
"Uuhhh.. panas banget. ini kapan mulainya sih.. udah kayak ikan asin nih di jemur disini..!!" gerutu Marsha yang kesal karena dari setengah jam lalu semua murid ajaran baru di kumpulkan di lapangan tanpa melakukan apapun.
"hooh.. nanti tambah hitam kulit gue.." seru seorang pria kurus yang berbaris disamping kiri Marsha.
"Sabarlah.. kalian emang nggak lihat, para senior aja kelihatan kebingungan. Mungkin ada kendala.." sahut Runa yang berbaris di belakang Marsha.
"iya.. tapi kan setidaknya, mereka suruh kita kedalam kelas dulu gitu kek. Mereka nggak mikir ya.. mungkin sebagian murid ada yang belum sarapan, kalau ada yang pingsan kan mereka juga yang repot.." sahut gadis di samping Runa.
"Sabar aja. bentar lagi acaranya mungkin dimulai.." seru Runa. sedangkan gadis disampingnya berdecak sebal.
diwaktu yang sama, pada tempat lain. beberapa orang sedang sibuk dan panik.
"Ini gimana? ketua OSIS belum datang juga, padahal semua murid ajaran baru udah kelamaan dilapangan.." sahut gadis yang berpangkat sebagai sekertaris OSIS, bernama Nia.
"Makanya.. dulu gue pernah bilang kan, si Yogi itu seorang model, nggak bakal bisa bertanggung jawab sebagai ketua OSIS sepenuhnya. Dia pasti lebih memilih profesi nya dibanding jadi Ketua OSIS.." sahut Radit sambil memakan mie.
"Ya elo juga jadi wakil ketua OSIS malah nyantai aja. Bukannya gantiin si Yogi sampai dia datang. Lo ingat kan tanggung jawab wakil ketua OSIS itu apa!!" seru Nia.
"Siapa yang nunjuk gue jadi wakil coba? hah? dari dulu gue ikutan OSIS cuma buat iseng doang. Bukan bertanggung jawab jadi wakil!! kenapa nggak si Dani aja noh" kata Radit.
"Loh kok jadi kegue?" seru Dani tak terima. jabatannya hanya sebagai anggota biasa.
"Yaa.. Lo kan tahu, kebanyakan cewek pilih lo jadi wakil karena elo ganteng." seru Risa yang berjabat sebagai bendahara OSIS.
"Ya udah para cewek aja gih gantiin gue!!" kata Radit masih santai.
"Terus lo mau melepas tanggung jawab lo gitu?" tanya Nia kesal.
"Ok, Ok. Gue ke lapangan sekarang!" kata Radit yang sudah menghabiskan mie nya. Ia beranjak dari kursinya.
"Lo mau kemana?" tanya Risa.
"Ke lapangan lah Risa, gue kan udah bilang tadi.. lemot banget deh lo!! Kenapa bisa lo jadi bendahara!!" Radit kembali melangkah.
"Terus.. lo mau ngapain kalau udah di lapangan?" tanya Nia.
"jangan banyak bacot deh. Lihat aja nanti!!"
Di lapanganpun hari semakin panas.
"Eh tuh lihat!! seniornya udah datang. mungkin acara mau dimulai" seru pria kurus disamping Marsha tadi.
__ADS_1
"Hai adik-adik semuanya.." sapa senior itu.
"Kak masih lama nggak sih? kita semua udah kayak ikan asin dijemur disini!!" teriak Marsha yang ingin menangis dan marah, juga kepalanya mulai pusing. Teriakan Marsha membuat semua pandangan tertuju padanya. Begitu juga semua kakak senior yang berada didepan.
"Marsha.. jangan gitu dong ah.. malu-maluin tahu!! Lihat semua orang lihat ke kamu." bisik Runa.
"Biarin lah. Biar mereka tahu, kalau kita disini semuanya menderita." seru Marsha.
"OMG.. Kakak itu ganteng banget.." seru gadis cantik disamping kanan Marsha. Nampak jika gadis itu punya sifat centil, bagi Marsha.
"Ok.. maaf ya semuanya.. sebelumnya perkenalkan nama gue dulu ya. Gue Raditya Dwika, jabatan gue sebagai wakil ketos di sekolah ini. Nggak perlu basa-basi lagi, karena hari mulai panas kalian adik-adik semua bisa berteduh dulu di ruangan aula. Kalian ikut gue ya." Radit memperkenalkan dirinya secara singkat. Ia juga mulai berjalan lagi menuju ruang Aula. Seperti perintah Radit para junior mengikuti Radit.
Sesampai diruang aula, otomatis semua murid baru langsung duduk dan mengipas-ngipas wajahnya.
"Pasti kalian kecapean ya.." kata Radit.
"Ya iyalah!! Kenapa nggak dari tadi kek." sahut Marsha lagi yang wajahnya memerah karena kepanasan.
Emosian banget sih ni bocah..- batin Radit.
"Dani.. tolong hidup kan AC nya." kata Radit. Dani hanya mengangguk nurut.
"Gimana? udah agak dinginkan? nggak terlalu kepanasan sekarangkan?" tanya Radit yang matanya hanya tertuju pada Marsha yang bersandar pada Runa dengan mata tertutup.
"Hmm.. ok. bagus kalau gitu." seru Radit langsung mengalihkan pandangannya dari gadis bernama Sisi itu tanpa menghiraukan uluran tangan gadis itu. Radit langsung menilai jika gadis itu akan mengacaukan hidupnya kelak.
"Semuanya.. kalian tunggu disini dulu ya.. sampai nanti ketua OSIS kita datang." kata Radit. Para junior tidak menghiraukan, mereka sibuk dengan dirinya masing-masing.
Radit pun berdiri didekat Marsha duduk. Ia bersandar pada tembok sambil memainkan ponsel.
"Bad first day at a new school. Siapa sih ketua OSIS nya? Nyebelin banget!! Masa dalam hari penting kayak gini malah ngilang!!" gerutu Marsha masih bersandar pada Runa.
"Ya.. positif thinking aja lah Sha.. mungkin ketua OSIS nya ada urusan penting." seru Runa.
"Aku bingung deh sama kamu. Kenapa dalam situasi yang merugikan kayak gini kamu masih ber-positife thinking terus?. Kamu tahu nggak Run? Positif thinking itu berarti kamu membohongi dirimu sendiri!!" kata Marsha.
"Lebih baik gitu dari pada kayak kamu, cepat marah, cepat kesal, selalu menggerutu. itu yang buat penyakit hati tahu!!" kata Runa.
"Bener tuh.." sahut Radit yang ternyata mendengar pembicaraan Marsha dan Runa. Otomatis membuat Marsha dan Runa menatap kakak senior itu. Radit yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah.
"Ya.. ya.. terserah deh.." seru Marsha. Gadis itu kembali memejamkan matanya. Sedangkan Radit kembali memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Runa.." panggil Marsha.
"Kenapa?"
"Laper.." kata Marsha dengan manja.
"ish.. kamu ini!! Tadikan kamu udah sarapan. Roti isi aku aja tadi kamu yang makan." ucap Runa tak habis pikir dengan sifat sahabatnya yang suka makan atau ngemil.
"Kalau gitu aku pingin ngemil kue Oreo."
"Nggak bisa Marsha. Kita nggak bisa keluar sekarang. Kalau nanti ketua OSIS nya datang gimana? Lagian ya.. kalau mau beli kue Oreo nya juga dimana? kita aja nggak tahu kan kantinnya dimana.." jelas Runa yang tak langsung menyuruh Marsha lebih lama bersabar. Marsha juga tidak bisa apa-apa, ia hanya memanyunkan bibirnya.
"Nih buat kamu.." seru seseorang menyodorkan sebungkus kue Oreo kehadapan Marsha. Marsha pun melihat orang itu. seketika senyumannya mengembang.
"Kak Yogi.." gumam Marsha. ia juga berdiri untuk menyambut pria itu.
"Nih buat kamu.." Yogi kembali menyodorkan Oreo yang ia bawa.
"Makasih Kak.." ucap Marsha.
"Kamu ini kenapa sih hah? dari tadi kelihatan nya menggerutu terus.." tanya Yogi sambil mengelus kepala Marsha. Itu membuat Marsha tersenyum senang.
"Ya.. Marsha sebel Kak.. dari tadi Marsha sama yang lainnya dijemur diluar. Apalagi diluar panas banget. terus kata Kakak yang lain alasannya karena ketua OSIS nya belum datang.." jelas Marsha sambil mengunyah kue Oreo yang diberi Yogi.
"Maaf ya.." kata Yogi.
"Kok Kakak minta maaf?" tanya Marsha bingung.
"Karena dia ketua OSIS nya.." sahut Radit yang sedari tadi hanya memperhatikan.
"Hah? Beneran kak?" tanya Marsha tak percaya. Yogi mengangguk sebagai jawaban.
"Tuh dari tadi dia ngumpatin elo tahu!!" adu Radit.
"Eh? Enggak kok!! Marsha nggak ngumpat ya.. Sumpah deh kak Marsha nggak ada ngumpatin kakak kok.. Marsha tadi cuman menggerutu aja.." Marsha membela diri.
"Iya.. iya Kakak percaya kok sama Marsha." seru Yogi, membuat Marsha tersenyum kearah pria itu.
"Idih.. caper lo!!" sahut Radit. Marsha yang merasa kata itu ditujukan padanya, memicinkan matanya, bertanda ia mengibarkan bendera permusuhan dengan pria bernama Raditya Dwika itu.
TBC..
__ADS_1
JANGAN LUPA VOMENT
Ig: @fasya1616