
Sesudah pelajaran olahraga. Marsha, Runa, Funny dan Sisi berencana ke kantin untuk istirahat. Namun, sesampai ditempat tujuan kantin begitu penuh dan ramai.
"Aish.. dimana kita duduk nih!! semua bangku penuh.." keluh Sisi.
"Yang jelas kita pesan makanan dulu. tempat duduk mah belakangan.." seru Marsha berjalan dengan santainya.
"Runa!! Apa si Marsha orangnya kayak gitu ya?? Lebih mementingkan diri sendiri.." tanya Sisi.
"Dia itu bukan mementingkan diri sendiri. Tapi dia itu nggak mau ambil pusing, apalagi kalau dia udah kelaparan. Duduk di tanah pun jadi.." jawab Runa lalu berlenggang pergi mengikuti Marsha.
"Yang bener aja!! Masa mau duduk di tanah?! Kan nggak afdol!!" keluh Sisi.
"Udah lah Si.. dari pada kita ikut pusing, cuman gara-gara nggak ada bangku buat duduk. Mending kita ikutin Marsha aja. Kita kan bisa makan di kelas nanti.." seru Funny. Mau tak mau Sisi hanya bisa ngikut aja meskipun dengan wajah cemberut.
"Eh.. Eh.. itu ada yang kosong!!" tunjuk Sisi menepuk bahu Funny juga menunjuk meja yang berada dipojokkan.
"Ya udah gue duduk duluan. Lo bawain makanan gue ya Pung!!" tanpa menunggu jawaban dari Funny, Sisi langsung saja berlari ke meja kosong itu dan duduk disana.
Funny pin memberitahu kepada Marsha dan Runa, jika Sisi sudah dapat meja untuk mereka duduki.
Selesai mendapatkan pesanan, Mereka pun menuju bangku yang diduduki Sisi. Tak lupa Funny juga membawa pesanan Sisi.
"Elo mah.. main pergi aja. Nggak mikirin si Funny kesusahan. Belum lagi pesanan lo banyak juga!! Lo bilang lagi diet.. tapi ni makanan masuk juga ke lambung lo!!" seru Marsha menggerutu.
"Eh.. Lo itu harusnya berterima kasih sama gue.. pas lihat ada meja yang kosong, ya.. langsung aja gue samperin. Dari pada nanti ditempati orang, kan kita juga yang rugi.." jelas Sisi.
"Iya deh iya.. Terserah lo aja." Keempat gadis itu pun menikmati makanannya masing-masing.
Disaat menikmati makanan, empat gadis itu terpaksa harus menghentikan acara makannya. Karena adanya kedatangan segerombolan pria dengan gaya seperti anak-anak bengal.
"Heh!! Ngapain kalian disini!! Ini tempat duduk kita!! pergi sana!!" kata salah seorang pria yang terlihat seperti ketua di gerombolan itu sambil menggebrak meja. Mengundang pandangan semua orang yang ada di kantin. Seketika kantin yang tadinya ricuh menjadi diam dan hening.
"Siapa cepat dia dapat dong!! Lagian situ siapa?! Main ngusir aja!!" seru Marsha tak terima.
"Wah.. Dia belum tahu siapa kita Bos. Hajar aja lah Bos.." sahut pria disebelah kanan si ketua tadi.
Pria yang dipanggil Bos itu mengambil minuman es milik Runa dan dengan tiba-tiba menyiramnya ke Sisi.
"Astaghfirullah.. Sisi!!" teriak Runa terkejut. Runa langsung saja menghampiri Sisi dan menghalangi tubuh Sisi dengan tubuhnya. Guna agar orang lain tidak melihat tubuh Sisi yang ekspos karena basah.
"Lo bener-bener cari masalah ya sama gue??!!" sahut Marsha ikut menggebrak meja, menatap tajam pada pria yang diketahui sebagai Bos nya.
"Udah lah bocah.. Mendingan lo pergi dari tempat duduk gue sebelum gue melakukan yang lebih buruk dari pada ini.." ancam pria itu melipat kedua tangannya di dada. Jika orang lain yang mendengar ancaman itu pasti akan langsung ngacir, tapi berbeda dengan Marsha yang malah menantang pria itu.
"Oh ya..?? Sebenarnya lo itu siapa hah?? Sok banget jadi orang!!" tantang Marsha berdiri dari duduknya dan ikut melipat kedua tangannya di dada.
"Wah.. dia bener-bener nggak tahu elo Bos!! Gue jelasin dikit ya.. Bos kita ini anak dari yang punya sekolah. Dia berhak mendapatkan apa yang dia inginkan.." jelas pria disebelah kiri si Bos itu. Marsha pun tertawa kecil mendengar nya.
__ADS_1
"Ya elaahh.. Yang punya sekolah ini kan bokap lo!! bukan elo.. ngapain elo yang berkuasa?!!" kata Marsha. Si Bos itupun tampak emosi.
Tanpa disadari, beberapa orang penting seperti ketua OSIS, wakil ketua OSIS, guru BK bahkan kepala sekolah pun ikut berada di tengah kantin, berencana menghentikan kemarahan anak dari pemilik sekolah itu.
"Marsha!! Jangan kamu katakan itu pada Frans!!" sahut pak kepsek. Marsha hanya melirik sebentar dengan tatapan malas.
"Udah lah pak.. ini urusan saya. Saya yang bakal menyelesaikan nya. Bapak nggak usah ikutan." kata Marsha.
Pria yang disebut oleh pak kepsek 'Frans' itupun mendekati Funny. Lalu mengelus wajahnya. Funny langsung saja menepis lengan Frans dan menjauh dari pria itu.
"Oh.. jadi yang mau lo lakukan itu pelecehan terhadap teman gue gitu?? Lebih baik lo jangan sentuh temen gue, kalau lo nggak mau tangan lo patah!!" ancam Marsha dengan nada santai.
"Hahaha.. Yang benar aja!! Lo mau buat tangan gue patah huh?? coba nih coba.." ucap si ketua itu menyodorkan tangannya.
"Marsha jangan.." bisik Runa. Namun, Marsha bagai tak mendengar Runa, Marsha pun menyahut.
"Oh.. Lo meremehkan gue?? Gue tahu nama lo sekarang. Denger ya Frans!! Lo itu berani karena kekayaan bokap lo. Plis deh.. jangan lo malu-maluin diri lo sendiri dengan berkuasa tanpa memiliki harta!!" ucap Marsha yang membuat si Bos alias Frans tambah emosi.
Langsung saja Frans menarik rambut Funny, membuat gadis itu kesakitan.
"Aww.. plis Kak tolong lepasin!!" seru Funny memohon, bahkan matanya mulai berkaca-kaca karena kesakitan.
"Frans.. jangan kamu lakukan itu!! Dia perempuan.." seru pak kepsek.
"Diam lo!! Kalau lo nggak mau turun jabatan!!" kata Frans tajam. Tentu saja pak kepsek yang cemen itu diam dari pada posisinya turun.
"Sakit.. tolong lepasin.. " seru Funny yang sudah menangis kesakitan.
"Marsha!! Udah lah kamu mengalah aja dari pada teman-teman kamu yang kena akibatnya" sahut ketua OSIS alias Yogi.
"Kak Yogi juga nggak usah ikut-ikutan!! ini urusan aku. Aku bakal selesaikan masalah ini dengan caraku sendiri!!" seru Marsha.
"Gila!! Si Marsha cari gara-gara sama anak pemilik sekolah. Bisa langsung di DO dia.." bisik wakil ketua OSIS alias Radit pada Yogi. Sedangkan Yogi tidak mendengar perkataan Radit tadi.
"Frans!! gue peringati sekali lagi.. lepas tangan lo dari temen gue atau lo sendiri yang bakal tahu akibatnya.." ucap Marsha tajam.
"Coba aja kalau lo bisa membuat tangan gue patah!!" tantang Frans.
Marsha berjalan menuju Frans. Dengan gerakan cepat, Marsha langsung saja meninju lengan Frans yang menjambak rambut Funny. Frans pun mengaduh kesakitan.
Belum juga Frans merasa lengannya membaik, Marsha kembali memberikan serangan pada pria itu. Dengan mudahnya Marsha memutar tangan Frans kebelakang punggung pria itu dan menekan tubuhnya ke atas meja yang diperebutkan tadi. Frans kembali mengaduh kesakitan.
"Wih.. Hebat juga si Marsha." kata Radit.
"Aduh.. Lepasin gue.. Gue itu senior lo. Harusnya elo hargai senior lo!!" ucap Frans ditengah ke sakitannya.
"Gue nggak peduli lo senior, junior, bahkan orang tua, kalau lo berandalan kayak gini!! Gue bakal menghormati orang yang bisa jaga sikap, punya sikap bijak, bukan penindas dan sok berkuasa kayak lo!!" ucap Marsha.
__ADS_1
"Ok gue ngaku salah. Plis.. lepasin gue." mohon Frans.
"Gue rasa lo kurang memohon lagi.." Marsha tambah menekan tubuh Frans ke meja.
"Aduh.. Ok. Gue minta maaf.. Plis lepasin gue. Sakit nih..." mohon Frans lagi.
"Ok.. gue maafin untuk sekali ini. Tapi.. lo harus tanggung jawab." kata Marsha.
Bukannya melepaskan Frans, Marsha malah menjambak rambut Frans yang sedikit panjang.
"Aaakkhh.. sakit!! Plis lepasin gue!!" Frans kesakitan, bahkan matanya berkaca-kaca. Mungkin memang sangat sakit.
"Gimana?? enak nggak dijambak kayak gini??" tanya Marsha dengan santainya.
Frans mengangguk "Iya sakit. Lepasin rambut gue sekarang.. gue mohon.." Frans terus memohon.
"Ini juga yang dirasakan oleh Funny temen gue. Ini bahkan lebih baik dari pada elo yang narik rambut temen gue!!" ucap Marsha penuh penekanan, ia juga melepaskan rambut Frans juga tidak memelintir lengan pria itu lagi.
Langsung saja Frans sedikit tergesa menghampiri teman-temannya atau anak buahnya itu. Dan pastinya, anak buah pria itu langsung membantu Frans memijat tangannya yang dipelintir oleh Marsha.
Marsha kembali bergerak. Gadis itu mengambil mangkok yang masih berisi bakso miliknya dan dengan tiba-tiba Marsha langsung menyiramnya pada Frans.
"Shit!!" umpat Frans dan menatap kearah si penyiram dengan tajam. Namun, saat ia tahu siapa yang menyiram kuah itu, nyali Frans kembali menciut.
"Itu pembalasan untuk Sisi temen gue!! Dan lo harus belikan dia baju baru sekarang juga buat temen gue.." ucap Marsha santai. Frans langsung saja menyuruh salah satu anak buahnya itu membeli seragam baru untuk Sisi.
"Yang terakhir. Denger ya Frans -- sorry, karena lo senior gue dan umur lo tua dari pada gue.. gue bakal panggil elo Kak Frans!! Jadi Kak Frans.. gue kasih lo peringatan. Kalau lo ketahuan lagi bertingkah kayak gini.. gue bakal melakukan hal yang lebih dari pada ini. Mungkin juga gue bakal patahin salah satu tulang kaki lo!!" peringat dari Marsha. Tak lama orang yang disuruh Frans membeli seragam baru tadi, datang dan langsung memberikan nya pada Sisi.
"Yuk cabut.." ajak Marsha langsung berlenggang pergi diikuti tiga temannya. Tiba-tiba Marsha menghentikan langkahnya.
"Oh ya.. Kak Frans. Lo mau kan bayarin makanan kita yang tumpah tadi??" tanya Marsha dengan ekspresi yang di buat-buat imut. Namun, terlihat mengerikan bagi Frans dkk. Frans dkk hanya diam tak menyahut sedikit pun.
"Kalau lo nggak jawab berarti lo mau bayarin.. Buk!! Dengar kan tadi.. Kak Frans yang bayar.." kata Marsha pada ibu kantin.
"Tapi neng.. kalau nanti..-" ucapan buk kantin terpotong karena Marsha menyahut, seakan tahu apa yang dimaksud buk kantin.
"Udah tenang aja buk.. kalau dia nggak bayar bilang aja ke saya. Nanti saya patahin kakinya." kata Marsha.
"Ya udah kalau gitu. Marsha sama temen-temen cabut ya Kak.. inget bayarin loh.. Makasih Kak Frans.." kata Marsha kembali melangkahkan kakinya bersama tiga temannya.
"Sialan!! Lihat aja!! gue pastikan dia bakal di keluarin disekolah ini.!!" gumam Frans yang hanya bisa didengar anak buahnya.
TBC..
Jangan lupa vomentnya..
Ig: @fasya1616
__ADS_1