Marsha

Marsha
20. Bagi makanan.


__ADS_3

Marsha bersama Runa dan Sisi berjalan dengan santainya menuju kantin.


"Hai mbok.." sapa Marsha pada mbok Jumi alias pemilik kantin.


"Eh neng Marsha?" Timpal mbok Jumi.


"Gimana mbok? Pesanan Marsha tadi pagi udah selesai kan?" Tanya Marsha.


"Udahlah neng.. tunggu bentar ya mbok ambilkan dulu." Kata mbok Jumi. Tak lama mbok Jumi datang dengan membawa dua kantong kresek besar di tangannya.


"Ini pesanan neng tadi ya? 50 pcs." Seru mbok Jumi. Marsha menerimanya dengan senyum terkembang.


"Makasih mbok.. nanti si Radit yang bakal bayar ya mbok. Sebentar lagi dia pasti datang ke sini deh.." Seru Marsha.


"Iya.. terimakasih kembali ya neng." Kata mbok Jumi.


"Oh ya mbok.. kalau si Radit nggak datang, mbok tagih aja terus, kalau bisa suruh aja dia jadi karyawan mbok Jumi." seru Marsha tertawa kecil sebelum pergi bersama kedua temannya.


"Sip neng.." kata si mbok sambil mengacungkan kedua jempolnya. Marsha pun pergi bersama kedua temannya dengan membawa dua kantong kresek besar tadi.


"Lumayan banyak juga nih.. ini yang mau di bagi-bagi ke anak jalanan Sha?" Tanya Sisi. Marsha hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Ya udah kita mulai dari mana nih bagi-bagi ini makanan?" Tanya Runa.


"Gimana kalau kita pergi ke taman kota dulu? Disana kan banyak tuh anak-anak yang ngemis atau anak-anak jalanan, kita mulai dari sana aja.." pendapat Sisi.


"Ya udah yuk!!" Ajak Marsha. Ketiga gadis itu memasukkan dua kantong kresek tadi kedalam bagasi mobil lalu memasuki mobil Sisi.


***


Radit berjalan menuju kantin bersama Yogi juga Dani.


"Eh gue kekantin dulu ya." Sahut Radit.


"Ngapain lo ke kantin? Jam segini mana ada orang kantin jual makanan!!" Sahut Dani.


"Gue ngutang tadi di kantin makanya mau gue bayar sekarang, mumpung gue inget."jawab Radit.


"Kalau gitu, gue duluan cabut ya Dit. Gue ada pemotretan nih." Pamit Yogi.


"Gue juga cabut duluan deh Dit. Gue ada janji sama cewek gue.." sahut Dani.


"Iya-iya.. sana pergi. Hati-hati ya.." seru Radit menyaksikan kedua temannya pergi. Radit pun mulai melangkahkan kakinya menuju kantin, sesampai di kantin pria itu langsung menghampiri kedai mbok Jumi.


"Siang mbok.." siapa Radit.


"Siang juga kasep.." sapa balik mbok Jumi.


"Oh ya mbok.. saya mau bayar pesanan Marsha tadi." Jelas Radit.


"Oh.. pesanan neng Marsha tadi ya? Tunggu bentar ya.." Mbok Jumi membawa catatan kecilnya.


"Semuanya pesanan neng Marsha tadi jadi 530 ribu." Jelas mbok Jumi melihat catatan kecilnya. Sontak perkataan mbok Jumi membuat Radit kaget.


"Hah?? 530 ribu? Beneran mbok?" Tanya Radit tak percaya.


"Iya kasep.. neng Marsha tadi pesen 53 porsi. Satu porsi makanan itu kan 10 ribu" Kata mbok Jumi.

__ADS_1


"Buset!! Buat apa si Marsha pesen makanan sebanyak itu?" Gumam Radit .


"Ya.. mana mbok tahu. Mbok cuman memberikan apa yang dipesan neng Marsha. Lagian pas tadi Marsha bilang kamu yang bayar, kamu iya-in aja. Kamu harus tanggung jawab." Sahut mbok Jumi yang jadi sewot, sebenarnya takut jika Radit kabur tanpa membayar.


"Haduuhh.. habislah duit gue buat dua minggu." Ucap Radit mengeluarkan uang dari dompetnya.


"Nih mbok.. 500 ribu dulu. Yang 30 ribunya saya bayar dua minggu lagi ya mbok. Duit saya bener-bener habis.." ucap Radit dengan lesu, ia juga memberikan uang yang ia punya.


"Nggak apa-apa, tapi jangan lupa ya. Kalau kamu nggak bayar, kamu jadi karyawan mbok disini!!" peringat mbok Jumi.


"Kalau gitu saya pamit mbok.." pamit Radit. Pria itu berjalan dengan menunduk, rasanya benar-benar lesu.


"Sialan si Marsha. Dia bener-bener menguras isi dompet gue. Gue harus cari dia sekarang juga!!" Gumam Radit. Dengan cepat Radit berjalan menyususri lorong kelas. Ia pun sampai didekat parkiran, kebetulan ia melihat Marsha yang mengobrol dengan Sisi dan Runa. Tiga gadis itu juga memasuki mobil Sisi dan pergi dari pekarangan sekolah.


Tanpa pikir panjang, Radit langsung menaiki motornya dan mengikuti mobil Sisi dari belakang. Tak sedikitpun Radit berpikiran untuk mencegat tiga gadis itu dan menyerang Marsha. Radit ingin tahu dulu kemana mereka pergi.


"Ngapin mereka ke taman ya?" Tanya Radit pada dirinya sendiri. Pria itu juga sembunyi-sembunyi dibalik pepohonan.


"Adik-adik sini!!" Teriak Marsha yang dapat didengar Radit. Marsha juga mengajak anak-anak kecil untuk mendekatinya.


"Ada apa kak?" Tanya salah satu anak itu.


"Ini loh.. kita mau bagi-bagi makanan. Kalian mau nggak?" Tanya Runa.


"Mau.. mau kak!!" Teriak anak-anak kecil itu semangat.


"Nih.. kalian masing-masing dapat sebungkus ya.." seru Marsha memberikan makanan itu.


"Makasih kak.." kata anak-anak itu.


"Jadi si Marsha bagi-bagi makanan yang dibeli di kedai mbok Jumi tadi.." gumam Radit masih bersembunyi.


"Ya udah.. gue juga harus iklas aja deh. Ngitung-ngitung sedekah juga. " Kata Radit.


Tak lama setelah itu, Radit melihat Marsha nerbicara dengan handphonenya.


"Halo.." sapa Marsha yang dapat didengar Radit.


"...."


"Ada ditaman. Emang nya kenapa kak?" Tanya Marsha.


"...."


"Kakak? Kakak siapa ya?" Tanya Radit masih menajamkan pendengarannya.


"Aduh.. iya.. gue lupa kak. Lagian gue ditaman nggak main kok. Lo jemput gue aja ditaman, gue tungguin." Marsha tampak mematikan teleponnya.


"Siapa yang bakal jemput Marsha? Dan mau pergi kemana dia?" Tanya Radit bergumam.


Radit memilih untuk tetap bersembunyi sambil melihat kegiatan Marsha. Tak lama setelah itu, orang yang Radit anggap sebagai saingan datang menghampiri Marsha.


"Lah? Si Frans? ngapain dia??" Tanya Radit yang masih berada di tempat persembunyiannya.


"Marsha.. lo kok malah disini sih!! Lo bilang mau antar gue dan bantu gue kan!!" Ucap Frans yang terdengar sedikit emosi.


"Sorry kak.. gue lupa. Gue jelasin sekali lagi, disini gue nggak main-main, tuh lihat gue lagi bagi-bagi makanan buat anak jalanan." Tunjuk Marsha pada kantong kresek yang masih terdapat banyak makanan didalamnya.

__ADS_1


"Kak Frans lagian ngapain marah-marah sih? Baru juga dateng udah marah-marah sama Marsha." Sahut Sisi.


"Bukan urusan lo. Gue kesini cuman mau bawa Marsha pergi." Jawab Frans datar.


"Ya udah sekarang kita pergi." ajak Frans menarik lengan Marsha agar langsung ikut dengannya.


"Nggak bisa gitu dong kak!! Marsha sama gue juga Runa lagi ada acara. Jadi lo nggak bisa maksa Marsha kayak gitu!!" Larang Sisi menarik lengan Marsha yang bebas.


"Sisi.. Gue ada keperluan mendesak sama si Marsha. Jadi plis.. jangan halangin gue." Ucap Frans kembali menarik lengan Marsha.


"Hei.. hei.. lo mau bawa Marsha kemana?" Radit keluar dari persembunyiannya.


"Kak Radit!!" Sahut Sisi dengan mata berbinar, langsung saja ia melepas lengan Marsha dan berlari kearah Radit, gadis itu juga langsung bergelayut manja di lengan Radit. Radit yang menyadari itu membiarkan Sisi bergelut di lengannya. Lagian menahan Marsha pergi itu lebih penting bagi Radit.


"Lo ngapain disini?" Tanya Marsha dengan kening berkerut.


"Gue.. gue cuman.." Radit gugup.


"Udahlah Sha, biarin aja!! mending kita ke tujuan awal." Seru Frans kembali menarik lengan Marsha.


"Eh.. eh.. lo nggak bisa ya bawa Marsha seenaknya. Kalian mau kemana sih?" Tanya Radit.


"Bukan urusan lo!! Ok!! Jadi gue mohon sama elo, jangan menahan gue juga Marsha, karena kita buru-buru." Kata Frans.


"Ya enggak bisa gitu dong. Lo nggak lihat apa? kalau si Marsha lagi sibuk!!" Ucap Radit ikutan emosi.


"Gue nggak peduli. Karena Marsha udah janji sama gue. Yok Sha kita Pergi." Frans kembali menarik lengan Marsha, dan kembali langkahnya terhenti saat Radit juga menahan sebelah lengan Marsha.


"Lo bener-bener cari masalah ya sama gue!!" Frans yang emosinya sudah diujung ubun-ubun langsung mencengkram kerah baju Radit. Radit yang tidak terima juga ikut mencengkram kerah baju Frans. Salah satu lengan dua pria itu siap melayang untuk memukul lawannya. Namun, tiba-tiba..


"DIAAAAMM!!" Teriak Marsha membuat kedua pria itu berhenti dan tidak jadi adu jotos.


"Kalian ini bener-bener nggak bisa di bilangin ya!! Lepasin!!" Perintah Marsha agar Radit maupun Frans melepas cengkraman tangannya. Dengan sedikit saling mendorong mereka melepaskan cengkraman itu.


"Kak Frans, lo duluan ke mobil nanti gue nyusul." Seru Marsha. Frans pun hanya petuh meskipun ia menatap tajam Radit sebelum pergi.


"Dan Lo Radit!! Gue nggak tahu ini penting buat lo atau enggak. Gue pergi sama si Frans karena urusan mendesak dan karena lo udah ada disini, sekalian aja gue mau minta tolong sama lo buat bantu Runa sama Sisi bagi-bagi makanan ini. Gue pamit." Jelas Marsha yang diakhiri dengan pergi menuju mobil Radit berada.


Tadinya Radit ingin menahan Marsha. Namun, Runa lebih dulu menahan Radit dengan menyentuh pergelangan tangan pria itu.


"Udah kak.. nggak usah.." ucap Runa. Akhirnya Radit hanya bisa diam tak berkutik.


"Aku nggak tahu kak Radit mau tahu atau enggak, tapi tujuan Marsha pergi sama kak Frans itu karena Marsha mau bantu kak Frans menemukan adiknya yang hilang.." jelas Runa.


"Apa? Kak Friends punya adik? " Tanya Sisi. Runa hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.


"Terus apa hubungannya sama si Marsha?" Tanya Radit.


"Karena Marsha tahu di mana adiknya Kak Frans, jadi dia sekarang anterin Kak Frans buat ketemu sama adiknya." Jawab Runa.


"udahlah daripada sekalian ngepoin Marsha mending kita bagi-bagi ini makanan ke anak-anak yang ada di jalanan.." seru Runa. Sisi dan Radit hanya mengikuti apa yang diperintahkan Runa.


Tbc..


jangan lupa vomentnya..


ig: @fasya1616

__ADS_1


__ADS_2