
"kak Frans?" Panggil Marsha.
"Apaan sih lo?? Udah beberapa hari ini lo terus aja ngikutin gue!! Mau lo apa hah? Tetep mau ketemu sama bokap gue?" Tanya Frans kesal, karena memang sebelumnya Marsha selalu meminta Fran menghubungi ayahnya agar bisa bertemu tatap dengan gadis itu.
"Kak.. plis bantu gue.." mohon Marsha.
"Sha!! Gue bilang untuk terakhir kalinya sama elo!! Gue nggak bisa bantu elo. Bokap gue sibuk." Kata Frans penuh penekanan.
"Kak plis.. bantu gue. Sekali ini lagi, gue janji gue nggak bakal ganggu lo lagi. Gue nggak bakal paksa lo lagi untuk bantu gue. Plis ini juga bukan untuk gue, tapi--" perkataan Marsha terpotong.
"Nggak Sha. Sorry.. gue nggak mau." Kata Frans langsung pergi meninggalkan Marsha.
"Marsha?" Panggil sahabatnya, Runa. Gadis itu mengelus pundak Marsha. Marsha melirik kearah Runa dengan ekspresi wajah yang terlihat sedih, bahkan matanya nampak berkaca-kaca.
"Kita ngobrol ditempat yang tenang yuk." Ajak Runa yang seolah tahu jika sahabatnya ingin menceritakan sesuatu. Marsha tidak menjawab, tapi ia mengikuti Runa yang menuntunnya.
Runa membawanya kesamping perpustakaan. Disana memang tidak banyak orang yang lewat, jadi Runa merasa tempat itu pas untuk mendengarkan cerita Marsha nantinya.
"Jadi.. ada apa sebenarnya Sha?" Runa memulai percakapan.
"Aku pingin ketemu pak Burhan." Jawab Marsha.
"Buat apa kamu bertemu dengan pak Burhan?" Tanya Runa lagi.
"Aku pingin memastikan sesuatu tentang Funny, Run.." Jawab Marsha lagi. Runa tidak melontarkan pertanyaan lagi, karena ia rasa Marsha akan menceritakan lebih lengkap tanpa bertanya banyak.
"Waktu kita pertama kali kerumah Funny, kamu ingat kan aku pernah tanya ke Funny tentang sebuah foto yang katanya foto keluarganya?" Runa mengangguk sebagai jawaban.
"Nah.. foto itu juga pernah aku lihat di kantornya pak Burhan." Kata Marsha mengundang kerutan didahi Runa.
"Di kantor pak Burhan?" Tanya Runa memastikan.
"Iya Runa."
"Jadi.. kamu berpikir kalau pak Burhan itu orangtuanya Funny?" Tanya Runa.
"Aku yakin banget Runa.." jawab Marsha.
"Kalau kamu udah merasa begitu. Kenapa kamu nggak bilang ke Funny atau ke pak Burhan?" Tanya Runa.
"Aku udah bilang ke Funny Run.. cuman Funny nggak percaya, belum lagi neneknya Funny yang bilang kalau anaknya alias bapaknya Funny itu nggak punya pendidikan tinggi yang membuatnya menjadi seorang pengusaha seperti pak Burhan. Dan Funny mempercayai ucapan neneknya itu.." jelas Marsha.
__ADS_1
"Terus.. apa kamu udah bilang sama pak Burhan?" Tanya Runa.
"Itu dia yang jadi konflik sekarang. Beberapa kali aku minta sama kak Frans buat menghubungi pak Burhan biar bisa meluangkan waktu untuk aku bicara, tapi kak Frans selalu bilang kalau bapaknya itu sibuk dan sibuk. Aku jadi gila karena ini Runa.." jelas Marsha diakhiri dengan memijat jidatnya sendiri.
Ingin sekali Runa melontarkan kalimat 'ya udah kamu nggak perlu urusin mereka, biar kamu nggak gila seperti sekarang' . Namun, Runa tahu jika Marsha tidak akan mendengar dan akan terus menyelidiki sesuatu yang ingin ia ketahui.
"Kamu langsung bilang aja sama kak Frans kalau permintaan kamu itu berhubungan dengan dirinya juga." Seru Runa membuat Marsha menatap sahabatnya itu.
"Iya juga ya Runa.. kenapa aku **** banget sih!! Ya udah kalau gitu aku langsung bilang ke kak Frans sekarang ya.." Marsha langsung saja berlari meninggalakan sahabatnya itu. Runa hanya bisa menghela nafas kecil sambil menatap punggung Marsha yang menjauh. Gadis berhijab itupun memutuskan untuk kembali kedalam kelas dan berkumpul dengan teman-temannya yang lain.
Marsha langsung saja masuk ke dalam kelas Frans.
"Kak Frans." Panggil Marsha.
"Ck.. elo lagi.. elo lagi.." Frans berdecak kesal. Pria itu juga beranjak dari duduknya dan berniat untuk pergi meninggalkan Marsha.
"Plis kak.. jangan pergi. Ok.. aku nggak bakal minta apa-apa lagi sama kakak, tapi aku mau menanyakan sesuatu. Ini penting kak." Kata Marsha.
"Ya udah.. lo mau nanya apa?" Tanya Frans.
"Tapi.. kita bisa ngobrol nya empat mata aja kan?" Tanya Marsha ragu.
"Enggak!! Ok.. ok. Gue bakal nanya disini aja. Jadi gue sebenernya mau menanyakan sesuatu yang nggak ada hubungannya sama gue, tapi berhubungan sama keluarga kak Frans." Marsha menarik nafas dulu sebentar, ia juga berpikir pertanyaan apa yang harus ia lontarkan terlebih dahulu.
"Kak Frams sekeluarga ada berapa orang?" Tanya Marsha.
"Berempat." Jawab Frans singkat.
"Siapa aja?" Tanya Marsha lagi.
"Gue, bokap, nyokap sama adek gue."
"Adeknya kak Frans cewek?" Frans mengangguk.
"Namanya siapa?" Tanya Marsha.
"Gue nggak tahu." Jawab Frans sambil menunduk.
"Loh.. kok nggak tahu?" Tanya Marsha heran.
"Karena udah lama gue nggak ketemu sama dia. Bokap, nyokap gue juga nggak pernah sebutin namanya." Jelas Frans.
__ADS_1
"Btw.. kenapa kakak nggak ketemu lagi sama adek kak Frans itu?" Tanya Marsha.
"Entahlah.. gue juga nggak ingat. Kita ngobrol nya di luar aja yuk!!" Ajak Frans langsung menarik lengan Marsha.
"Tuh kan!! Tadi aku ajak ngobrol empat mata nggak mau." Celotah Marsha.
"Ya.. mana tahu gue kalau lo bahas ini." Kata Frans.
"Ya udah.. lanjutin cerita tadi.." pinta Marsha.
"Seperti yang gue bilang. Gue juga nggak terlalu tahu dimana adek gue itu berada. Yang jelas adek gue ilang dan membuat nyokap gue stres sampai sekarang." Jawab Frans.
"Apa ilang nya waktu umur kakak tiga tahunan?" Tanya Marsha. Frans tidak menjawab melainkan menatao Marsha aneh.
"Kok lo kepo banget tentang keluarga gue sih?" Tanya Frans balik.
"Ya.. karena pertanyaan yang aku lontarkan itu ada hubungannya sama adek kak Frans itu." Jawab Marsha.
"Maksud lo?" Entah kenapa jantung Frans berdegup kencang.
"Sebenarnya.. aku meminta kakak membuat jadwal bertemu pak Burhan alias papanya kakak itu, karena aku ingin memastikan sesuatu." Jawab Marsha.
"Waktu aku kekantor pak Burhan untuk mengembalikan kartu kreditnya. Aku lihat ada foto yang sama dengan foto yang aku lihat dirumah seseorang. Aku cuman mau memastikan lebih jelas lagi apa aku salah lihat atau enggak, tapi ya.. kak Frans nggak mau bantu aku kan?" Jelas Marsha.
"Dirumah siapa lo lihat foto yang sama dengan foto yang ada diruangan kantor bokap gue?" Tanya Frans terdengar gemetar.
"Sorry kak. Aku nggak bisa bilang, aku nggak bakal kasih tahu siapapun sebelum aku yakin dengan apa yang aku cari.." jawab Marsha.
"Ya udah deh kalau gitu. Aku balik kelas ya kak.." pamit Marsha. Namun, langkahnya terhenti karena Frans menahannya.
"Ok ok.. gue bakal hubungi bokap gue biar lo ketemu sama bokap gue, tapi plis.. lo bilang dimana lo lihat foto itu." Tanya Frans.
"Di rumah Funny." Jawab Marsha dan gadis itu kembali melanjutkan langkahnya.
Frans hanya terdiam. Diantara terkejut dan berpikir siapa itu Funny. Namun, tak begitu lama Frans tahu siapa itu Funny. Tentu saja karena gadis itu teman Marsha sendiri.
Tbc..
Jangan lupa vomentnya..
Ig: @fasya1616
__ADS_1