
Marsha, Sisi dan Funny memasuki ruangan yang bertuliskan Ruang BK di pintunya. Sebelum memasuki ruangan itu, Marsha melihat ada seorang yang sangat menyebalkan bagi Marsha berdiri didepan pintu yaitu si wakil ketua OSIS bernama Raditya Dwika.
"Lo juga dipanggil ternyata!! Gila ya lo.. baru jadi murid disekolah ini udah buat onar!!" celetuk Radit.
"Gue dipanggil karena jadi saksi!! bukan tersangka ****!!" timpal Marsha dan langsung masuk kedalam ruangan BK itu diikuti Funny. Sedangkan Sisi, gadis itu malah kecetilan mendekati Radit.
"Kak Radit?? Sisi boleh nggak minta nomor WhatsApp kakak?? akun Instagram kakak apa? Twitter juga ada??" tanya Sisi dengan senyuman tak jelas.
"Bacot lo!!" seru Radit dan masuk ke ruang BK, Sisi yang diabaikan hanya bisa memanyunkan bibirnya. Tapi gadis itu juga ikut masuk kedalam.
Didalam ruangan itu sudah ada sepasang guru, ketua OSIS alias Yogi dan tiga orang yang bertengkar dengan Marsha dan Sisi.
"Silahkan duduk.." Perintah guru berjenggot.
"Jadi.. ada apa bapak suruh saya juga teman-teman saya kemari?" tanya Yasmin.
"Lihat ini.!!" kata si Bapak jenggot menyodorkan ponsel yang memutarkan video pertengkaran antara ia dengan Marsha.
"Hah?? Kok bisa??" Yasmin kaget juga dengan kedua temannya yang lain.
"Ini.. Kenapa bisa ada videonya??" gumam Dona yang masih dapat didengar orang lain.
"Ya bisa lah.. gue kan udah bilang. Karena kalian yang mulai nyerang gue, kalian bakal menyesal.." celetuk Marsha.
"Jadi Marsha.. jelaskan kenapa kamu bisa bertengkar dengan tiga senior itu?" tanya Yogi dengan tegas.
"Funny aja deh yang jelasin ya kak?! Karena dia yang jadi korban, bukan Marsha.." seru Marsha melirik Funny sebentar.
"Oke Funny silahkan kamu jelaskan.." kata guru cantik disebelah bapak jenggot.
Funny merasa ragu. ia melirik Yasmin, Dona dan Vivi, tentu saja tiga perempuan itu melotot kearah Funny, dengan tujuan mengancam Funny agar tidak buka mulut.
"Hei.. itu mata minta dicolok ya.?" sahut Marsha yang tahu reaksi tiga senior nya itu. Langsung saja Vivi, Yasmin dan Dona langsung mengalihkan pandangannya agar tidak bertatapan dengan si Bapak jenggot yang siap dengan penggaris kayu ditangannya. Si Bapak jenggot tentunya tidak akan memukul murid dengan penggaris itu, hanya untuk menggertak saja agar murid takut padanya.
"Funny.. silahkan cerita apa yang terjadi sebenarnya.." kata Bu guru cantik itu dengan lembut.
Funny melirik Marsha. Marsha yang dilirik menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Sebenarnya.." Funny mulai berbicara.
__ADS_1
"Sebenarnya saya dibully oleh kak Yasmin juga teman-temannya Buk.. tadinya mereka menyuruh saya membelikan sesuatu. Dan saya yakin saya sudah membeli barang yang mereka inginkan, tapi mereka mengatakan kalau saya membeli barang yang salah dan saya harus ganti rugi. Karena saya tidak punya uang untuk ganti rugi mereka memukuli saya Buk.." jelas Funny.
"Dia bohong Buk kami bahkan tidak melakukan apapun padanya.." sahut Yasmin membela diri padahal semua orang sudah tahu ia juga salah.
"Iya Buk, si kacamata itu pasti disuruh sama si Marsha itu.." Vivi menambahkan.
"Eh enak aja!! Jelas-jelas kalian emang salah!!" ucap Marsha karena tidak terima juga disalahkan.
"DIAM!!" teriak si bapak berjenggot. sontak semua orang di dalam ruangan itu terdiam.
"Yasmin, Dona, dan juga Vivi.. kalian ini masih saja mengelak jelas-jelas sudah ada buktinya kalau kalian salah!!" ucap si Bapak jenggot.
"Karena kalian bersalah kalian harus meminta maaf kepada Funny, Marsha dan Sisi." perintah Yogi.
"Tapi.. minta maaf aja nggak cukup Kak.." sahut Marsha.
"Maksud kamu?" tanya Yogi.
"Kalau mereka minta maaf, apa bisa membalikkan kondisi Funny seperti sebelumnya. Lihat deh Kak.. Funny luka-luka!! Setidaknya mereka ganti rugi dengan membawa Funny berobat sampai dia sembuh. Atau mereka diskors aja biar jera.." kata Marsha.
"Ya nggak bisa gitu dong. Enak aja lo ngomong kita harus ganti rugi!!" protes Vivi.
"Heh!! Lo nggak usah ikut-ikutan ya!! kalau enggak..--" ucapan Dona terpotong karena pak jenggot menggebrak meja. Tentu membuat orang-orang disana terdiam kaget.
"Siapa nama kamu??" tanya pak jenggot pada gadis tak diketahui itu.
"Saya Tiara pak.." jawab gadis bernama Tiara itu.
"Baiklah. Silahkan duduk dan jelaskan kenapa kamu setuju dengan Marsha." Kata buk guru cantik.
"Sebenarnya saya juga korban bullying Yasmin, Vivi dan Dona dari saya masih kelas satu Buk.." jelas Tiara.
"Kenapa kamu baru melaporkan nya sekarang??" tanya buk guru cantik.
"Posisi saya sama dengan Funny Buk, Pak. Saya orang yang tidak punya apa-apa. Mereka selalu mengancam saya , jika saya mengadu. Saya juga jadi takut. Tapi, tadi saya tidak sengaja mendengar perbincangan Marsha dengan Funny di UKS. Dan saya mulai terinspirasi dari kata-kata Marsha. Meskipun saya orang yang tidak punya apa-apa, saya tidak boleh pasrah saja, seharusnya saya memperlihatkan kepada orang kalau saya tidak lemah. Jadi saya kesini untuk mendukung Marsha.." jelas Tiara panjang lebar.
Pak jenggot langsung saja menatap tajam kearah Yasmin, Vivi dan Dona.
"Oh ya Pak.. selain saya, mereka juga membully dua orang lain. Tapi mereka tidak hadir sekolah karena sakit.." Tiara sedikit menambahkan.
__ADS_1
"Oh ya? Siapa nama mereka?" tanya Buk guru cantik.
"Ana dan Dara.. Mereka dirawat dirumah sakit karena dipukuli juga oleh mereka" jawab Tiara.
"Wah.. parah juga tuh!! Udah lah Pak, Buk. Panggil aja orang tua nya, terus diskors. Biar orang tua mereka yang menghakimi mereka. Atau langsung DO aja Pak.." seru Marsha.
"Pak.. Kami mohon pak jangan DO kami.. Dan jangan panggil orang tua kami pak. kami mohon.." Yasmin memohon yang diangguki dua temannya.
"Sudahlah. Besok kalian suruh orang tua kalian datang ke sekolah!! jika tidak.. Kalian akan langsung dikeluarkan dari sekolah. Juga nama kalian akan di blacklist!!" putus pak jenggot. Marsha yang mendengar keputusan itu tersenyum kecil dan bersorak senang dalam hati.
"Tapi pak.."
"Tidak ada tapi-tapian!!" tolak Pak jenggot.
"Terus pak.. Bagaimana sama Funny juga dua temannya Kak Tiara yang masuk rumah sakit itu. Setidaknya mereka dapat sedikit keuntungan. Maksud saya.. seperti kata Marsha tadi lo pak. Yasmin, Dona sama Vivi biayain untuk obat mereka.." sahut Sisi yang sedari tadi hanya menyimak.
"Untuk hal itu biar bapak bicarakan dengan orang tua Yasmin juga dua temannya." jawab pak jenggot ramah.
"Kalau gitu kita bisa pergi sekarang kan Pak, Buk??" tanya Marsha.
"Ya boleh silahkan. Langsung masuk ke kelas kalian ya.. karena bel masuk akan segera berbunyi." kata pak jenggot.
"Baik pak.." seru Marsha, Funny, Sisi, juga Tiara serentak.
"Dasar kamu ini. Hobi banget sih masuk keluar ruang BK." seru Yogi yang ikut keluar dan berjalan disamping Marsha.
"Hehe.. sekalian aku pingin tahu ruang BK disini bagus dari ruang BK di SMP aku dulu atau enggak." canda Marsha.
"Kamu ini ada-ada saja." Yogi tersenyum, pria itu juga mengacak rambut Marsha gemas.
"Lagian kan.. Kak Yogi tahu kalau aku nggak suka dibully juga nggak suka lihat orang dibully. Jadi ya.. selagi aku masih mampu membantu orang, aku bakal melakukannya." ucap Marsha.
"pertahankan sifat dermawan kamu ya.." pesan Yogi.
"Pasti lah.. Kalau gitu Marsha sama temen-temen masuk kelas dulu ya kak.." pamit Marsha. Yogi mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan Radit yang sedari tadi mendengar mulai merasa jengah dengan perbincangan tak bermanfaat itu.
TBC...
Jangan lupa vomentnya..
__ADS_1
Ig: @fasya1616