
"Tapi, sekarang kalian sudah bisa bernafas lega bukan? Merah putih sudah dikibarkan di mana-mana, lagu negaramu sudah dinyanyikan dengan bebas, berarti kalian sudah merdeka Suf,"
Kata Maria pula,
Yusuf memandang Maria,
"Benarkah? Sungguh?"
Tanya Yusuf dengan mata yang kini berubah berbinar-binar,
"Kapan itu Nona? Kapan kami merdeka? Tanggal berapa? Bulan apa? Tahun kapan? Siapa yang memerdekakan Negara ini?"
Yusuf bertanya sambil meraih kedua lengan Maria dan mengguncangnya seperti sedang mengocok kaleng arisan,
"Haduh Suf, kamu mau mengeluarkan nyawaku dua kali?"
Kesal Maria jadinya,
"Oh, maap Non, maap, saya merasa sangat bahagia mendengar kata merdeka soalnya,"
Kata Yusuf yang memang terlihat sangat bersemangat secara tiba-tiba,
"Aku tidak tahu tanggal berapa, bulan apa dan tahun berapa, aku kan tidak pernah beli kalender, hidupku berakhir di rumah ini di tahun 1942, lalu aku gentayangan seperti ini entah sudah berapa tahun sekarang,"
Ujar Maria,
Yusuf melepaskan pegangan tangannya di kedua lengan Maria, lantas ia pun menoleh ke arah koridor rumah peristirahatan keluarga Tuan Hubrecht,
"Cahaya apa itu?"
Tanya Maria heran,
"Ini cahaya untuk kita menuju keabadian Nona, sudah saatnya saya benar-benar pulang,"
__ADS_1
Lirih Yusuf seraya kemudian berdiri,
"Eh Suf, itu cahaya apa? Siapa yang menyalakan lampu seterang ini? Oh apa itu? Kenapa ada kabut-kabut segala,"
Maria malah sibuk komen,
Yusuf berjalan pelahan menuju sorot cahaya yang begitu terang itu,
"Suf, kembali! Jangan ke sana!"
Maria melayang mengejar Yusuf, tapi anehnya meski ia sudah melayang secepat Superman, tapi Yusuf seperti begitu jauh hingga tak terjangkau,
Dan hingga kemudian Yusuf berhenti dan menoleh, Maria tiba-tiba terpental ke belakang dan jatuh,
Ia menatap nanar ke arah Yusuf yang tampak tersenyum dengan wajahnya yang begitu kurus,
"Nona, saya sudah tenang sekarang, saya sudah menemui mu, dan saya sudah tahu Indonesia sudah merdeka, aku sudah tak memiliki sesuatu apapun yang ingin dilakukan dan membuatku penasaran, aku sudah bisa pergi Nona,"
"Suf, mau pergi ke mana lagi? Kupikir kau akan tinggal bersamaku di sini!"
Maria tampak sangat sedih dan kecewa, ia sudah terlanjur berharap melihat Yusuf datang dan sudah jadi hantu juga,
Berharap Yusuf akan menemaninya melewati hari-hari sebagai hantu gentayangan di rumah peristirahatan keluarganya,
"Nona masih ada yang membuatmu penasaran bukan? Itu sebabnya kau masih terus terikat, berusahalah mencari apa yang ingin kamu cari tahu, apa yang akan bisa membuatmu tenang,"
Kata Yusuf,
Maria tampak mulai menangis, air mata yang bercampur dengan parutan kelapa, oh salah, maksudnya bercampur dengan darah tampak mengalir di wajah Maria yang bagaikan boneka barbie,
"Saya pergi Nona Maria,"
Pamit Yusuf pula, seiring dengan mulai meredupnya cahaya yang sangat terang yang di mana kini ia berada di tengahnya,
__ADS_1
Yusuf melambaikan tangannya pada Maria yang terus menangis, ini tentu adalah kali pertama Maria benar-benar bisa menangis dengan lepas,
Ia baru sadar jika ia terjebak di dunia ini karena ada satu ganjalan di dalam hatinya,
Tapi, yang jadi permasalahan adalah Maria terlalu bolot untuk menyadari hal apa yang sebetulnya membuat dirinya tak tenang,
Maria balas melambaikan tangannya ke arah Yusuf dengan perasaan sangat hancur karena ia sungguh-sungguh membutuhkan teman tapi tak juga mendapatkannya,
Cahaya yang di mana Yusuf menuju ke arahnya kini akhirnya sama sekali menghilang bersama Yusuf,
Maria pun kembali kesepian, semuanya benar-benar sangat sepi, maria meringkuk di atas lantai rumah peristirahatan nya,
Menangis terus di sana, menangis dan terus menangis,
Tangisannya yang begitu pilu dan sedih tanpa ia sadari keluar ke alam manusia, suara tangisannya pun terdengar menyusup ke rongga-rongga malam dan terbawa hembusan angin ke sudut-sudut perkampungan yang kini mulai banyak dibangun tak jauh dari rumah peristirahatan si None Belanda,
Membuat banyak warga pribumi yang tinggal di perkampungan yang letaknya di atas tak jauh dari rumah peristirahatan pun dibuat heboh suara perempuan menangis semalaman,
Dan dalam sekejap, cerita tentang rumah peristirahatan Tuan Hubrecht sangat angker pun menyebar dengan cepat, apalagi ditambah cerita soal aparat desa dan calon pengembang rumah peninggalan Belanda itu diganggu hantu juga sudah tersiar ke mana-mana,
"Aku juga ingin tenang... aku juga ingin tenang..."
Maria merintih sedih setelah sekian lama ia menangis,
Ya, entah berapa lama ia menangis sebetulnya, karena sadar-sadar sekarang ia melihat dari celah jendela tampak cahaya matahari mulai menyeruak masuk ke dalam ruangan,
Maria pun bangkit dari posisinya meringkuk, wajahnya sudah penuh oleh air mata dan darah, ia lantas dengan sangat tidak bersemangat akhirnya memutuskan akan menyendiri untuk waktu yang lama agar bisa merenungi apa sebetulnya yang benar-benar membuatnya terikat,
Maria, hantu gadis cantik None Belanda itu melayang menuju lantai dua rumah peristirahatannya yang jika siang hari justeru lebih lembab dan tak banyak cahaya matahari masuk karena jendela-jendela di sana tertutup rapat,
Maria tampak masuk menyelinap ke dalam salah satu kamar di lantai dua itu, menyendiri di sana sambil mencoba mengingat dengan sungguh-sungguh apa saja yang terjadi sebelum ia dan keluarganya di bantai di rumah ini.
...****************...
__ADS_1