
"Aduh, apa tadi? Siapa?"
Orang yang kepalanya ditonyor Maria seketika celingak-celinguk, mencari sosok yang berani-beraninya mempermainkan kepala pamong desa,
Namun, laki-laki berperut gendut yang menggunakan seragam aparat desa itu tak menyadari kehadiran Maria di sampingnya, yang kini terlihat bersiap menabok kepalanya lagi,
"Ulangi soal kuntilanak baju merah!"
Kata Maria seolah orang itu akan benar-benar mendengar, sambil tangannya...
Plak!
Menabok kepala si laki-laki berperut gendut lagi,
"Aduh!"
Laki-laki berperut gendut itupun seketika wajahnya berubah pucat, tampak sekali ia ketakutan,
"Ada apa Pak?"
Tanya orang-orang yang mengenakan seragam yang sama dengan dirinya, pun juga laki-laki bermata sipit,
"Ini kepala tadi ada yang nonyor dan setelah itu juga ditabok,"
Kata si laki-laki berperut gendut,
"Lho, siapa?"
Mereka semua celingak-celinguk, karena jelas si laki-laki berperut gendut itu berjalan bersama si laki-laki bermata sipit, sedangkan yang lain tampak ada di belakangnya namun posisinya sedikit jauh, maka tidak mungkin seseorang dari mereka yang melakukan, dan andaikata pun ada orang lain yang melakukannya juga tidak mungkin karena mereka tak melihat siapapun lagi selain rombongan mereka yang ada di sana,
"Wah jangan-jangan itu..."
Seorang perempuan yang tampak ikut rombongan tak berani meneruskan, ia tampak menoleh ke kanan dan ke kiri dengan ekspresi wajah takut,
"Jangan-jangan apa Nona?"
Tanya laki-laki bermata sipit,
"Oh itu... ngg None... None..."
Perempuan itu takut sekali menyebutkan none Belanda karena khawatir hantu itu menampakkan diri atau bahkan mengikutinya pulang,
Dari cerita banyak orang, hantu itu gentayangan karen masih menyimpan dendam pada para warga pribumi yang membantu tentara Jepang menembak dirinya dan juga keluarganya,
"Baiklah, sepertinya mahluk halus di sini sudah mulai bereaksi, lebih baik kita bicarakan di tempat lain saja, besok biar saya ajak ahli untuk datang ke sini membersihkan tempat dari para arwah-arwah penasaran,"
Kata si laki-laki sipit,
Maria pun jadi kesal dan auto melepaskan tendangannya ke arah si laki-laki sipit dari arah belakang,
Dukg!
"Rasakan!"
Kesal Maria saat si laki-laki sipit itu kemudian terhuyung ke depan dan nyaris nyungsep jika saja tidak dibantu orang-orang yang ada di sana,
"Ada apa Pak? Ada apa?"
Tanya mereka panik,
__ADS_1
"Ada yang tendang saya, ada yang tendang saya!"
Kata laki-laki bermata sipit itu panik sambil berlari keluar dari rumah peristirahatan milik keluarga Hubrecht, Maria yang sudah sangat kesal akhirnya mengamuk dengan mengerahkan energi membanting daun-daun jendela dan pintu hingga menimbulkan suara yang sangat berisik,
Brukgh!
Brukgh!
Brukgh!
Daun-daun pintu dan jendela di seluruh ruangan rumah peristirahatan tampak buka tutup sendiri, yang otomatis langsung membuat orang-orang di sana lari tunggang-langgang,
Maria melayang keluar mengikuti mereka, hingga kemudian ia berdiri di depan rumah peristirahatan miliknya,
Maria baru akan mengatakan sesuatu lagi, saat tiba-tiba Maria melihat ada sesosok laki-laki yang seperti berjalan dari kejauhan di jalanan desa yang ada di depan rumah peristirahatan,
Sementara itu, laki-laki bermata sipit dan juga orang-orang yang memakai seragam aparat desa yang tampak masuk ke dalam mobil untuk melarikan diri seperti tidak melihat sosok yang kini berjalan ke arah mereka,
Bahkan saat mobil-mobil yang mereka tumpangi berjalan menuju ke arah yang berlawanan dengan sosok yang berjalan seperti zombie itupun mereka tak melihat dan menabrak sosok itu,
Maria membulatkan mata barbie nya yang cantik, ia ingin melihat dengan seksama siapa sosok yang saat ditabrak tubuhnya menembus mobil,
Jelas dia bukan manusia, tapi siapa dia? Batin Maria yang matanya agak-agak minus jika ada matahari,
Dan, semakin lama, sosok itu kemudian terlihat semakin dekat, ia mengarah ke rumah peristirahatan Maria,
Sosok itu tampak sangat kurus, kumal wajahnya dipenuhi jambang tak beraturan,
Tubuhnya terlihat banyak luka di mana-mana, dengan kaki nyeker tanpa alas kaki sama sekali, dan juga tanpa baju dan hanya mengenakan celana komprang warna hitam,
"Non... Nona Maria..."
Dan...
"Nona... Kau tidak mengenaliku? Aku... Aku Yusuf,"
Terdengar laki-laki itu seolah mengingatkan Maria atas dirinya,
Ah yah, Yusuf, Maria pun seketika terlonjak saking senangnya, ia tentu tak mengira jika Yusuf yang telah lama tak ada penampakannya, tak ada kabar beritanya, tak terlihat batang hidung dan daun telinganya itu kini akhirnya muncul lagi,
Tapi...
"Yusuf? Kau... Kau sungguh Yusuf?"
Tanya Maria seolah tak percaya melihat sosok Yusuf yang begitu kurus kering macam pohon pisang di tengah gurun sahara,
"Iya Nona, aku Yusuf,"
Kata Yusuf yang kemudian ambruk di depan Maria,
Maria yang kaget karena Yusuf yang sepertinya sudah jadi hantu itu seperti kelelahan,
"Aku lapar Nona, aku haus,"
Kata Yusuf lirih sambil kemudian merangkak masuk ke dalam rumah peristirahatan milik keluarga Hubrecht,
Keluarga yang dulu ia sempat mengabdi menggantikan Bapaknya yang lebih dulu mengabdi kepada keluarga itu dalam waktu yang cukup lama,
"Lapar? Haus? Bagaimana aku harus memberimu makanan dan minuman? Aku bahkan sudah lama sekali tidak makan dan minum,"
__ADS_1
Ujar Maria malah kebingungan harus bagaimana karena tiba-tiba kedatangan Yusuf yang sedang dalam keadaan menderita,
"Ah iya, kau hantu ya Non,"
Kata Yusuf yang akhirnya kini sudah berhasil masuk ke dalam ruangan rumah peristirahatan,
"Lah kamu kan juga hantu Suf, memangnya kamu tidak sadar kamu hantu juga, haiiish..."
Maria geleng-geleng kepala sambil kemudian duduk di depan Yusuf yang masih tengkurap,
"Aku? Hantu?"
Tanya Yusuf lirih,
"Iya kamu hantu, kamu kenapa jadi ikut-ikutan aku jadi hantu?"
Tanya Maria kemudian,
"Aku tidak tahu malah aku sudah jadi hantu Non, yang aku ingat..."
Yusuf menghentikan kalimatnya sejenak, ia lantas dengan susah payah bangun dari tempatnya tengkurap, lalu...
"Kau jadi kurus macam pensil,"
Kata Maria malah menghina,
"Wajah juga berantakan, jambang sudah seperti semak belukar, tinggal dikasih ulat saja,"
Tambah Maria, membuat hantu Yusuf mengelus dadanya,
Sangat menyakitkan mulutnya kalau bicara. Batin Yusuf,
Tapi, nyatanya dari semua yang Yusuf kenal, pada akhirnya hanya Maria saja yang bisa melihatnya, sepanjang jalan ia berjalan, bahkan masuk ke perkampungan tempat tinggalnya, sungguh tak ada satupun yang bisa mendengar suaranya, dan juga tak ada satupun yang melihat sosoknya,
Ke rumah orangtuanya, rumah itupun telah kosong dan bahkan nyaris roboh, Yusuf tak tahu apa yang terjadi pada mereka, dan iapun tak bisa bertanya pada siapa-siapa,
"Aku dengar dari hantu di depan sana, jika ia melihat banyak orang dibawa menggunakan truk besar, yang termasuk juga kau di sana,"
Tutur Maria bercerita, dan Yusuf pun mantuk-mantuk membenarkan,
"Benar Nona, aku hari itu tiba-tiba dibangunkan oleh suara-suara tembakan, aku keluar dan sudah banyak orang ditangkap,"
Kata Yusuf mengenang,
"Kami para pemuda kampung yang tak menjadi pejuang digiring ke arah truk, sedangkan para pemuda yang ketahuan ikut dalam perjuangan memerdekakan bangsa ini ditembaki,"
"Oh benarkah?"
Tanya Maria, tampak Yusuf pun mengangguk,
"Ya Nona, aku melihat Bapak ditendang, dan Emak juga sempat dipukul dengan gagang senapan, aku berusaha melawan mereka yang menyakiti kedua orangtuaku, namun mereka membuatku jadi pelampiasan dipukuli sepanjang perjalanan menuju tempat yang mana kami harus kerja paksa,"
Lirih Yusuf dengan mata kosong,
"Hmm akhirnya mereka juga menciptakan neraka baru untuk bangsamu Suf,"
Kata Maria, dan Yusuf pun mengangguk.
...****************...
__ADS_1