Marsha

Marsha
15. Alat hiburan


__ADS_3

"Kenapa kamu mau kerumah ku Sha? Mau selidiki apa sih? " Tanya Funny ditengah perjalanan kerumahnya hanya berdua dengan Marsha.


"Gue mau pastiin sesuatu Pung." Jawab Marsha.


"Terus kenapa Sisi sama Runa nggak diajak?" Tanya Funny.


"Katanya sih.. Runa ada acara keluarga. Kalau Sisi, jelas dia nggak bakal mau diajak kesini. Lo tahu kan dia gimana? Lebay. Belum lagi kalau kita lewat sini dia pasti keberatan karena bau sampah." Jawab Marsha dengan sedikit menjelaskan.


"Iya juga ya.. tapi kamu ini sebenarnya mau pastiin apa sih Sha? Aku jadi penasaran." Kata Funny


"Lo bakal tahu juga nanti. Ini juga berhubungan dengan orangtua lo." Jawab Marsha.


"Hah? Orangtuaku?"


"Iya. Udah deh jangan banyak tanya. Nanti sampai dirumah lo, gue bakal jelasin semuanya." Kata Marsha. Funny hanya bisa patuh.


Sesampai di rumah Funny, Marsha disambut oleh nenek Funny.


"Eh.. ada nak Marsha.." seru nenek. Marsha hanya tersenyum ramah, lalu ia celingak-celinguk mencari sesuatu. Sedangkan Funny masih berdiri dibelakang Marsha dengan tatapan kosong.


"Kamu cari apa nak?" Tanya nenek.


"Marsha cari foto keluarga Funny nek. Eh maksudnya keluarga nenek juga.." kata Marsha.


"Foto keluarga? Foto yang mana Funny?" Tanya nenek pada Funny. Namun, Funny masih sibuk dengan lamunannya.


"Funny?" Panggil nenek.


"Eh.. iya nek, ada apa?" Tanya Funny tersadar dari lamunannya.


"Ini.. temen kamu cari foto keluarga kita. Kamu tahu foto keluarga yang mana?" Tanya nenek.


"Oh.. iya tinggu sebentar." Funny berjalan menuju meja dekat dapur rumahnya.


"Ini maksud kamu?" Tanya Funny menyodorkan foto yang ia yakini sebagai foto yang dicari Marsha.


"Iya ini.." jawab Marsha mengambil foto itu dan menatapnya lekat.

__ADS_1


"Memangnya untuk apa nak?" Tanya nenek.


"Ini bener-bener foto yang aku lihat dikantor papanya Kak Frans. Bener!! Ini mirip banget!!" Kata Marsha.


"Maksud kamu apa nak?" Tanya nenek.


"Nek.. berkemungkinan besar papanya Kak Frans alias pemilik sekolah itu adalah orangtua Funny juga. Marsha pernah kekantor beliau dan Marsha lihat foto ini terpajang diruangan beliau. Dan Marsha sangat yakin foto ini sama dengan foto yang beliau punya." Jelas Marsha.


"Nak.. orang yang kamu maksud itu pengusaha besar. Tidak mungkin orangtuanya Funny ataupun putra nenek. Terakhir kali nenek bersama putra nenek, ia hanya seorang petani buruh, kuli bangunan, bahkan ia tidak punya pendidikan tinggi yang membuatnya menjadi seorang pengusaha. Kamu pasti salah lihat nak Marsha." Jelas nenek.


"Nenek juga berharap, agar kamu tidak memberikan harapan yang tidak pasti kepada Funny. Nenek mohon. Nenek tahu kamu itu anak baik, tapi nenek takut dengan semua kebaikan kamu malah membuat Funny berharap besar dan sakit hati. Nenek tidak mau melihat Funny bersedih lagi." Kata nenek lagi.


"Tapi nek.. Marsha sangat yakin kalau--" ucapan Marsha terpotong saat Funny menyahut.


"Sudahlah Sha.. apa yang dikatakan nenekku masuk akal. Nggak mungkin ayahku menjadi seorang pengusaha besar seperti papanya kak Frans. Mungkin kamu juga salah lihat foto itu." Kata Funny tersenyum kecil, meskipun nampak matanya berkaca-kaca. Gadis itu juga pergi ke kamarnya.


"Gue bakal buktiin Pung.. gue janji. Gue juga yakin kalau gue benar." Gumam Marsha pelan. Sangat pelan dan hanya ia semdiri yang mendengar perkataannya.


"Sha.. lebihbaik kamu pulang. Aku mau kerja bareng nenek." Ucap Funny keluar dari kamarnya. Gadis itu juga sudah mengenakan pakaian yang terlihat sedikit kotor.


"Ok.. gue pulang, tapi gue bakal cari tahu lebih lanjut. Gue yakin kalau gue nggak salah." Seru Marsha mengeluarkan handphonenya dan mengambil gambar dari foto keluarga Funny.


Saat jam istirahat. Seperti biasa Marsha, Runa, Sisi dan Funny nongkrong dikantin. Empat gadis itu juga duduk bersama Frans dkk juga Radit. Namun, Funny diam-diam melirik beberapa kali kearah Frans yang sibuk berbincang dengan teman-temannya.


"Lo kenapa?" Tanya Frans tiba-tiba, memergoki Funny yang meliriknya. Funny yang merasa malu, hanya bisa menunduk sambil menggeleng pelan.


"Aku ke toilet dulu ya.." pamit Funny langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya.


"Oh ya kak Frans? Bokap lo nanti sibuk nggak?" Tanya Marsha tiba-tiba.


"Mana tahu gue." Jawab Frans seadanya. Marsha hanya bisa berdecak kesal.


"Tumbenan lo nanya bokap gue. Ada apa emang?" Tanya Frans.


"Ada yang mau gue tanya. Gue juga mau memastikan sesuatu didalam ruangannya." Jawab Marsha.


"Jangan-jangan lo mau godain bokapnya dia ya.." celetuk Radit.

__ADS_1


"Lo kalau ngomong disaring dulu bisa nggak!!" Seru Marsha.


"Ya.. mending lo godain gue aja. Gue rela." Kata Radit.


"Isshh.. najis!!" Seru Marsha memutar bola matanya.


"Sisi aja yang godain kak Radit boleh nggak?" Tanya Sisi yang sudah duduk disamping Radit. Gadis itu juga duduk dengan gaya imut dan mengedipkan matanya.


"Nggak!! Nggak boleh!! Yang ada harusnya elo enyah dari hadapan gue." Kata Radit menjauhi Sisi. Sisi hanya bisa mengerucutkan bibirnya.


"Kak Radit jahat!! Kak Radit harusnya jujur sama Sisi, biar Sisi nggak berharap lebih sama Kak Radit. Bilang aja kalau kakak itu suka sama Marsha!! Iya kan?" Kata Sisi. Membuat Marsha tersedak minuman yang ia minum. Frans dkk juga langsung menatap Sisi tak percaya. Sedangkan Radit tampak salah tingkah.


"Lo ngomong apaan sih?? Gue suka sama Marsha? Ya ampun.. kayak yang nggak ada cewek lain aja didunia ini. Lagian gue deket sama ni kerdil, karena gue mau ganggu dia aja. Cuman sebatas alat hiburan gue aja." Kata Radit. Entah kenapa, Marsha jadi sakit hati mendengarnya.


Bukan karena Radit tidak suka padanya, melainkan Radit menganggapnya sebagai alat hiburan. Refleks saja tangan Marsha bergerak dang menyentil bibir Radit dengan keras.


"Aww.. sakit Sha.." seru Radit memegangi mulutnya.


"Enak banget ya lo.. nganggap gue alat hiburan!! Lo pikir gue nggak bisa melakukan apa yang lo lakukan sama gue?? Gue bakal bales lo Radit!! Camkan itu!!" Kata Marsha langsung pergi meninggalkan kantin, bahkan gadis itu melupakkan teman-temannya.


"Marsha tunggu.." teriak Runa sambil berlari. Marsha yang dipanggil tidak mengacuhkan temannya itu, ia terus berjalan cepat tanpa mendengar.


Tampak oleh Runa, Marsha memasuki kelas dengan menggebrak pintu. Untung saja didalam kelas tidak ada siapapun.


"IIII.. NYEBELIN BANGET SIH!!" Teriak Marsha memukul meja yang ada dihadapannya.


"Lo kenapa sih Sha? Emosi gitu? Lo sakit hati kalau kak Radit nggak suka sama lo?" Celetuk Sisi yang baru sampai bersama Runa.


"Gue nggak peduli dia suka sama gue atau enggak!! Yang bikin gue emosi itu karena si Radit nganggap gue alat hiburan, dengan kata lain mainan!! Enak banget dia nganggap gue mainan!! Dia pikir dia siapa!!" Gerutu Marsha.


"Nggak usah dipikirkan lah Sha.. mungkin aja Kak Radit asal ceplos aja.." seru Runa.


"Nggak!! Ini nggak bisa di biarin. Lihat aja.. gue bakal balas dia. Gue pastikan itu." Seru Marsha dengan mata yang menahan amarah.


TBC...


Jangan lupa vomentnya..

__ADS_1


Ig: @fasya1616


__ADS_2