Marsha

Marsha
13. Balikin kartu kredit


__ADS_3

Sudah sebulan lamanya Marsha menggunakan kartu kredit milik pak Burhan untuk acara sosial juga kesenangan hatinya bersama tiga temannya. Dan saat ini , pada jam istirahat di perpustakaan, sedari tadi Marsha hanya melamun tidak melakukan apapun.


"Sha.. kamu kenapa? Dari tadi kelihatan ngelamun aja?" Tanya Runa yang memang sedari tadi melihat sahabatnya yang kebingungan.


"Gini loh Run.. besok kan hari terakhir aku pakai kartu kredit milik bapaknya Kak Frans. Aku bingung gimana kasihin ini kartu ke yang punya.." jawab Marsha.


"Ya elah.. gitu aja bingung. Tinggal kasih aja ke Kak Frans. Nanti tinggal dia kasih ke bokapnya sendiri." Sahut Sisi.


"Tadinya gue juga mikir gitu, tapi setelah gue pikir lagi. Gimana kalau Kak Frans malah pakai ini kartu buat yang enggak-enggak." Jawab Marsha.


"Iya juga sih.. kalau gitu kamu kasih langsung saja ke papanya Kak Frans." Sahut Funny.


"Gimana caranya coba? Secara bokapnya Kak Frans itu bisa disebut pengusaha besar. Dia pasti sibuk.." seru Marsha.


"Gimana kalau kamu minta tolong sama Kak Frans, agar kamu bisa ketemu papanya tanpa hambatan." Seru Runa.


"Iya juga ya.. Kalau gitu aku pergi dulu ya." Pamit Marsha berdiri dari duduknya.


"Perlu aku anter?" Tanya Runa.


"Nggak usah.. kamu disini aja nanti aku balik lagi kesini." Ucap Marsha dan berlenggang pergi. Marsha pun berjalan dengan santainya.


"Marsha!!" Panggil seorang pria yang sangat tidak ingin Marsha temui, siapa lagi jika bukan Radit. Marsha yang mendengar suara itu hanya bisa menghela nafas kesal.


"Lo mau kemana Sha?" Tanya pria itu. Marsha hanya diam tak berniat membalas.


" Lo denger gue kan? Gue yakin telinga lo masih normal!!" Ucap Radit. Marsha mengehentikan langkahnya.


"Urusan nya sama lo apa? Gue kemana ya terserah gue!!" Ucap Marsha jutek.


"Jutek amat sih buk. PMS lo ya.." tebak Radit asal. Marsha hanya memutar bola matanya dan kembali melangkah.


"Sha.. lo mau kemana sih??" Tanya Radit yang masih kepo, mengikuti langkah Marsha.


"Ketemu Kak Frans. Puas lo!!" Akhirnya Marsha menjawab.


"Ngapain lo cari dia?" Tanya Radit masih kepo.


"Bukan urusan lo!!" Jawab Marsha.


"Mau gue anter nggak?" Tanya Radit masih betah mengganggu gadis itu.


"Enggak." Jawab Marsha datar.


"Heh.. lo yakin mau ketemu si Frans sendiri? Lo tahu kan dia itu pernah berantem sama lo? Pastinya dia punya dendam kesumat sama lo. Dan.. kalau dia ketemu lo, lo bisa aja di apa-apain sama dia. Mau lo?!" Radit menakut-nakuti.


Bener juga sih.. kalau nanti Kak Frans berbuat jahat sama aku gimana? -- batin Marsha.


"Yakin masih nggak mau di temenin?" Tanya Radit lagi.


"Terserah lo dah!! Lo itu ganggu aja deh!!" Kata Marsha.


" Pake bilang terserah. Bilang aja iya napa sih? Susah banget deh." Radit terus menggoda.


"Ya udah kalau lo nggak mau nganterin, nggak usah!!" Sentak Marsha tambah kesal.


"Ya udah.. kalau gitu gue nggak bakal anterin elo.." kata Radit.


"Bodo amat!!" Seru Marsha mempercepat langkahnya.


Radit pun membalikkan badannya menuju tempat semula, tapi pria itu terpikir dengan perkataannya sendiri.


"Gimana kalau nanti si Marsha beneran di apa-apain sama si Frans?" Gumam Radit memperlambat langkahnya.


"Dia aja nggak pernah peduli ama gue. Bodo amat lah." pria itu kembali mempercepat langkahnya kembali.


"Tapi kalau beneran si Marsha di apa-apain gimana?? Bahaya!! Gue harus susul dia." Radit kembali membalikkan badannya. Dengan sedikit berlari ia menuju ke tempat tujuan Marsha. Dan saat pria itu melihat gadis yang ia cari masih berjalan santai, Radit pun mensejajarkan langkahnya dengan Marsha.


"Ngapain lo kesini??" Tanya Marsha terkejut.


Bukannya dia udah pergi? Kenapa balik lagi? -- batin Marsha.


"Kan gue mau nganter elu. Gue jadi kepikiran aja.. kalau nanti lo beneran di apa-apain sama si Frans. Gue yang bakal sedih nanti.." jawab Radit dengan alay.


"Iiisshh.. jijik!!" Marsha kembali fokus pada tujuannya. Terserahlah, pria itu mau melakukan apapun bukan urusannya.


"Permisi.." Marsha mengetuk pintu kelas yang ia yakini sebagai kelas Frans.


"Ngapain lo kesini?" Frans yang membuka pintu, pria itu langsung to the point saja.


"Kebetulan Kak Frans yang buka pintu. Tadi nya Marsha mau minta tolong sama kakak.." seru Marsha.


"Heh! Elo sadar kan kalau lo itu udah membuat gue menderita!! Gue dihukum selama enam bulan tanpa fasilitas yang biasa gue pake dan juga uang jajan dan itu karen elo!! Yang berarti lo musuh gue!! Enak banget lo mau minta tolong sama gue!! Emang lo siapa hah!!" Sentak Frans juga dengan emosi.


"Terserah Kak Frans anggap aku musuh atau apa. Yang jelas aku cuman mau minta kakak hubungi pak Burhan alias papanya Kak Frans, karena aku ada perlu sama beliau. Mungkin dengan bertemu nya aku sama pak Burhan juga bisa mengurangi hukuman yang di berikan beliau pada Kak Frans.. " ucap Marsha sesopan mungkin.


"Maksud lo?" Tanya Frans tidak paham.


"Masa lo nggak ngerti? Jadi maksudnya.. si Marsha ini bakal bilang ke bokap lo untuk mengurangi hukuman lo. Kalau lo bantu dia ketemu sama bokap lo!!" Radit yang menjelaskan.


"Seriusan? Lo mau bilang ke bokap gue buat mengurangi hukuman gue?" Tanya Frans mulai melemah, tidak emosi seperti tadi.


"Iya Kak Frans. Asalkan kakak bantu aku agar bisa ketemu pak Burhan tanpa hambatan." Jawab Marsha.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu. Gue bakal bantu lo." Frans pun setuju.


"Ok.. bilang sama pak Burhan, besok aku bakal kekantor nya sepulang sekolah.." pesan Marsha.


"Emang lo ada perlu apa sih sama bokap gue?" Tanya Frans.


"Aku cuman mau mengembalikan kartu kredit pak Burhan yang pernah diberikan padaku." Jawab Marsha.


"Ya elah.. kalau mau balikkin tu kartu kenapa nggak ke gue aja. Nanti biar gue langsung yang kasih ke bokap gue." Kata Frans.


"Tadinya sih mau gitu.. tapi setelah aku pikir-pikir, Kak Frans kayaknya nggak bisa dipercaya deh. Aku takut aja kalau nanti Kakak pake dulu sebelum ke tangannya pak Burhan, jadi aku mau langsung kasih aja pada beliau." Jelas Marsha. Frans hanya berdecak.


"Ya udah. Aku balik ke perpus dulu ya Kak. Jangan lupa buat kasih tahu pak Burhan.." pamit Marsha.


"Iya.. nanti gue kasih tahu bokap gue." Jawab Frans.


Marsha pun berjalan menuju perpustakaan dimana ketiga temannya berada.


"Kenapa sih lo manggil si Frans dengan embel-embel kakak?" Tanya Radit yang masih mengekori Marsha.


"Kak Frans itu kelas XII, jadi ya.. menurut gue, gue harus panggil dia dengan embel-embel Kakak." Jawab Marsha.


"Terus kenapa sama si Meysha juga si Yogi lo manggil mereka dengan sebutan kakak juga?" Tanya Radit lagi.


"Ya karena kak Meysha itu kakak gue dan kak Yogi itu pacarnya" jawab Marsha.


"Terus kenapa ke gue lo nggak sebut gue dengan sebutankakak?" Tanya Radit lagi


"Terserah gue dong. Gue mau panggil lo dengan sebutan apapun itu hak gue. Lagian umur lo paling beda dikit sama gue " Jawab Marsha jutek.


" Tiap ngobrol sama gue, lo nggak pernah santai, bersahabat, atau baik-baik gitu loh. Lo emosi terus bawaannya. Kenapa sih lo? " Adit lagi-lagi bertanya.


"Gak apa-apa. Cuman males aja harus ngobrol sama elo." Jawab Marsha seadanya.


"Aneh lo emang!! Baru kali ini aja, ada cewek yang males ngobrol sama gue. Padahal ya.. tiap gue ketemu cewek, pasti mereka duluan yang ngajak gue ngobrol." Seru Radit.


"Terus. Lo pikir semua cewek itu sama? Beda kali!! Dan khususnya itu gue. Gue nggak sama dengan mereka!!" Ucap Marsha mengakhiri percakapan dengan masuk ruang perpustakaan. Sedangkan Radit hanya berdiri diluar sambil berpikir.


***


Seperti rencana sebelumnya. Marsha kini telah berdiri didepan gedung yang menjulang tinggi, yang ia yakini sebagai kantor milik pak Burhan. Gadis itu juga masih menggunakan seragam sekolah.


"Permisi buk.." salam Marsha pada wanita dewasa cantik yang ia yakini sebagai resepsionis.


"Iya dek. Ada yang bisa dibantu?" Tanya wanita itu ramah.


"Saya mau ketemu pak Burhan bisa kan buk?" Tanya Marsha.


"Maaf. Adeknya siapa ya? Apa adek juga sudahdah buat janji dengan tuan Burhan?" Tanya wanita itu.


Apa dia selingkuhan pak Burhan? Masa iya sih? Lagian ni bocah juga masih sekolah, masa dia mau sama pak Burhan? Hm.. jelas mau lah. Toh pak Burhan orang kaya, dia pasti nggak bermasalah pak Burhan sudah tua atau muda. Yang jelas dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Ini nggak bisa dibiarkan!!-- batin resepsionis itu.


"Maaf ya dek. Pak Burhan nya sedang sibuk. Jadi beliau tidak bisa diganggu." Kata wanita itu mulai dengan gaya juteknya.


"Masa iya nggak bisa sih!! Saya udah buat janji kok dengan pak Burhan. Izinkan saya bertemu beliau ya buk.." ucap Marsha mendesak.


Sudah jelas kalau dia akan meminta sesuatu pada pak Burhan. Makanya dia mendesak..- batin wanita itu lagi.


"Nggak bisa dek. Lebih baik adeknya pulang saja. Paka Burhan sedang sibuk sekarang" wanita itu juga berusaha untuk membuat Marsha pergi.


"Ya udah.. dimana ruangan pak Burhan. Biar saya sendiri yang kesana." Marsha juga mendesak untuk segera bertemu Burhan, karena dari sekolahnya ke kantor Burhan itu membutuhkan waktu yang lama. Belum lagi uang jajannya habis hanya untuk ongkos.


"Sudahlah dek.. kamu ini pulang aja. Besok kamu boleh kembali lagi."


"Enggak!! Saya sudah menghabiskan uang saya untuk kemari jadi saya tetap mau bertemu pak Burhan sekarang juga!!" Marsha bersikeras.


"Marsha..??" Panggil seorang pria paruh baya yang sangat Marsha kenal.


"Papa.." Ya. Pria itu adalah papa Marsha alias Rudi.


"Ngapain kamu disini?" Tanya Rudi.


"Papa ngapain disini?" Tanya Marsha balik.


"Ini tempat papa kerja. Kamu ngapain?" Tanya Rudi lagi.


"Oh.. Marsha mau ketemu pak Burhan pa. Papa kenal kan? Anter Marsha ketemu sama pak Burhan ya.." kata Marsha.


"Gadis itu anaknya pak Rudi ya?" Tanya wanita resepsionis itu.


"Iya.. ini putri saya." Jawab Rudi.


"Hmm.. bukannya anak pak Rudi itu Meysha ya? Yang model majalah itu.." tebak wanita itu.


"Saya adiknya kak Meysha." Marsha yang menyahut dengan memutar bola matanya.


"Oh ya pak Rudi. Dari tadi gadis ini minta ketemu sama pak Burhan. Padahal saya sudah bilang kalau pak Burhan sedang sibuk, tapi putri pak Rudi ini terus memaksa." Sahut resepsionis itu. Wanita itu berharap Marsha di paksa pergi oleh Rudi.


"Pa.. anter Marsha ketemu pak Burhan ya.." seru Marsha.


"Marsha!! Kamu ini nggak dengar? Pak Burhan sedang sibuk. Kamu nggak boleh menganggunya. Lebih baik kamu pulang gih." kata Rudi. Wanita resepsionis itu tersenyum senang.


"Nggak mau!! Lagian Marsha udah jauh-jauh dari sekolah kesini. Uang jajan Marsha juga udah habis buat ongkos kesini. Marsha nggak bakalan pulang sebelum ketemu pak Burhan!!" Marsha bersikeras untuk bertemu Burhan.

__ADS_1


"Marsha!! Kamu ini keras kepala ya!! Kata papa pulang ya kamu harus pulang!! Pergi sana!!" Rudi sedikit mendorong Marsha.


Marsha yang sedikit terdorong kebelakang hanya bisa berdecak kesal. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh papanya.


"Ya udah. Kalau papa nggak mau bantu Marsha, nggak apa-apa!! Marsha bisa suruh pak Burhan sendiri yang datang kesini!! Dan kita lihat, apa pak Burhan benar-benar sibuk atau ibu resepsionis ini yang bohong!!" Marsha mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Kak!! Gimana sih? Kak Frans udah bilang kan ke papanya Kak Frans kalau aku datang kekantor nya?" Tanya Marsha bertubi.


" Iya kok udah. Bokap gue bilang bisa ketemu sama lo pas lo pulang sekolah. Bahkan dia membatalkan semua rapat pentingnya karena cuman mau ketemu sama lo!!" Seru Frans disebrang sana.


"Terus kenapa aku malah kena usir!! Belum lagi resepsionis nya bilang kalau pak Burhan itu sibuk!!"


" Itu mah resepsionis nya aja yang bohong. Dia mungkin ngira lo selingkuhan bokap gue kali. Makanya dia bohong. Hahaha" tawa Frans terdengar oleh Marsha.


"Ih.. kak!! Marsha serius nih. Bilang sama papanya Kak Frans kalau aku udah di lobi kantor nya dari tadi." Marsha malah dibuat tambah kesal.


"Ogah!! Lo urus aja sendiri!!" Timpal Frans.


"Ok.. kak Frans jangan berharap kalau aku membujuk pak Burhan untuk mengurangi hukuman kakak. Kakak urus aja sendiri!!" Marsha yang sudah kesal sampai ke ubun-ubun, langsung mematikan teleponnya. Ia yakin beberapa saat lagi Frans akan menelpon balik dan melakukan apa yang Marsha minta.


"Marsha!! Kamu telpon siapa hah?? Kamu pikir dengan menghubungi orang dalam yang kamu telpon itu akan mengubah segalanya. Sudahlah.. kamu ini pulang saja sana!!" Rudi juga mendesak Marsha untuk pulang. Mungkin pria itu malu kalau mempunyai seorang putri yang keras kepala seperti Marsha, yang sangat berbeda juga dengan kakaknya yang orang kenal sebagai anak baik, patuh dan sopan. Padahal semua itu hanya untuk pencitraan saja.


"Enggak!! Marsha nggak bakal pulang. Marsha yakin beberapa saat lagi pak Burhan bakal sengaja kesini untuk bertemu Marsha. Marsha bakal tunggu aja!!" Marsha berjalan kearah kursi sofa yang ada di lobi dan duduk disana.


Baru beberapa detik Marsha duduk dikursi. Seperti dugaannya, Burhan turun dari ruangannya yang terletak dipuncak bangunan. Pria paruh itu juga menghampiri Marsha dengan tersenyum.


"Pak Burhan? Kenapa anda--?" Perkataan Rudi terpotong saat Burhan mengeluarkan suara.


"Saya kemari untuk bertemu dengan gadis ini." Jawab Burhan yang seakan tahu lanjutan dari pertanyaan Rudi.


"Ke-kenapa anda ingin bertemu dengan putri saya tuan? Apa ada masalah?" Tanya Rudi.


"Apa? Marsha itu putri kamu?" Tanya Burhan balik.


"Iya pak. Papa Rudi ini papa saya." Marsha yang menjawab.


"Aku tidak menyangka. Kalau gitu, Marsha kamu ikut keruangan bapak saja ya. Dan kamu Rudi, kamu juga ikut dengan saya, ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu.." kata Burhan.


"Baik tuan.." jawab Rudi.


Ditengah perjalanan menuju ruangan Burhan, Marsha mendapatkan pesan WhatsApp dari Frans.


Gue udah melakukan apa yang lo mau. Sekarang lo yang melakukan apa yang lo bilang kemarin..- isi pesan Frans. Marsha hanya tersenyum dengan anggukan kecil.


Sesampai diruangan Burhan. Marsha menatap seluruh ruangan itu dengan kagum, lalu ia terfokus pada satu foto besar yang terpajang didinding. Disana tampak seorang pria tua yang menggendong anak kisaran umur satu tahun dengan pita dikepalanya dan seorang wanita tua duduk disamping pria itu yang memangku bocah kisaran umur tiga tahun.


Foto itu.. rasanya aku pernah lihat. Tapi dimana ya..- batin Marsha sambil melamun dan mengingat-ingat.


" Marsha..?" Panggil Burhan yang membuat lamunan Marsha buyar.


"Eh iya pak.."


"Kemari.. duduk lah disini." Ajak Burhan yang sudah duduk disebuah sofa bersama Rudi.


"Iya pak.." kata Marsha. Ia duduk disamping sang ayah, tatapannya kembali pada foto.


"Jadi.. ada keperluan apa kamu kesini nak? Frans bilang kamu mau memberikan sesuatu.." tanya Burhan.


"Oh iya. Ini pak, Marsha mau kasih bapak kartu kredit yang pernah bapak pinjamkan ke Marsha." Kata Marsha mengeluarkan kartu kredit.


"Oh.. ini. Ya ampun.. bapak bahkan lupa tentang kartu ini.." Burhan mengambil kartu kredit itu dari tangan Marsha dan menatapnya.


"Maaf pak. Kenapa kartu kredit bapak ada pada putri saya?" Tanya Rudi.


"Ya.. ini sebagai ganti rugi. Karena putra saya Frans membuat masalah dengan putri kamu." jawab Burhan.


"Ya ampun pak. Padahal kan tidak perlu ganti rugi. Saya jadi tidak enak.." seru Rudi.


"Tidak apa. Justru putrimu ini membuat saya sadar dengan kesalahan saya dalam mendidik anak."


"Oh ya pak. Marsha juga mau bicarakan tentang kak Frans.." sahut Marsha.


"Frans? Kenapa lagi dia? Apa dia buat masalah lagi?" Tanya Burhan.


"Enggak pak. Justru Kak Frans baik kok, nggak buat masalah juga.." jawab Marsha.


"Lalu ada apa dengan Frans?" Tanya Burhan lagi.


"Gini loh pak.. Marsha dengar, bapak hukum kak Frans selama enam bulan. Marsha pikir itu berlebihan pak." Kata Marsha.


"Jadi.. maksud kamu, kamu ingin bapak mengurangi hukuman terhadap Frans?" Tanya Burhan. Marsha mengangguk sebagai jawaban.


"Enggak!! Bapak nggak bakal mengurangi hukumannya. Nanti kalau bapak kurangi hukumannya, gimana kalau nanti dia malah berbuat seenaknya lagi? Biarkan si Frans itu jera.." ucap Burhan.


"Marsha tahu.. tapi gimana kalau gini aja, Marsha bakal ancam kak Frans kalau dia berbuat onar lagi, Marsha bakal ngadu ke bapak. Jadi.. kak Frans pasti takut dan nggak berani berbuat seenaknya lagi." Burhan tampak berpikir.


"Kasian kak Frans pak. Biasanya pas jam istirahat kan dia pergi makan ke kantin, tapi semenjak dihukum kak Frans tidur dikelas karena nggak bisa berbuat apa-apa." Marsha memohon.


"Ya sudah.. ini karena kamu yang meminta, bapak bakal kurangi hukumannya." Kata Burhan. Marsha tersenyum mendengar nya.


TBC..


Jangan lupa vomentnya..

__ADS_1


Ig: @fasya1616


__ADS_2