
Ki Ronggo terhempas ke belakang, tampak laki-laki tua dengan ikat kepala berwarna hitam itu memuntahkan darah segar dari mulutnya,
Maria yang merasa ini akan sangat seru tampak semakin bersemangat, sayangnya dia tidak punya kacang kulit, kuaci, tahu sumedang dengan cabe rawit, atau keripik singkong, keripik pisang, peyek kacang untuk menemani acara menonton perkelahian manusia bernama Ki Ronggo dengan makhluk-makhluk penguasa sekitar rumah peristirahatan,
"Gendruwo sialan, tampaknya kau tidak bisa diajak bicara baik-baik,"
Ki Ronggo terlihat marah, ia mengeluarkan sebuah jurus-jurus sakti sambil kemudian mulutnya komat-kamit melafal mantera,
Langit yang semula terang tanpa mendung sama sekali tiba-tiba saja kini terlihat gelap menghitam, seolah diselimuti awan tebal yang di mana kemudian terdengar pula suara gemuruh yang begitu keras,
Manusia setengah kera tampak menggeram, yang kemudian dari arah pohon Randu Alas terlihat berbondong-bondong makhluk serupa keluar dan berjalan dengan langkah-langkah lebar menuju ke tempat Ki Ronggo kini berada,
Mata mereka tampak merah menyala, kemarahan jelas tergambar dari penampakan para makhluk tersebut,
Namun, Ki Ronggo nyatanya memang bukan lah manusia yang kesaktiannya biasa saja,
Ia sungguh-sungguh memiliki kemampuan melawan para dedemit penunggu sekitar rumah peristirahatan keluarga Maria seorang diri,
Dalam keadaan yang begitu kacau itu, orang-orang yang ikut dalam rombongan laki-laki bermata sipit tiba-tiba ramai berteriak lalu berjatuhan dan mengejang,
Mereka kesurupan masal, yang membuat keadaan pun semakin tak kondusif,
Laki-laki bermata sipit yang melihat semua ketidak amanan itupun lantas bersiap melarikan diri lagi,
Ia seperti manusia dengan sifat pengecut lainnya, yang gemar membuat masalah namun tak bertanggungjawab menyelesaikan apa yang ia perbuat pun dengan terburu-buru masuk ke dalam rumah peristirahatan milik keluarga Maria,
Laki-laki itu berlari menuju pintu keluar, meninggalkan orang-orang yang datang bersamanya kesurupan, dan juga meninggalkan Ki Ronggo yang kini dikeroyok para manusia setengah kera yang mengamuk,
"Dasar pengecut!"
Geram Maria jadinya melihat sosok laki-laki bermata sipit itu,
__ADS_1
Seseorang yang Maria yakin jika ia adalah kaki tangan bos besar yang hendak membuat rumah peristirahatan milik keluarga Maria itu menjadi sebuah hotel untuk mendukung rencana pembangunan wisata di puncak sana,
Tempat yang Maria sendiri belum pernah datangi, sekalipun dulu ia pernah mendengar soal sebuah tempat yang katanya adalah bekas pemandian para raja dan ratu di kala jaman masih kerajaan,
Tentu saja, itu adalah peninggalan yang usianya sudah ratusan tahun yang lalu, atau bahkan malah lebih dari seribu tahun silam,
Dan di tengah teriakan-teriakan orang yang kesurupan karena ulah penjaga kerajaan di danau belakang rumah peristirahatan, terdengar suara deru mesin mobil yang telah dinyalakan oleh si laki-laki bermata sipit,
Melihat hal itu, Maria tak mau tinggal diam, ia seketika langsung memutuskan melayang turun dari atas atap untuk langsung menyerbu ke dalam mobil si laki-laki sipit,
"Si... si... siapa ka... ka... kamu?"
Laki-laki bermata sipit itu tampak ketakutan, manakala melihat sosok Maria yang tiba-tiba saja masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi dekat ia saat ini berada di belakang kemudi,
"Kau, yang membuat keonaran di tempatku!"
Maria mendelik marah,
Laki-laki bermata sipit itupun gemetaran, bahkan saking takutnya ia pipis di celana,
Laki-laki itu sungguh benar-benar ketakutan sekarang, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya yang gemetaran sudah lemas sekali macam baru keluar dari panci presto,
"Aku tak akan membunuhmu sekarang, tapi jika kau berani kembali lagi, akan aku lemparkan kau ke danau belakang rumah peristirahatan ini!"
Kata Maria yang tampak sangat marah,
"Am... am... ampun Non... sa... sa... saya hanya menjalankan perintah dari... dari orang yang mengambil proyek ini Non,"
"Siapa?! Siapa dia?!"
Tanya Maria marah,
__ADS_1
Si laki-laki bermata sipit itupun lantas menyebutkan sebuah nama seseorang yang merupakan nama Tionghoa,
"Kau sudah lihat bagaimana Ki Ronggo kewalahan menghadapi para penguasa di sini bukan?"
"Iya Nona,"
Laki-laki bermata sipit itu mantuk-mantuk, meskipun ia tetap tak berani menatap Maria sama sekali,
Ia jelas terlalu takut, sangat takut malah, karena ekspresi Maria tampak begitu marah dengan apa yang telah terjadi,
"Baiklah, aku kali ini sungguh menepati janjiku untuk memberimu satu kesempatan, pergilah asal jangan pernah kembali lagi, dan jangan lupa, katakan pada orang yang mempercayai mu bahwa aku dan para penguasa tempat sekitar rumah peristirahatan ini tak mengijinkan siapapun mengusik kedamaian kami, mengerti!!"
Ujar Maria sambil matanya mendelik nyaris lepas, untungnya ia langsung ingat saat kejadian dengan Yusuf beberapa tahun lalu saat ia baru jadi hantu, maka Maria pun mengerem cepat-cepat matanya agar tak sampai bablas lepas,
Bukan apa-apa, ia khawatir bola matanya yang lepas akan masuk kolong kursi mobil, atau bahkan menyelip di bawah pedal gas atau rem,
"I... iya Nona Belanda, sa... saya... saya jan... janji akan menyampaikan pesan dan kesan Nona pada maji... majikan saya,"
Kata si laki-laki bermata sipit tersebut,
Maria pun mantuk-mantuk,
"Ya bagus, pergilah, aku tidak akan ikut, aku mau nonton pertandingan Ki Ronggo dengan para Gendruwo lagi,"
Ujar Maria yang kemudian melayang keluar dari mobil,
Si laki-laki bermata sipit begitu melihat Maria keluar dari mobil pun seketika langsung tancap gas dan melesat menjauhi halaman rumah peristirahatan milik keluarga Hubrecht yang terkenal,
Ya, keluarga Belanda yang terkenal sangat kaya namun baik, sosok orang Belanda yang sangat ramah dan sama sekali tidak memperlakukan orang-orang pribumi yang ditemuinya dengan sewenang-wenang,
Sayangnya, ada rumor yang berkembang, jika keluarga Hubrecht dikhianati oleh keluarga jauh mereka yang merupakan sesama orang Belanda,
__ADS_1
Melalui seorang abdi setia, mereka dijebak lari ke rumah peristirahatan mereka di kaki gunung Slamet, yang kemudian akhirnya di sanalah mereka dibantai.
...****************...