Marsha

Marsha
18. Radit sialan 2


__ADS_3

Sudah dua jam Marsha terkurung dalam kamarnya. Gadis itu terus menggedor-gedor pintu dan memohon kepada Radit untuk membuka kan pintu karena ia kelaparan. Namun, Radit tidak mendengarkan dan malah asyik sendiri dengan menonton tv.


Di dalam kamarnya, Marsha sudah lemas dan terduduk di lantai.


"Radit bukain!!" Seru Marsha yang mulai melemah. Namun, tetap saja Radit tidak mendengar. Gadis itu berjalan menuju kasurnya dan memegangi perutnya.


"Laper..!!" Gumam Marsha. Tanpa sepengetahuan Radit, Marsha pingsan di atas kasurnya.


"Tu anak kenapa nggak ada suaranya lagi ya?" Tanya Radit pada diri sendiri. Pria itu memutuskan untuk melihat kondisi Marsha.


"Oh.. tidur ternyata. Mungkin dia udah kelelahan dan ketiduran, bagus deh kalau gitu..." Seru Radit saat melihat kondisi Marsha. Pria itu tidak memeriksa Marsha benar-benar tidur atau tidak. Radit pun kembali mengunci pintu dan pergi ke tengah rumah, menonton tv sambil memakan pop corn.


***


Beberapa menit kemudian Marsha terbangun dari pingsannya.


"Udah jam 12." Gumam Marsha melihat jam yang ada di dinding kamarnya.


"Aduh.. kepalaku sakit.." seru Marsha. Gadis itu memegangi kepalanya yang terasa pening. Ia juga kembali berjalan ke arah pintu dan mengetuknya.


"Radit!! " Panggil Marsha.


"Apaan?" Sahut Radit di luar kamarnya.


"Bukain pintunya gue laper.." kata Marsha bersandar pada pintu. Jujur saja Marsha merasa badannya lemas.


"Bohong lo.. lo pasti cuman buat alasan biar lo bisa keluar kan? " Seru Radit tidak percaya.


"Enggak.. gue nggak bohong. Plis.. bukain pintu nya.." Marsha terus memohon. Tiba-tiba Marsha merasa perutnya begitu sakit.


"Aww.." Marsha meringis, bahkan matanya mengeluarkan air mata.


"Radit.. plis bukain pintu nya.." mohon Marsha dengan nada gemetar dan kini Marsha juga menangis.


Tak kunjung ada jawaban dari Radit, Marsha berinisiatif menghubungi sahabatnya, Runa.


"Halo.. Runa.." Seru Marsha dengan menahan tangis.


"Iya Sha.. ada apa?" Tanya Runa.


"Perut aku sakit.. hiks." Seru Marsha mulai menangis.


"Kok bisa? Kamu dimana sekarang?" Tanya Runa khawatir.


"Aku belum makan Runa.. aku dikurung sama si Radit, dia nggak ngebolehin aku keluar kamar." Jelas Marsha singkat.


"Ya udah.. aku kesana sekarang." Kata Runa meutuskan panggilan.


"RADIT BUKA!!" Teriak Marsha dengan sekuat tenaga, setelah itu Marsha kembali pingsan dengan bersandar pada pintu.


***


Tok..tok..tok..

__ADS_1


Runa mengetuk pintu rumah Marsha.


"Siapa??" Tanya seorang pria didalam sana, yakni Radit. Dan tak lama pintu pun terbuka.


"Marsha mana?" Tanya Runa langsung.


"Mau apa lo kesini?" Tanya Radit


"Dimana Marsha sekarang??" Tanya Runa lagi dengan tatapan tajam juga nada dingin.


"Lo kenapa sih?" Tanya Radit tak paham. Kesal dengan respon Radit yang bertele-tele, Runa langsung masuk dengan sedikit menabrak sebelah lengan Radit.


"Heh!! Lo apa-apaan sih?" Tanya Radit, tapi tidak dihiraukan oleh Runa. Gadis itu terus berjalan kesebuah ruangan yang ia tahu sebagai kamar sahabatnya.


"Mana kuncinya?" Tanya Runa dengan menyodorkan telapak tangannya.


"Nggak." Tolak Radit.


"Plis kak.. Marsha dalam keadaan darurat sekarang!!" Runa memohon, tapi dengan nada sedikit tinggi.


"Darurat apanya? Dia baik-baik aja didalam." Kata Radit santai. Sudah terlalu kesal dengan Radit, Runa menggedor-gedor pintu dengan kasar.


"Marsha?? " Panggil Runa. Namun, tidak ada jawaban apapun dari dalam ruangan itu.


" Udahlah paling dia tidur. "Kata Radit.


"Nggak mungkin!! Tadi Marsha baru aja nelpon aku!! Kak.. Runa sangat memohon sama kakak buat bukain pintunya!! Marsha pasti pingsan di dalam!! " Kata Runa.


"Sha.." panggil Runa yang langsung masuk ruangan itu.


"Astaghfirullah!! Marsha!!" Runa terkejut melihat sahabatnya tergeletak dibelakang pintu. Dengan bergegas Runa menghampiri sahabatnya itu.


"Sha bangun!! Marsha bangun!!" Runa terus menepuk-nepuk pipi Marsha. Marsha terlihat pucat dan lemas. Radit yang melihat itu hanya terdiam.


"Kak Radit!! Bantuin!!" Seru Runa dengan sedikit sentakan, membuat Radit tersadar dan membantu Runa membopong tubuh Marsha keatas kasur.


"Marsha bangun.." gumam Runa menggosokan minyak kayu putih di leher dan area hidungnya.


"Kenapa dia pingsan?" Tanya Radit seperti orang ****.


"Jelas karena kakak!! Kak Radit sengaja ngurung Marsha dikamar dan nggak membiarkannya makan!! Asal kak Radit tahu, Marsha itu punya penyakit kalau dia terlambat makan atau kelebihan makan, pencernaan nya bakal terganggu dan lebih parah lagi kalau Marsha harus sampai masuk rumah sakit." Jelas Runa dengan nada tinggi.


"Gue kan nggak tahu." Seru Radit.


"Kakak itu bukannya nggak tahu, tapi nggak mau tahu!! Aku yakin kalau Marsha udah berkali-kali minta makan dan kakak malah sengaja nggak mendengarnya!!" tebak Runa yang ada benarnya. Gadis itu masih pada emosinya.


"Maaf.." hanya kata itu yang keluar dari mulut Radit.


"Kalau Marsha kenapa-kenapa, kak Radit harus tanggung jawab." Seru Runa dengan nada datar, berusaha menahan amarahnya. Tak lama kemudian, Marsha tersadar dari pingsannya.


"Runa.." panggil Marsha sambil memegangi perutnya.


"Perutku sakit.." kata Marsha.

__ADS_1


"Kamu tunggu disini ya.. aku buatin sesuatu." Seru Runa dan gadis itupun pergi. Sedangkan Marsha kembali menutup matanya menahan rasa sakit pada perutnya yang belum reda.


"Sha.. gue minta maaf." Seru Radit begitu pelan, bahkan rasanya tidak busa didengar oleh orang lain selain dirinya sendiri. Melihat Marsha tak merespon, Radit memilih untuk ikut membantu Runa.


"Kok nggak ada apa-apa sih.." gerutu Runa yang sudah melihat semua lemari didapur tidak ada apapun. Radit juga sudah berdiri dibelakang Runa.


"Kak Radit udah habisin makanannya ya!!" Tuduh Runa.


"Enggak kok. Lagian tadi gue sampe sini juga udah nggak ada apa-apa." Radit membela diri.


"Terus, kenapa di tengah rumah banyak sampah makanan?" Tanya Runa.


"Itu gue beli sendiri.." jawab Radit. Runa hanya bisa berdecak kesal. Gadis itu kembali mencari makanan yang bisa dimakan Marsha saat ini. Untungnya Runa menemukan satu buah telur didalam kulkas. Langsung saja ia menggorengnya. Dan untungnya juga, dalam rice cooker ada sedikit nasi, itu juga bisa dibilang nasi penghabisan.


Setelah telur yang Runa masak sudah matang, Runa membawa makanan itu ke dalam kamar Marsha, sedangkan Radit hanya bisa mengikuti Runa. Sesampai dikamar, langsung saja Runa menyuapi Marsha sedikit demi sedikit.


"Biar gue yang suapin." Radit menawarkan bantuan.


"Nggak usah. Kak Radit ambilin aja obat yang ada di laci itu." Tunjuk Runa pada lemari kecil yang terletak didekat meja belajar. Radit pun hanya bisa patuh.


Selesai Marsha makan, langsung saja Runa memberinya obat yang diambilkan Radit tadi.


"Gimana?" Perut kamu masih sakit?" Tanya Runa.


"Mendingan." Jawab Marsha seadanya.


"Runa.. aku boleh minta tolong nggak?" Tanya Marsha dengan posisi bersandar pada kepala ranjang.


"Apa?"


"Suruh si Radit sialan ini pergi. Aku nggak mau lagi lihat dia." Kata Marsha dengan keras, tentu saja dapat didengar oleh Radit.


"Kak.. dengarkan apa kata Marsha. Jadi Runa mohon sama kak Radit untuk pergi.." ucap Runa dengan nada suara yang melembut.


"Nggak bisa!! Kakaknya dia alias si Meysha titipin Marsha ke gue. Yang berarti gue harus tanggung jawab dengan amanah yang diberikan Meysha. Gue nggak bakalan pergi." Radit menolak.


"Lagian kenapa kak Radit mau aja sih disuruh kak Meysha. Kakak kan tahu, Marsha itu perempuan dan kakak laki-laki! Apa kata orang nanti kalau kakak ada dirumah yang isinya seorang anak gadis?! Itu bisa menimbulkan fitnah loh kak." Jelas Runa.


"Gue nggak kepikiran kesana. Pokoknya gue nggak bakalan pergi sampai si Meysha pulang. Terserah lo mau disini atau balik, yang jelas gue bakal tetap disini!!" Kata Radit. Pria itu pergi begitu saja.


"Dasar nggak tahu diri tu orang. Kamu bayangin aja deh.. aku pingsan dua kali gara-gara si curut itu!!" Marsha kesal dan mengadu pada Runa.


"Kamu yang sabar aja ya Sha. Aku disini kok, nggak bakal pulang sampe kak Radit pergi. Biar kak Radit nggak jahilin kamu lagi." Seru Runa.


"Makasih ya Runa.. untung aja sakit perut aku nggak begitu parah.." kata Marsha tidur dipangkuan Runa. Runa mengangguk dengan mengelus kepala Runa.


Lihat aja besok bakal gue bales perbuatan si Radit sialan itu!!- batin Marsha.


Tbc..


Jangan lupa vomentnya..


@fasya1616

__ADS_1


__ADS_2