MARIA

MARIA
21. Para Penunggu


__ADS_3

Keesokan harinya, rombongan mobil kembali datang, yang di mana begitu berhenti di depan rumah peristirahatan keluarga Hubrecht terlihat yang turun adalah rombongan orang-orang yang kemarin datang, terutama adalah si laki-laki bermata sipit,


Namun, kali ini si laki-laki sipit tidak datang bersama rombongan aparat desa saja, dan orang dari desa yang kemarin ikut pun hanya dua orang saja, tidak semuanya,


Tampak mereka mengajar seorang laki-laki tua dengan kepala diikat kain hitam, ia begitu turun dari mobil langsung komat-kamit membaca mantra,


Laki-laki itu berdiri di depan bangunan peninggalan Belanda tersebut, ia tampak khusuk membaca mantera sambil komat-kamit,


"Bagaimana Ki, apa bisa diusir saja itu Ki kuntilanak yang katanya pakai baju merah?"


Tanya si Laki-laki sipit,


Si laki-laki tua dengan ikat kepala hitam tampak mengabaikan pertanyaan laki-laki sipit, ia malah kemudian berjalan saja masuk ke dalam rumah peristirahatan milik keluarga Belanda tersebut,


Laki-laki sipit dan orang-orang yang datang bersamanya pun saling berpandangan, sebelum kemudian saling mengangguk satu sama lain seolah cukup bicara dengan bahasa isyarat,


Semua dari mereka kemudian menyusul si laki-laki dengan ikat kepala hitam, meskipun masih dengan takut-takut mereka masuk lagi ke dalam rumah peninggalan Belanda,


"Jika semuanya aman, aku sungguh-sungguh ingin menjadikan tempat ini sebuah penginapan,"


Kata si laki-laki sipit, yang barang tentu langsung disetujui para aparat desa, mereka menganggap jika ini akan membantu mewujudkan keinginan mereka memajukan ekonomi desa,


Sementara itu, laki-laki yang memakai ikat kepala hitam kini berjalan terus sampai pintu belakang yang menuju keluar,


Mereka pun mengikuti si laki-laki dengan ikat kepala hitam tersebut,


Tampak kemudian danau indah terbentang dengan latar hutan alam yang lebat,


Tak juga ketinggalan di belakang rumah peristirahatan tersebut tampak bukit kecil yang ditumbuhi banyak pepohonan pula, dan di sana terlihat ada beberapa pohon Randu Alas, yang mana salah satunya sangat besar,


Laki-laki dengan ikat kepala hitam itu tiba-tiba berhenti, lalu ia mengeluarkan rokok dari dalam saku bajunya yang seperti baju silat berwarna hitam,


Ia lantas duduk sila di atas tanah begitu saja, duduk sila sambil menyalakan rokoknya yang begitu keluar asap tercium seperti aroma kemenyan,


Laki-laki dengan ikat kepala hitam itu lantas memejamkan matanya sambil membaca mantera lagi dengan sesekali menghisap rokoknya yang beraroma kemenyan,


Semua orang tampak sangat waspada, mereka tidak tahu sebenarnya apa yang akan terjadi, dan apa yang dilihat oleh si laki-laki dengan ikat kepala hitam itu sebetulnya,


Mereka pikir, yang harus dibersihkan adalah rumah peninggalan Belanda, tapi malah kini si laki-laki tua dengan ikat kepala hitam tersebut malah memilih berada di belakang rumah peristirahatan tersebut,

__ADS_1


"Kamu yakin dia bisa menangani ini? Sepertinya dia amatir,"


Kata si laki-laki sipit jadi tak yakin,


Orang kampung sebelah yang dipercaya mencarikan orang pintar oleh si laki-laki sipit tampak menganggukkan kepalanya tanpa ragu,


"Yakin Tuan, yakin sekali, saya lihat sendiri dia menyelamatkan anaknya Pak Bawor bulan lalu di kali atas, yang dekat mata air yang konon dijaga Naga itu,"


Kata si orang kampung kepercayaan laki-laki sipit,


"Memangnya ada apa di kali? Kalau cuma hanyut kan tidak perlu paranormal,"


Kesal si laki-laki sipit,


"Lho, memangnya Tuan belum pernah dengar soal buaya putih jelmaan Ki Rekso? Itu sudah terkenal sekali di daerah sini, bukannya Tuan katanya dari kota bawah? Jika iya, harusnya Tuan tahu karena kita masih satu Kabupaten,"


Ujar si orang yang dipercaya mencarikan orang pintar, dan akhirnya pilihan jatuh kepada sang laki-laki tua dengan ikat kepala hitam,


Laki-laki sipit yang barang tentu dia adalah seorang bos besar yang haus akan rencana bisnis itu kemudian menatap si laki-laki dengan ikat kepala hitam yang masih duduk bersila,


"Aku butuh rumah peristirahatan yang dibersihkan, kenapa dia malah melakukannya di si..."


Angin yang berhembus itu bahkan sampai menerbangkan banyak genteng dari rumah peristirahatan milik keluarga Hubrecht, dan walhasil membuat Maria yang semula sedang tenggelam dalam perenungannya terkaget-kaget,


Apa ini? keributan apa ini? Batin Maria sambil melayang keluar dari kamar tempatnya ngadem,


Ia melayang menyusuri ruangan lantai dua, dan dari tempatnya ia kemudian mendengar suara seperti orang menggeram yang sangat keras,


Suara itu begitu besar dan berat, yang pastinya juga sangat menyeramkan karena mirip suara gorila atau kingkong yang ada di bungkus obat nyamuk,


Lalu...


Dug!


Dug!


Dug!


Terdengar kemudian suara langkah besar di luar sana, disusul suara teriakan dan jeritan manusia yang begitu ramai hingga bahkan terkesan rusuh,

__ADS_1


Maria yang jadi sangat penasaran dengan apa yang terjadi akhirnya melayang keluar melalui atap rumah,


Namun naas, tepat saat kepala Maria muncul, sebuah genteng sedang terpental dan terbang ke arah Maria hingga akhirnya mengenai kepalanya,


Dak!


"Aduh!"


Maria mengaduh karena kepalanya terkena genteng, dan hantu gadis itu pun mengusap-usap kepalanya agar tidak benjol,


Dalam situasi dan kondisi yang sangat semruweng itu, Maria tampak menjadi penonton gratis sebuah adegan di mana seorang manusia tua yang memakai ikat kepala hitam kini didatangi dua petinggi makhluk-makhluk penjaga di sekitar rumah peristirahatan milik keluarga Maria,


Satu makhluk berbentuk manusia setengah kera yang sangat besar, sedangkan yang satunya adalah seorang perempuan cantik dengan pakaian berwarna hijau berkilauan namun seperti sisik ular,


Perempuan itu diiringi beberapa perempuan juga, yang wajahnya semuanya juga cantik,


Perempuan-perempuan itu menggunakan kemben warna emas, yang Maria dulu sempat lihat begitu sibuk di sekitar kerajaan berlapis emas yang terdapat di danau belakang rumah peristirahatannya,


"Ki Ronggo, apa yang kau lakukan sangat mengganggu ketenangan kami! Berani-beraninya kau melakukan itu!!"


Suara besar dan keras dari manusia setengah kera itu membentak laki-laki tua dengan ikat kepala hitam,


Maria yang merasa ini akan seru akhirnya memilih duduk di atas atap, sudah lama rasanya ia tak melihat film dan kali ini pastinya akan sangat menghibur,


Ki Ronggo, nama laki-laki tua dengan ikat hitam itu tampak pelahan melakukan sungkem kepada perempuan berbaju hijau,


Perempuan berbaju hijau itu mengangguk sambil tersenyum,


"Ki Ronggo, apa yang membuatmu begitu lancang hingga mengusik kami semua,"


Perempuan itu mengajukan pertanyaan yang sama,


"Am... ampun Ratu Gendis Arum, ampuni saya... sungguh saya tidak bermaksud demikian, saya hanya ingin mengajak bertemu dan bicara dengan baik,"


Kata Ki Ronggo,


"Tidak bermaksud mengusik tapi kau membaca mantra yang membuat rumahku menjadi sangat panas! Kau pikir aku akan percaya hah?! Manusia tidak ada yang bisa dipercaya! Mereka terbiasa berbohong!"


Manusia setengah kera yang sudah kadung darah tinggi tiba-tiba menendang ki Ronggo, dan...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2