
Marsha berjalan ke kantin dengan senyum yang menghias wajah imutnya.
"Sha.." panggil Runa melambaikan tangan. Marsha pun menghampiri sahabatnya itu.
"Kok lo senyum-senyum gitu?? Lo nggak di DO?" Tanya Sisi.
"Enggak dong..!!" Ucap Marsha dengan senyum mengembang.
"Aku jadi penasaran sama ekspresi kamu ini. Sebenarnya apa yang terjadi Sha?" Tanya Runa. Marsha pun mengacungkan kartu kredit yang sebelumnya diberi pak Burhan.
"What?? Ini kartu kredit kan?" Tanya Sisi.
" Iya.. itu dari bokapnya Kak Frans loh..." Jawab Marsha.
"Kok papanya kak Frans kasih kamu ini?" Tanya Funny.
"Ini sebagai ganti rugi atas apa yang terjadi kemarin. Bokap nya Kak Frans malah berterima kasih loh sama gue, karena gue buat tangan anaknya cedera. Hahaha.." Jelas Marsha dengan tertawa.
"Aku kurang paham deh Sha.." ucap Runa. Marsha pun menjelaskan apa yang telah terjadi saat ia pergi keruang kepsek.
"Yang terakhir.. bokap nya Kak Frans kasih gue permintaan. Apa aja katanya, Ya udah gue minta biar kita bisa makan di restoran mewah, ke salon kecantikan dengan fasilitas VIP, juga beli sembako yang bakal kita bagikan ke orang-orang yang kurang mampu. Itupun selama sebulan." Marsha mengakhiri ceritanya.
"Kita? Maksud kamu.. kita berempat?" Tanya Funny.
"Iyalah.. siapa lagi coba.." Seru Marsha.
"Yes.. gue seneng banget bisa kesalon tanpa ngeluarin duit. Fasilitas VIP, selama sebulan lagi.." Seru Sisi senang bersemangat.
"Tapi kayaknya aku nggak ikut. Maaf ya.." sahut Funny.
"Lah.. kok gitu sih Pung?" Tanya Marsha.
"Aku harus kerja. Kalau aku nggak kerja, siap yang bakal beli obat untuk nenekku nanti. Lagian nenekku lagi sakit.. kalau aku ikut, siapa yang bakal temani nenek nanti." Jelas Funny.
"Emang lo kerja apa? Emang ada tempat kerja yang menerima karyawan yang masih sekolah?" Tanya Sisi.
"Aku mulung barang bekas.." jawab Funny.
"Iiw.. lo mau aja mulung?" Tanya Sisi.
"Aku nggak punya pilihan lain." Jawab Funny menunduk.
"Emang orangtua kamu kemana? Masa kamu juga yang harus kerja." tanya Marsha.
"Aku nggak tahu.. dulu waktu aku berumur dua tahun, nenek pernah cerita kalau dikampungku pernah terjadi musibah. Yang membuat aku dan nenek terpisah dari orang tuaku. Aku nggak tahu kondisi mereka sekarang gimana.." jelas Funny membuat Sisi berlinang air mata.
"Sisi.. kok kamu nangis?" Tanya Funny.
"Gue nggak pernah bisa bayangin hidup kayak elo. Jauh dari orangtua juga harus banting tulang untuk hidup.." seru Sisi menghapus jejak air matanya.
"Gimana kalau pulang sekolah nanti, kita ke rumah Funny aja. Kita minta izin dulu sama neneknya Funny, setelah itu kita bantu Funny." Sahut Runa.
"Boleh tuh.. aku setuju." Seru Marsha.
"Kalau gitu, gue juga ikut deh.." seru Sisi.
"Nggak usah deh.. kalian pergi aja, aku nggak ikut. Lagian aku itu kerjanya mulung nanti kalian kotor juga." Larang Funny.
"Air masih banyak Pung. Kalau kotor tinggal dicuci. " Sahut Marsha.
"Iya.. lagian nggak ngerepotin juga. Kan kita yang mau.." seru Runa.
"Heem. Sekalian gue juga pingin tahu dimana tempat tinggal elo Pung." Seru Sisi.
"Sekalian bawa neneknya Funny." Seru Runa.
"Setuju!!" Ucap Marsha dan Sisi.
"Makasih temen-temen.. " ucap Funny tersenyum.
***
Seperti rencana sebelumnya. Marsha, Runa dan Sisi berencana untuk mengunjungi rumah Funny. Jalan menuju rumah Funny pun terasa begitu banyak rintangannya, yaitu harus melewati beberapa tumpukkan sampah yang menggunung.
"Nggak ada jalan lain Pung? Kok lewat tumpukan sampah gini sih? Sumpah gue nggak kuat!!" Seru Sisi yang menutup hidungnya dengan tisu. Runa juga menutup hidungnya dengan jilbab yang ia pakai, tapi ia tak berani berkomentar seperti Sisi. Sedangkan Marsha bersikap biasa saja, seperti tidak mencium bau apapun.
"Nggak ada jalan lain Si.. setiap hari aku lewat sini." Jawab Funny.
"Terus masih lama nggak sampai kerumah lo?" Tanya Sisi
__ADS_1
"Bentar lagi kok. Itu tempat tinggalku.." tunjuk Funny bada bangunan usang yang terletak diantara tumpukkan sampah.
"What!! Seriusan? Rumah lo kok kayak gub--" ucapan Sisi terpotong saat Marsha langsung menginjak kakinya.
"Aww.. Marsha sakit!!" Ucap Sisi.
"Jaga ucapan lo!!" Seru Marsha. Sisi hanya bisa memanyunkan bibirnya yang sesekali meringis kesakitan.
"Maaf ya temen-temen. Aku emang tinggal disini. Karena cuman tempat ini yang nggak perlu bayar sewaan.." seru Funny.
"Santai aja kali Pung. Kita biasa aja kok. Ya kan guys?" Marsha melirik Runa dan Sisi. Runa langsung saja mengangguk, sedangkan Sisi hanya menunduk. Sisi berpikir, ia tidak mau membuat dirinya menderita dengan berbohong.
"Kalau gitu kita masuk kerumah Funny yuk! Mungkin neneknya Funny udah nunggu." Sahut Runa mengalihkan pembicaraan. Empat gadis itupun mendekati pintu rumah kecil Funny.
"Mereka siapa Funny?" Tanya seorang wanita tua yang diyakini sebagai neneknya Funny.
"Mereka temen-temen Funny nek. Namanya Marsha, Runa sama Sisi." Jawab Funny dengan tersenyum lembut.
"Oh gitu. Mari masuk nak.." ajak neneknya Funny dengan tersenyum.
"Makasih nek.." seru Marsha dan masuk kedalam diikuti Runa.
"Si.. ayo.." ajak Runa berbisik.
"Ah.. i-iya.." mau tak mau Sisi pun ikut masuk kedalam.
Didalam rumah Funny terlihat begitu sempit dan sumpek, belum lagi aroma sampah yang masuk. Membuat tempat itu tidak layak ditempati.
Mata Marsha melirik seluruh penjuru rumah Funny dan ia melihat sebuah foto.
" Ini siapa Pung?" tanya Marsha memegang foto itu.
"oh.. itu foto orang tua aku. Cuman foto itu yang aku punya untuk mengenang orang tua ku. Meskipun sedikit kurang jelas." jawab Funny.
Kok rasanya aku pernah lihat ya pria dalam foto ini..- batin Marsha.
"Maaf ya.. tempat tinggal kami memang seperti ini. Kalian pasti sangat terganggu dengan bau sampah." Seru neneknya Funny tak enak yang membuat Marsha mengalihkan perhatiannya pada nenek.
"Nggak apa kok nek. Oh ya nek.. tadinya kami kesini mau minta izin untuk ajak Funny makan bareng. Bolehkan nek?" Tanya Marsha tanpa basa-basi lagi. Ia juga meletakan foto tadi ditempat semula.
"Makan bareng ya?" Gumam neneknya Funny.
"Kalau nenek mau, nenek juga boleh ikut kok." Sahut Sisi. Jujur saja ia ingin sekali cepat-cepat pergi dari pekarangan rumah Funny.
"Nenek juga ikut dong. Mumpung kita makan gratis nek. Kita dapat hadiah dari seseorang yang membolehkan kita makan enak di restoran mewah selama sebulan. Nenek ikut juga ya.." seru Marsha.
"Restoran mewah? Apa itu nggak berlebihan? Kenapa kalian nggak makan di rumah makan biasa aja?" Tanya nenek terdengar marah.
Pasti mereka bakal jahatin Funny. Setelah mereka makan di restoran mewah itu, mereka pasti meninggalkan Funny. Ini nggak bisa dibiarkan!!- batin nenek.
"Mm.. nek.. Runa tahu apa yang nenek pikirkan. Nenek pasti berpikir kalau kita bakal jahatin Funny kan? Nenek nggak usah khawatir. Kita tidak seperti yang nenek pikirkan. Kita berteman dengan Funny karena keinginan kami, bukan untuk memanfaatkan Funny maupun menjahatinya." Seru Runa.
"Nek.. mereka nggak bakal jahatin Funny kok. Mereka baik sama Funny. Bahkan mereka yang tolong Funny waktu Funny di bully." Jelas Funny.
"Yah.. kalau nenek mau nenek bisa ikut kita makan bersama. Jadi nenek bisa juga bisa tahu, kita jahatin Funny ata enggak." Seru Marsha.
"Udah lah nek.. nggak usah banyak berpikir lagi. Kita langsung pergi aja yuk!!" Ajak Sisi nggak sabaran. Gadis itu juga menarik lengan neneknya Funny agar cepat keluar dari gubuk itu.
"Eh.. tunggu nak. Tapi.. pakaian nenek jelek gini, nanti kalian malu.." seru nenek.
"Nggak apa nek. Lagian kita juga pakai baju sekolah kan. Ayok nek!!" Ajak Sisi memaksa.
"Tapi.."
"Nggak apa-apa nek. Nanti sebelum kita kerestoran, kita beli baju bagus dulu buat nenek. Jadi nenek nggak usah malu lagi." Seru Runa.
"Ya udah yuk!! Cepetan!!" Seru Sisi menarik lengan nenek dan Funny. Setelah jauh dari pekarangan gubuk Funny, Sisi pun bisa bernafas lega.
Seperti perkataan Runa sebelumnya, mereka membawa nenek ke toko baju dan membeli pekaian untuk neneknya Funny. Tentunya dibayar dengan kartu kredit dari pak Burhan alias ayah dari Frans.
"Ya ampun nak.. ini kalian beliin baju buat nenek banyak amat. Belum lagi harganya pasti mahal-mahal." Seru nenek.
"Tenang aja nek. Kita bayarnya pake uang hadiah yang Marsha bilang tadi. Lagian baju nenek harganya nggak mahal kok." Seru Marsha.
"Terimakasih ya nak. Terimakasih banyak." Ucap nenek.
"Sama-sama nek." Jawab Marsha, Runa dan Sisi.
"Kalau gitu.. sekarang kita makan bersama di restoran mewah.." ucap Sisi antusias.
__ADS_1
"Let's go guys.." seru Marsha.
Sesampai di restoran. Marsha dan Sisi dengan semangat memilih menu makanan yang ia inginkan.
"Marsha.. kamu pesen makanannya jangan sembarangan dong. Kamu ingat kan penyakit kamu ini.. nanti kalau kamu kebanyakan makan penyakit kamu kambuh." Peringat Runa.
"Tenang aja Runa.. aku tahu kok." Jawab Marsha.
"Emang kamu punya penyakit apa Sha? Kok gue baru tahu." Tanya Sisi.
"Marsha itu pencernaannya bermasalah. Kalau dia kebanyakan makan, apalagi kalau makanannya itu kebanyakan yang padat, dia bakal sakit perut dan berujung kerumah sakit." Runa yang menjawab.
"Wih.. lo tahu semua ya Run.." seru Sisi.
"Karena Runa udah kayak bayangan gue.. hahaha" tawa Marsha, Runa hanya bisa tersenyum kecil melihat sahabatnya tertawa.
"Kalau gitu, nenek sama Funny mau pesan apa? Tinggal pilih aja." Seru Marsha.
"Nenek bingung mau makan apa. Lagian nih harganya mahal semua. Apa nggak ada restoran yang harga makanannya murah?" Tanya nenek.
"Nek.. tenang aja. Kan ada yang bayarin.. jadi nenek nggak perlu khawatir." Seru Sisi.
"Funny!! Kamu aja yang pesen nanti tinggal disamakan sama nenek" seru Runa.
"Aku juga nggak tahu mau pesan apa Runa. Lagian ini.. nama makanannya nggak biasa. Aku dan nenek samakan saja makanannya seperti kalian." Jawab Funny. Runa pun memesankan makanan untuk Funny dan nenek.
Tak lama pesanan pun datang. Mereka pun menyantap makanan dengan tenangnya.
"Marsha..!!" Seru seorang pria yang sangat dikenali suaranya. Marsha menghela nafas malas.
"Ngapain sih lo?" Tanya Marsha datar.
"OMG!! Kak Radit!! Kakak kok disini?" Tanya Sisi berdiri dari duduknya dan menganndeng lengan pria yang memanggil Marsha.
"Lepasin Sisi!!" Seru Radit berusaha melepaskan lengannya dari Sisi.
"Lo ngapain sih kesini? Ganggu tahu nggak!!" Seru Marsha malas.
"Lo yang bilang tadi kalau lo bakal bawa gue juga makan. Kok lo nggak ada ajak gue?" Tanya Radit tak peduli lagi dengan Sisi yanga masih menempel.
"What? Kaka Radit juga boleh ikut sama Marsh? Sha lo kok nggak bilang sama gue?" Tanya Sisi pada Radit dan beralih pada Marsha.
"Males gue lihat dia tahu nggak!!" Seru Marsha.
"Tapi lo kan udah janji lo bakal ajak gue juga!!" Seru Radit.
"Ck.. ya udah lo pesen aja gih!!" Seru Marsha mengalah.
"Yes.." dengan semangat ia memlih menu makanan, lalu tatapannya beralih pada wanita tua yang duduk disebelah Funny.
"Sha.. nenek itu siapa? Kok dia makan bareng di meja kita?" Tanya Radit berbisik.
"Neneknya Funny. Udah deh nggak usah banyak tanya. Lo pesen aja terus cepet habisin makanannya. Kalau gue selesai makan duluan, gue nggak bakal bayarin elo!!" Jawab Marsha yang langsung saja dipatuhi oleh Radit.
"Yeee.. Kak Radit ikut makan bareng sama aku.." seru Sisi dan mulai memakan makanannya kembali.
Selesai makan Sisi kembali menempel pada Radit.
"Si.. bisa nggak sih elo nggak nempel ke gue sehari aja. Gue ini kekenyangan tahu. Pengap nih.." Seru Radit.
"Hehe iya deh.." Sisi pun melepas gandengannya.
"Oh ya Marsha. besok kita makan enak lagi kan?" tanya Sisi.
"Pasti dong.." jawab Marsha
"Gue ikut lagi ya?" tanya Radit.
"Dasar tuan gratisan!!" seru Marsha memutar matanya malas.
"Apa bedanya sama elo. Lo juga makan mewah gratis kan!!" seru Radit.
"Bolehin aja lah Sha.. lagian nanti biar gue yang jagain Sisi biar Kak Radit nggak ganggu elo!!" seru Sisi.
"Ide bagus. Sekalian nanti si Radit harus bantu gue ngangkat-ngangkat barang." seru Marsha dengan senyum yang tak dapat diartikan.
"Gue nyerah aja dah!!" seru Radit.
TBC..
__ADS_1
Jangan lupa vomentnya..
Ig: @fasya1616