahaha..."
Gendruwo terbesar tertawa terbahak-bahak, suaranya begitu keras seperti menggunakan toa,
Maria melayang ke arah atap rumah peristirahatannya lagi, atap rumah yang gentengnya terbang di beberapa bagian, yang ini pasti akan membuat rumahnya bocor saat musim hujan tiba,
"Kurasa kau sebaiknya mati saja Ronggo, agar kau berhenti sok sakti hingga terus-menerus mengusik dunia kami,"
Kata si Gendruwo yang paling besar lagi, yang lantas disambut sorak Sorai Gendruwo lainnya,
Mereka sungguh persis gorila yang memukul-mukul dada sambil bersorak senang mendengar Ki Ronggo akan dibinasakan,
Namun, saat Gendruwo yang terbesar kemudian bersiap mengangkat kakinya untuk menginjak Ki Ronggo, tiba-tiba dari arah danau terlihat seekor ular yang sangat besar muncul lalu mengibaskan ekornya ke arah si Gendruwo,
Gendruwo itupun terpental jauh, sementara para pasukan Gendruwo lainnya terlihat menggeram,
Ular besar itu lantas mendekati Ki Ronggo, dan kemudian membelit tubuh Ki Ronggo yang sudah hampir mati,
"Dia milik kami,"
Kata ular besar itu,
Para Gendruwo berteriak gaduh, Maria di atas atap melihat keributan dua makhluk penguasa daerah sekitar rumah peristirahatan milik keluarganya,
Apa yang mereka lakukan? Kenapa malah ribut sendiri? Batin Maria,
Maria yang memilih tetap menjadi penonton gratis itu tampak duduk sila di atas atap,
Dilihatnya kini Gendruwo yang paling besar yang semula terpental melompat dengan sangat cepat ke arah si ular besar, membuat si ular besar melepaskan Ki Ronggo lagi untuk menghadapi si Gendruwo,
"Wah ada apa ini? Kok seru,"
Tiba-tiba beberapa hantu melayang dari arah belakang Maria dan ikut duduk nongkrong di atas atap bersama Maria,
"Mereka rebutan korban,"
Kata Maria,
"Oh begitu,"
"Nah itu manusia bernama Ki Ronggo kan?"
"Baguslah dia memang harus dibumihanguskan, terlalu banyak ikut campur dia dengan urusan mahluk astral,"
"Ku dengar dia juga sempat ribut dengan biaya putih Ki Rekso,"
"Ya betul, dia menyelamatkan calon korban Ki Rekso hingga akhirnya Ki Rekso membuat kampung sekitar kali kebanjiran,"
__ADS_1
Para hantu tampak sibuk membicarakan sosok Ki Ronggo yang ternyata cukup terkenal sepak terjangnya,
Sebagai hantu yang introvert, Maria memang tidak terlalu paham dengan kabar berita di luar sana,
Ia yang selama ini hanya berada di rumah peristirahatan saja, melayang dari depan ke belakang, dari lantai dua ke lantai satu, dan paling banter duduk di atas atap saja jelas tak pernah mendengar cerita apapun soal Ki Ronggo, manusia yang kini tengah diperebutkan oleh dua mahluk yang tampaknya sama kuatnya,
Ya, ular besar dan juga Gendruwo yang kini terlihat bergulat hebat saling mengalahkan satu sama lain,
"Siapa yang akan menang kayaknya?"
Tanya Maria,
"Jelas Tuan Jaka Lengleng,"
Kata para hantu kompak,
"Jaka Lengleng? yang mana? Oh yang ular ya,"
Kata Maria ingat sekilas dengan cerita yang pernah ia dengar dari Yusuf jaman dulu ia baru jadi hantu,
"Dia paling berkuasa di sini, siapa yang meragukan kemampuannya, dia dulu manusia sakti mandraguna, dia dikalahkan oleh seorang sakti lain, tapi dia akhirnya diselamatkan panglima laut selatan,"
Kata salah seorang hantu yang rambutnya seperti bekas terbakar karena masih mengeluarkan asap,
"Maksudnya ular itu?"
Tanya Maria,
Si hantu yang baru saja membahas soal Jaka Lengleng mengangguk,
Dengan ukuran tubuhnya yang begitu besar itu, si Gendruwo bahkan hampir tak terlihat dalam belitan si ular Jaka Lengleng,
Ki Ronggo sendiri di atas tanah kini sudah nyaris menghembuskan nafasnya yang terakhir, manakala kemudian sesosok perempuan cantik dengan baju hijau berkilauan memimpin beberapa laki-laki yang bertubuh ular sebagian untuk mengambil tubuh Ki Ronggo untuk dibawa ke danau,
"Mereka akan memakannya?"
Tanya Maria,
"Ya, mereka siluman, mereka akan memakannya,"
Ujar hantu bungkus yang tak lain adalah pocong,
Maria menatap si pocong, dalam kondisi siang hari pun ia tetap memakai kostum yang rasanya membuat siapapun merasa jadi gerah,
"Kau ini kapan jadi kupu-kupu? Jadi kepompong kok lama sekali,"
Kata Maria julid, membuat si pocong memanyunkan bibirnya,
Ki Ronggo tampak diseret ke arah danau, sedangkan orang-orang yang kesurupan kini ditinggalkan begitu saja oleh para dayang yang semula masuk ke dalam tubuh orang-orang itu,
Tampaknya mereka telah puas bermain dan kini ingin mulai pesta mereka dengan Ki Ronggo,
"Sudah kubilang jika akulah yang paling berkuasa di sini Wo!"
__ADS_1
Kata si ular besar pada Gendruwo, dengan panggilan yang sungguh sangat akrab pastinya,
Gendruwo pun hanya bisa menggeram kesakitan karena saat mengatakan kalimat terakhirnya si ular besar semakin menguatkan belitannya,
Setelah dirasanya si Gendruwo tak akan melakukan perlawanan lagi, si ular besar jelmaan Jaka Lengleng itupun lantas melepaskan si Gendruwo dan melemparnya begitu saja ke arah pohon Randu Alas yang tumbuh besar di belakang rumah peristirahatan,
Ular berukuran sangat besar itupun lantas merayap ke arah danau dan masuk ke dalamnya,
"Jaka Lengleng, dia rajanya bukan?"
Tanya Maria, yang kemudian diiyakan oleh para hantu,
"Kalau Perempuan cantik yang tadi memakai baju hijau berkilauan itu, siapa dia?"
Tanya Maria pula,
"Gendis Arum,"
Lirih seorang hantu yang paling tua, hantu yang tak lain adalah hantu pecinta tikus,
Maria menoleh ke arah si hantu yang dulu pernah melarikan diri,
"Dia isteri dari Jaka Lengleng, siluman ular tercantik di sini,"
Kata si hantu itu pula,
"Hmm begitu rupanya,"
Maria mantuk-mantuk sambil menatap danau yang tampak begitu indah dan tenang tersebut, danau yang pastinya tak akan disadari siapapun jika di sana dihuni banyak ular besar,
"Jadi mereka yang paling kuat di daerah sini?"
Lirih Maria sambil tetap dengan mata menatap ke arah danau,
"Bukanlah, mereka bukan yang terkuat,"
Ujar si hantu dengan rambut berasap,
"Lalu, siapa? Bukankah Gendruwo terbesar saja tadi dengan mudah ditaklukkan?"
Tanya Maria heran karena masih ada lagi yang lain,
"Yang terkuat di sini adalah penunggu mata air dekat pemandian para raja dulu, di mana di sana ada gerbang gaib yang juga merupakan gerbang penghubung dengan pantai selatan,"
"Oh, benarkah?"
Maria jadi penasaran,
"Siapa? Siapa sosok itu?x
Tanya Maria,
"Bandapati, sang Naga tertua,"
__ADS_1
...****************...